Salam untuk Anda semua,

 

Disoraki atau ditertawakan oleh orang lain, tentu saja itu sudah biasa. Saya, Anda atau yang lain, saya yakin sekali atau 2 kali bahkan lebih mungkin, pernah melakukan sebuah tindakan blunder yang konyol. Entah sengaja atau tidak sengaja, melakukan sebuah kekonyolan biasanya pasti akan menciptakan respon gelak tawa, minimal cibir dari orang-orang yang mengetahuinya. Dan pasti dampaknya adalah malu, sakit hati, minder, salah tingkah.

Namun demikian ada kalanya, sikap blunder kita pun bisa mendatangkan simpati dan empati. Seperti halnya pernah saya alami, suatu ketika saya pernah tertimpa malu berjuta rasa ketika saya harus terjerembab ke dalam kubangan air [yang tidak bersih tentunya]. Jadi ceritanya malam [suasana gelap] itu saya bermaksud hendak bermain ke tempat kost teman saya. Dalam perjalanan saya berpapasan dengan sepasang muda-mudi, dan saya untuk berbasa-basi [karena belum kenal, dan ingin bersikap ramah], berkata : “awas hati-hati, tempatnya gelap … tersandung lho.” Dan sedetik kemudian …. jblashb. Sayapun terpersok ke dalam kubangan air tepat di sebelah kedua muda-mudi itu. Ya, saya telah bertemu dengan “kekonyolan tidak sengaja” saya sendiri. Bagaimana tidak ? Lha wong tempat dimana saya terperosok itu adalah halaman samping rumah tetangga saya sendiri yang semestinya saya sudah sangat mengenali medannya, tapi kok ya tetap saja saya yang mesti terperosok,  mengapa bukan muda-mudi itu ? 🙂

Saya sangat malu sekali saat itu, meskipun tidak mendapatkan tertawaan secara visual [karena saya yakin, pasti kedua anak muda itu dalam hati mereka tertawa terpingkal-pingkal … menertawakan penasehat yang kurang hati-hati dan menemui lengahnya]. Keduanya membantu saya untuk keluar dari kubangan.

Kekonyolan lain yanga pernah saya lakukan ketika masih duduk di bangku SMP. Saya tidak begitu menyukai pelajaran ilmu pasti semisal Aritmatika, tentu saja semangat saya untuk mempelajari giat pun kurang. Alhasil nilai-nilai saya untuk ilmu pasti bisa dipastikan kebakaran di buku raport. Saat itu guru kami memberikan test bergilir menjawab soal dari buku. Saya yang merasa lemah di mata pelajaran itu sudah ancang-ancang menghitung giliran saya. [saya tidak menyimak jawaban kawan-kawan saya,  saya mencari tahu jawaban pas soal yang yang “akan” menjadi giliran saya menjawab. Dan tibalah saat giliran saya menjawab. Saya pun bangkit untuk maju ke papan tulis … namun ternyata. Ya, saya salah hitung, ada teman saya yang terlewatkan saya hitung, jadi sebenarnya hak jawab saya adalah untuk soal nomor setelahnya. Panik melanda.

Saya menyaksikan kawan saya maju dan menuliskan jawaban jitu di papan tulis. Nah, di sinilah saya mempertunjukkan kekonyolan saya dengan sukses sekali.

“Agung, mengapa sudut ini sekarang menjadi 45 derajat ?”

“Anu, dikira-kira Pak.” Jawaban lantang dan spontan saya yang langsung disambut gemuruh sorakan dan tawa kawan-kawan sekelas.

“Ya, jawaban yang betul untuk anak yang tidak nyimak soal.” jawab guru Aritmatika kami.

Dan masih ada beberapa hal blunder dan konyol lainnya yang pernah saya alami sepanjang 39 tahun umur saya ini, dan pastinya saya tidak akan ungkap kepada Anda semua di sini, untuk menghindari paduan suara gelak tawa Anda menertawakan saya, ya :).

Ya, ditertawakan orang meski karena kita sadar memang layak dan sepantasnya kita ditertawakan atau disoraki, namun pintu kerelaan untuk hal itu tidak ada seorang pun yang mau membukakannya, bukan ?

Saya hingga sekarang pun masih terekam jelas dalam memori ingatan saya atas kedua hal itu, dan sulit sekali untuk menolak menertawakan kejadian itu. Bedanya tertawa saya menertawakan diri saya sendiri itu terasa nikmat sekali.

Jadi jika Anda mengalami malu karena ditertawakan oleh keblunderan Anda, jangan panik atau bahkan menjadi rendah diri. Kenangkanlah peristiwa malu itu dalam sepanjang perjalanan hidup Anda, untuk mengenang bahwa Anda pun manusia biasa yang bisa setiap saat melakukan kebodohan yang konyol. Tertawalah pada diri Anda sendiri. Dan pastikan semakin Anda sering menertawakan diri Anda sendiri, maka Anda akan memiliki kekuatan yan g dahsyat untuk men-drive diri Anda menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dan waspada dalam berfikir, bertindak / melangkah menuju kepada kebijaksanaan hidup.

 

HAHAHHAHAHHAHAHHAA

 

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan