Posts tagged ‘lomba blog’

Lokawisata Tirto Argo Siwarak – Satu Diantara Pesona Alam Ungaran

Dear Pembaca,

Ketika anak kami yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, sedang bermanja-manja kepada saya dan ibunya – mendadak mengatakan : “Pak, kenapa kita tidak pindah saja ke kota yang banyak tempat pikniknya ?”. Entah darimana ide itu terpantik, saya klok tiba-tiba saja menyebutkan Ungaran. “Bagaimana kalau kita ke Ungaran saja?” Pertanyaan saya yang langsung berlanjut antusias darinya. “Banyak tempat piknik ya Pak di Ungaran?” tanya anak kami seketika.

Istri saya yang mendengar, menimpali, “nek kelakon tenan, kapok. Boyongan meneh.” Kata-katanya yang saya jawab sambil terkekeh, “Yo rakpopo, sopo ngerti rejekine anak lanang nang Ungaran. Bapak yo lagi golek-golek gawean meneh kok yo Le.”

Ya, saya mendadak teringat kepada Ungaran. Kenangan tentang Ungaran paling melekat pada saya yaitu ketika masih kecil, saya berdua bersama adik laki-laki saya berkesempatan diajak berekreasi ke kolam pemandian Siwarak. Sebagai anak kecil, baru tahu mau diajak jalan-jalan saja sudah bisa dibayangkan, betapa tiada taranya kegirangan kami, belum lagi ditambah rekreasinya di luar kota – waah, tampah berlipat-lipat kebahagiaan kami, plus sampai di lokasi diperhadapkan pada wahana air … sudah deh tidak perlu dijelaskan lagi, bagaimana “liarnya” kami dua bocah kecil ketika itu. Adik saya langsung nyemplung klebus ke kolam, sementara yang takut berenang, sudah tak terkira bahagianya mencelupkan kedua kaki saya ke dalam kolam, menikmati sejuknya alam Siwarak.

Tidak terlalu istimewa bila kita cuma bicara dari sisi air dan kolam plus papan prosotan yang berliku-liku itu – toh wisata wahana air sudah marak saat ini dengan segala fasilitasnya di beberapa daerah di Indonesia ini. Tapi daya pikat yang tiada tara – yang saya percayai hingga saat ini meski saya belum banyak menjelajahi wisata alam air, di Siwarak ini menjadi istimewa karena didukung pesona lokasi dan lingkungan sekitar dan dan di dalamnya. Bernuansa hutan pinus yang rimbun, sudah sangat cukup menjadikan kawasan wisata ini penuh pesona.

Mengingat kembali Ungaran dan Siwarak, membangkitakan kepenasaran saya untuk tahu lebih banyak tentang Siwarak ini. Maka saya upreg-lah internet, dan berkat jasa kebaikan google atas kemurahatian datanya, bersukalah saya atas data yang saya peroleh.

Taman wisata Siwarak, berjarak sekitar 2 kilometer dari kota Ungaran atau sekitar 23 kilometer dari kota Semarang,  Kolam renang Tirto Argo – lebih dikenal dengan nama Siwarak karena lokasinya yang terletak di Desa Siwarak, tepatnya di Jl. Nyatnyono, Siwarak, Ungaran, Kabupaten Semarang Jawa Tengah ini diresmikan pada 8 Agustus 1968. Selain karena suasananya sejuk, adem dan lokasinya relatif dekat dengan pusat kota, konon air kolamnya termasuk sangat bersih dan rendah kaporit, karena sumber airnya berasal dari mata air Gunung Ungaran.

Didukung dengan kemudahan akses dan fasilitas yang tersedia di dalamnya, menjadikan kolam Siwarak sangat menarik dan nyaman dikunjungi. Dulu saja pada saat kami kecil, masih jelas sekali dalam ingatan kami, sarana kamar mandi dan peturasan yang tersedia jumlahnya cukup dan bersih. Bahkan ada juga tempat penitipan barang, bila pengunjung terlanjur membawa tentengan yang gede-gede yang tidak mungkin dibawa-bawa sepanjang waktu di kolam, bisa dititipkan dengan aman 🙂

Bagi Anda yang bermaksud berwisata ke sana, berikut sebagai sekilas info kolam wisata Siwarak dapat dijelaskan sebagai berikut :

Alamat

Jl. Tirto Argo RT.04 / RW.08 Nyatnyon, Ungaran Barat, Jawa Tengah.

Jam buka

kecuali Selasa dan Rabu (Tutup), Kolam Siwarak dibuka mulai jam 06.30 – 17.00 bbwi.

HTM

Rp. 15.000,- per orang. Rombongan sebanyak lebih dari 30 orang akan mendapat diskon sebesar 10%

Kontak

0812-2927-2707 (edy.tedjos@yahoo.com)

Website

http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

Jadi demikian nostalgia maya saya tentang jalan-jalan wisata saya ke Siwarak – Ungaran. Ungaran, tempat yang dengan nuansa ngangeni, selain tentu saja kota kelahiran saya Yogyakarta 🙂

Masih ada yang ingin saya ulas terkait dengan Ungaran, tentang potensi dan pesonanya : alam, wisata dan ragam kulinernya. Untuk lebih lanjutnya, akan saya uraikan pada tulisan berikutnya ya 🙂

Akhir kata, selain memberikan gambaran singkat tentang pesona alam alam dan lokawisata Siwarak di Ungaran, tulisan ini didedikasikan dan dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Kabupaten Semarang.

 

Salam Sapta Pesona

Ben Sadhana

 

Note : gambar diambil dari berbagai sumber dan web http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

Iklan

YOGYAKARTA MINIATUR INDONESIA (JOGJA ISTIMEWA)

Dear Pembaca,


 

Waktu sebenarnya masih pagi, masih jauh sebelum menyentuh siang. Namun suasana di Jalan Magelang sudah demikian padatnya dipenuhi oleh kendaraan, laju kendaraan tidak bisa lebih dari 10 km per jam sungguh menguji kesabaranku. Satu hal yang paling membuatku lupa sabar adalah bila terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Dan kenapa ini harus kualami hari ini, di kota kelahiranku sendiri – Hufff. Aku cuma bisa mengumpat pelan. Isteriku yang melihat perubahan ekspresi wajahku, “Sudah to, dinikmati saja. Justeru karena macet anak kita jadi senang bisa melihat banyak mobil yang dipamerkan sepanjang jalan ini.” Tangannya mengelapkan tissue ke wajahku, mengusap peluh yang meleleh di pelipisku. Lanjutnya “Lagipula, kalau sepi lancar terus kan namanya ndak ada pertumbuhan di Jogja kita.” Dalam hatiku, benar juga apa yang dikatakan isteriku.

Sejak 1995 saat aku meninggalkan kota Jogja, mengejar rejeki di luar Jogja sekaligus menjemput jodoh di sana, memang Jogja sekarang sudah banyak sekali perubahan. Perubahan ke arah modernisasi. Pertumbuhan hotel berbintang bak jamur di musim hujan, namun dengan tidak mengurangi eksotika asli nuansa Jogja. Budaya dan suasana asli Jogja tetap dipertahankan, sehingga menjadikan Jogja tetap menyimpan daya pesonanya dengan terus memicu animo pelancong domestik maupun mancanegara untuk mengunjunginya.

Dalam perjalanan sejarahnya, banyak peristiwa penting yang menyertai termasuk tokoh – tokoh besar di belakangnya tercatat di Jogja. Sejarah ketatanegaraan sudah dimulai dari sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I seiring berdirinya Keraton Yogyakarta paska perundingan perdamaian Gianti tahun 1755, fungsi Nayoko melalui Kenayakan telah diatur hal – hal terkait urusan dalam dan luar Keraton, mulai soal yayasan dan pekerjaan umum, hasil dan keuangan, agraria dan praja, dan pertahanan. Sistem ini terus berlanjut dipertahankan demi melestarikan budaya di Keraton Yogyakarta. Dalam masa pergerakan pun Jogja mencatatakan peristiwa – peristiwa penting, sejak mulai dijadikannya sebagai Pusat Pemerintahan (Ibukota Negara) sementara, hingga saat peristiwa agresi militer, kesakaralan Keraton begitu difahami oleh pasukan Belanda yang tidak berani merangsek masuk melangkahi benteng tubuh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, meski tahu di dalamnya ada bersembunyi para pejuang dan juga isteri dan anak – anak Jenderal Besar Sudirman sang Panglima tertinggi TKR. Sebuah pengakuan yang absolut betapa istimewanya Jogja dengan Kekuasaan Keraton dan Sultannya.

Pulang ke kotamu / ada setangkup haru dalam rindu / Masih seperti dulu / Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna / … Terhanyut aku akan nostalgi / Saat kita sering luangkan waktu / Nikmati bersama / Suasana Jogja. – Vokal merdu Katon Bagaskoro melantunkan lagu Yogyakarta cukup menjadi penyejuk bagi kami yang masih di dalam kemacetan lalu lintas. Hhhm, suasana Jogja bagaimanapun selalu ngangeni. Harus kuakui banyak hal istimewa yang menjadikan Jogja menjadi special. Pembangunannya yang terus menggeliat menata diri menjadikan Jogja semakin elok mengundang penasaran kepada siapapun untuk bisa menginjakkan kakinya meski sekedar mengambil foto diri di bawah plang papan warna hijau yang menunjukkan sedang berada di Jl. Malioboro, atau menikmati segala pesona kulinernya dan pariwisatanya. Catat saja Gudeg, sayur nangka kering yang begitu fenomenal. Juga Bakpia Patok yang meski di kota lain ada tetap saja menjadikan sensasi tersendiri apabila di dalam kabin pesawat ataupun kereta api terlihat tangan menenteng kardus bertuliskan bakpia patok, penanda oleh – oleh dari Jogja.

Lagu Yogyakarta masih mengalun menghibur perjalanan kami mengurai macet Jalan Magelang. Di detik ini rasa kesalku karena macet berangsur sudah kulupakan, berganti dengan rasa bahagia dan syukur karena menjadi orang Jogja. Jogajaku sekarang dengan segala permasalahanya, kuanggap wajar dan sah – sah saja bila pembangunan selalu melahirkan pro dan kontra dari para pihak berkepentingan. Mulai dari penataan area pedestrian sepanjang Jl. A. Yani – Malioboro yang sarat pendekatan dan negosiasi, toh akhirnya juga terealiasasi dengan damai. Malioboro menjadi indah. Pejalan kaki lebih nyaman menikmati trotoar tanpa gangguan terhalang parkiran sepeda motor.

Dalam kemacetan kulihat seorang anak pedagang koran, kubeli satu darinya. Masih dapat kembalian karena sudah siang kata si loper – uang kembalian yang ditukar oleh isteriku dengan minuman sari buah dalam kemasan, yang diterimanya dengan sukacita. Kuangsurkan koran ke isteriku, memintanya membacakan barangkali ada berita penting. Ya, mungkin saja ada berita prestisius baru tentang Jogja yang masa kini  pemerintahannya di bawah Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk penataan kota dibantu oleh walikotanya dan para bupati.

“Kok lama, mampir mana saja.” Kata Bapak menyambut kami yang baru tiba, seraya menangkap tubuh kecil putra kami, yang langsung menemukan kenyamanan di gendongan Kakungnya.

“Macet di Jl. Magelang.” Jawabku singkat, sambil kuhempaskan tubuhku ke bangku di teras.

“Jogja sudah beda banget sekarang ya Pak.” Kata isteriku.

“Jogja sekarang rame banget, aku saja suka aras-arasen kalau ibumu minta diantar keluar naik motor.” Kata bapak, “Mata tuaku dan kegesitanku sudah kurang banget, suka gruyah gruyuh kalau naik motor mbongcengkan ibumu.” Lanjut bapak sambil terkekeh.

Kuraih koran yang baru kubeli, kutemukan sebuah judul “Ziarah Raih Penghargaan Film ASEAN Berkat Nenek Gunung Kidul.” Dalam berita ini disebutkan Ziarah diganjar penghargaan Best Screenplay dan Special Jury Award di Kuching, Serawak, Malaysia. Malam penganugerahan AIFFA berlangsung di Pullman Hotel, 1A Jalan Mathies, Kuching Serawak, Malaysia pada Sabtu, 6 Mei 2017 – Indonesia keangkat nih, batinku. Mau tidak mau menjadi Jogja menjadi Indonesia, kebanggaanku semakin penuh menjadi Jogja sudah pasti menjadi Indonesia. Apa yang orang ketahui dan temukan di Jogja, kalau baik menjadikan Indonesia baik, demikian pun jika kesan Jogja jelek maka tidak baik pula kesan Indonesia.

Aku teringat dengan klipingku tentang Jogja, potongan artikel tentang Jogja, tentang prestasinya. Kubuka album klipingku yang tersimpan di data telepon genggamku. Berbagai prestasi dan penghargaan – nasional / internasional – yang pernah diraih Jogja diantaranya, dan masih banyak lainnya :

  1. Daerah Istimewa Yogyakarta meraih penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara 2017 dalam kategori provinsi dengan perencanaan terbaik dari Kementerian PPN/ Bappenas. Yogyakarta berhasil meraih nilai baik memenuhi 12 kriteria yang meliputi keterkaitan, konsistensi, kelengkapan dan kedalaman, keterukuran, inovasi kebijakan, proses perencanaan teknokratik, proses perencanaan politik, inovasi proses dan program daerah, tampilan dan materi presentasi, serta kemampuan presentasi dan penguasaan materi.
  2. Kota Gudeg dinobatkan sebagai Kota Terbaik dalam bidang Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Penghargaan diberikan oleh International Council For Small Business (ICSB) award 2016.
  3. Program modernisasi pengadaan di Unit Layanan Pengadaan Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh apresiasi internasional yaitu dari Millenium Challenge Corporation yang berpusat di Amerika Serikat. MCC mengapresiasi Yogyakarta melalui Unit Layanan Pengadaan yang dimiliki bisa menjadi salah satu contoh atau model pengembangan sistem pengadaan yang efektif dan efisien.
  4. Pemkot Jogja menerima penghargaan di bidang pariwisata sebagai The Best Performance kategori Gold yang diberikan oleh Menteri Pariwisata RI, Dr Ir Arif Yahya MSc dalam acara Travel Club Tourism Award (TCTA), Kamis malam 20/11/2014 di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah.

Isteriku yang melihatku mesam – mesem mengamati ponselku, mengetahui apa yang kubaca – kakinya diketukkan ke kakiku. “Kenapa ?” Tanya bapak yang melihat ulah isteriku.

“Ini Pak, Mas Ben tadi ngedumel terus mengeluhkan macet.” Jawab isteriku menggodaku.

“Kamasmu yo ncen begitu, ora sabaran.” Kata bapak yang memicu tawa kami bertiga. Ibu kami yang mendengar keriangan di teras, menyusul keluar bergabung.

“Ada apa ini, kok sepertinya gayeng banget, kedengaran dari dapur.”

“Anak lanang, jarene getun dadi wong Jogja, dalane macet.” Bapak berkelakar.

“Halah kok reko – reko. Mereka itu para turis, belum sah ngaku sudah ke Indonesia kalau belum ke Jogja.” Kata ibu sambil balik kanan kembali masuk meneruskan rapi – rapi dapur, isteriku mengikutinya.

Ya, memang benar rupanya. Menjadi Jogja berarti menjadi Indonesia. Karena semua budaya Indonesia berkumpul ruah di Jogja. Provinisi dengan kultur dan religi beragam di dalamnya, tetapi tetap mampu merayakan perbedaan dalam keharmonisan dengan damai yang menentramkan semua penghuninya; baik penduduk maupun para pendatang dan wisatawan.

Sekali lagi, menjadi Jogja berarti menjadi Indonesia, karena Jogja Istimewa.

 


Salam

Ben Sadhana

%d blogger menyukai ini: