Salam dari Rumah Sadhana,

Membaca pamflet lomba blog UII [Universitas Islam Indonesia], ingatan Denmas Detelu terbawa kembali ke masa remajanya tatkala ia masih berstatus sebagai mahasiswa. Kala itu betapa bahagianya ia menjadi mahasiswa. Bahagia bagaimana di hari pertama masa opspeknya Denmas Detelu sudah berhasil dipilih mengantarkan teman perempuannya kembali ke tempat kost-nya untuk mengambil kelengkapan opspek yang ketinggalan, yang karenanya telah memberikan kepada Desmas Detelu pengalaman pertama naik taxi dengan segala keluguannya. Betapa bahagianya Denmas Detelu merasakan jatuh cinta sesungguhnya kepada dua orang kawan mahasiswinya walau isi hatinya itu tidak pernah terungkapkan hingga selesai masa perkuliahan karena tidak mendapatkan dukungan nyalinya. Bagaimana Denmas Detelu menjadi sangat rajin hadir di salah satu mata kuliah demi menikmati keayuan ibu dosennya. Dan masih banyak lagi keindahan dan kebanggaan menjadi bagian kampus indah di selatan kota gudeg itu.

Kampus Denmas Detelu di masanya memang cukup terkenal dan diminati oleh para orang tua yang akan memahasiswakan anak-anak mereka. Berbagai julukan disandang kampus merah bata itu, mulai perguruan tinggi favorit karena biaya masuk dan kuliahnya yang sangat murah [sebagai bocoran, waktu itu Denmas Detelu cuma membayar Rp. 75.000,00 saja untuk uang sumbangan pembangunan], perguruan tinggi idaman [bagi para calon mahasiswa kampus lain] yang berbela-bela mengikuti perkuliahan di sana karena terkenal oleh adanya ibu dosennya yang ayu, perguruan tinggi terbaik pun layak disandangkan ke kampus di mana Denmas Detelu mengenyam pendidikan tinggi karena [barangkali] ketidaktegaan pihak yayasan untuk men-DO kan mahasiswa yang “enggan” lulus segera sehingga banyak yang mendapat gelar MA [mahasiswa abadi] 🙂 . Termasuk julukan “sangar” karena di setiap kelas perkuliahan selalu saja muncul nama salah satu genk yang cukup disegani di kota pendidikan itu dengan cat berukuran huruf besar-besar. Meskipun telah berulang kali dicat ulang temboknya, toh tidak menyurutkan nyali penulisnya untuk menghidupkan kejayaan genk ngeri itu di kampus itu dengan mengecatkan ulang nama genk sangar itu di temboknya. hiiiyyy.

Namun kini, empat belas tahun sesudah Denmas Detelu diwisuda, semua kenangan indah itu hanya menyisakan pagar seng usang yang mengelilingi enam hektare lahan menjadi saksi bisu bahwa di situ pernah berdiri megah kampus idaman favorit terbaik. Hanya gapura dengan nama dan logo kampus, yang masih menjadi prasasti.

Gempa bumi hebat empat tahun lalu telah meluluhlantakkan keperkasaan tembok kampus Denmas Detelu. Namun Denmas Detelu tidak rela jika peristiwa bencana alam itu disebut sebagai penyebab keruntuhan kampusnya. Kampus itu runtuh karena keangkaramurkaan.

Jauh sebelum peristiwa gempa bumi hebat itu, benih-benih kehancuran sudah menjalar merapuhkannya. Lihatlah institusi yang selayaknya menyediakan suasana nyaman dan mendidik, telah berubah menjadi padang kurusetra di mana dua kekuatan nafsu berkuasa saling bertikai memecah kebersamaan untuk satu tujuan ambisi kekuasaan. Pendidik terpecah saling menjatuhkan, pun mahasiswa/mahasiswi terperangkap sebagai amunisi penghancur untuk dua kubu berseteru.

Kepedihan selalu merongrong hati Denmas Detelu setiap kali ia melewati “tanah kosong” itu. Bukan karena sedih kesulitan melakukan legalisasi ijazah, toh masih ada kopertis. Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat ini, mengapa ? Mengapa mesti kemegahan itu hancur bukan oleh kekuatan eksternal ? Mengapa justeru digerogoti dan dihancurkan sendiri dari dalam oleh kekuatan yang seharusnya memperkokohnya ?

Kini empat tahun setelah peristiwa “keruntuhan fisik” kampusnya, banyak di tempat lain Denmas masih menyaksikan pembelokan fungsi dan misi awal sebuah institusi pendidikan dibangun. Misi penciptaan intelektualitas mumpuni sebagai pembangun bangsa, kini telah menjadi kendaraan bagi pribadi-pribadi yang haus dengan kekuasaan. Lihatlah bagaimana dengan brutalnya anak-anak muda lugu itu kini menjadi cyborg yang saling serang dan merusak fasilitas pencerdasnya. Lihatlah bagaimana “calon pemimpin” yang senantiasa mereka klaimkan sendiri, mereka bantah dan ingkari sendiri dengan turun di jalan-jalan merusak fasilitas umum demi membela keangkaramurkaan.

Tak bisa ditahan, bulir-bulir hangat bergulir dari kelopak matanya meleleh membasahi wajah Denmas Detelu. Bukan karena haru, tapi keperihan yang mendalam.

Kemanakah institusi baik itu ?

Kemanakah jiwa – jiwa baik pencetak generasi unggul itu ?

Kemanakah keluguan tulus untuk mereguk ilmu-ilmu kebaikan itu ?

Denmas Detelu berharap, semoga dengan ajang kompetisi ini.  Universitas Islam Indonesia yang bertetanggaan dengan “kampus yang hilang”, yang menjelang melakukan pemilihan pemimpin barunya, mampu menjadi titik awal kebangkitan kembali misi pencerdasan dan pembangunan bangsa yang adil makmur merata. Semoga dimulai dengan pemilihan pemimpin UII yang damai dan berzirah kehormatan kemegahan kampus sebagai institusi intelek, akan menjadi penawar bagi virus-virus kehancuran yang sedang menjalari negeri tercinta ini, dengan perlombaaan menuju perguruan tinggi terbaik, idaman dan favorit.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan