You Are My Valentine

Salam untuk Anda sekalian,

Hari ini tanggal 14 Februari, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya … nuansa cinta merebak dan mewarnai banyak aspek sosial. Mulai dari acara televisi,  supermarket, department store, hotel bahkan di beberapa institusi pendidikan dan perusahaan, ada tradisi rutin di antara para karyawan dan siswanya untuk merayakan hari valentine Ornamen warna pink yang konon melambangkan warna cinta kasih menonjol di berbagai sudut, dalam bentuk-bentuk hiasan. Tradisi bertukar hadiah, bunga, kartu, puisi, atau coklat berbentuk hati masih mengedepan di sebagian masyarakat bumi ini.

Menilik balik kepada masa lalu di mana titik awal dipilih dan ditetapkannya tanggal 14 Februari menjadi hari kasih sayang atau lebih tren sebagai valentine day, tidak ada referensi akurat yang dapat menjadi rujukan sejarah.

Ada beberapa versi cerita yang melatarinya; di Yunani [Athena] pertengahan bulan Februari terkait dengan cinta dan kesuburan. Dalam kalender mereka, pertengahan bulan Januari dan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai, terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Dalam sejarah gereja [Katholik Roma], catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa :

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)

When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa :

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Pada era modern, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A Howland [1828 – 1904] dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

Bagaimana tradisi hari Valentine di begara-negara non-barat ?

Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih” [White Day] muncul. Pada tangga 14 Maret pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan”[Qi Xi]. Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

Terlepas dari keshahihan semua sejarah tentang asal mula hari valentine sebagaimana diriwayatkan di atas [wikipeidia], toh semua meriwayatkan tentang peristiwa kelahiran dan  cinta. Namun,  hingga hari ini tentang perayaan hari kasih sayang masih menjadi polemik di Indonesia, baik tentang esensi dan sejarah dari hari valentine itu sendiri maupun idealisme sebuah keyakinan yang menolak budaya barat [ingat semua referensi merujuk kepada tradisi barat, bukan Asia atau Timur Tengah]. Bahkan terakhir tersiar kabar bahwa ada sebuah institusi keagamaan yang telah mengeluarkan fatwa haram untuk hari valentine.

Valentine day atau hari kasih sayang, terlepas dari semua kontroversi dan pertentangannya, tidak ada salahnya bila ada kehendak baik di antara kita sekalian untuk mengakui bahwa kasih sayang itu adalah esensi kehidupan kekal yang telah dibekalkan oleh Tuhan Sang Kasih kepada semesta alam ciptaanNya. Tidak ada semua kehidupan yang berawal, dan berkembang tumbuh tanpa peran serta dan campur tangan dari Dzat Mahakasih.

Sebagai penutup untuk kita renungkan bersama, marilah kita membayangkan penderitaan dan kesakitan ibu dan bunda kita, yang karena cinta kasihnya kepada kita berjuang mempertaruhkan jiwanya demi ingin menyaksikan kehadiran kita buah cinta dengan ayah kita. Demikian pun puja-puji doa atau lafadz adzan yang didengungkan ke telinga kita oleh ayah mengharapkan pertumbuhan baik untuk kita putera-puterinya terkasih. Pun karena alasan cinta.

Dan semua itu akan terus bersambung kepada kita, putra-puteri kita, cucu, cicit dan seterusnya. Semua karena cinta kasih, bukan ?

Ada sebuah firman Tuhan yang sangat indah bagaimana cinta kasih itu dimaknakan dalam Kidung Agung :

5 – Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? –Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.
6  – Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
7  – Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

 

Selamat hari kasih sayang.

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko