Dear,

Banyak yang menunjukkan keheranan baik secara ekplisit maupun terang – terangan menyatakan keheranannya akan perubahan kecenderungan halaman dunia maya saya, khususnya konten yang saya tampilkan. Ya banyak kawan termasuk saudara saya yang heran tentang perubahan mendadak saya ketika halaman facebook saya makin rutin terisi dengan baris – baris kata puitis. Saya mendadak puitis, demikian komentar adik saya atas satu postingan saya di facebook. Bahkan seorang kawan lama, dengan jenakanya “ngguyoni” saya melalui komentarnya yang dikaitkan dengan usia saya saat ini, katanya saya sedang masa – masa “P” 🙂

Baiklah saya mengaku. Semua berawal ketika saya menemukan satu info di facebook tentang adanya pelatihan menulis Pentigraf, sebuah acara workhsop menulis yang merupakan kerjasama dari Komunitas Menulis Deo Gratias dengan Universitas Katolik Widyakarya di Malang.

Singkat cerita saya mendaftar dan hadir pada acara tersebut.

Topik yang diangkat juga unik menurut saya, PENTIGRAF. Sebuah istilah yang terdengar asing di telinga saya, yang baru kemudian saya ketahui sebagai kependekan dari Cerpen Tiga Paragraf. Pertanyaan baru muncul di benak, bagaimana wujudnya, sebuah cerpen cuma dalam tiga paragraf, bagaimana mungkin ? Kalaupun setiap paragrafnya panjang, apa malah tidak menjadi bertele – tele, toh kenyataan sesuai kaidah satu paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran.

Hal yang awalnya tidak mungkin untuk pemahaman saya yang telah lama libur dati aktivitas menulis (blogging), terjawab gamblang dan tuntas di 2 hari workshop yang dilaksanakan tanggal 8 – 9 Juli 2017. Selain paparan dari Pak Tengsoe Tjahyono yang telah memulai memperkenalkan pentigraf sejak awal tahun 1980-an itu, kami pun para peserta berkesempatan mempelajari dan menikmati 200 karya Pentigraf dari para cerpenis yang tergabung dalam Buku Kitab Pentigraf “Pedagang Jambu Biji Dari Phnom Penh” yang dilaunching pada hari kedua workshop, dan dibagikan kepada setiap peserta yang hadir.

Di hari pertama setiap peserta langsung diminta membuat pentigraf ala mereka, yang akan dipilih satu pentigraf terpilih dari  7 kelompok yang akan diprsentasikan pada hari kedua, sekaligus dikomentari oleh para cerpenis yang hadir. Setelahnya, masih di hari kedua, Peserta workshop berkesempatan berdiskusi interaksi dengan Ibu Maria Lupiani dan Bapak Eka Budianta yang dengan sabar dan jelas menanggapi setiap pertanyaan para peserta yang masih awam akan Pentigraf.

Dan, ini yang paling menarik.

Pada akhir acara, kepada setiap peserta diberikan Pekerjaan Rumah, menulis sedikitnya 6 (enam) karya pentigrafnya yang selanjutnya akan dikurasi dan dievaluasi untuk dikompilasikan ke dalam sebuah buku Pentigraf. Sebuah PR yang sangat menantang. 🙂

Penasaran dengan Pentigraf ? 🙂

pentigraf

Posting ini sekaligus undangan.

Silakan hadir pada tanggal 27 Agustus 2017 mendatang. 🙂


Salam

Ben Sadhana

Iklan