Entah

Dear,

Beberapa waktu ini, saya jadi suka ngulik Rumah Sadhana; perbaikan dan re-modifikasi serta copot dan pasang sana sini sedang menjadi konsentrasi saya. Saya serasa mengalami lahir kembali, mengalami passion menulis yang sebenarnya obsesi lama saya untuk tekun dalam kegiatan literati, namun sempat kendur dan tak-tersalurkan lebih dari satu repelita 🙂 .

Suka dan suka, begitulah yang saya rasakan. Bahkan istri dan anak saya sesekali ngecengi tiap kali keduanya mendapati saya tengah asyik berlama – lama di depan komputer, menata ulang dan mengisi posting di Rumah Sadhana, dan juga blog saya lainnya. 🙂 Surprise banget, setelah sekian tahun saya tidak menengok Rumah Sadhana, saya dapati berbagai pembaruan telah ditampilkan oleh wordpress, mulai dari feature yang makin enak dipandang, juga ragam pilihan template desain baru yang makin manis  enak dipandang dan elegan disediakannya.

Namun di balik gairah yang saya temukan kembali ini, terbersit pula kegundahan dalam hati saya. Ketika saya merambah pada bagian blogroll atau senarai, saya menemukan banyak sekali kawan – kawan blogger yang dulu aktif tampil dengan desain dan konten yang manis – manis, kini telah banyak yang tidak merawat ladang inspirasi mereka sebagaimana juga yang telah saya lakukan pada Rumah Sadhana saya ini. Yang membuat saya makin sedih, bahkan ada blog – blog yang telah dihapus, entah oleh pemiliknya, maupun oleh wordpress sendiri. Sungguh kondisi yang sangat disayangkan. Ada juga yang mengunci blog mereka menjadi private, untuk ini saya menghargai pilihan privacy mereka. 🙂

Mungkin adakalanya kita merasa bosan dan mengalami letih, namun menghapus jejak kenangan yang telah terekam indah di halaman blog, bagi saya sebuah keputusan yang terburu – buru dan disayangkan. Karena sejauh yang saya tahu, provider layanan blog terutama layanan blog gratis, tidak pernah menutup blog yang telah ada kontennya, kecuali memang blog itu tidak pernah ada pengisian kontent sama sekali, seperti saya alami ketika saya coba buat di blogdrive yang pada akhirnya di-delete dengan peringatan resmi disampaikan melalui email saya, atau karena penyelenggara blog yang tidak melanjutkan layanannya seperti blogspot (sekarang diambil alih google) dan juga blog.com.

Sehingga kemarin itu, saya pun akhirnya harus merelakan melepaskan nama – nama indah yang pernah sama – sama mengalami kebersamaan dalam diskusi maya melalui blog – blog mereka, menanggalkannya dari daftar tautan di Rumah Sadhana dan blog saya lainnya. Saya jadi teringat pernyataan pakar telematika beberapa tahun lampau sekitar tahun 2009 – 2010 kalau tidak salah ingat. Ketika itu melalui acara bincang – bincang di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Pak Roy Suryo menyebutkan blog hanyalah euforia sesaat yang akan hilang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Pernyataan yang awalnya saya tentang oleh batin saya, karena sedang senang – senangnya saya ngeblog waktu itu.

Pernyataan Pak Roy Suryo itu mau tidak mau harus saya akui ada benarnya saat ini. Ketika saya mulai bangkit membenahi Rumah Sadhana, banyak teman – teman blogger yang saya ketahui sudah benar – benar meninggalkan aktivitas blogging mereka. Mudah – mudahan asumsi saya tidak benar, namun mohon perkenankan saya menyampaikan sebuah kesimpulan, bahwa mungkin teman – teman selain mengalami kejenuhan seperti yang pernah saya alami, juga melihat kegiatan blogging sudah tidak ada gregetnya lagi, terbukti dari web yang dulu berlomba bersaing menyediakan layanan tools SEO (yang hingga saat ini saya masih tetap salah mengejanya SE-E-O, bukan ES-E-O), sudah mengundurkan diri menghentikan layanan dan kalau masih pun sudah tidak seakurat dulu lagi hitungannya, termasuk layanan badge atau lencana facebook yang sudah tidak disediakan lagi oleh facebook. Ditambah dengan tidak berlanjutnya layanan blogspot yang dulu banyak dipilih oleh pemain blog. Dari dalam negeri tercatat dagdigdug, kompasiana, indonesiana dan blogdetik yang sudah mulai mengurangi porsi memanjakan pengguna maupun pengunjungnya, saya rasa menjadikan animo nge-blog saat ini menjadi tidak sesemarak dan segempita dulu. – Sekali lagi mohon maaf bila analisa saya ini tidak benar.

Namun demikian saya menemukan beberapa teman yang masih bertahan setia pada kegiatan bloggingnya, dengan idelisme yang masih tetap terjaga seperti dulu. Salam salut buat Gus Kar dan juga Om Sigit S Darmawan. Keduanya masih terpantau jejak bloggingnya konsisten hingga posting terakhirnya di bulan Juli 2017 ini.

Akhir kata, ayo mari kita ngeblog lagi teman – teman 🙂

 


Salam

Ben Sadhana

Iklan

N(e)geri Tanpa Medsos

Dear,

Bingung. Itu yang terpikir pertama saat saya hendak memilih kalimat utama tulisan saya kali ini. Bingung, yah saya memang benar bingung. Karena post ini adalah tulisan saya yang pertama sejak publikasi tulisan terakhir saya tanggal 26 Maret 2011 lalu. Bisa dibayangkan, sebuah rentang waktu yang sangat lama bagi seorang blogger ya. Lebih enam tahun seorang Blogger membiarkan blog yang dibangunnya terlantar terabaikan, luar biasa hehehe.

Saya teringat kembali dengan Rumah Sadhana ini setelah di media (online dan elektronik) – saya memang sudah jarang menjamah media cetak lagi 🙂 – mulai suka mewartakan wacana pemblokiran beberapa media silaturahmi seperti Telegram, WA atau bahkan konon facebook dan youtube pun tersebutkan pula masuk dalam target incaran blokir, jangan – jangan Twitter, Instagram dan Path juga mulai dag dig dug (bukan local blog provider lhoh ya). Bayangkan dunia tanpa WA, tanpa Telegram, tanpa Facebook, tanpa Youtube dan lain – lain yang saya belum kenal.

Meski ada keasyikan dan menghadirkan sense of romantisme tersendiri ketika hendak menyapa keluarga atau sohib atau kekasih hati bahkan, kita yang di rantau harus membeli kertas surat dan pena, kemudian menuliskan secara manual (tulis tangan – red) beribu – ribu abjad tanpa dibatasi kuota maksimal karakter, berikutnya ke warung bila ada (kalau tidak ada ya mesti ke kantor pos) beli perangko terus cari bis surat, atau biar keren kirim pake pos kilat khusus atau pos tercatat. Ngeng ngeng ngeng ngeng … berlaku sama jika pakai pos express, dengan Telegram konvensional layanan Perumtel yang bisa diatur – atur jumlah kata atau beritanya sesuai biaya yang dikehendaki, pun seandainya ini alternatif yang dipilih paling cepat keesokan harinya baru bisa sampai di alamat orang tua kita atau penerima surat lainnya. – Diterima, dibaca, dipahami (mungkin perlu juga melankolisasi pakai nangis – nangis dulu, bila isi surat mengandung konten mengharu biru mewartakan transfer uang bulanan yang belum diterima dari ortu dan lain – lain). Baru kemudian dengan proses panjang yang sama dilakukan oleh ortu atau penerima untuk membuat surat balasan. A ha 🙂

Proses jalan panjang perjalanan sebuah surat bolak – balik untuk membangun silaturahmi interaktif, bayangkan. Memang benar ada sisi daramatisasi proses membangun emosi saat menantikan datangnya surat hingga sampai diterima dan dibaca (ingat lagunya Mr. Postman dari group B*Witched dan Surat Cintaku dari Vina Panduwinata ?), tapi kan … O la la.

Jadi, saya berdoa semoga penutupan massal beberapa nama media komunikasi online dan / atau elektronik sebagaimana konon diwacanakan oleh pemerintah kita, hanya sebuah wacana dan tidak jadi direalisasikan karena kekuatiran yang terbangun sudah ditindaklanjuti dengan baik dan kooperatif oleh penyedia layanan. Hal lain, mengingat disamping penyimpangan yang sudah diindikasikan telah dilakukan oleh kelompok tertentu untuk mewujudkan misi tidak terpujinya, tetaplah jauh lebih banyak user baik nan bijaksana yang menggunakan akun-nya dengan dan untukmaksud – maksud yang baik pula. Betul tidaak ?

Banyak lho orang baik yang menggunakan media sosial untuk membagikan kebaikan, seperti Gus Sholah, Gus Mus, Gus Can, Pak Tifatul Sembiring, (yang terakhir disebut termasuk aktif lho di twitter 🙂 ) dll yang menggunakan akun twitter beliau semua untuk membagikan nasihat – nasihat kebaikan dari sisi keyakinan mereka namun tetap bernuansa universal bisa diterima semua umat.

Tapi ngomong – ngomong, kalau benar semua jadi diblokir … bisnis warpostel kayanya menggiurkan lhoh, bisa jadi peluang bisnis profitable. Hehehehehe.

 

Salam

Ben Sadhana

 

Enaknya Menertawakan Diri Sendiri

Salam untuk Anda semua,

 

Disoraki atau ditertawakan oleh orang lain, tentu saja itu sudah biasa. Saya, Anda atau yang lain, saya yakin sekali atau 2 kali bahkan lebih mungkin, pernah melakukan sebuah tindakan blunder yang konyol. Entah sengaja atau tidak sengaja, melakukan sebuah kekonyolan biasanya pasti akan menciptakan respon gelak tawa, minimal cibir dari orang-orang yang mengetahuinya. Dan pasti dampaknya adalah malu, sakit hati, minder, salah tingkah.

Namun demikian ada kalanya, sikap blunder kita pun bisa mendatangkan simpati dan empati. Seperti halnya pernah saya alami, suatu ketika saya pernah tertimpa malu berjuta rasa ketika saya harus terjerembab ke dalam kubangan air [yang tidak bersih tentunya]. Jadi ceritanya malam [suasana gelap] itu saya bermaksud hendak bermain ke tempat kost teman saya. Dalam perjalanan saya berpapasan dengan sepasang muda-mudi, dan saya untuk berbasa-basi [karena belum kenal, dan ingin bersikap ramah], berkata : “awas hati-hati, tempatnya gelap … tersandung lho.” Dan sedetik kemudian …. jblashb. Sayapun terpersok ke dalam kubangan air tepat di sebelah kedua muda-mudi itu. Ya, saya telah bertemu dengan “kekonyolan tidak sengaja” saya sendiri. Bagaimana tidak ? Lha wong tempat dimana saya terperosok itu adalah halaman samping rumah tetangga saya sendiri yang semestinya saya sudah sangat mengenali medannya, tapi kok ya tetap saja saya yang mesti terperosok,  mengapa bukan muda-mudi itu ? 🙂

Saya sangat malu sekali saat itu, meskipun tidak mendapatkan tertawaan secara visual [karena saya yakin, pasti kedua anak muda itu dalam hati mereka tertawa terpingkal-pingkal … menertawakan penasehat yang kurang hati-hati dan menemui lengahnya]. Keduanya membantu saya untuk keluar dari kubangan.

Kekonyolan lain yanga pernah saya lakukan ketika masih duduk di bangku SMP. Saya tidak begitu menyukai pelajaran ilmu pasti semisal Aritmatika, tentu saja semangat saya untuk mempelajari giat pun kurang. Alhasil nilai-nilai saya untuk ilmu pasti bisa dipastikan kebakaran di buku raport. Saat itu guru kami memberikan test bergilir menjawab soal dari buku. Saya yang merasa lemah di mata pelajaran itu sudah ancang-ancang menghitung giliran saya. [saya tidak menyimak jawaban kawan-kawan saya,  saya mencari tahu jawaban pas soal yang yang “akan” menjadi giliran saya menjawab. Dan tibalah saat giliran saya menjawab. Saya pun bangkit untuk maju ke papan tulis … namun ternyata. Ya, saya salah hitung, ada teman saya yang terlewatkan saya hitung, jadi sebenarnya hak jawab saya adalah untuk soal nomor setelahnya. Panik melanda.

Saya menyaksikan kawan saya maju dan menuliskan jawaban jitu di papan tulis. Nah, di sinilah saya mempertunjukkan kekonyolan saya dengan sukses sekali.

“Agung, mengapa sudut ini sekarang menjadi 45 derajat ?”

“Anu, dikira-kira Pak.” Jawaban lantang dan spontan saya yang langsung disambut gemuruh sorakan dan tawa kawan-kawan sekelas.

“Ya, jawaban yang betul untuk anak yang tidak nyimak soal.” jawab guru Aritmatika kami.

Dan masih ada beberapa hal blunder dan konyol lainnya yang pernah saya alami sepanjang 39 tahun umur saya ini, dan pastinya saya tidak akan ungkap kepada Anda semua di sini, untuk menghindari paduan suara gelak tawa Anda menertawakan saya, ya :).

Ya, ditertawakan orang meski karena kita sadar memang layak dan sepantasnya kita ditertawakan atau disoraki, namun pintu kerelaan untuk hal itu tidak ada seorang pun yang mau membukakannya, bukan ?

Saya hingga sekarang pun masih terekam jelas dalam memori ingatan saya atas kedua hal itu, dan sulit sekali untuk menolak menertawakan kejadian itu. Bedanya tertawa saya menertawakan diri saya sendiri itu terasa nikmat sekali.

Jadi jika Anda mengalami malu karena ditertawakan oleh keblunderan Anda, jangan panik atau bahkan menjadi rendah diri. Kenangkanlah peristiwa malu itu dalam sepanjang perjalanan hidup Anda, untuk mengenang bahwa Anda pun manusia biasa yang bisa setiap saat melakukan kebodohan yang konyol. Tertawalah pada diri Anda sendiri. Dan pastikan semakin Anda sering menertawakan diri Anda sendiri, maka Anda akan memiliki kekuatan yan g dahsyat untuk men-drive diri Anda menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dan waspada dalam berfikir, bertindak / melangkah menuju kepada kebijaksanaan hidup.

 

HAHAHHAHAHHAHAHHAA

 

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

You Are My Valentine

Salam untuk Anda sekalian,

Hari ini tanggal 14 Februari, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya … nuansa cinta merebak dan mewarnai banyak aspek sosial. Mulai dari acara televisi,  supermarket, department store, hotel bahkan di beberapa institusi pendidikan dan perusahaan, ada tradisi rutin di antara para karyawan dan siswanya untuk merayakan hari valentine Ornamen warna pink yang konon melambangkan warna cinta kasih menonjol di berbagai sudut, dalam bentuk-bentuk hiasan. Tradisi bertukar hadiah, bunga, kartu, puisi, atau coklat berbentuk hati masih mengedepan di sebagian masyarakat bumi ini.

Menilik balik kepada masa lalu di mana titik awal dipilih dan ditetapkannya tanggal 14 Februari menjadi hari kasih sayang atau lebih tren sebagai valentine day, tidak ada referensi akurat yang dapat menjadi rujukan sejarah.

Ada beberapa versi cerita yang melatarinya; di Yunani [Athena] pertengahan bulan Februari terkait dengan cinta dan kesuburan. Dalam kalender mereka, pertengahan bulan Januari dan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai, terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Dalam sejarah gereja [Katholik Roma], catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa :

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)

When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa :

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Pada era modern, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A Howland [1828 – 1904] dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

Bagaimana tradisi hari Valentine di begara-negara non-barat ?

Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih” [White Day] muncul. Pada tangga 14 Maret pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan”[Qi Xi]. Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

Terlepas dari keshahihan semua sejarah tentang asal mula hari valentine sebagaimana diriwayatkan di atas [wikipeidia], toh semua meriwayatkan tentang peristiwa kelahiran dan  cinta. Namun,  hingga hari ini tentang perayaan hari kasih sayang masih menjadi polemik di Indonesia, baik tentang esensi dan sejarah dari hari valentine itu sendiri maupun idealisme sebuah keyakinan yang menolak budaya barat [ingat semua referensi merujuk kepada tradisi barat, bukan Asia atau Timur Tengah]. Bahkan terakhir tersiar kabar bahwa ada sebuah institusi keagamaan yang telah mengeluarkan fatwa haram untuk hari valentine.

Valentine day atau hari kasih sayang, terlepas dari semua kontroversi dan pertentangannya, tidak ada salahnya bila ada kehendak baik di antara kita sekalian untuk mengakui bahwa kasih sayang itu adalah esensi kehidupan kekal yang telah dibekalkan oleh Tuhan Sang Kasih kepada semesta alam ciptaanNya. Tidak ada semua kehidupan yang berawal, dan berkembang tumbuh tanpa peran serta dan campur tangan dari Dzat Mahakasih.

Sebagai penutup untuk kita renungkan bersama, marilah kita membayangkan penderitaan dan kesakitan ibu dan bunda kita, yang karena cinta kasihnya kepada kita berjuang mempertaruhkan jiwanya demi ingin menyaksikan kehadiran kita buah cinta dengan ayah kita. Demikian pun puja-puji doa atau lafadz adzan yang didengungkan ke telinga kita oleh ayah mengharapkan pertumbuhan baik untuk kita putera-puterinya terkasih. Pun karena alasan cinta.

Dan semua itu akan terus bersambung kepada kita, putra-puteri kita, cucu, cicit dan seterusnya. Semua karena cinta kasih, bukan ?

Ada sebuah firman Tuhan yang sangat indah bagaimana cinta kasih itu dimaknakan dalam Kidung Agung :

5 – Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? –Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.
6  – Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
7  – Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

 

Selamat hari kasih sayang.

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Mau Dibawa Kemana … Negeri kita ?

Salam untuk Anda sekalian,

Denmas Detelu meraih slot kunci pagar rumahnya, membukanya. Kelelahan yang mengelayutinya sepanjang perjalanan menuju rumah dari tempatnya bekerja, perlahan berganti dengan kecerahan tatkala dari balik pintu ruang tamunya muncul sosok kecil putranya menyambut, “Bapak, Mamah Bapak Mah.”

Sekejab tubuh mungil montok itu sudah berada dalam gendongan Denmas Detelu.

“Bapak, enak … enak … enak.” Rengek manja si kecil Atya sambil memainkan rambut kumis bapaknya.

“Eh, anak pinter harus salim sama Bapak dulu. Mosok oleh-oleh dulu yang disambut, gak kangen sama Bapak ya ? Suara Nyai Detelu terdengar merdu.

Denmas Detelu mengecup gemas pipi gembil putranya.

“Ayo sini, turun sama Mamah dulu. Biar Bapak lepas sepatu dan masuk rumah dulu.” Lanjut Nyai Detelu sambil mengambil alih tubuh Atya dari suaminya.

Di dalam ruang tamu, Atya sibuk menggeledah tas yang biasa menemani bapaknya dalam bekerja. Wajahnya menyemburatkan kegirangan, “enak .. enak, Bapak yah ?” Suara bocah yang sedang belajar berkata-kata itu semakin menyejukkan hatinya. Tangan Atya mengacung-acungkan dos kecil berisi kueh yang sengaja Denmas Detelu beli di perjalanan pulang.

“Iya, itu untuk Atya putra Bapak”

“Terima kasih ya Bapak. Ayo bilang apa sama Bapak ?”

“Wah, bukan anak pinter itu namanya kalau diam saja.” Kata Nyai Detelu ketika dilihat putranya itu sudah asyik mengemil kueh oleh-oleh.

“Sudah biar, gak apa-apa Nyai, biarkan saja jangan diganggu. Lumayan dia sudah mulai mau maem walau sedikit.”

Nyai Detelu mengangguk, “Iya Mas, tumben dia mau maem roti.”

“Lho, lha tumben juga Kangmas tidak bawakan susu ultra seperti biasanya ?”

“Iya, sengaja aku tadi tidak beli susu. Biar dia belajar mengenal dan merasai makanan selain susu. Moso sudah 2 tahun cuma nyusu thok.” Jawab Denmas Detelu sambil menuju kamar.

“Iya, Mas. Lagipula kan juga lagi hangat-hangatnya berita susu formula mengandung bakteri to di tivi. Ngeri juga saya jadinya.”

“Handukku mana Nyai ?” Terdengar suara Denmas Detelu dari dalam kamar.

“Oh, iya, itu Mas sudah saya taruh di atas rak baju Atya. Mandinya jangan lama-lama, kemarin baru sembuh masuk anginnya to.” Imbuh Nyai Detelu mengingatkan.

Tidak ada jawaban terdengar, cuma suara pintu kamar mandi ditutup saja.

Denmas Detelu keluar dari dalam kamar, sudah klimis berganti pakaian, menuju kursi dimana Nyai Detelu sedang memangku Atya. Dilihatnya Atya sudah asyik dengan botol dot susunya.

“Mau langsung dahar, Mas ?” Tanya Nyai Detelu.

“Tidak Nyai, nanti saja.” Biar si Atya selesai dengan dotnya dulu.

“Ini koran baru Nyai ?” Denmas Detelu meraih surat kabar sore yang sudah lecek itu.

“Iya, tadi sudah didului sama Atya.” Jawab Nyai sambil tersenyum geli melihat suaminya memilah-milah koran baru yang sudah ada yang tersobek halamannya itu.

“Ya, tanda anak bakal pinter, ndak apa-apa to ya Atya.” Kata Denmas Detelu sambil mengusap kepala putranya. Tidak ada respon dari Atya kecuali matanya yang kriyip-kriyip entah menikmati enaknya susu buatan ibunya atau karena nyaman diusap-usap kepalanya.

“Ini koran koq beritanya cuma Mesir, Cikeusik, Temanggung dan masih juga tentang Gayus to ? Selebihnya berita kecil-kecil tapi banyak soal kejahatan dan demo anarkis mahasiswa yang bersitegang dengan aparat keamanan dan juga perkelahian antara warga kampung di daerah.”

“Lha ya memang itu to Mas trendnya berita sekarang ini. Soal wacana suksesi kepemimpinan di Mesir, terus PR lama pemerintah mendamaikan masyarakat Ahmadiyah dengan saudara kita Muslim, masalah mafia pajak vs apa itu, lembaga yang ada Denny Indrayana-nya Mas ?”

“Ah, aku juga lupa namanya.” Pendek Denmas Detelu menjawab. Pandangannya masih asyik tertuju pada lembaran koran di hadapannya.

“Malah terbaru ada berita yang cukup meresahkan kami para ibu yang punya anak kecil, tentang susu formula yang mengandung bakteri E-Zakazii itu.” imbuh Nyai Detelu.

“He eh.”

“Iya Mas, yang bikin saya kuatir itu koq sampai sekarang masih belum juga ada klarifikasi dari pemerintah yang mengumumkan merek-merek susu berbakteri itu.”

“Lho bukannya, sudah ada klarifikasi kemarin to, dari Bu Kepala BPOM bahwa susu-susu yang beredar di pasaran bebas dari bakteri.” Jawab Denmas Detelu, dia menoleh sesaat kepada isterinya.

“Iya Mas, tapi masalahnya kan beritanya tidak terus berhenti setelah ada keterangan itu, malah jadi semakin gencar disiarkan di tivi-tivi. Saya kan juga jadi ikut panik Mas. Apalagi putera kita ini kan belum bisa mengurangi konsumsi susunya.”

Denmas Detelu merasakan kecemasan isterinya.

Ya sudah ndak usah terlalu dirisaukan to Nyai soal susu itu. Toh sudah ada pernyataan dari pemerintah tentang tidak adanya bakteri terkandung di susu-susu yang ada di pasaran.  Lagipula bakteri itu kan ditemukan di susu-susu objek praktek kampus. Ya bisa saja to, susu sampel test itu kebetulan karena kondisi yang tidak higienis saat percobaan hingga timbul bakerinya. Test itu juga bersifat independen tidak melibatkan atau diketahui oleh lembaga yang berkompeten dengan masalah kesehatan susu, misalnya analis atau ahli dari departemen kesehatan atau dari BPOM. Ndak usah digagas lah, bikin tambah parno saja.”

“Saya maunya ya begitu, tidak mengambil pusing. Lha tapi beritanya ndak surut-surut di tivi je, Mas.”

“Ya itulah Nyai, semakin banyak stasiun tivi, semakin banyak media cetak, tapi beritanya ndak joss. Tidak ada yang berinisiatif untuk melakukan diversifikasi berita. Semua melakukan eksplorasi membabi buta dengan slogan ekslusivitas beritanya. Berita yang sama diputar berulang-ulang gantian di setiap tivi dengan sedikit bumbu wajah reporter atau anchornya yang dicemberut-cemberutkan, dipanik-panikkan, dipletat-pletotkan, pokoknya ya gitu deh. Semuanya terjebak dalam trend berita. Malah lucunya, ada to berita di tivi ini tapi bagian pojoknya ada seperti bekas plester menutupi simbol atau logo tivi lainnya. Jadi mereka itu pinjam gambar dari stasiun tivi lain untuk disiarkan di tivi mereka. Lha kan ndak mbois bener to ?” Sengit Denmas Detelu.

“Lho koq panjenengan malah jadi yang emosi to, ndak baik ah.” Canda Nyai Detelu sambil mencubit pinggang suaminya yang semakin nggajih itu.

“Lho ini bener lho Nyai. Para juragan tivi dan koran itu kan sebenarnya mengemban tugas mulia memberikan informasi yang cukup, representatif, lugas, inspiratif dan mendidik kepada para pemirsa dan pembacanya. Lha kalau kejadiannya seperti sekarang ini, semua tivi dan koran jor-joran saling memberitakan berita yang sama dan menurut saya ndak ada manfaatnya itu …”

“Lho sik sik sik, koq ndak ada manfaatnya. Maksudnya gimana to Mas ? Potong Nyai Detelu.

“Iya, ndak ada manfaatnya. Maksudku begini lho Nyai. Coba lihat, sekarang ini kan yang musim setiap hari berita itu kalau ndak soal demo kekecewaan rakyat Mesir akan Presidennya yang katanya diktator itu, terus kejadian di Cikeusik Pandeglang dan Temanggung, Mafia Pajak, Kasus travel check dari Bu Miranda yang sedang membuat para anggota dewan menjadi gerah karena menghitung hari menunggu giliran dicokok dari kediamannya, kasus Bank Century, dan terbaru ya soal susu berbakteri itu. Pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan, seharusnya itu kan cukup dijadikan janji untuk percaya, tapi kenapa tivi seolah tidak mau tahu dan tetap saja mengabaikan janji permerintah dengan tetap terus memanas-manasi pemirsa tivi dengan pemberitaan mereka yang panas dan dipanas-panasi terus itu.”

“Sebentar ya Mas, Atya sudah bobok lelap sepertinya. Saya pindahkan ke kamar dulu.” Kata Nyai Detelu.

“Iya Nyai.” Denmas Detelu menoleh ke arah Atya yang dilihatnya menggeliat kecil dalam gendongan ibunya menuju kamar.

Terdengar suara tebah [sapu lidi] dikibas-kibaskan mengusir nyamuk dan suara obat nyamuk semprot dari dalam kamar.

“Lalu gimana Mas ?” Tanya Nyai Detelu sesaat setelah keluar kembali dari dalam kamar.

“Ya mestinya kan warta berita itu fungsinya untuk memberikan keterangan yang secukupnya. Yang terjadi sekarang kan terkesan lebay. Semua tivi balapan tayangkan talkshow dengan narasumber para pakar dan pengamat yang ndak jelas siapa sebelumnya, tiba-tiba dimunculkan dengan opininya yang terbungkus suara menggebu-gebu menghakimi. Yang terjadi bukannya konklusi yang solutif, malah justeru hati sebagian masyarakat kita terprovokasi untuk membenci satu kelompok dan mendukung kelompok lain. Sebenarnya kan tidak bisa gitu, media elektronik atau cetak harus memposisikan diri sebagai saluran informasi yang independen, netral tidak memihak opini dari para pengamat atau pakar. Mereka kan lebih bagus kalau mau ngundang pakar atau pengamat mbok ya yang netral dan tidak terikat oleh faham tertentu.”

Denmas Detelu menghela nafas, tangannya meraih teh manis hangat dari meja di sebelahnya, diseruputnya.

Lalu, “Terus lagi Nyai, berita terbaru yang disiarkan terkait kasus Pandeglang dan Temangung bukan penyelesaian masalah dengan mengejar dan mengusut tuntas pelaku dan motif yang melatari perbuatan tidak terpuji mereka, malah pencopotan jabatan para pejabat kepolisian di wilayah dimaksud. Ya bukan berarti tidak boleh mencopot atau apalah istilahnya, penonaktifan misalnya. Tapi mestinya kan sanksi itu berupa sanksi administratif terlebih dahulu dengan tuntutan untuk penuntasan kasus hingga ke akarnya. Jadi terkesan tidak solutif ke akar masalah, malah memperlama penyelesaian penyidikan dengan mendudukkan  orang-orang baru yang belum kenal dengan wilayah dan karakter kemasyarakatannya, diberikan mandat untuk melanjutkan penyidikan.”

“Benar juga ya Mas, saya terkadang juga bertanya-tanya merenungi kata-kata para “pakar dan pengamat” di berbagai tivi itu. Mereka mengomentari dan beropini untuk perbaikan Mesir dengan seolah-olah mereka sangat mengenal jeroannya Mesir. Dan seolah mereka sangat yakin opininya akan mampu menyelesaikan konflik yang mendera negeri Firaun itu. Lucunya mereka malah sebelumnya belum pernah terdengar suara solusinya untuk penyelesaian masalah dalam negeri kita ya Mas” Tanggap Nyai Detelu.

“Dan penyelenggara media sangat bangga dengan program mereka itu.” Imbuh Denmas Detelu.

“Benar Mas. Ya mudah-mudahan segala masalah yang mendera di negeri kita ini terkait masalah toleransi dan kerukunan umat beragama dan berkeyakinan serta masalah-masalah besar lain yang masih belum tertuntaskan dapat segera diatasi. Dan para penyelenggara media segera sadar dan kembali kepada fungsi mereka dengan mengedepankan peranan informasi dan pengetahuan dalam memberi inspirasi kemajuan bangsa.

“Benar juga Nyai. Semoga pula kepada pemimpin negeri kita ini diberikan terang dan kemampuan untuk mengawal negeri tercinta kita, dan menuntaskan masa baktinya hingga pemilu yang akan datang tanpa adanya gangguan. Dan juga agar para lawan politik pemimpin kita diberikan terang hatinya bahwa kemajuan bangsa kita ini hanya bisa dicapai dengan persatuan antar semua elemen masyarakatnya.”

“Ah ya, saya tadi lihat si Atya mainan kertas dari meja Kangmas. Yang pas saya baca kalau ndak salah info  Kontes Ngeblog Inspiratif Visimaya, ya ?”

“Ah iya, Nyai. Lupa saya, untung diingatkan, ini hari terakhir kontes tahap pertamanya.” Denmas Detelu terhenyak.

“Saya akan angkat topik diskusi kita barusan deh untuk materi tulisan saya.” Imbuh Denmas Detelu.

“E e, nulisnya nanti. Makan malam dulu, Mas. Kebiasaan kalau lupa makan malam suka pusing to keesokan harinya.” Sergah Nyai Detelu yang melihat Denmas Detelu beranjak hendak menuju meja kerjanya.

“Eh iya Nyai, makan dulu kita.” Kata Denmas Detelu sambil menggamit lengan isteri tercintanya itu membimbingnya menuju ruang makan.

Demikianlah diskusi mesra keluarga Detelu.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

p.s. :

“Wah Nyai, ini info kontes blognya ada yang ketinggalan sepertinya, info harus ke mana artikel  disubmit-kan koq tidak tersebutkan ya.”

“Ya sudah tidak apa-apa, yang penting tuliskan saja Mas. Ndak udah terpaku pada lomba, katanya mau jadi Blogger sejati yang setia berbagi tanpa pamrih.” Goda Nyai Detelu.

“Iya sih, lha tapi lumayan je Nyai janji hadiahnya. Ya sudah deh ndak apa-apa, saya tetap tuliskan saja di Rumah Sadhana, sebagai hadiah kerinduan para sahabat blogger saya dan sahabat baca lainnya.

“Ah, sudah ketemu link pendaftarannya koq Nyai, nih ada di paling bawah email yang Kangmas peroleh dari milis.”

***

Semarak Mozaik Semesta

Salam untuk Anda sekalian,

Wahai saudaraku,

Lihatlah piano. Ebony dan ivory, hitam putih berdampingan menghadirkan denting merdu nada-nada indah

Lihatlah grafiti di tembok kusam usang. Indah berkat berpadunya aneka warna

Lihatlah pelangi. Begitu indahnya oleh ragam warna yang membentuk pagar cakrawala

Lihatlah laut luas. Begitu indah airnya berwarna-warni berkat pantulan warna-warni ekosistem di dasarnya

Wahai saudaraku

Masih adakah pemberontakan di hatimu untuk membantah semua keindahan itu ?

Bayangkanlah seandainya tuts piano diciptakan dengan satu warna saja dengan tuts hitam rata dengan yang putih ?

Bayangkanlah sesandainya tembok-tembok kusam usang dipinggir kota, tidak berhiaskan karya usil grafiti ?

Bayangkanlah seandainya saja pelangi itu hanya selengkung besar dengan satu warna saja ?

Bayangkanlah seandainya air laut itu diam tanpa hiasan riak dan ombak dan kemilau warnanya yang bening berpadu indah ?

Wahai saudaraku,

Percayakah engkau akan menjadi nyaman hatimu ketika kepadamu diperdengarkan alunan musik yang hanya berasal dari satu media dan bunyinya monoton ? Bandingkanlah suasana batinmu ketika setelahnya engkau diperdengarkan sebuah orkestrasi, perpaduan dari berpuluh alat musik yang berbeda.

Pernahkah engkau bayangkan suara yang tercipta dari biola dan gitar yang hanya memiliki satu dawai saja ?

Wahai saudaraku

Begitu banyak sudah bukti keindahan yang terciptakan oleh perbedaan.

Lalu mengapakah engkau masih mengingkarinya ?

Mengapakah engkau mengijinkan dirimu menghakimi satu dengan yang lain karena berbeda ?

Mengapakah engkau begitu mudah tersulut amarahmu bila dia atau mereka tidak sama denganmu ?

Mengapakah engkau begitu tega menyakti, melukai bahkan merampas hidup saudaramu yang lain … pun hanya karena kau merasa mereka tidak sama denganmu ?

Engkau meminta dia dan mereka untuk menjadi sama dan serupa denganmu. Sementara engkau tidak pernah mengijinkan dirimu untuk memahami mengapa mereka berbeda denganmu.

Wahai saudaraku

Aku percaya engkau pun telah tahu bahwa Tuhan menciptakan semua ciptaannya beragam untuk membaikkan alam semesta ciptanNya.

Dan engkau tahu bahwa kita diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbahasa-bahasa dan berras-ras karena Tuhan berkehendak memberikan warna pada alam semesta.

Tuhan walau MahaKuasa tidak berkenan menciptakan alam semesta hanya dalam satu warna, satu bahasa dan satu budaya saja.

Maha Besar Tuhan atas segala CiptaanNya yang beragam.

Wahai saudaraku,

Marilah kita menjadi warna kita masing-masing. Berpadu indah dengan warna lain dari saudara dan kawan kita lainnya.

Biarlah warna kita melebur indah dengan warna lainnya menampilkan mozaik semesta yang agung tanpa harus kita kehilangan warna indah kita masing-masing.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

17 Agustus [Bila Engkau Masih Bertanya …]

Salam untuk Anda semua,

17 Agustus 1945

Setelah lebih tiga setengah abad sebelumnya, dalam kungkungan kolonial. Pada hari itu negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya.

Pekik tempik sorak membahana di seluruh persada nusantara ini merayakan saat kulminasi itu. Pedih duka lara keterjajahan sirna sudah. Mengejawantah pada preambule UUD 45 aline kedua :

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kini, 17 Agustus 2010. Hari ini tepat 65 tahun kemudian. Peristiwa bahagia itu diperingati.

Namun seketika ternodai, oleh noktah yang dititikkan pada kesucian merah putih.

… kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur …

Di manakah kini sirnanya ? Persatuan tercederai, oleh mereka yang terbutakan. Merampas kemerdekaan sesama anak bangsa. Merampas kemerdekaan berpikir bahwa negeri ini sudah merdeka.

Merongrong

Kedaulatan dipertaruhkan

Wahai engkau di sini dan di sana. Berada di manakah engkau selama ini ? Mengapakah engkau enggan membuka matamu dan terjaga dari tidur panjangmu, ketika lebih dari sebagian bangsa ini larut dalam kebahagiaan dan keharuan, merayakan pesta bangsa ?

Ke manakah engkau simpan nuranimu ? Engkau masih saja mempertanyakan kemerdekaan, meragukan pertumbuhan kemakmuran bangsa ini.

Kemanakah bilik pengertianmu kau sembunyikan ?

Tidakkah tercipta pengertian di ruang benak dan hatimu ? Dengan tega dan sadar engkau mengingkari perputaran roda masa. Dalam keyakinanmu enggan menerima kemerdekaan bangsa ini.

Riuh rendah engkau mendoktrinkan, memasung opini banyak orang, menebar agitasi … memfahamkan bahwa negeri ini masih terjajah jauh dari kemakmuran.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Engkau dalam kebanggaanmu sebagai anak bangsa, dengan nasionalisme adalah mahkotamu.

Di kedalaman manakah cintamu bersemayam kini ?

Engkau berkeliling negeri ini, mengobarkan kebencian, mewartakan segala keburukan negeri ini sebagaimana opinimu.

Kau mencaci, kau memaki … negeri ini belum makmur … perlu perubahan total. mendustakan pengertianmu bahwa di belahan bumi sana engkau pun tahu masih banyak perjuangan melawan tirani dan keganasan alam.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Di manakah belas kasihmu ? ketika engkau berkeliling dalam kemegahanmu di titik-titik pelosok keterpurukan yang engkau pilih. Dalam pongah engkau menghamburkan kemakmuranmu, engkau dengan sadar mengumbar amarahmu di hadapan mereka yang sesungguhnya berharap uluran tanganmu, berharap berkat Tuhan mengalir dari pundi-pundi kemewahan dan kekuasaanmu.

Namun wahai engkau di sini dan di sana,

Sama sekali engkau tidak bergeming. Bukan derma kau berikan, sebaliknya kebencian kepada negeri kita yang kau tanam dan siramkan ke hati mereka.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila saja negeri ini dipasrahkan kepada pengelolaanmu, apakah itu kemerdekaan yang kau harapkan selama ini ?

Sadarkah engkau jika janji kemakmuran dari bibirmu, itu telah dicatat dalam buku kehidupanmu dan dipiutangkan kepadamu ? Janji kemakmuran maka akan ditagihkan darimu kemakmuran pula. Dan itu hukum alam yang mutlak kekal.

Seberapakah kemakmuran rakyat dalam takaranmu ? Sebanding dengan harta yang telah engkau hamburkan sia-sia kah ?

Wahai engkau yang di sini dan di sana,

Masih belum cukupkah bagimu, penderitaan bangsa ini ? Dalam lantang suara dan gelak tawamu, engkau berpesta pora di atas semakin terpuruknya negeri ini sesuai skenariomu. Berharap dalam kechaosan bangsa ini, lalu engkau tampil sebagai juru selamat atas kesia-siaan yang telah engkau ciptakan.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila engkau masih bertanya, apakah bangsa ini sudah merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur atas pengertianmu.

Maka dalam pengertianku yang dangkal ini menjawab sebagaimana pengertianmu, Indonesia, negeri yang indah ini baru akan merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, apabila engkau telah dengan segenap keikhlasan dan pengertianmu mengakui kemerdekaan dan kemakmuran Indonesia yang berdaulat dalam keadilan yang makmur.

Dirgahayu negeriku Indonesia.

Benar atau salah, inilah negeriku yang menjadi tanggung jawabku dan yang lainnya untuk terus mengawalnya agar tetap menjadi negara yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

%d blogger menyukai ini: