Sang Angin

Salam untuk Anda sekalian,

Lelaki itu gontai melangkah. Wajahnya kuyu, penampilannya jauh dari segar. Sebenarnya perawakannya kekar, kulitnya bersih dan wajahnya boleh dikata cukup menarik.

Tiba di sebuah taman, dipilihnya tempat di sudut.

Kerindangan dan kesejukan sekitar tak mampu mengubahkan penampilan dan suasana hatinya.

Semilir angin menghembus lembut menerpa wajahnya.

“Wahai lelaki, kerisauan apakah mengganjal hatimu, hingga ceria alam dan ramahku tak mampu melukiskan senyum di parasmu ? Sapa Sang angin.

“Oh angin, aku baru saja keluar dari tempat kerjaku. Meninggalkan semua kekacauan di sana.”

“Lalu ?”

“Ya angin, aku sudah lama ingin melakukannya. Ku sudah muak dengan segala ketidakberesan dan ketidaknyamannya.”

“Kau sudah lakukan dan dapatkan apa yang kau inginkan. Lalu mengapakah dirimu masih saja bermuram ?”

Lelaki muram itu menghela nafas. Cukup lama dia berdiam, wajahnya masih saja terkulai lesu.

“Bukankah seharusnya engkau berbahagia kini ? Engkau sudah bebas.” Lanjut Sang angin.

Si Lelaki menggeleng, “tidak semudah itu.”

Kepalanya semakin dalam menunduk, bahunya berguncang … dia menangis.

“Engkau menangis hai lelaki ?” Sang angin lembut membelai.

“Aku menyesal, aku merasa bodoh kini. Aku merasa berdosa dengan isteriku, dengan anakku.” kata-katanya tercekat.

“Lanjutkan, bebaskan beban itu dari batinmu. Aku mendengarkanmu.” Semilir angin menghembus sejuk.

“Aku benci mereka semua, benci semua keadaan dan peristiwa di tempat kerjaku. Aku merasa tidak dihargai, diremehkan dan diabaikan. Bertahun-tahun aku berkubang dalam keluh-kesahku, namun tiada yang mau peduli. Bahkan mereka telah berlaku jahat kepadaku. Aku benci mereka semua. Kini mereka pasti sedang bersorak-sorai merayakan kemenangan mereka atasku. Mereka berpesta pora, telah berhasil mengusirku.”

Air mata lelaki tertumpah deras dari kelopak matanya.

“Bolehkah sekarang aku menolongmu, wahai lelaki ?”

“Apakah yang bisa engkau lakukan untukku, Sang angin ? Bahkan boss-ku pun tidak mampu membela dan membebaskanku dari masalahku.”

“Setidaknya aku bisa sedikit menerbitkan segar wajahmu, sebagaimana telah kulakukan kepada dedaunan, rumpun, rumput dan kupu kumbang yang ada di taman ini.”

Si lelaki menoleh sekeliling merasakan harumnya suasana dan hembusan angin lembut menerpa wajah dan tengkuknya.

“Lelaki, sudah berapa lama engku berada di lingkungan kerja-mu ?”

Lelaki mengernyitkan dahinya, “hampir enam tahun”. Katanya lirih.

“Hhhm, kau pun mampu bertahan cukup lama.”

“Adakah kau memiliki sahabat atau setidaknya orang yang kau percaya di sana ?”

Lembutnya desiran angin, perlahan menumbuhkan segar di wajah lelaki.

“Aku tidak percaya kepada mereka.” Lelaki menjawab ketus.

“Baik, lalu berapa lama engkau mengetahui keberadaan taman ini, tempat di mana kita berada saat ini ?”

“Selama aku berinteraksi dengan mereka.”

“Lelaki, bolehkah aku menyampaikan suatu rahasia ?”

Lelaki mengangguk, tetap tertunduk.

“Sesungguhnya bukan  pada mereka pokok masalahmu, tetapi karena dirimu telah memutuskan untuk meciptakan sekubangan lumpur masalahmu sendiri. Dan Engkau telah memerosokkan dirimu sendiri, dan mengiklaskan dirimu semakin dalam terbenam ke dalamnya.”

“Maksudmu ? Bukankah aku telah mengeluhkannya setiap saat dan menentang keadaan di sana selama ini ? Aku bahkan menghujat mereka dan menguraikan ketidakbenaran mereka.”

“Di situlah letak kesalahanmu.”

Kali ini hembusan angin terasa menusuk tengkuknya, menerpa keras menusuk kulitnya.

“Lelaki, engkau sudah tahu hal yang benar, namun engkau masih saja bertahan dalam pergumulan egomu. Engkau tidak menjamah sedikitpun bagian subur dan baik lahan yang dipercayakan Sang Kasih, engkau tetap saja mengutuki bagian  tandus itu. Bahkan engkau meski tahu sama sekali tak pernah terpikirkan untuk mereguk keindahan taman ini, bergembira di dalamnya, menikmati keindahannya dan memetik kebahagiaan dari semua hal baik dan bahagia di sini.”

Agak keras angin mendesis, meski tetap tidak kehilangan kelembutannya.

“Engkau telah tahu dan sadar ketidakbaikan lingkunganmu, namun engkau tidak berpikir meluaskan pergaulanmu menemukan sesuatu yang baik di pergaulan lain. Engkau tidak perlu keluar dari lingkunganmu. Engkau hanya perlu hal baik untuk membentuk jiwa baikmu. Sekarang perhatikanlah dirimu, adakah dirimu sekarang menjadi lebih baik daripada mereka yang kauanggap brengsek itu ?”

Si lelaki tersentak kini.

“Hai lelaki, mengapa engkau tutup hatimu untuk Sang Kasih ? Mengapa engkau tidak mempercayakan kepadaNya bebanmu, mengapa engkau tidak mengijinkan Dia memanggulkan bebanmu ? Dia yang dengan kasihNya akan setia memanggulkan setiap beban dan onak yang menderamu.”

Si lelaki meraung-raung berkat penyadaran, tunas kesadaran telah berkuncup di hatinya kini.

“Wahai Sang Kasih, ampunilah dosaku.” Si lelaki tubuhnya terbanting ke tanah, namun beban itu telah dicabut darinya.

“Sekarang pulanglah, temukanlah Sang Kasih dalam diri isterimu dan putramu ? Maka kau akan damai.

“Teruslah keluhkan masalahmu dalam tekunnya doa ikhlasmu, dan bangunlah kesetiaanmu dalam hal baik mengolah lahan, apa pun dan di manapun yang telah dipercayakanNya kepadamu. Di situ lah letak rahasia kekal.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Rumus Hidup

Salam untuk Anda,

Di televisi ada seseorang yang memperoleh undian menginap gratis di sebuah hotel berbintang dengan segala fasilitas dan kenikmatannya. Anda bisa lihat ekspresi kebahagiaannya, dengan bersujud syukur, melonjak-lonjak, berteriak-teriak girang. Di kesempatan lain, Anda melihat seorang bintang begitu bahagia dan terharunya menggenggam trofi penghargaan atas prestasinya. Dalam seremoninya, dia mengucap syukur dan menyampaikan rasa terimakasih kepada banyak pihak.

Atau paling sederhana, Anda sangat berbahagia menerima promosi jabatan di tempat Anda bekerja, berikut penambahan fasilitas semakin menggenapi kebahagiaan Anda. Juga bisa ditebak betapa bahagianya Anda ketika di pagi hari Anda baru bangun tidur, disambut dengan ucapan selamat ulang tahun dari pasangan jiwa dan putra-putri Anda.

Kebahagiaan hadir karena ada upaya dan kepantasan. Seorang pekerja seni berhak atas trofinya karena prestasi baik yang tentu saja karena pengupayaan keras dari dia untuk mencapainya. Demikian pun seseorang yang memperoleh hadiah undian, karena ada upaya dari dia untuk meraihnya. Sama halnya dengan promosi jabatan dan bonus serta segala fasilitas yang Anda peroleh, juga karena ada upaya dan kepantasan bagi Anda untuk menerimanya.

Namun bila semua peristiwa indah itu sudah teratur dan sebagai sesuatu yang harus. Semua hal dan materi itu sudah tersedia instan mengikuti perjalanan hidup Anda atau seseorang, pastilah tidak ada yang istimewa dan bisa jadi justeru menyiksa.

Kebahagiaan hadir karena peran hubungan sosial yang memicu hasrat untuk mencapai aktualisasi diri yaitu penghargaan.

Semua penghargaan akan menjadi tidak berarti apabila tidak ada peran dari orang lain, juga tidak ada orang yang menjadi saksi kebahagiaan kita. Kita tidak dapat mendedikasikan semua prestasi dan pencapaian, akan menjadi hambar tentunya.

Kodrat manusia adalah makhluk sosial. Itu berarti tidak ada seorang pun yang akan mencapai kebahagiaan tanpa peran orang lain. Tidak ada seorang pun mampu hidup mandiri tanpa orang lain. Tidak ada seorang pun yang mampu menciptakan penghargaan untuk dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa membagi bahagia bila dia tidak menemukan orang lain yang rendah hati.

Eksistensi kehidupan tercipta karena adanya penghargaan yang kualitatif. Seorang suami akan meningkat nilainya di pandangan masyarakat ketika dia mampu menghadirkan sorang isteri dan anak yang menghormatinya. Demikian pun sebaliknya, penghargaan seorang suami kepada isterinya, akan meningkatkan nilai insterinya di masyarakat. Seorang karyawan yang mendedikasikan dirinya penuh kepada perusahaan, akan meningkatkan nilai perusahaan berupa laba yang terus terjaga. Demikian sebaliknya perusahaan akan menysisihkan nilai keuntungannya kepada karyawannya yang berdedikasi dan loyal. Dalam lingkup luas, masyarakat akan meninggikan derajat seseorang berkat kepantasan yang dibangunnya dalam bermasyarakat.

Hukum relativitas berkata, ada aksi ada reaksi. Bukan hanya di dalam ilmu fisika saja hukum itu berlaku, namun juga di dalam sistem sosial.

Sebuah tindakan “baik” yang sinambung akan menimbulkan simpati dan bukan mustahil menjelma menjadi sebuah penghargaan. Penghargaan tidak bisa diraih dengan instan. Semua melalui proses kesetiaan dan kesabaran. Ada kalanya bisa cepat diraih karena kualitas besar yang mendukungnya. Namun dalam pergaulan sosial, tidak ada kebaikan standar. Kebaikan bukan sesuatu yang bisa distandarisasi. Kebaikan akan terus berkembang seiring kebangkitan dan perkembangan rasa.

Mas Ben pernah menuliskan dalam status facebooknya : seandainya dia bisa mengulang waktu, dia ingin kembali ke masa lalunya untuk meraih kembali kesempatan yang pernah dilewatkannya. Namun dia sadar, bahwa kesempatan itu bukan hanya milik masa lalu. Kesempatan bisa diciptakan kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja dan untuk siapa saja. Karena buah kesempatan itu bukan kuantitas, melainkan kualitas. Jadi bila masa lalunya belum membuahkan penghargaan baginya di masa kini. Dia masih punya kesempatan beraksi sekarang untuk menciptakan reaksi lingkungan sosialnya memberikan penghargaan baik baginya.

Bila Anda sudah menemukan CINTA dan yakin itu jalan hidup dan pilihan terbaik, poleslah dengan KOMITMEN yang setia. Klemlah CINTA & KOMITMEN menjadi sekeping koin hidup Anda yang tidak saling terpisah kedua sisinya. Maka Cinta Anda akan terus betumbuh subur dan memberikan buah-buah pencapaian dalam setiap langkah Anda meniti kehidupan.

Indah bukan ?

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Kok Berani-beraninya Lho …

Salam untuk Anda,

Mari kita menghitung umur kita. Sudah berapa lama kita hidup. Setelah itu mari kita perbandingkan antara kondisi senang dan kondisi tidak senang yang sudah kita alami dalam rentang umur kita hingga saat ini. Sudah ? Baik, Anda sudah mengetahuinya … Kesimpulan Anda ?

Dalam perjalanan kehidapan, sering kita mengalami harus tiba pada sebuah titik yang sangat tidak kita harapkan. Sebuah kondisi yang menjadikan kita sangat bosan, tidak nyaman, sakit, duka. Bisa karena orang lain, suatu keadaan, atau bahkan berasal dari kita sendiri; ya kita menciptakan sendiri kondisi tidak nyaman, tidak enak, membosankan, menyiksa dan lain-lain ketidakenakan atas diri kita sendiri.

“Aduh, sakit sekali rasanya seperti mau mati rasanya.”

“Aduh, panas sekali kaya di neraka aja deh.”

“duh, koq pegel banget kaya dicabuti [atau remuk] tulangku-tulangku.”

“Aduh sakit banget kaya kelindas setum rasanya.”

“Ampun deh, menyebalkan. Gak punya perasaan betul ya tuh orang, jadi kaya ngadepin setan ajah gue.”

dan lain-lain bla bla bla …

Mengerikan sekali bukan, bila kita mendengar semua jeritan di atas ?

Pengaruh kata-kata atau kalimat itu bisa langsung dirasakan; bisa langsung puas, bisa langsung bertambah bete, bisa langsung yakin kalau hidupnya jauh dari kenikmatan hidup. Dan parahnya perasaan bete atau tidak nyaman atau sakit yang diciptakan sendiri itu dampaknya luar biasa sekali. Mereka yang terbiasa mengeluh dengan kata-kata dahsyat itu akan menjadi terbiasa menciptakan kondisi mengerikan di dalam setiap keluhannya.

Masalahnya, tidak sadarkah kita bahwa menjustifikasi suatu keadaan  tidak diharapkan secara membabi buta itu, akan “menyedih”kan Tuhan ?

Berani-beraninya orang yang “belum” pernah mati, mengatakan seperti mau mati rasanya.

Berani-beraninya orang yang belum pernah “diinterview” Malaikat Munkar dan Nakir atau belum pernah diabsen Malaikat Malik, memberhakkan diri sudah merasakan panasnya neraka.

Berani-beraninya mengkhayalkan diri tulangnya dicabuti atau diremukkan.

Siapa yang pernah bergaul dengan setan, hingga berani-beraninya menyamaderajatkan mahluk berakal ciptaan Tuhan dengan setan ?

Dan lagi berani-beraninya “mengaku” pernah kelindas setum. Karena bukankah hanya mereka yang pernah mati kelindas setum yang berhak mengatakan itu 🙂

Bila demikian, bukankah kita yang paling berperan dalam semua ketidakbahagiaan kita sendiri ? Kita menciptakan sendiri dan melegalisasikan semua sakit dan ketidakbahagiaan.

Jika kebahagiaan adalah kodrat dan hak mutlak yang telah dikuasakan penuh kepada kita sebagai makhluk termuliaNya, mengapakah kita tidak saling berlomba untuk menjadikan hidup kita bahagia dan berarti bagi sesama dalam lomba berpacu dalam iman ? Akan lebih indah dan mengilhami, bilamana selalu berdamai dengan setiap keadaan. Yang pasti berdamai dan luwes dalam menghayati setiap keadaan dan lingkungan, akan berbanding lurus dengan penghormatan dan ketinggian derajat.

Keputusan ada pada Anda, ingin menjadi “miskin” tetapi mengilhami dan berderajat, atau tampak kaya tetapi berzirahkan ketersiksaan ? 🙂

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Blogger United Absolutely Bloggerhood [Oleh-oleh Dari Amprokan Blogger 2010]

Salam untuk Anda sekalian,

Adakah persahabatan sejati ? Ada, jawabnya.

Antara Siapa ? Blogger, jawabnya.

Ya, selama ini mungkin ada beberapa kejadian menyakitkan, berkat ternodainya kesucian persahabatan … itu kata mereka yang merasa tersakiti tentunya. Namun benarkah dalam setiap hubungan selalu berakhir sakit dengan perasaan terkhianati ? Tidak, jawabnya.

Dalam setiap hubungan, selama itu dibangun dengan fondasi ketulusan dan tidak ada motif kepentingan, pasti akan langgeng walau terpisah jarak dan waktu. Hubungan akan menjadi indah dan terjaga langgeng tanpa harus menuntut kehadiran fisik dan kedekatan jarak.

Hal ini telah dibuktikan dengan nyata dalam event temu blogger yang digagas dan dirancang dengan apik oleh Be-Blog dalam acara Amprokan Blogger bertajuk Blogger Cerdaskan dan Hijaukan Bekasi pada tanggal 6-7 Maret 2010 kemarin.

Acara dimulai pada hari Sabtu tanggal 6 Maret 2010 pagi di Wisma Haji kota Bekasi. Ratusan blogger dari berbagai kota  Depok, Jakarta, Bogor, Bandung, Bekasi, Kuningan, Karesidenan Surakarta [Solo, Surakarta, Karanganyar], Ponorogo, Mojokerto, Pontianak, Cirebon, Jogja, Tangerang, Palembang, Surabaya, Pekanbaru, Karawang, Cikarang, Ngawi, Kubu Raya, Pasuruan, Banyumas, Brebes, Kudus, Purwokerto, Balikpapan, Magelang, Gresik, Malang, Madiun, Ponorogo, Bangkalan, Makassar, Aceh, Ngawi, Riau, Wonosobo, Padang, mulai berdatangan saling sapa dan berbagi cerita sebelum memulai acara di hari pertama.

Setelah semua blogger melakukan registrasi ulang dan menerima goody bag dari panitia,  satu persatu mulai menaiki bus sesuai dengan pembagian bus yang telah ditetapkan panitia.

Dengan pengawalan polisi, iring-iringan lima bus bergerak meninggalkan Wisma Haji kota Bekasi yang juga menjadi tempat menginap bagi para blogger peserta, menuju Tugu Bina Bangsa, yang merupakan maskot kota Bekasi, menggambarkan semangat perlawanan para pahlawan mengusir penjajah.

Dari Tugu Bina Bangsa, rombongan blogger bergerak menuju Sentra Usaha Kecil Menengah [UKM] boneka HIKPID. Para blogger disambut oleh warga dan pelaku UKM dipimpin Bapak Wakil Walikota Bekasi H Rahmat Effendi, SSos, MSi. Para blogger dengan senang hati menerima souvenir bantal cinta.

Perjalanan dilanjutkan ke TPA Sumur Batu Bekasi. Di sana para blogger diberikan pengetahuan tentang manfaat pengolahan sampah menjadi pupuk dan pembangkit tenaga listrik melalui pengolahan gas metana.

Perjalanan dilanjutkan ke Kota Jababeka di Cikarang. Para blogger dapat menikmati keindahan dan kelengkapan serta keasrian Kota Jababeka. Para blogger disambut hangat di President University, dan mendapatkan penjelasan detail dari Bp. Suresh Kumar [President Director PU] tentang visi misi pembangunan dan pelaksanaan kegiatan akademik di PU. PU didirikan untuk mendukung program pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendidik para siswanya menjadi para ahli yang siap pakai melalui pendidikan intelektualitas dan mental kepemimpinan. PU menerapkan sistem biaya pendidikan tetap untuk masa 2.5 tahun lulus, yaitu semua biaya dibayar di muka dan para siswa dibebaskan segala macam biaya pendidikan lagi selama masa belajar mereka, berapa kali pun mereka mengulang mata kuliah karena kurang nilai. Para siswa diwajibkan tinggal di dormitory pada masa setahun pertama. Di dormitory para siswa memperoleh pendidikan sosial dan kepemimpinan dengan program lomba antar blok, yang dimaksudkan untuk menilai seberapa mampu seorang siswa yang ditunjuk sebagai ketua camp [RT] dormitory dalam mengatur di masyarakat kecilnya. PU menugaskan dua ketua asrama, yang dipilih dari latar belakang militer.

PU juga berprinsip tidak ingin meluluskan pengangguran dengan cara menerima siswa hanya sesuai dengan permintaan perusahaan di lingkungan Jababeka. Para siswa wajib program ekstensif / permagangan selama 1 tahun. Setelah itu menyusun skripsi. Dan otomatis siswa setelah wisuda akan langsung mendapatkan penempatan di perusahaan magangnya.

[Ssssst, ini bisa jadi inspirasi untuk lomba blog UII yang bertema Kampus Idaman 🙂 ]

Para blogger juga cukup memperoleh ilmu berkat pemaparan tentang alasan pembangunan dan tujuan jangka panjang, serta kelengkapan fasilitas kota Jababeka oleh GM Residential Commercial Kota Jababeka, Bp. I Made Surya Darma.

Kegiatan anjangsana di Kota Jababeka ditutup dengan city tour dan aksi penamaman pohon di Botanical Garden, yang dipimpin oleh Bp Eka Budianta. Para blogger banyak belajar tentang pohon di mini kebun raya ini. Dan juga bahwa rumah Tuhan ternyata ada di pohon, itulah mengapa alasan kita selalu memanjatkan doa :), cara indah Pak Eka untuk menanamkan rasa cinta kepada pohon.

Dengan pemotongan tumpeng perayaan ulang tahun ke-3 Botanical Garden dan pelepasan balon ke udara, para peserta beria-ria meninggalkan Kota Jababeka.

Di sini kebahagiaan blogger semakin lengkap, berkat masih dengan pengawalan ditambah lambaian tangan warga yang terusik kepenasarannya akibat bunyi sirene motor polisi, kelima bus yang mengangkut para blogger kembali ke kota Bekasi menuju kediaman dinas Bapak Walikota Bekasi untuk acara sarasehan. Para blogger benar-benar sangat diistimewakan, dengan pengawalan polisi tiada putus menembus tol yang dalam keadaan macet menjadi lancar dan punya hak didahulukan … [semoga para blogger menjadi tetap rendah hati ya hehehe].

Sambil menunggu acara sarasehan dimulai, para blogger ditantang membuat liputan kegiatan hari pertama Amprokan Blogger dalam perlombaan live blogging bertema Aku Cinta Bekasi berhadiah total Rp. 22,5 untuk tiga blogger pemenang.

Tepat pukul 19.30 wib acara sarasehan dimulai dengan meriah di halaman rumah dinas walikota Bekasi, Bp. Mochtar Mohamad.

Acara dibuka dengan sambutan dari Mas Aris, ketua panitia Amprokan Blogger, dilanjutkan oleh Mas Enda Bapak Blogger Indonesia.

Dalam sambutannya, Pak Mochtar memaparkan tentang kota Bekasi dan kemajuannya. Beliau juga menjelaskan bahwa hanya melalui sampah saja Pendapatan Aseli Daerah [PAD] Bekasi mencapai Rp 30.4 M per tahunnya. Melalui sampah di TPA Bantar Gebang, kota Bekasi berhasil memproduksi 2MW listrik yang menerangi 100 KK, dari target 30MW. Selain listrik, kata Pak Mochtar, Pemkot Bekasi juga mengelola sampah menjadi pupuk dengan hasil produksi rata-rata 200 ton per hari. Untuk menggenjot produksi pupuk. Pemkot Bekasi juga membuat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus memproduksi pupuk. BUMD itu ditargetkan memproduksi 50 ton per hari.

Masih kata beliau, ada kabar bagus bagi pecinta sepakbola di Bekasi, bahwa dalam bulan Maret ini akan dilakukan peletakan batu pertama pembangunan stadion berstandar internasional di Bekasi untuk mendukung kesebelasan Bekasi yang telah masuk ke divisi A.

Setelah dipuaskan dengan jamuan yang menggugah selera, para blogger kembali dimanjakan dengan penampilan band dari para pemenang lomba band siswa dari acara perayaan ulang tahun ke-13 kota Bekasi. Juga aksi panggung Delilah, band yang keseluruhan personilnya puteri.

Puncak kehebohan para blogger, ketika Bang Jelly Tobing tampil prima besama band-nya. Juga ketika Pak Walikota dengan apiknya menyenandungkan tembang Akhirnya Kumenemukanmu-nya Naff. Hal ini menimbulkan celetukan dari kawan blogger dari TPC : Hebat, walikota biasanya nyanyi Widuri, Pak Mochtar nyanyi Naff .. bener-bener gaul. 🙂

Selepas penampilan memukau Pak Walikota, blogger makin dimanjakan dengan kehadiran Iyeth Bustami, yang selain menampilkan lagu Laksmana Raja di Laut, para blogger dikejutkan dengan dahsyatnya ia menyanyikan lagu New York New York yang njazzy sekali.

Hari semakin larut, acara di kediaman Pak Mochtar disambung oleh kehadiran Mbak Riesa Amrikasari yang ngetop sebagai Roseheart writers, dan Mbak Jane Shalimar. Dalam acara talk show yang dipandu Mas Eshape itu, banyak ilmu kepenulisan dari Mbak Riesa, terpenting adalah terbuka lebar pintu bagi para blogger untuk masuk dapur redaksi buku. Ilmu penting adalah masalah kaidah bahasa saja, dalam waktu ini masih banyak penulis yang belum memahami tentang cara penulisan kata depan.

Acara hari pertama dipungkasi dengan tantangan Pak Mochtar kepada para blogger untuk membuat tulisan di blog para blogger bertema kesan Amprokan Blogger, hingga Pak Mochtar punya alasan untuk menggelar acara temu blogger sebagai agenda tahunan kota Bekasi, melalui tulisan blogger tentang Amprokan Blogger. Blog terbaik akan dihadiahi tiket pesawat gratis untuk kembali ke kota blogger. Bila yang menang dari Bekasi, hadiahnya menginap gratis di Hotel Horizon Bekasi.

Para blogger menghabiskan malam pertamanya di wisma haji Bekasi dengan ngobrol begadang, dan sebagian lagi langsung mengejawantahkan tantangan Pak Walikota, lek-lekan sibuk merangkai kata mengharap peruntungan hehhehe.

Hari kedua Amprokan Blogger, dengan mata masih merah dan sipit berkat ngantuk dan kelelahan. Tak mampu memupuskan semangat para blogger untuk bersiap-siap menuju Aula Pusdiklat Mahkamah Konstitusi, mengikuti agenda hari kedua Seminar Interaktif bertopik Konsep Cybercity, Peran Komunitas Blogger dan e-Government.

Seminar yang bertabur ilmu dan doorprize itu dipandu oleh Mas Budi Putra, Mas Romi Satrio Wahono yang ternyata adik kelas saya di SD Sompok Semarang [berani-beraninya dia melangkahi sukses kakak kelasnya 🙂 ], dan pak Nukman Lutfie yang praktisi jejaring sosial itu.

Dalam amprokan blogger ini dilengkapi dengan aksi sosial para blogger untuk berpartisipasi dalam Sejuta Buku Untuk Anak Indonesia [SEBUAI], dengan menyumbangkan buku anak-anak yang masih layak baca.

Demikianlah segala kebahagiaan dan kebersamaan indah dua hari di Amprokan Blogger yang sukses berat itu.

Sampai kita bertemu kembali sahabat blogger-ku, sampai kita mengunduh manfaat lebih banyak lagi melalui blogging sehat sebagaimana telah diajarkan oleh Mas Budi, Mas Romi dan Pak Nukman.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Kampusku Riwayatmu Kini

Salam dari Rumah Sadhana,

Membaca pamflet lomba blog UII [Universitas Islam Indonesia], ingatan Denmas Detelu terbawa kembali ke masa remajanya tatkala ia masih berstatus sebagai mahasiswa. Kala itu betapa bahagianya ia menjadi mahasiswa. Bahagia bagaimana di hari pertama masa opspeknya Denmas Detelu sudah berhasil dipilih mengantarkan teman perempuannya kembali ke tempat kost-nya untuk mengambil kelengkapan opspek yang ketinggalan, yang karenanya telah memberikan kepada Desmas Detelu pengalaman pertama naik taxi dengan segala keluguannya. Betapa bahagianya Denmas Detelu merasakan jatuh cinta sesungguhnya kepada dua orang kawan mahasiswinya walau isi hatinya itu tidak pernah terungkapkan hingga selesai masa perkuliahan karena tidak mendapatkan dukungan nyalinya. Bagaimana Denmas Detelu menjadi sangat rajin hadir di salah satu mata kuliah demi menikmati keayuan ibu dosennya. Dan masih banyak lagi keindahan dan kebanggaan menjadi bagian kampus indah di selatan kota gudeg itu.

Kampus Denmas Detelu di masanya memang cukup terkenal dan diminati oleh para orang tua yang akan memahasiswakan anak-anak mereka. Berbagai julukan disandang kampus merah bata itu, mulai perguruan tinggi favorit karena biaya masuk dan kuliahnya yang sangat murah [sebagai bocoran, waktu itu Denmas Detelu cuma membayar Rp. 75.000,00 saja untuk uang sumbangan pembangunan], perguruan tinggi idaman [bagi para calon mahasiswa kampus lain] yang berbela-bela mengikuti perkuliahan di sana karena terkenal oleh adanya ibu dosennya yang ayu, perguruan tinggi terbaik pun layak disandangkan ke kampus di mana Denmas Detelu mengenyam pendidikan tinggi karena [barangkali] ketidaktegaan pihak yayasan untuk men-DO kan mahasiswa yang “enggan” lulus segera sehingga banyak yang mendapat gelar MA [mahasiswa abadi] 🙂 . Termasuk julukan “sangar” karena di setiap kelas perkuliahan selalu saja muncul nama salah satu genk yang cukup disegani di kota pendidikan itu dengan cat berukuran huruf besar-besar. Meskipun telah berulang kali dicat ulang temboknya, toh tidak menyurutkan nyali penulisnya untuk menghidupkan kejayaan genk ngeri itu di kampus itu dengan mengecatkan ulang nama genk sangar itu di temboknya. hiiiyyy.

Namun kini, empat belas tahun sesudah Denmas Detelu diwisuda, semua kenangan indah itu hanya menyisakan pagar seng usang yang mengelilingi enam hektare lahan menjadi saksi bisu bahwa di situ pernah berdiri megah kampus idaman favorit terbaik. Hanya gapura dengan nama dan logo kampus, yang masih menjadi prasasti.

Gempa bumi hebat empat tahun lalu telah meluluhlantakkan keperkasaan tembok kampus Denmas Detelu. Namun Denmas Detelu tidak rela jika peristiwa bencana alam itu disebut sebagai penyebab keruntuhan kampusnya. Kampus itu runtuh karena keangkaramurkaan.

Jauh sebelum peristiwa gempa bumi hebat itu, benih-benih kehancuran sudah menjalar merapuhkannya. Lihatlah institusi yang selayaknya menyediakan suasana nyaman dan mendidik, telah berubah menjadi padang kurusetra di mana dua kekuatan nafsu berkuasa saling bertikai memecah kebersamaan untuk satu tujuan ambisi kekuasaan. Pendidik terpecah saling menjatuhkan, pun mahasiswa/mahasiswi terperangkap sebagai amunisi penghancur untuk dua kubu berseteru.

Kepedihan selalu merongrong hati Denmas Detelu setiap kali ia melewati “tanah kosong” itu. Bukan karena sedih kesulitan melakukan legalisasi ijazah, toh masih ada kopertis. Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat ini, mengapa ? Mengapa mesti kemegahan itu hancur bukan oleh kekuatan eksternal ? Mengapa justeru digerogoti dan dihancurkan sendiri dari dalam oleh kekuatan yang seharusnya memperkokohnya ?

Kini empat tahun setelah peristiwa “keruntuhan fisik” kampusnya, banyak di tempat lain Denmas masih menyaksikan pembelokan fungsi dan misi awal sebuah institusi pendidikan dibangun. Misi penciptaan intelektualitas mumpuni sebagai pembangun bangsa, kini telah menjadi kendaraan bagi pribadi-pribadi yang haus dengan kekuasaan. Lihatlah bagaimana dengan brutalnya anak-anak muda lugu itu kini menjadi cyborg yang saling serang dan merusak fasilitas pencerdasnya. Lihatlah bagaimana “calon pemimpin” yang senantiasa mereka klaimkan sendiri, mereka bantah dan ingkari sendiri dengan turun di jalan-jalan merusak fasilitas umum demi membela keangkaramurkaan.

Tak bisa ditahan, bulir-bulir hangat bergulir dari kelopak matanya meleleh membasahi wajah Denmas Detelu. Bukan karena haru, tapi keperihan yang mendalam.

Kemanakah institusi baik itu ?

Kemanakah jiwa – jiwa baik pencetak generasi unggul itu ?

Kemanakah keluguan tulus untuk mereguk ilmu-ilmu kebaikan itu ?

Denmas Detelu berharap, semoga dengan ajang kompetisi ini.  Universitas Islam Indonesia yang bertetanggaan dengan “kampus yang hilang”, yang menjelang melakukan pemilihan pemimpin barunya, mampu menjadi titik awal kebangkitan kembali misi pencerdasan dan pembangunan bangsa yang adil makmur merata. Semoga dimulai dengan pemilihan pemimpin UII yang damai dan berzirah kehormatan kemegahan kampus sebagai institusi intelek, akan menjadi penawar bagi virus-virus kehancuran yang sedang menjalari negeri tercinta ini, dengan perlombaaan menuju perguruan tinggi terbaik, idaman dan favorit.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

We Could Be In Love

Something you should know about WE COULD BE IN LOVE (Duet with Brad Kane) Lyrics

Title: Lea Salonga – WE COULD BE IN LOVE (Duet with Brad Kane) lyrics

Artist: Lea Salonga Lyrics

Visitors: 11418 visitors have hited WE COULD BE IN LOVE (Duet with Brad Kane) Lyrics since June 03, 2010.
// <![CDATA[// <![CDATA[
tf_sid = "PMMBs0001";
tf_artist = "Lea Salonga";
tf_song = "WE COULD BE IN LOVE (Duet with Brad Kane)";
tf_songtitle = tf_song;
document.write('’);
// ]]>// <![CDATA[// // <![CDATA[//

// <![CDATA[// <![CDATA[
document.write('

(G. Burtnick/S. Peiken)

Lea:
Be still my heart
Lately its mind is on it’s own
It would go far and wide
Just to be near you

Brad:
Even the stars
Shine a bit bright I’ve noticed
When you’re close to me

Lea:
Still it remains a mystery

Chorus (Both):
Anyone who seen us
Knows what’s going on between us
It doesn’t take a genius
To read between the lines Brad: ohh
And it’s not just wishful thinking
Or only me who’s dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love

Lea:
I ask myself why
I sleep like a baby through the night
Maybe it helps to know
you’ll be there tomorrow

Brad: Lea:
Don’t open my eyes Ohhh
I’ll wake from the spell I’m under
Makes me wonder how Tell me how
I could live without you now

Both:
And what about the laughter
The happy ever after
Like voices of sweet angels
Calling out our names
And it’s not just wishful thinking
Or only me who’s dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love

Brad:
All my life
I have dreamed of this
But I could not see your face

Lea:
Don’t ask why two such distant stars
Can fall right into place

(Repeat Chorus)

Both:
Oh, it doesn’t take a genius
To know what these are symptoms of
We could be Lea: ohh
We could be, we could be in love

Brad:
Could be in

Both:
We could be in love

123

Salam untuk Anda semua,

Horeeee saya punya lahan baru untuk dikelola, senangnya. Begitulah perasaan bungah saya saat ini. Sebelumnya yang hanya dua bidang saja, kini bertambah satu menjadi 3 bidang lahan saya.

Ya, saya mempunyai blog baru. Umurnya baru satu pekan, namanya Bentoelisan, tempat Mas Ben Berkata-kata. Sebagaimana judulnya, melalui blog ini saya akan banyak berkata-kata. Berkata-kata tentang berbagai topik, baik itu tentang saya dan permasalahannya, dan warta di sekitar kita.

Bentoelisan hadir dengan format gaya penulisan bercerita yang encer, santai dan dikemas secara kocak dan sedikit nakal.

Bentoelisan bisa saja dikatakan hadir tanpa direncanakan, karena memang saya tidak menyediakan waktu kusus untuk merancang ataupun menyambut kehadirannya. Bentoelisan menjadi milik saya karena saya terinspirasi oleh sebuah acara di televisi yang saat ini sudah punah dari kotak ajaib tivi. Acara Mbangun  Desa dan Kontak Tani, sebuah tayangan sarat dengan pesan-pesan pendidikan dan budi pekerti.

Bila dalam Mbangun Desa tokoh sentralnya adalah Pak Bina, dan di Kontak Tani oleh Pak Kontak, maka dalam Bentoelisan Mas Ben mengedepankan diri sebagai ikonnya [pede dan narcis tulen deh].

Bila di sinetron, kehadiran tokoh baru berarti meniadakan tokoh lama, maka tidak demikian dengan tiga lahan saya. Sebagai cikal bakal, Rumah Sadhana dan saudara kembarnya akan menjadi percontohan bagi Bentoelisan. Dan saya pun berkewajiban merawat dan menjaga dengan baik ketiganya, secara adil tentunya.

Jadi mari kita ucapkan selamat datang kepada Bentoelisan.

Bentoelisan akan sangat bergembira menyambut dan menerima kehadiran Anda sekalian, menggemburkan tanahnya dengan atensi dan apresiasi Anda, dan menyuburkannya dengan komentar atau diskusi-diskusi menggugah dari Anda.

Selamat datang Bentoelisan !

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko