DAYA PIKAT MEDIA SOSIAL

“Mas Ben, Mas Ben … kulonuwun.”

Mas Ben yang tengah berbagi ceria dengan Gus Atya dan Jeng Arum, bangkit menuju pintu depan. Disibaknya kecil kerai yang menghiasi jendela dan diintipnya pemilik suara. Tampak Lik Promo dan Bu Guru Retno di seberang pagar rumahnya.

“E eh Lik Promo dan Bu Guru Retno, silakan masuk … monggo.” Songsong Mas Ben.

“Maaf Mas Ben, kami datang mau mengganggu.” basa-basi Lik Promo disertai senyum manis Bu Guru Retno.

“Ah, sampeyan itu koq ya. Wong saya juga sedang santai-santai bermain sama anak lanang.” Jawab Mas Ben.

Tamunya Mas Ben, mendudukkan diri mereka di kursi Mas Ben yang sederhana namun klasik dan cekli itu.

“Begini Mas Ben, langsung saja ya. Ndak apa-apa to ?” Lik Promo memulai pembicaraannya.

“Santai saja Lik, kita kan sudah seperti saudara to.” Jawab Mas Ben seraya membantu menurunkan jamuan dari nampan di tangan Jeng Arum.

“Monggo silakan lho Lik dan Bu Guru.” ujar Jeng Arum sembari mengambil tempat di sisi Mas Ben dengan Gus Atya yang mnggelayut manja di pangkuannya.

Lik Promo beringsut menggapai cangkir dan mereguknya pelan.

“Begini Mas Ben. Ceritanya adikmu Retno ini kan sedang belajar mempromosikan sanggar batik kami lewat internet blog. Katanya untuk memperkenalkan dan menarik peminat akan hasil kreasi kami.” Lanjut Lik Promo.

“Wah bagus itu Lik, sekarang kan jamannya sudah mudah. Jadi kita tidak perlu lagi menunggu peminat dengan berdiam diri. Kita bisa aktif menentukan sasaran pasar kita.” Potong Mas Ben.

“Iya Mas Ben, karena itulah saya berinisiatif membuat blog sederhana. Niatnya sih sebagai sarana untuk promosi batiknya Bapak.” Kata Bu Guru Retno  sembari melirik ayahnya.

“Cuma saya masih bingung bagaimana agar informasi dalam blog saya ini bisa sampai kepada orang banyak, dan banyak dikunjungi. Saya tahu Mas Ben pinter membuat blog, dan punya banyak kiat untuk mempromosikan blog kita.”

“Hallah, Bu Guru ini senengnya kalau memuji koq sampai melambung gitu to. Mas Ben jadi kege-eran tuh, hidungnya kembang kempis.” Goda Jeng Arum.

“Iya. Lha wong saya juga cuma iseng-iseng saja koq ngeblog itu. Yach daripada nganggur dan ndomblong ngalamun. Lagi pula lumayan bisa dapat ilmu gratis dari para blogger lainnya melalui ide-ide mereka yang dituangkan dalam tulisan di blog nya masing-masing.” kata Mas Ben sambil menepuk paha isterinya.

Sebenarnya banyak cara untuk mensosialisasikan blog / web kita. Cara paling mudah dan sederhana ya, kita rajin bersilaturahmi maya ke blog – blog lain, meninggalkan komentar simpatik. Dari situ sangat mungkin kita akan mendapat kunjungan balik. Setelah itu kita tinggal memupuk hubungan baik dengan menampilkan link mereka di blog kita, sebagai informasi kepada pengunjung kita lainnya. Banyak berpartisipasi hadir di dalam kegiatan-kegiatan berkenaan dengan blog, buka interaksi dan bertukar kartu nama.”

“Tapi hati-hati lho Bu Guru, jangan sampai ketagihan pergaulan maya. Nanti seperti Mas Ben, kalau sudah mainan internet suka lupa kalau ada isteri dan anaknya di dekatnya.” Goda Jeng Arum yang cukup menjadikan Mas Ben mlongo.

“Oh ya, moso sih Mas Ben ?” giliran Lik Promo menggoda Mas Ben.

“Ah ya ndak begitu-begitu banget Lik. Ndak usah diambil serius kata Jeng Arum. Kita lanjutkan saja lagi ya.”

Jeng Arum mencubit pinggang Mas Ben.

“Bu Guru juga bisa menghiasi blognya dengan widget-widget SEO tools untuk menarik perhatian pengunjung.”

“SEO itu apa to Mas Ben ?” Nyaris berbarengan tanya Lik Promo dan Bu Guru Retno.

“SEO itu Search Engine Optimization. Yaitu sebuah kelengkapan atau alat untuk mengukur dan membantu menaikkan popularitas blog atau web kita. Lik dan Bu Guru, bisa lihat di blog saya. Di situ ada beberapa yang bisa dipasang juga di blog batik Lik Promo. Page rank checker, page rank button, sitemeter, iwebtool, link popularity dan masih banyak lagi yang bisa diunduh secara gratis di google. Selain itu ada baiknya juga bila blog kita didaftarkan ke mesin-mesin pencari, seperti Yahoo, MSN, Google, Alexa, Technorati, Mybloglog, Networkedblog.”

Jangan lupa juga bahwa blog itu mencerminkan brand kita, jadi jangan bosan-bosannya bertukar informasi dengan para narablog lainnya untuk memberikan tampilan semenarik mungkin pada blog kita. Oh ya, ini juga sangat penting. Rajinlah mempromosikan blog atau produk kita melalui web sosialita seperti facebook misalnya.

Sama saran saya, jangan segan-segan Bu Guru dan Lik Promo membuat sayembara atau lomba blog misalnya tentang upaya pelestarian dan membudayakan batik, dengan hadiah produk batik Lik Promo untuk karya tulis terpilih.”

Lik Promo dan Bu Guru Retno terlihat manggut-manggut.

“Bagaimana Lik Promo dan Bu Guru Retno ?” tanya Mas Ben mengagetkan kedua tamunya itu.

“Wah cukup banyak juga ya ternyata ilmu blog itu, Mas Ben.” gumam Bu Guru Retno.

“Ya, ilmu itu apa pun asal baik dan dimaksudkan untuk kebaikan tidak ada habisnya. Saya saja saking semangatnya belajar internet sampai menyebabkan isteri saya ini cemburu jee.” Mas Ben terkekeh, diamini kedua tamunya.

“Lha Mas Ben jadi ndak ingat waktu kalau sudah asyik dengan internet.” bela Jeng Arum tersipu sambil mencubit keras paha suaminya.

“Oh ya Lik, kopinya koq dianggurkan. Ayo to, monggo diunjuk.” Kata Mas Ben yang ditindaklanjuti dengan seruputan kopi yang sudah tinggal hangat, oleh Lik Promo.

“Oh ya, ngomong-ngomong sudah mau masuk waktu Maghrib. Baiklah Mas Ben dan Jeng Arum, kami mohon pamit dulu. Kami sangat berterimakasih atas ilmunya. Mudah-mudahan menjadikan baik buat sanggar batik kami.” Kata Lik Promo sambil bangkit berpamitan.

“Amin. Oh ya Bu Guru Retno, saya jadi ingat. Ada satu lagi sarana promosi online yang sekarang juga sangat digemari, yaitu promosi melalui Instagram dan group – group WhatsApp, Line dan sejenisnya.” Pungkas Mas Ben sembari menjabat tangan mereka.

Mas Ben mengiringi kedua tamunya hingga pintu pagar, dan melambaikan tangannya.


[dari catatan tanggal 15 Februari 2010]

 

Salam

Ben Sadhana

Iklan

YOGYAKARTA MINIATUR INDONESIA (JOGJA ISTIMEWA)

Dear Pembaca,


 

Waktu sebenarnya masih pagi, masih jauh sebelum menyentuh siang. Namun suasana di Jalan Magelang sudah demikian padatnya dipenuhi oleh kendaraan, laju kendaraan tidak bisa lebih dari 10 km per jam sungguh menguji kesabaranku. Satu hal yang paling membuatku lupa sabar adalah bila terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Dan kenapa ini harus kualami hari ini, di kota kelahiranku sendiri – Hufff. Aku cuma bisa mengumpat pelan. Isteriku yang melihat perubahan ekspresi wajahku, “Sudah to, dinikmati saja. Justeru karena macet anak kita jadi senang bisa melihat banyak mobil yang dipamerkan sepanjang jalan ini.” Tangannya mengelapkan tissue ke wajahku, mengusap peluh yang meleleh di pelipisku. Lanjutnya “Lagipula, kalau sepi lancar terus kan namanya ndak ada pertumbuhan di Jogja kita.” Dalam hatiku, benar juga apa yang dikatakan isteriku.

Sejak 1995 saat aku meninggalkan kota Jogja, mengejar rejeki di luar Jogja sekaligus menjemput jodoh di sana, memang Jogja sekarang sudah banyak sekali perubahan. Perubahan ke arah modernisasi. Pertumbuhan hotel berbintang bak jamur di musim hujan, namun dengan tidak mengurangi eksotika asli nuansa Jogja. Budaya dan suasana asli Jogja tetap dipertahankan, sehingga menjadikan Jogja tetap menyimpan daya pesonanya dengan terus memicu animo pelancong domestik maupun mancanegara untuk mengunjunginya.

Dalam perjalanan sejarahnya, banyak peristiwa penting yang menyertai termasuk tokoh – tokoh besar di belakangnya tercatat di Jogja. Sejarah ketatanegaraan sudah dimulai dari sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I seiring berdirinya Keraton Yogyakarta paska perundingan perdamaian Gianti tahun 1755, fungsi Nayoko melalui Kenayakan telah diatur hal – hal terkait urusan dalam dan luar Keraton, mulai soal yayasan dan pekerjaan umum, hasil dan keuangan, agraria dan praja, dan pertahanan. Sistem ini terus berlanjut dipertahankan demi melestarikan budaya di Keraton Yogyakarta. Dalam masa pergerakan pun Jogja mencatatakan peristiwa – peristiwa penting, sejak mulai dijadikannya sebagai Pusat Pemerintahan (Ibukota Negara) sementara, hingga saat peristiwa agresi militer, kesakaralan Keraton begitu difahami oleh pasukan Belanda yang tidak berani merangsek masuk melangkahi benteng tubuh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, meski tahu di dalamnya ada bersembunyi para pejuang dan juga isteri dan anak – anak Jenderal Besar Sudirman sang Panglima tertinggi TKR. Sebuah pengakuan yang absolut betapa istimewanya Jogja dengan Kekuasaan Keraton dan Sultannya.

Pulang ke kotamu / ada setangkup haru dalam rindu / Masih seperti dulu / Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna / … Terhanyut aku akan nostalgi / Saat kita sering luangkan waktu / Nikmati bersama / Suasana Jogja. – Vokal merdu Katon Bagaskoro melantunkan lagu Yogyakarta cukup menjadi penyejuk bagi kami yang masih di dalam kemacetan lalu lintas. Hhhm, suasana Jogja bagaimanapun selalu ngangeni. Harus kuakui banyak hal istimewa yang menjadikan Jogja menjadi special. Pembangunannya yang terus menggeliat menata diri menjadikan Jogja semakin elok mengundang penasaran kepada siapapun untuk bisa menginjakkan kakinya meski sekedar mengambil foto diri di bawah plang papan warna hijau yang menunjukkan sedang berada di Jl. Malioboro, atau menikmati segala pesona kulinernya dan pariwisatanya. Catat saja Gudeg, sayur nangka kering yang begitu fenomenal. Juga Bakpia Patok yang meski di kota lain ada tetap saja menjadikan sensasi tersendiri apabila di dalam kabin pesawat ataupun kereta api terlihat tangan menenteng kardus bertuliskan bakpia patok, penanda oleh – oleh dari Jogja.

Lagu Yogyakarta masih mengalun menghibur perjalanan kami mengurai macet Jalan Magelang. Di detik ini rasa kesalku karena macet berangsur sudah kulupakan, berganti dengan rasa bahagia dan syukur karena menjadi orang Jogja. Jogajaku sekarang dengan segala permasalahanya, kuanggap wajar dan sah – sah saja bila pembangunan selalu melahirkan pro dan kontra dari para pihak berkepentingan. Mulai dari penataan area pedestrian sepanjang Jl. A. Yani – Malioboro yang sarat pendekatan dan negosiasi, toh akhirnya juga terealiasasi dengan damai. Malioboro menjadi indah. Pejalan kaki lebih nyaman menikmati trotoar tanpa gangguan terhalang parkiran sepeda motor.

Dalam kemacetan kulihat seorang anak pedagang koran, kubeli satu darinya. Masih dapat kembalian karena sudah siang kata si loper – uang kembalian yang ditukar oleh isteriku dengan minuman sari buah dalam kemasan, yang diterimanya dengan sukacita. Kuangsurkan koran ke isteriku, memintanya membacakan barangkali ada berita penting. Ya, mungkin saja ada berita prestisius baru tentang Jogja yang masa kini  pemerintahannya di bawah Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk penataan kota dibantu oleh walikotanya dan para bupati.

“Kok lama, mampir mana saja.” Kata Bapak menyambut kami yang baru tiba, seraya menangkap tubuh kecil putra kami, yang langsung menemukan kenyamanan di gendongan Kakungnya.

“Macet di Jl. Magelang.” Jawabku singkat, sambil kuhempaskan tubuhku ke bangku di teras.

“Jogja sudah beda banget sekarang ya Pak.” Kata isteriku.

“Jogja sekarang rame banget, aku saja suka aras-arasen kalau ibumu minta diantar keluar naik motor.” Kata bapak, “Mata tuaku dan kegesitanku sudah kurang banget, suka gruyah gruyuh kalau naik motor mbongcengkan ibumu.” Lanjut bapak sambil terkekeh.

Kuraih koran yang baru kubeli, kutemukan sebuah judul “Ziarah Raih Penghargaan Film ASEAN Berkat Nenek Gunung Kidul.” Dalam berita ini disebutkan Ziarah diganjar penghargaan Best Screenplay dan Special Jury Award di Kuching, Serawak, Malaysia. Malam penganugerahan AIFFA berlangsung di Pullman Hotel, 1A Jalan Mathies, Kuching Serawak, Malaysia pada Sabtu, 6 Mei 2017 – Indonesia keangkat nih, batinku. Mau tidak mau menjadi Jogja menjadi Indonesia, kebanggaanku semakin penuh menjadi Jogja sudah pasti menjadi Indonesia. Apa yang orang ketahui dan temukan di Jogja, kalau baik menjadikan Indonesia baik, demikian pun jika kesan Jogja jelek maka tidak baik pula kesan Indonesia.

Aku teringat dengan klipingku tentang Jogja, potongan artikel tentang Jogja, tentang prestasinya. Kubuka album klipingku yang tersimpan di data telepon genggamku. Berbagai prestasi dan penghargaan – nasional / internasional – yang pernah diraih Jogja diantaranya, dan masih banyak lainnya :

  1. Daerah Istimewa Yogyakarta meraih penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara 2017 dalam kategori provinsi dengan perencanaan terbaik dari Kementerian PPN/ Bappenas. Yogyakarta berhasil meraih nilai baik memenuhi 12 kriteria yang meliputi keterkaitan, konsistensi, kelengkapan dan kedalaman, keterukuran, inovasi kebijakan, proses perencanaan teknokratik, proses perencanaan politik, inovasi proses dan program daerah, tampilan dan materi presentasi, serta kemampuan presentasi dan penguasaan materi.
  2. Kota Gudeg dinobatkan sebagai Kota Terbaik dalam bidang Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Penghargaan diberikan oleh International Council For Small Business (ICSB) award 2016.
  3. Program modernisasi pengadaan di Unit Layanan Pengadaan Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh apresiasi internasional yaitu dari Millenium Challenge Corporation yang berpusat di Amerika Serikat. MCC mengapresiasi Yogyakarta melalui Unit Layanan Pengadaan yang dimiliki bisa menjadi salah satu contoh atau model pengembangan sistem pengadaan yang efektif dan efisien.
  4. Pemkot Jogja menerima penghargaan di bidang pariwisata sebagai The Best Performance kategori Gold yang diberikan oleh Menteri Pariwisata RI, Dr Ir Arif Yahya MSc dalam acara Travel Club Tourism Award (TCTA), Kamis malam 20/11/2014 di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah.

Isteriku yang melihatku mesam – mesem mengamati ponselku, mengetahui apa yang kubaca – kakinya diketukkan ke kakiku. “Kenapa ?” Tanya bapak yang melihat ulah isteriku.

“Ini Pak, Mas Ben tadi ngedumel terus mengeluhkan macet.” Jawab isteriku menggodaku.

“Kamasmu yo ncen begitu, ora sabaran.” Kata bapak yang memicu tawa kami bertiga. Ibu kami yang mendengar keriangan di teras, menyusul keluar bergabung.

“Ada apa ini, kok sepertinya gayeng banget, kedengaran dari dapur.”

“Anak lanang, jarene getun dadi wong Jogja, dalane macet.” Bapak berkelakar.

“Halah kok reko – reko. Mereka itu para turis, belum sah ngaku sudah ke Indonesia kalau belum ke Jogja.” Kata ibu sambil balik kanan kembali masuk meneruskan rapi – rapi dapur, isteriku mengikutinya.

Ya, memang benar rupanya. Menjadi Jogja berarti menjadi Indonesia. Karena semua budaya Indonesia berkumpul ruah di Jogja. Provinisi dengan kultur dan religi beragam di dalamnya, tetapi tetap mampu merayakan perbedaan dalam keharmonisan dengan damai yang menentramkan semua penghuninya; baik penduduk maupun para pendatang dan wisatawan.

Sekali lagi, menjadi Jogja berarti menjadi Indonesia, karena Jogja Istimewa.

 


Salam

Ben Sadhana

Menulis Pentigraf

Dear,

Banyak yang menunjukkan keheranan baik secara ekplisit maupun terang – terangan menyatakan keheranannya akan perubahan kecenderungan halaman dunia maya saya, khususnya konten yang saya tampilkan. Ya banyak kawan termasuk saudara saya yang heran tentang perubahan mendadak saya ketika halaman facebook saya makin rutin terisi dengan baris – baris kata puitis. Saya mendadak puitis, demikian komentar adik saya atas satu postingan saya di facebook. Bahkan seorang kawan lama, dengan jenakanya “ngguyoni” saya melalui komentarnya yang dikaitkan dengan usia saya saat ini, katanya saya sedang masa – masa “P” 🙂

Baiklah saya mengaku. Semua berawal ketika saya menemukan satu info di facebook tentang adanya pelatihan menulis Pentigraf, sebuah acara workhsop menulis yang merupakan kerjasama dari Komunitas Menulis Deo Gratias dengan Universitas Katolik Widyakarya di Malang.

Singkat cerita saya mendaftar dan hadir pada acara tersebut.

Topik yang diangkat juga unik menurut saya, PENTIGRAF. Sebuah istilah yang terdengar asing di telinga saya, yang baru kemudian saya ketahui sebagai kependekan dari Cerpen Tiga Paragraf. Pertanyaan baru muncul di benak, bagaimana wujudnya, sebuah cerpen cuma dalam tiga paragraf, bagaimana mungkin ? Kalaupun setiap paragrafnya panjang, apa malah tidak menjadi bertele – tele, toh kenyataan sesuai kaidah satu paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran.

Hal yang awalnya tidak mungkin untuk pemahaman saya yang telah lama libur dati aktivitas menulis (blogging), terjawab gamblang dan tuntas di 2 hari workshop yang dilaksanakan tanggal 8 – 9 Juli 2017. Selain paparan dari Pak Tengsoe Tjahyono yang telah memulai memperkenalkan pentigraf sejak awal tahun 1980-an itu, kami pun para peserta berkesempatan mempelajari dan menikmati 200 karya Pentigraf dari para cerpenis yang tergabung dalam Buku Kitab Pentigraf “Pedagang Jambu Biji Dari Phnom Penh” yang dilaunching pada hari kedua workshop, dan dibagikan kepada setiap peserta yang hadir.

Di hari pertama setiap peserta langsung diminta membuat pentigraf ala mereka, yang akan dipilih satu pentigraf terpilih dari  7 kelompok yang akan diprsentasikan pada hari kedua, sekaligus dikomentari oleh para cerpenis yang hadir. Setelahnya, masih di hari kedua, Peserta workshop berkesempatan berdiskusi interaksi dengan Ibu Maria Lupiani dan Bapak Eka Budianta yang dengan sabar dan jelas menanggapi setiap pertanyaan para peserta yang masih awam akan Pentigraf.

Dan, ini yang paling menarik.

Pada akhir acara, kepada setiap peserta diberikan Pekerjaan Rumah, menulis sedikitnya 6 (enam) karya pentigrafnya yang selanjutnya akan dikurasi dan dievaluasi untuk dikompilasikan ke dalam sebuah buku Pentigraf. Sebuah PR yang sangat menantang. 🙂

Penasaran dengan Pentigraf ? 🙂

pentigraf

Posting ini sekaligus undangan.

Silakan hadir pada tanggal 27 Agustus 2017 mendatang. 🙂


Salam

Ben Sadhana

Pandu – Pandu Kemerdekaan

Dear,

Perjalanan 2017 telah sampai pada bulan kedelapan. Ya, bulan Agustus. Dan kini kita sudah di penghujung pekan kesatu, menyongsong pekan – pekan berikutnya. Di bulan Agustus setidaknya tercatat 2 tanggal penting, entah bila sudah bertambah, karena saat ini banyak sekali hari – hari baru yang muncul berkat deklarasi – deklarasi. Tanggal 14 Agustus yang diperingati sebagai hari pramuka, dan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan republik Indonesia.

Tanggal 14 Agustus kita peringati sebagai Hari Pramuka. Pramuka atau gerakan kepanduan, yang berawal di Inggris berkat jasa Sir Lord Robert Baden Powell of Gilwell sebagai pendirinya. Berawal tahun 1908 hingga tahun 1920 saat dilaksanakan Jambore Dunia pertama kalinya di Olympia Hall, London. Di Indonesia sendiri, dimulai dengan lahirnya gerakan kepanduan pada tanggal  9 maret 1961 melalui ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Pada tanggal 20 Mei 1961 gerakan kepanduan dinyatakan bubar oleh Presiden Sukarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961, menggantikannya dengan organisasi gerakan pendidikan kepanduan yang tunggal berlambang tunas kelapa bernama GERAKAN PRAMUKA yang diberi tugas melaksanakan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia. Secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada khalayak pada tanggal 14 Agustus 1961 sesaat setelah Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961. Pada saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-45 Gerakan Pramuka tahun 2006, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka. Pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Pramuka yang antara lain dalam upaya pemantapan organisasi Gerakan Pramuka melalui terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang GERAKAN PRAMUKA.

Sementara tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Tahun ini HUT ke-72. Dalam perjalanannya, dengan dikumandangkannya Proklamasi oleh Dwitunggal Soekarno dan Hatta, kemerdekaan tidaklah serta merta menjadikan bangsa ini tenang dan rakyatnya hidup dalam ketentraman yang medamaikan. Kedatangan pasukan Inggris yang sedianya untuk melucuti tentara Jepang yang ada di Indonesia, nyatanya diboncengi oleh Belanda dengan kepentingan untuk menguasai kembali Republik Indonesia. Berbagai upaya perundingan yang berakhir sebagai basa – basi, kerana akhirnya dilanggar sendiri oleh pihak Belanda dengan dua agresi militernya di Indonesia. Pembantaian rakyat meluas bukan hanya di Jawa, di Makasar sejarah mencatat kekejian Westerling. Bukan hanya dari pihak asing, dari dalam negeri pun tak kurang sengitnya pemberontakan dilancarkan oleh tokoh – tokoh Indonesia sendiri. Mr. Amir Sjarifoeddin salah satu pemimpin terawal RI sebagai Perdana Menteri kedua yang juga sebagai negosiator perwakilan Indonesia pada perundingan Renville, pada akhirnya harus berhadapan dengan eksekutor karena diketahui menjadi tokoh di balik pemberontakan tahun 1948 di Madiun. Beruntung kita memiliki nama-nama besar yang berperan besar dalam upaya mengantarkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa pada saat menjelang dan tahun – tahun awal setelah masa kemerdekaan. Tercatat nama Panglima Besar Soedirman, AH Nasution, Supardjo Rustam, Oerip Sumoharjo yang sangat dekat dan mendukung perjuangan gerilya yang dipimpin oleh Panglima Besar Soedirman.

Bagaimana dengan tahun 2017 ? Kita selayaknya bersyukur, bangsa kita telah berhasil mempertahankan kemerdekaannya sejauh ini. Bertubi – tubi ujian silih berganti berupaya merongrong kedaulatan bangsa kita, namun berkat kekuatan Pemimpin kita selaku Panglima Tertinggi Militer didukung dengan kekuatan militer dan polri, negara selalu berhasil bisa menggugurkan upaya yang berpotensi mengusik dan memecah persatuan kita sebagai masyarakat dalam berbangsa. Benar, tidak dipungkiri ada pihak – pihak yang merasa masih belum merdeka, dan berupaya keras menanamkan benih – benih faham – faham yang mengarah kepada permusuhan di antara anak – anak bangsa. Namun selama kita berdiri tegap merapatkan betis kita, percayalah bahwa kedaulatan itu akan terus kita miliki. Karena kita sudah benar – benar merdeka, kemerdekaan yang diakui dunia. NKRI dengan keragamannya namun tetaplah satu.

Dirgahayu Indonesia. Jayalah di darat, laut dan udara.

 


Salam

Ben Sadhana

Tragedi Pendidikan

Dear,

Enam gedung sekolah dasar terbakar dalam sebulan, demikian sebuah judul artikel yang menghampiri ruang baca saya hari ini.

Kebakaran adalah musibah yang bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan pada apa saja. Namun menjadi tidak umum, apabila kejadian kebakaran terjadi secara beruntun dalam waktu berdekatan dan menimpa objek yang sama di satu kota, dalam kasus ini yaitu institusi pendidikan sekolah dasar.

Sebenarnya saya sudah mendengar dan mengikuti peristiwa ini sejak beberapa waktu lalu melalui group WA almuni SMP dan SMA Katolik Palangkaraya, dimana saya menjadi member dua group tersebut. Dari foto – foto yang dipost kawan – kawan, saya bisa menyaksikan bagaimana api dengan ganasnya melumat bangunan gedung – gedung sekolah dasar itu. Miris, karena saya pernah menjadi bagian dari kota Palangkaraya semasa SMP hingga SMA saya. Kota yang begitu damai, kini dihentak oleh berita kebakaran beruntun sekolahan. Apa yang sedang terjadi di kota tempat saya pernah mengenyam pendidikan ? Sejauh ini tersiar kabar aparat telah menangkap terduga pelaku pembakar, seorang pemuda berusia 21 tahun.

SD Negeri 1 Palangkaraya, SD Negeri 4 Menteng di Jalan Thamrin, SD Negeri 4 Langkai Jumat, SD Negeri 1 Langkai, SD Negeri 5 Langkai, SD Negeri 8 Palangkaraya adalah saksi bisu peristiwa kebakaran sekolah dasar di Palangkaraya. Semoga tidak ada lagi peristiwa sekolah terbakar. Diperlukan kewaspadaan sinergis antara aparat dengan masyarakat termasuk juga peran serta para orang tua dan guru. Tidak adil rasanya bila keamanan dan pengamanan sekolahan kita percayakan pasrah sepenuhnya kepada seorang penjaga sekolah dengan segala keterbatasannya.

Sekolah Dasar adalah institusi pendidikan awal, tempat dimana para calon pemimpin negeri ini diperkenalkan dengan etiket dan dasar – dasar budi pekerti luhur. Marilah kita jaga bersama. Semoga aparat segera mampu mengungkap pelaku dan motifnya, sehingga tidak ada lagi kejadian kebakaran sekolah dasar dan institusi pendidikan lainnya baik di kota Palangkaraya maupun kota – kota lainnya.


Salam

Ben Sadhana 

Entah

Dear,

Beberapa waktu ini, saya jadi suka ngulik Rumah Sadhana; perbaikan dan re-modifikasi serta copot dan pasang sana sini sedang menjadi konsentrasi saya. Saya serasa mengalami lahir kembali, mengalami passion menulis yang sebenarnya obsesi lama saya untuk tekun dalam kegiatan literati, namun sempat kendur dan tak-tersalurkan lebih dari satu repelita 🙂 .

Suka dan suka, begitulah yang saya rasakan. Bahkan istri dan anak saya sesekali ngecengi tiap kali keduanya mendapati saya tengah asyik berlama – lama di depan komputer, menata ulang dan mengisi posting di Rumah Sadhana, dan juga blog saya lainnya. 🙂 Surprise banget, setelah sekian tahun saya tidak menengok Rumah Sadhana, saya dapati berbagai pembaruan telah ditampilkan oleh wordpress, mulai dari feature yang makin enak dipandang, juga ragam pilihan template desain baru yang makin manis  enak dipandang dan elegan disediakannya.

Namun di balik gairah yang saya temukan kembali ini, terbersit pula kegundahan dalam hati saya. Ketika saya merambah pada bagian blogroll atau senarai, saya menemukan banyak sekali kawan – kawan blogger yang dulu aktif tampil dengan desain dan konten yang manis – manis, kini telah banyak yang tidak merawat ladang inspirasi mereka sebagaimana juga yang telah saya lakukan pada Rumah Sadhana saya ini. Yang membuat saya makin sedih, bahkan ada blog – blog yang telah dihapus, entah oleh pemiliknya, maupun oleh wordpress sendiri. Sungguh kondisi yang sangat disayangkan. Ada juga yang mengunci blog mereka menjadi private, untuk ini saya menghargai pilihan privacy mereka. 🙂

Mungkin adakalanya kita merasa bosan dan mengalami letih, namun menghapus jejak kenangan yang telah terekam indah di halaman blog, bagi saya sebuah keputusan yang terburu – buru dan disayangkan. Karena sejauh yang saya tahu, provider layanan blog terutama layanan blog gratis, tidak pernah menutup blog yang telah ada kontennya, kecuali memang blog itu tidak pernah ada pengisian kontent sama sekali, seperti saya alami ketika saya coba buat di blogdrive yang pada akhirnya di-delete dengan peringatan resmi disampaikan melalui email saya, atau karena penyelenggara blog yang tidak melanjutkan layanannya seperti blogspot (sekarang diambil alih google) dan juga blog.com.

Sehingga kemarin itu, saya pun akhirnya harus merelakan melepaskan nama – nama indah yang pernah sama – sama mengalami kebersamaan dalam diskusi maya melalui blog – blog mereka, menanggalkannya dari daftar tautan di Rumah Sadhana dan blog saya lainnya. Saya jadi teringat pernyataan pakar telematika beberapa tahun lampau sekitar tahun 2009 – 2010 kalau tidak salah ingat. Ketika itu melalui acara bincang – bincang di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Pak Roy Suryo menyebutkan blog hanyalah euforia sesaat yang akan hilang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Pernyataan yang awalnya saya tentang oleh batin saya, karena sedang senang – senangnya saya ngeblog waktu itu.

Pernyataan Pak Roy Suryo itu mau tidak mau harus saya akui ada benarnya saat ini. Ketika saya mulai bangkit membenahi Rumah Sadhana, banyak teman – teman blogger yang saya ketahui sudah benar – benar meninggalkan aktivitas blogging mereka. Mudah – mudahan asumsi saya tidak benar, namun mohon perkenankan saya menyampaikan sebuah kesimpulan, bahwa mungkin teman – teman selain mengalami kejenuhan seperti yang pernah saya alami, juga melihat kegiatan blogging sudah tidak ada gregetnya lagi, terbukti dari web yang dulu berlomba bersaing menyediakan layanan tools SEO (yang hingga saat ini saya masih tetap salah mengejanya SE-E-O, bukan ES-E-O), sudah mengundurkan diri menghentikan layanan dan kalau masih pun sudah tidak seakurat dulu lagi hitungannya, termasuk layanan badge atau lencana facebook yang sudah tidak disediakan lagi oleh facebook. Ditambah dengan tidak berlanjutnya layanan blogspot yang dulu banyak dipilih oleh pemain blog. Dari dalam negeri tercatat dagdigdug, kompasiana, indonesiana dan blogdetik yang sudah mulai mengurangi porsi memanjakan pengguna maupun pengunjungnya, saya rasa menjadikan animo nge-blog saat ini menjadi tidak sesemarak dan segempita dulu. – Sekali lagi mohon maaf bila analisa saya ini tidak benar.

Namun demikian saya menemukan beberapa teman yang masih bertahan setia pada kegiatan bloggingnya, dengan idelisme yang masih tetap terjaga seperti dulu. Salam salut buat Gus Kar dan juga Om Sigit S Darmawan. Keduanya masih terpantau jejak bloggingnya konsisten hingga posting terakhirnya di bulan Juli 2017 ini.

Akhir kata, ayo mari kita ngeblog lagi teman – teman 🙂

 


Salam

Ben Sadhana

N(e)geri Tanpa Medsos

Dear,

Bingung. Itu yang terpikir pertama saat saya hendak memilih kalimat utama tulisan saya kali ini. Bingung, yah saya memang benar bingung. Karena post ini adalah tulisan saya yang pertama sejak publikasi tulisan terakhir saya tanggal 26 Maret 2011 lalu. Bisa dibayangkan, sebuah rentang waktu yang sangat lama bagi seorang blogger ya. Lebih enam tahun seorang Blogger membiarkan blog yang dibangunnya terlantar terabaikan, luar biasa hehehe.

Saya teringat kembali dengan Rumah Sadhana ini setelah di media (online dan elektronik) – saya memang sudah jarang menjamah media cetak lagi 🙂 – mulai suka mewartakan wacana pemblokiran beberapa media silaturahmi seperti Telegram, WA atau bahkan konon facebook dan youtube pun tersebutkan pula masuk dalam target incaran blokir, jangan – jangan Twitter, Instagram dan Path juga mulai dag dig dug (bukan local blog provider lhoh ya). Bayangkan dunia tanpa WA, tanpa Telegram, tanpa Facebook, tanpa Youtube dan lain – lain yang saya belum kenal.

Meski ada keasyikan dan menghadirkan sense of romantisme tersendiri ketika hendak menyapa keluarga atau sohib atau kekasih hati bahkan, kita yang di rantau harus membeli kertas surat dan pena, kemudian menuliskan secara manual (tulis tangan – red) beribu – ribu abjad tanpa dibatasi kuota maksimal karakter, berikutnya ke warung bila ada (kalau tidak ada ya mesti ke kantor pos) beli perangko terus cari bis surat, atau biar keren kirim pake pos kilat khusus atau pos tercatat. Ngeng ngeng ngeng ngeng … berlaku sama jika pakai pos express, dengan Telegram konvensional layanan Perumtel yang bisa diatur – atur jumlah kata atau beritanya sesuai biaya yang dikehendaki, pun seandainya ini alternatif yang dipilih paling cepat keesokan harinya baru bisa sampai di alamat orang tua kita atau penerima surat lainnya. – Diterima, dibaca, dipahami (mungkin perlu juga melankolisasi pakai nangis – nangis dulu, bila isi surat mengandung konten mengharu biru mewartakan transfer uang bulanan yang belum diterima dari ortu dan lain – lain). Baru kemudian dengan proses panjang yang sama dilakukan oleh ortu atau penerima untuk membuat surat balasan. A ha 🙂

Proses jalan panjang perjalanan sebuah surat bolak – balik untuk membangun silaturahmi interaktif, bayangkan. Memang benar ada sisi daramatisasi proses membangun emosi saat menantikan datangnya surat hingga sampai diterima dan dibaca (ingat lagunya Mr. Postman dari group B*Witched dan Surat Cintaku dari Vina Panduwinata ?), tapi kan … O la la.

Jadi, saya berdoa semoga penutupan massal beberapa nama media komunikasi online dan / atau elektronik sebagaimana konon diwacanakan oleh pemerintah kita, hanya sebuah wacana dan tidak jadi direalisasikan karena kekuatiran yang terbangun sudah ditindaklanjuti dengan baik dan kooperatif oleh penyedia layanan. Hal lain, mengingat disamping penyimpangan yang sudah diindikasikan telah dilakukan oleh kelompok tertentu untuk mewujudkan misi tidak terpujinya, tetaplah jauh lebih banyak user baik nan bijaksana yang menggunakan akun-nya dengan dan untukmaksud – maksud yang baik pula. Betul tidaak ?

Banyak lho orang baik yang menggunakan media sosial untuk membagikan kebaikan, seperti Gus Sholah, Gus Mus, Gus Can, Pak Tifatul Sembiring, (yang terakhir disebut termasuk aktif lho di twitter 🙂 ) dll yang menggunakan akun twitter beliau semua untuk membagikan nasihat – nasihat kebaikan dari sisi keyakinan mereka namun tetap bernuansa universal bisa diterima semua umat.

Tapi ngomong – ngomong, kalau benar semua jadi diblokir … bisnis warpostel kayanya menggiurkan lhoh, bisa jadi peluang bisnis profitable. Hehehehehe.

 

Salam

Ben Sadhana

 

%d blogger menyukai ini: