Mau Dibawa Kemana … Negeri kita ?

Salam untuk Anda sekalian,

Denmas Detelu meraih slot kunci pagar rumahnya, membukanya. Kelelahan yang mengelayutinya sepanjang perjalanan menuju rumah dari tempatnya bekerja, perlahan berganti dengan kecerahan tatkala dari balik pintu ruang tamunya muncul sosok kecil putranya menyambut, “Bapak, Mamah Bapak Mah.”

Sekejab tubuh mungil montok itu sudah berada dalam gendongan Denmas Detelu.

“Bapak, enak … enak … enak.” Rengek manja si kecil Atya sambil memainkan rambut kumis bapaknya.

“Eh, anak pinter harus salim sama Bapak dulu. Mosok oleh-oleh dulu yang disambut, gak kangen sama Bapak ya ? Suara Nyai Detelu terdengar merdu.

Denmas Detelu mengecup gemas pipi gembil putranya.

“Ayo sini, turun sama Mamah dulu. Biar Bapak lepas sepatu dan masuk rumah dulu.” Lanjut Nyai Detelu sambil mengambil alih tubuh Atya dari suaminya.

Di dalam ruang tamu, Atya sibuk menggeledah tas yang biasa menemani bapaknya dalam bekerja. Wajahnya menyemburatkan kegirangan, “enak .. enak, Bapak yah ?” Suara bocah yang sedang belajar berkata-kata itu semakin menyejukkan hatinya. Tangan Atya mengacung-acungkan dos kecil berisi kueh yang sengaja Denmas Detelu beli di perjalanan pulang.

“Iya, itu untuk Atya putra Bapak”

“Terima kasih ya Bapak. Ayo bilang apa sama Bapak ?”

“Wah, bukan anak pinter itu namanya kalau diam saja.” Kata Nyai Detelu ketika dilihat putranya itu sudah asyik mengemil kueh oleh-oleh.

“Sudah biar, gak apa-apa Nyai, biarkan saja jangan diganggu. Lumayan dia sudah mulai mau maem walau sedikit.”

Nyai Detelu mengangguk, “Iya Mas, tumben dia mau maem roti.”

“Lho, lha tumben juga Kangmas tidak bawakan susu ultra seperti biasanya ?”

“Iya, sengaja aku tadi tidak beli susu. Biar dia belajar mengenal dan merasai makanan selain susu. Moso sudah 2 tahun cuma nyusu thok.” Jawab Denmas Detelu sambil menuju kamar.

“Iya, Mas. Lagipula kan juga lagi hangat-hangatnya berita susu formula mengandung bakteri to di tivi. Ngeri juga saya jadinya.”

“Handukku mana Nyai ?” Terdengar suara Denmas Detelu dari dalam kamar.

“Oh, iya, itu Mas sudah saya taruh di atas rak baju Atya. Mandinya jangan lama-lama, kemarin baru sembuh masuk anginnya to.” Imbuh Nyai Detelu mengingatkan.

Tidak ada jawaban terdengar, cuma suara pintu kamar mandi ditutup saja.

Denmas Detelu keluar dari dalam kamar, sudah klimis berganti pakaian, menuju kursi dimana Nyai Detelu sedang memangku Atya. Dilihatnya Atya sudah asyik dengan botol dot susunya.

“Mau langsung dahar, Mas ?” Tanya Nyai Detelu.

“Tidak Nyai, nanti saja.” Biar si Atya selesai dengan dotnya dulu.

“Ini koran baru Nyai ?” Denmas Detelu meraih surat kabar sore yang sudah lecek itu.

“Iya, tadi sudah didului sama Atya.” Jawab Nyai sambil tersenyum geli melihat suaminya memilah-milah koran baru yang sudah ada yang tersobek halamannya itu.

“Ya, tanda anak bakal pinter, ndak apa-apa to ya Atya.” Kata Denmas Detelu sambil mengusap kepala putranya. Tidak ada respon dari Atya kecuali matanya yang kriyip-kriyip entah menikmati enaknya susu buatan ibunya atau karena nyaman diusap-usap kepalanya.

“Ini koran koq beritanya cuma Mesir, Cikeusik, Temanggung dan masih juga tentang Gayus to ? Selebihnya berita kecil-kecil tapi banyak soal kejahatan dan demo anarkis mahasiswa yang bersitegang dengan aparat keamanan dan juga perkelahian antara warga kampung di daerah.”

“Lha ya memang itu to Mas trendnya berita sekarang ini. Soal wacana suksesi kepemimpinan di Mesir, terus PR lama pemerintah mendamaikan masyarakat Ahmadiyah dengan saudara kita Muslim, masalah mafia pajak vs apa itu, lembaga yang ada Denny Indrayana-nya Mas ?”

“Ah, aku juga lupa namanya.” Pendek Denmas Detelu menjawab. Pandangannya masih asyik tertuju pada lembaran koran di hadapannya.

“Malah terbaru ada berita yang cukup meresahkan kami para ibu yang punya anak kecil, tentang susu formula yang mengandung bakteri E-Zakazii itu.” imbuh Nyai Detelu.

“He eh.”

“Iya Mas, yang bikin saya kuatir itu koq sampai sekarang masih belum juga ada klarifikasi dari pemerintah yang mengumumkan merek-merek susu berbakteri itu.”

“Lho bukannya, sudah ada klarifikasi kemarin to, dari Bu Kepala BPOM bahwa susu-susu yang beredar di pasaran bebas dari bakteri.” Jawab Denmas Detelu, dia menoleh sesaat kepada isterinya.

“Iya Mas, tapi masalahnya kan beritanya tidak terus berhenti setelah ada keterangan itu, malah jadi semakin gencar disiarkan di tivi-tivi. Saya kan juga jadi ikut panik Mas. Apalagi putera kita ini kan belum bisa mengurangi konsumsi susunya.”

Denmas Detelu merasakan kecemasan isterinya.

Ya sudah ndak usah terlalu dirisaukan to Nyai soal susu itu. Toh sudah ada pernyataan dari pemerintah tentang tidak adanya bakteri terkandung di susu-susu yang ada di pasaran.  Lagipula bakteri itu kan ditemukan di susu-susu objek praktek kampus. Ya bisa saja to, susu sampel test itu kebetulan karena kondisi yang tidak higienis saat percobaan hingga timbul bakerinya. Test itu juga bersifat independen tidak melibatkan atau diketahui oleh lembaga yang berkompeten dengan masalah kesehatan susu, misalnya analis atau ahli dari departemen kesehatan atau dari BPOM. Ndak usah digagas lah, bikin tambah parno saja.”

“Saya maunya ya begitu, tidak mengambil pusing. Lha tapi beritanya ndak surut-surut di tivi je, Mas.”

“Ya itulah Nyai, semakin banyak stasiun tivi, semakin banyak media cetak, tapi beritanya ndak joss. Tidak ada yang berinisiatif untuk melakukan diversifikasi berita. Semua melakukan eksplorasi membabi buta dengan slogan ekslusivitas beritanya. Berita yang sama diputar berulang-ulang gantian di setiap tivi dengan sedikit bumbu wajah reporter atau anchornya yang dicemberut-cemberutkan, dipanik-panikkan, dipletat-pletotkan, pokoknya ya gitu deh. Semuanya terjebak dalam trend berita. Malah lucunya, ada to berita di tivi ini tapi bagian pojoknya ada seperti bekas plester menutupi simbol atau logo tivi lainnya. Jadi mereka itu pinjam gambar dari stasiun tivi lain untuk disiarkan di tivi mereka. Lha kan ndak mbois bener to ?” Sengit Denmas Detelu.

“Lho koq panjenengan malah jadi yang emosi to, ndak baik ah.” Canda Nyai Detelu sambil mencubit pinggang suaminya yang semakin nggajih itu.

“Lho ini bener lho Nyai. Para juragan tivi dan koran itu kan sebenarnya mengemban tugas mulia memberikan informasi yang cukup, representatif, lugas, inspiratif dan mendidik kepada para pemirsa dan pembacanya. Lha kalau kejadiannya seperti sekarang ini, semua tivi dan koran jor-joran saling memberitakan berita yang sama dan menurut saya ndak ada manfaatnya itu …”

“Lho sik sik sik, koq ndak ada manfaatnya. Maksudnya gimana to Mas ? Potong Nyai Detelu.

“Iya, ndak ada manfaatnya. Maksudku begini lho Nyai. Coba lihat, sekarang ini kan yang musim setiap hari berita itu kalau ndak soal demo kekecewaan rakyat Mesir akan Presidennya yang katanya diktator itu, terus kejadian di Cikeusik Pandeglang dan Temanggung, Mafia Pajak, Kasus travel check dari Bu Miranda yang sedang membuat para anggota dewan menjadi gerah karena menghitung hari menunggu giliran dicokok dari kediamannya, kasus Bank Century, dan terbaru ya soal susu berbakteri itu. Pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan, seharusnya itu kan cukup dijadikan janji untuk percaya, tapi kenapa tivi seolah tidak mau tahu dan tetap saja mengabaikan janji permerintah dengan tetap terus memanas-manasi pemirsa tivi dengan pemberitaan mereka yang panas dan dipanas-panasi terus itu.”

“Sebentar ya Mas, Atya sudah bobok lelap sepertinya. Saya pindahkan ke kamar dulu.” Kata Nyai Detelu.

“Iya Nyai.” Denmas Detelu menoleh ke arah Atya yang dilihatnya menggeliat kecil dalam gendongan ibunya menuju kamar.

Terdengar suara tebah [sapu lidi] dikibas-kibaskan mengusir nyamuk dan suara obat nyamuk semprot dari dalam kamar.

“Lalu gimana Mas ?” Tanya Nyai Detelu sesaat setelah keluar kembali dari dalam kamar.

“Ya mestinya kan warta berita itu fungsinya untuk memberikan keterangan yang secukupnya. Yang terjadi sekarang kan terkesan lebay. Semua tivi balapan tayangkan talkshow dengan narasumber para pakar dan pengamat yang ndak jelas siapa sebelumnya, tiba-tiba dimunculkan dengan opininya yang terbungkus suara menggebu-gebu menghakimi. Yang terjadi bukannya konklusi yang solutif, malah justeru hati sebagian masyarakat kita terprovokasi untuk membenci satu kelompok dan mendukung kelompok lain. Sebenarnya kan tidak bisa gitu, media elektronik atau cetak harus memposisikan diri sebagai saluran informasi yang independen, netral tidak memihak opini dari para pengamat atau pakar. Mereka kan lebih bagus kalau mau ngundang pakar atau pengamat mbok ya yang netral dan tidak terikat oleh faham tertentu.”

Denmas Detelu menghela nafas, tangannya meraih teh manis hangat dari meja di sebelahnya, diseruputnya.

Lalu, “Terus lagi Nyai, berita terbaru yang disiarkan terkait kasus Pandeglang dan Temangung bukan penyelesaian masalah dengan mengejar dan mengusut tuntas pelaku dan motif yang melatari perbuatan tidak terpuji mereka, malah pencopotan jabatan para pejabat kepolisian di wilayah dimaksud. Ya bukan berarti tidak boleh mencopot atau apalah istilahnya, penonaktifan misalnya. Tapi mestinya kan sanksi itu berupa sanksi administratif terlebih dahulu dengan tuntutan untuk penuntasan kasus hingga ke akarnya. Jadi terkesan tidak solutif ke akar masalah, malah memperlama penyelesaian penyidikan dengan mendudukkan  orang-orang baru yang belum kenal dengan wilayah dan karakter kemasyarakatannya, diberikan mandat untuk melanjutkan penyidikan.”

“Benar juga ya Mas, saya terkadang juga bertanya-tanya merenungi kata-kata para “pakar dan pengamat” di berbagai tivi itu. Mereka mengomentari dan beropini untuk perbaikan Mesir dengan seolah-olah mereka sangat mengenal jeroannya Mesir. Dan seolah mereka sangat yakin opininya akan mampu menyelesaikan konflik yang mendera negeri Firaun itu. Lucunya mereka malah sebelumnya belum pernah terdengar suara solusinya untuk penyelesaian masalah dalam negeri kita ya Mas” Tanggap Nyai Detelu.

“Dan penyelenggara media sangat bangga dengan program mereka itu.” Imbuh Denmas Detelu.

“Benar Mas. Ya mudah-mudahan segala masalah yang mendera di negeri kita ini terkait masalah toleransi dan kerukunan umat beragama dan berkeyakinan serta masalah-masalah besar lain yang masih belum tertuntaskan dapat segera diatasi. Dan para penyelenggara media segera sadar dan kembali kepada fungsi mereka dengan mengedepankan peranan informasi dan pengetahuan dalam memberi inspirasi kemajuan bangsa.

“Benar juga Nyai. Semoga pula kepada pemimpin negeri kita ini diberikan terang dan kemampuan untuk mengawal negeri tercinta kita, dan menuntaskan masa baktinya hingga pemilu yang akan datang tanpa adanya gangguan. Dan juga agar para lawan politik pemimpin kita diberikan terang hatinya bahwa kemajuan bangsa kita ini hanya bisa dicapai dengan persatuan antar semua elemen masyarakatnya.”

“Ah ya, saya tadi lihat si Atya mainan kertas dari meja Kangmas. Yang pas saya baca kalau ndak salah info  Kontes Ngeblog Inspiratif Visimaya, ya ?”

“Ah iya, Nyai. Lupa saya, untung diingatkan, ini hari terakhir kontes tahap pertamanya.” Denmas Detelu terhenyak.

“Saya akan angkat topik diskusi kita barusan deh untuk materi tulisan saya.” Imbuh Denmas Detelu.

“E e, nulisnya nanti. Makan malam dulu, Mas. Kebiasaan kalau lupa makan malam suka pusing to keesokan harinya.” Sergah Nyai Detelu yang melihat Denmas Detelu beranjak hendak menuju meja kerjanya.

“Eh iya Nyai, makan dulu kita.” Kata Denmas Detelu sambil menggamit lengan isteri tercintanya itu membimbingnya menuju ruang makan.

Demikianlah diskusi mesra keluarga Detelu.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

p.s. :

“Wah Nyai, ini info kontes blognya ada yang ketinggalan sepertinya, info harus ke mana artikel  disubmit-kan koq tidak tersebutkan ya.”

“Ya sudah tidak apa-apa, yang penting tuliskan saja Mas. Ndak udah terpaku pada lomba, katanya mau jadi Blogger sejati yang setia berbagi tanpa pamrih.” Goda Nyai Detelu.

“Iya sih, lha tapi lumayan je Nyai janji hadiahnya. Ya sudah deh ndak apa-apa, saya tetap tuliskan saja di Rumah Sadhana, sebagai hadiah kerinduan para sahabat blogger saya dan sahabat baca lainnya.

“Ah, sudah ketemu link pendaftarannya koq Nyai, nih ada di paling bawah email yang Kangmas peroleh dari milis.”

***

Semarak Mozaik Semesta

Salam untuk Anda sekalian,

Wahai saudaraku,

Lihatlah piano. Ebony dan ivory, hitam putih berdampingan menghadirkan denting merdu nada-nada indah

Lihatlah grafiti di tembok kusam usang. Indah berkat berpadunya aneka warna

Lihatlah pelangi. Begitu indahnya oleh ragam warna yang membentuk pagar cakrawala

Lihatlah laut luas. Begitu indah airnya berwarna-warni berkat pantulan warna-warni ekosistem di dasarnya

Wahai saudaraku

Masih adakah pemberontakan di hatimu untuk membantah semua keindahan itu ?

Bayangkanlah seandainya tuts piano diciptakan dengan satu warna saja dengan tuts hitam rata dengan yang putih ?

Bayangkanlah sesandainya tembok-tembok kusam usang dipinggir kota, tidak berhiaskan karya usil grafiti ?

Bayangkanlah seandainya saja pelangi itu hanya selengkung besar dengan satu warna saja ?

Bayangkanlah seandainya air laut itu diam tanpa hiasan riak dan ombak dan kemilau warnanya yang bening berpadu indah ?

Wahai saudaraku,

Percayakah engkau akan menjadi nyaman hatimu ketika kepadamu diperdengarkan alunan musik yang hanya berasal dari satu media dan bunyinya monoton ? Bandingkanlah suasana batinmu ketika setelahnya engkau diperdengarkan sebuah orkestrasi, perpaduan dari berpuluh alat musik yang berbeda.

Pernahkah engkau bayangkan suara yang tercipta dari biola dan gitar yang hanya memiliki satu dawai saja ?

Wahai saudaraku

Begitu banyak sudah bukti keindahan yang terciptakan oleh perbedaan.

Lalu mengapakah engkau masih mengingkarinya ?

Mengapakah engkau mengijinkan dirimu menghakimi satu dengan yang lain karena berbeda ?

Mengapakah engkau begitu mudah tersulut amarahmu bila dia atau mereka tidak sama denganmu ?

Mengapakah engkau begitu tega menyakti, melukai bahkan merampas hidup saudaramu yang lain … pun hanya karena kau merasa mereka tidak sama denganmu ?

Engkau meminta dia dan mereka untuk menjadi sama dan serupa denganmu. Sementara engkau tidak pernah mengijinkan dirimu untuk memahami mengapa mereka berbeda denganmu.

Wahai saudaraku

Aku percaya engkau pun telah tahu bahwa Tuhan menciptakan semua ciptaannya beragam untuk membaikkan alam semesta ciptanNya.

Dan engkau tahu bahwa kita diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbahasa-bahasa dan berras-ras karena Tuhan berkehendak memberikan warna pada alam semesta.

Tuhan walau MahaKuasa tidak berkenan menciptakan alam semesta hanya dalam satu warna, satu bahasa dan satu budaya saja.

Maha Besar Tuhan atas segala CiptaanNya yang beragam.

Wahai saudaraku,

Marilah kita menjadi warna kita masing-masing. Berpadu indah dengan warna lain dari saudara dan kawan kita lainnya.

Biarlah warna kita melebur indah dengan warna lainnya menampilkan mozaik semesta yang agung tanpa harus kita kehilangan warna indah kita masing-masing.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

17 Agustus [Bila Engkau Masih Bertanya …]

Salam untuk Anda semua,

17 Agustus 1945

Setelah lebih tiga setengah abad sebelumnya, dalam kungkungan kolonial. Pada hari itu negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya.

Pekik tempik sorak membahana di seluruh persada nusantara ini merayakan saat kulminasi itu. Pedih duka lara keterjajahan sirna sudah. Mengejawantah pada preambule UUD 45 aline kedua :

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kini, 17 Agustus 2010. Hari ini tepat 65 tahun kemudian. Peristiwa bahagia itu diperingati.

Namun seketika ternodai, oleh noktah yang dititikkan pada kesucian merah putih.

… kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur …

Di manakah kini sirnanya ? Persatuan tercederai, oleh mereka yang terbutakan. Merampas kemerdekaan sesama anak bangsa. Merampas kemerdekaan berpikir bahwa negeri ini sudah merdeka.

Merongrong

Kedaulatan dipertaruhkan

Wahai engkau di sini dan di sana. Berada di manakah engkau selama ini ? Mengapakah engkau enggan membuka matamu dan terjaga dari tidur panjangmu, ketika lebih dari sebagian bangsa ini larut dalam kebahagiaan dan keharuan, merayakan pesta bangsa ?

Ke manakah engkau simpan nuranimu ? Engkau masih saja mempertanyakan kemerdekaan, meragukan pertumbuhan kemakmuran bangsa ini.

Kemanakah bilik pengertianmu kau sembunyikan ?

Tidakkah tercipta pengertian di ruang benak dan hatimu ? Dengan tega dan sadar engkau mengingkari perputaran roda masa. Dalam keyakinanmu enggan menerima kemerdekaan bangsa ini.

Riuh rendah engkau mendoktrinkan, memasung opini banyak orang, menebar agitasi … memfahamkan bahwa negeri ini masih terjajah jauh dari kemakmuran.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Engkau dalam kebanggaanmu sebagai anak bangsa, dengan nasionalisme adalah mahkotamu.

Di kedalaman manakah cintamu bersemayam kini ?

Engkau berkeliling negeri ini, mengobarkan kebencian, mewartakan segala keburukan negeri ini sebagaimana opinimu.

Kau mencaci, kau memaki … negeri ini belum makmur … perlu perubahan total. mendustakan pengertianmu bahwa di belahan bumi sana engkau pun tahu masih banyak perjuangan melawan tirani dan keganasan alam.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Di manakah belas kasihmu ? ketika engkau berkeliling dalam kemegahanmu di titik-titik pelosok keterpurukan yang engkau pilih. Dalam pongah engkau menghamburkan kemakmuranmu, engkau dengan sadar mengumbar amarahmu di hadapan mereka yang sesungguhnya berharap uluran tanganmu, berharap berkat Tuhan mengalir dari pundi-pundi kemewahan dan kekuasaanmu.

Namun wahai engkau di sini dan di sana,

Sama sekali engkau tidak bergeming. Bukan derma kau berikan, sebaliknya kebencian kepada negeri kita yang kau tanam dan siramkan ke hati mereka.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila saja negeri ini dipasrahkan kepada pengelolaanmu, apakah itu kemerdekaan yang kau harapkan selama ini ?

Sadarkah engkau jika janji kemakmuran dari bibirmu, itu telah dicatat dalam buku kehidupanmu dan dipiutangkan kepadamu ? Janji kemakmuran maka akan ditagihkan darimu kemakmuran pula. Dan itu hukum alam yang mutlak kekal.

Seberapakah kemakmuran rakyat dalam takaranmu ? Sebanding dengan harta yang telah engkau hamburkan sia-sia kah ?

Wahai engkau yang di sini dan di sana,

Masih belum cukupkah bagimu, penderitaan bangsa ini ? Dalam lantang suara dan gelak tawamu, engkau berpesta pora di atas semakin terpuruknya negeri ini sesuai skenariomu. Berharap dalam kechaosan bangsa ini, lalu engkau tampil sebagai juru selamat atas kesia-siaan yang telah engkau ciptakan.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila engkau masih bertanya, apakah bangsa ini sudah merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur atas pengertianmu.

Maka dalam pengertianku yang dangkal ini menjawab sebagaimana pengertianmu, Indonesia, negeri yang indah ini baru akan merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, apabila engkau telah dengan segenap keikhlasan dan pengertianmu mengakui kemerdekaan dan kemakmuran Indonesia yang berdaulat dalam keadilan yang makmur.

Dirgahayu negeriku Indonesia.

Benar atau salah, inilah negeriku yang menjadi tanggung jawabku dan yang lainnya untuk terus mengawalnya agar tetap menjadi negara yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Berpacu Dengan Waktu

Salam untuk Anda sekalian,

Persetujuan dan penolakan, akan selalu berpasangan mengiringi perjalan hidup setiap manusia. Entah itu dari orang lain atau bisa saja dari pribadi sumber asalnya.

Keputusan seseorang adalah sebuah bentuk dari persetujuan atau penolakan dari dirinya. Seorang yang bertindak ramah adalah keputusannya untuk menghindari perseteruan, seorang siswa yang memilih rajin belajar adalah keputusannya untuk menolak menjadi siswa dengan nilai akademik tidak baik. Demikian pun seorang yang bersahaja adalah keputusannya untuk tetap memperoleh simpati dari lingkungannya.

Tidak ada dalil khusus tentang hak memutuskan. Bahkan Tuhan pun walau telah menyediakan dan memberikan panduan kebaikan dan hal tidak baik, memberikan keluasaan kepada siapa pun untuk memutuskan pilihannya masing-masing sesuai dengan persetujuan batinnya. Tentu saja Tuhan Maha Baik tetap akan setia mendampingi dan memberikan pengingatan-pengingatanNya melalui peristiwa-peristiwa yang kemudian mengikuti tindakan / sikap yang kita pilih. Termasuk menyediakan pintu ampunan atas pertobatan.

Saya percaya bahwa sering kita walau telah tahu rumus kebaikan itu, namun kita akan mengupayakan sebuah toleransi bila menemukan celah untuk tidak konsisten. Benar ?

Hal ini saya alami dan harus saya amini sendiri, ketika saya di satu kesempatan menyaksikan siaran televisi bersama isteri saya. Ketika itu acara tentang griya unik yang menampilkan rumah dari seorang politisi muda. Rumahnya megah di tengah tanah luas yang sejuk bak kebun raya.

Saya yang sedang mengupayakan taraf hidup sebagaimana saya cita-citakan, berucap mengomentari tayangan tersebut. “Orang muda koq sudah bisa sesukses dan sekaya itu ya ? Doanya apa ya ?” Yang dijawab oleh isteri saya dengan ketenangannya, “ya bisa saja, karena tidak pernah menyia-nyiakan waktunya.”

Sebuah jawaban singkat, lugas dan cerdas bukan ?

Ya, itu pasti. Karena memang hal itulah rumus hidup hakiki. Tidak menyia-nyiakan waktu.

Isteri saya benar sekali. Sebab tidak ada istilah kesia-kesiaan [waktu] untuk setiap upaya baik dilandasi niat baik. Bila pun akhirnya belum sesuai harapan peraihannya, toh setidaknya sudah membukakan akses kepada pelaku tindakan itu sendiri untuk sesuatu kesempatan baik lainnya.

Hal paling sederhana saja, di ruang tamu tokoh acara itu, kepada pemirsa sudah dipertunjukkan berlemari buku-bukunya, banyak sekali. Koleksi bukunya sudah barang tentu terbanyak adalah yang merujuk kepada bidang minat dan konsentrasinya. Namun dia tetap menguapayakan membaca dan belajar ilmu-ilmu lain.

Mari kita hitung-hitungan. Ada berapa banyak koleksi buku Anda ? Berapa lama Anda membaca setiap kali ? Seberapa besar minat Anda untuk segera mengupasnya setiap melihat buku atau majalah atau surat kabar ?

Saya harus akui, meski saya sangat suka membeli buku, namun jangan ditanya berapa banyak buku yang tidak tamat saya baca. Bukan sebuah tindakan yang boleh ditiru tentunya 🙂

Tahukah Anda korelasi antara buku saya dengan penyia-nyiaan waktu saya ?

Ya, tepat sekali. Saya dengan sadar telah menyia-nyiakan waktu saya. Saya membuang waktu saya dengan percuma ketika saya memilih untuk bersantai-santai memanjakan tubuh saya di kursi malas tanpa sebuah buku menemani waktu luang saya. Kalkulasi sederhananya adalah setengah jam saja saya membaca buku saya, setidaknya ada pencerahan baru bagi pemahaman saya, dan saya sudah bisa punya alasan merayu isteri saya untuk membelikan saya buku baru lagi. Betul ?

Sebenarnya peluang dan kesempatan itu berbanding lurus dengan pengetahuan dan pemahaman yang kita punyai. Semakin luas pemahaman kita, maka kesempatan untuk maju dan naik tangga menjadi keunggulan komparatif.

Masih belum percaya ? Masih mau bukti ?

Coba Anda sebutkan nama para pengusaha yang sukses menurut Anda. Sudah ?

Sekarang coba Anda cari tahu siapa pengusaha sukses idola Anda yang punya titel sarjana ? Atau Anda mungkin pernah kenal atau mendengar nama Susi Pudjiastuti, seorang wanita super dari Pangandaran yang super suskes dan kaya punya kapal terbang meski cuma punya ijazah SMP ? Dan contoh lain adalah Pak Bob Sadino yang nyentrik itu, yang pernah diejek Andy F Noya dalam acaranya Kick Andy “Bagaimana orang bisa percaya Anda sukses, kalau buat beli celana panjang saja tidak mampu ?”.

Klu-nya adalah, mereka semua yang beruntung itu tidak pernah lupa menyertakan upaya besar di sepanjang hidupnya. Belajar dan berupaya tiada hentinya.

Jangan dulu Anda terburu-buru menghakimi pendidikan mahal, toh sudah banyak bukti hidup orang sukses kaya yang tidak mengenyam pendidikan formal tinggi.

Mereka semua itu adalah gambaran dari kecerdasan keputusan yang mereka pilih. Ketidaktahuan bukan menjadi penyurut langkah mereka. Toh alam sudah menyediakan banyak saluran pengetahuan yang tiada habisnya untuk dieksplorasi. Kita adalah guru terbaik, kita adalah motivator terbaik untuk kemajuan diri kita sendiri. Fasilitas dan sarana hanyalah pendukung, yang tanpanya pun tidak akan menjadi faktor pengurang keberhasilan selama Anda tidak mengendurkan semangat dan cita-cita Anda. Anda bisa mencari perpustakaan, Anda bisa mencari pedagang buku bekas, Anda bisa belajar melalui internet gratis yang sekarang sedang digalakkan.

Prof. Yohanes Surya lulusan Cum Laude ilmu fisika dari perguruan tinggi di Amerika mengajarkan bahwa “sesungguhnya semua orang itu ditakdirkan pintar, cuma tidak semua orang berkesempatan bertemu dengan guru yang baik”.

Sekarang, masihkah pantas kita untuk memilih menolak datangnya kesempatan hanya oleh karena perasaan kurang pengetahuan, masih berpegang fanatik akan fak atau jurusan bidang ilmu pendidikan ? Masihkah tidak mengijinkan diri Anda untuk membaca dan belajar ilmu yang lebih luas untuk membangun pemahaman Anda ?

Jadi, kesuksesan dan kemakmuran itu sebenarnya hak semua orang sebagaimana slogan Success is my right nya Andrie Wongso, baik dengan guru formal maupun dengan guru alam. Semua itu hanya masalah waktu, tergantung dari banyaknya waktu yang telah Anda sia-siakan.

Jadi Anda telah memutuskan, setuju atau menolak !

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

I need “a builder”, not just a body.

Salam untuk Anda semua,

“I need “a builder”, not just a body.”

Begitu isi surat singkat boss saya yang bule kepada vice president kami. Saya bisa mengetahui isi surat itu karena kebetulan saya yang ditugaskan untuk mengirimkannya melalui fax ke kantor pusat kami di Jakarta.

Peristiwa itu terjadi 12 tahun lalu ketika saya sedang bertugas di site proyek di daerah Sumatera Selatan.

Membaca tulisan boss saya, jelas saya waktu itu berpikir betapa keji dan kasarnya boss bule saya itu, ditambah roman wajah yang tidak ramah saat meminta saya mengirimkannya melalui fax. Yang membuat saya terkejut berganda, karena bisanya boss saya itu ramah dan penuh maklum.

Perasaan kaget dan tidak habis mengerti tentang sikap “kasar” boss saya itu terbawa terus dan terngiang-ngiang di telinga saya. Namun akhirnya saya bisa mengerti mengapa boss saya sampai tega bersikap seperti itu.

Ya, saya mengerti bahwa tuntutan profesionalisme menjadi komponen primer dalam sebuah proyek dan teamwork. Profesionalisme yang didukung kompetensi plus basic mentality menjadi tuntutan mutlak yang tidak boleh ditawar. Sebab tidak mungkin ada profesionalisme bila tidak didukung oleh adanya basic mentality yang positif.

Perusahaan kami di site berperan sebagai subkontraktor dari Main Contractor yang menginduki beberapa subkontraktor lain. Kami selain bertanggung jawab kepada perusahaan yang mempekerjakan kami, tentu saja memiliki target dan tuntutan performance baik atas pekerjaan kami di site. Dan kenyataan yang sama dalam setiap teamwork adalah, tidak diberikannya keleluasaan bagi seorang Pemimpin Proyek / Superintendent untuk menentukan dan memilih sendiri timnya. Semua sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Sukses gagalnya sebuah proyek akan dibebankan kepada seorang Pemimpin Proyek. Dia harus mampu memanaj timnya untuk merealisasikan goal yang ditetapkan. Jadi sebuah kewajaran bila sang pemimpin proyek pun menanggungkan harapan besar kepada anggota timnya. Tentu saja hal ini hanya bisa tercapai bila ada kesamaan visi.

Visi adalah sebuah noktah di depan yang ingin dicapai. Dan dari sebuah titik akan mengejawantah menjadi sebuah bangun besar megah yang bernama kesuksesan bilamana ada kesamaan misi dan kontribusi positif dari semua team membernya.

Sebuah peraihan misi berbanding lurus kepada visi yang jelas. Sebuah visi menjadi tidak lurus mengarah ke depan bila satu saja pengupayanya tidak berkomitmen. Ada kalanya ketimpangan komitmen bisa menciptakan goal, namun akhir pertandingan tetap saja tidak sesuai harapan. Selalu ada keretakan di sana dan sini. Bisa kita lihat sebuah kesebelasan sepak bola yang walau menang tetap saja ada hal yang dikritisi oleh komentator atau penggemar kesebelasan itu sendiri.

[Kompetensi + komitmen] = [70% profesionalisme]

[Kompetensi + komitmen + basic mentality] = [100% profesionalisme]

Mengapa bisa demikian ?

Ya, karena kompetensi bisa diciptakan dengan pembelajaran dan belajar, komitmen pun bisa ditularkan. Namun peningkatan kompetensi menjadi mustahil bila tidak didukung oleh adanya basic mentality yang positif. Basic mentality menjadi engine untuk melejitnya kontribusi positif dan integritas. Karenanya basic mentality menjadi faktor utama yang harus selalu dan selalu dituntutkan.

“I need “a builder”, not just a body.” Kalimat yang menjadi pengganjal ruang benak dan batin saya selama 12 tahun itu kini terjawab sudah, ketika saya mengalaminya sendiri, ketika saya berada di posisi boss saya. Saya bisa memahami. Ketika kita berada pada posisi Pemimpin Proyek, maka kata-kata itu bukan mustahil terucap dari mulut atau hati kita.

Bila perkataan, anjuran, pengingatan dan contoh baik sudah tidak kuasa lagi menanamkan benih penyadaran, maka waktulah yang akan menjadi counting down untuk penghakiman bagi “pembangkang” dan peretak soliditas tim.

Boss-ku guru-ku, di manapun Anda berada kini, apa kabar ?

Kini aku pun sedang berjuang keras untuk menahan kata-kata yang sama Anda ucapkan dulu itu untuk tidak keluar dari batinku menjelma menjadi ucapan.

Bagaimana pun Anda telah banyak mengajarkan kepadaku tentang kesabaran menghadapi sebuah tim yang sulit.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Sang Angin

Salam untuk Anda sekalian,

Lelaki itu gontai melangkah. Wajahnya kuyu, penampilannya jauh dari segar. Sebenarnya perawakannya kekar, kulitnya bersih dan wajahnya boleh dikata cukup menarik.

Tiba di sebuah taman, dipilihnya tempat di sudut.

Kerindangan dan kesejukan sekitar tak mampu mengubahkan penampilan dan suasana hatinya.

Semilir angin menghembus lembut menerpa wajahnya.

“Wahai lelaki, kerisauan apakah mengganjal hatimu, hingga ceria alam dan ramahku tak mampu melukiskan senyum di parasmu ? Sapa Sang angin.

“Oh angin, aku baru saja keluar dari tempat kerjaku. Meninggalkan semua kekacauan di sana.”

“Lalu ?”

“Ya angin, aku sudah lama ingin melakukannya. Ku sudah muak dengan segala ketidakberesan dan ketidaknyamannya.”

“Kau sudah lakukan dan dapatkan apa yang kau inginkan. Lalu mengapakah dirimu masih saja bermuram ?”

Lelaki muram itu menghela nafas. Cukup lama dia berdiam, wajahnya masih saja terkulai lesu.

“Bukankah seharusnya engkau berbahagia kini ? Engkau sudah bebas.” Lanjut Sang angin.

Si Lelaki menggeleng, “tidak semudah itu.”

Kepalanya semakin dalam menunduk, bahunya berguncang … dia menangis.

“Engkau menangis hai lelaki ?” Sang angin lembut membelai.

“Aku menyesal, aku merasa bodoh kini. Aku merasa berdosa dengan isteriku, dengan anakku.” kata-katanya tercekat.

“Lanjutkan, bebaskan beban itu dari batinmu. Aku mendengarkanmu.” Semilir angin menghembus sejuk.

“Aku benci mereka semua, benci semua keadaan dan peristiwa di tempat kerjaku. Aku merasa tidak dihargai, diremehkan dan diabaikan. Bertahun-tahun aku berkubang dalam keluh-kesahku, namun tiada yang mau peduli. Bahkan mereka telah berlaku jahat kepadaku. Aku benci mereka semua. Kini mereka pasti sedang bersorak-sorai merayakan kemenangan mereka atasku. Mereka berpesta pora, telah berhasil mengusirku.”

Air mata lelaki tertumpah deras dari kelopak matanya.

“Bolehkah sekarang aku menolongmu, wahai lelaki ?”

“Apakah yang bisa engkau lakukan untukku, Sang angin ? Bahkan boss-ku pun tidak mampu membela dan membebaskanku dari masalahku.”

“Setidaknya aku bisa sedikit menerbitkan segar wajahmu, sebagaimana telah kulakukan kepada dedaunan, rumpun, rumput dan kupu kumbang yang ada di taman ini.”

Si lelaki menoleh sekeliling merasakan harumnya suasana dan hembusan angin lembut menerpa wajah dan tengkuknya.

“Lelaki, sudah berapa lama engku berada di lingkungan kerja-mu ?”

Lelaki mengernyitkan dahinya, “hampir enam tahun”. Katanya lirih.

“Hhhm, kau pun mampu bertahan cukup lama.”

“Adakah kau memiliki sahabat atau setidaknya orang yang kau percaya di sana ?”

Lembutnya desiran angin, perlahan menumbuhkan segar di wajah lelaki.

“Aku tidak percaya kepada mereka.” Lelaki menjawab ketus.

“Baik, lalu berapa lama engkau mengetahui keberadaan taman ini, tempat di mana kita berada saat ini ?”

“Selama aku berinteraksi dengan mereka.”

“Lelaki, bolehkah aku menyampaikan suatu rahasia ?”

Lelaki mengangguk, tetap tertunduk.

“Sesungguhnya bukan  pada mereka pokok masalahmu, tetapi karena dirimu telah memutuskan untuk meciptakan sekubangan lumpur masalahmu sendiri. Dan Engkau telah memerosokkan dirimu sendiri, dan mengiklaskan dirimu semakin dalam terbenam ke dalamnya.”

“Maksudmu ? Bukankah aku telah mengeluhkannya setiap saat dan menentang keadaan di sana selama ini ? Aku bahkan menghujat mereka dan menguraikan ketidakbenaran mereka.”

“Di situlah letak kesalahanmu.”

Kali ini hembusan angin terasa menusuk tengkuknya, menerpa keras menusuk kulitnya.

“Lelaki, engkau sudah tahu hal yang benar, namun engkau masih saja bertahan dalam pergumulan egomu. Engkau tidak menjamah sedikitpun bagian subur dan baik lahan yang dipercayakan Sang Kasih, engkau tetap saja mengutuki bagian  tandus itu. Bahkan engkau meski tahu sama sekali tak pernah terpikirkan untuk mereguk keindahan taman ini, bergembira di dalamnya, menikmati keindahannya dan memetik kebahagiaan dari semua hal baik dan bahagia di sini.”

Agak keras angin mendesis, meski tetap tidak kehilangan kelembutannya.

“Engkau telah tahu dan sadar ketidakbaikan lingkunganmu, namun engkau tidak berpikir meluaskan pergaulanmu menemukan sesuatu yang baik di pergaulan lain. Engkau tidak perlu keluar dari lingkunganmu. Engkau hanya perlu hal baik untuk membentuk jiwa baikmu. Sekarang perhatikanlah dirimu, adakah dirimu sekarang menjadi lebih baik daripada mereka yang kauanggap brengsek itu ?”

Si lelaki tersentak kini.

“Hai lelaki, mengapa engkau tutup hatimu untuk Sang Kasih ? Mengapa engkau tidak mempercayakan kepadaNya bebanmu, mengapa engkau tidak mengijinkan Dia memanggulkan bebanmu ? Dia yang dengan kasihNya akan setia memanggulkan setiap beban dan onak yang menderamu.”

Si lelaki meraung-raung berkat penyadaran, tunas kesadaran telah berkuncup di hatinya kini.

“Wahai Sang Kasih, ampunilah dosaku.” Si lelaki tubuhnya terbanting ke tanah, namun beban itu telah dicabut darinya.

“Sekarang pulanglah, temukanlah Sang Kasih dalam diri isterimu dan putramu ? Maka kau akan damai.

“Teruslah keluhkan masalahmu dalam tekunnya doa ikhlasmu, dan bangunlah kesetiaanmu dalam hal baik mengolah lahan, apa pun dan di manapun yang telah dipercayakanNya kepadamu. Di situ lah letak rahasia kekal.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Rumus Hidup

Salam untuk Anda,

Di televisi ada seseorang yang memperoleh undian menginap gratis di sebuah hotel berbintang dengan segala fasilitas dan kenikmatannya. Anda bisa lihat ekspresi kebahagiaannya, dengan bersujud syukur, melonjak-lonjak, berteriak-teriak girang. Di kesempatan lain, Anda melihat seorang bintang begitu bahagia dan terharunya menggenggam trofi penghargaan atas prestasinya. Dalam seremoninya, dia mengucap syukur dan menyampaikan rasa terimakasih kepada banyak pihak.

Atau paling sederhana, Anda sangat berbahagia menerima promosi jabatan di tempat Anda bekerja, berikut penambahan fasilitas semakin menggenapi kebahagiaan Anda. Juga bisa ditebak betapa bahagianya Anda ketika di pagi hari Anda baru bangun tidur, disambut dengan ucapan selamat ulang tahun dari pasangan jiwa dan putra-putri Anda.

Kebahagiaan hadir karena ada upaya dan kepantasan. Seorang pekerja seni berhak atas trofinya karena prestasi baik yang tentu saja karena pengupayaan keras dari dia untuk mencapainya. Demikian pun seseorang yang memperoleh hadiah undian, karena ada upaya dari dia untuk meraihnya. Sama halnya dengan promosi jabatan dan bonus serta segala fasilitas yang Anda peroleh, juga karena ada upaya dan kepantasan bagi Anda untuk menerimanya.

Namun bila semua peristiwa indah itu sudah teratur dan sebagai sesuatu yang harus. Semua hal dan materi itu sudah tersedia instan mengikuti perjalanan hidup Anda atau seseorang, pastilah tidak ada yang istimewa dan bisa jadi justeru menyiksa.

Kebahagiaan hadir karena peran hubungan sosial yang memicu hasrat untuk mencapai aktualisasi diri yaitu penghargaan.

Semua penghargaan akan menjadi tidak berarti apabila tidak ada peran dari orang lain, juga tidak ada orang yang menjadi saksi kebahagiaan kita. Kita tidak dapat mendedikasikan semua prestasi dan pencapaian, akan menjadi hambar tentunya.

Kodrat manusia adalah makhluk sosial. Itu berarti tidak ada seorang pun yang akan mencapai kebahagiaan tanpa peran orang lain. Tidak ada seorang pun mampu hidup mandiri tanpa orang lain. Tidak ada seorang pun yang mampu menciptakan penghargaan untuk dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa membagi bahagia bila dia tidak menemukan orang lain yang rendah hati.

Eksistensi kehidupan tercipta karena adanya penghargaan yang kualitatif. Seorang suami akan meningkat nilainya di pandangan masyarakat ketika dia mampu menghadirkan sorang isteri dan anak yang menghormatinya. Demikian pun sebaliknya, penghargaan seorang suami kepada isterinya, akan meningkatkan nilai insterinya di masyarakat. Seorang karyawan yang mendedikasikan dirinya penuh kepada perusahaan, akan meningkatkan nilai perusahaan berupa laba yang terus terjaga. Demikian sebaliknya perusahaan akan menysisihkan nilai keuntungannya kepada karyawannya yang berdedikasi dan loyal. Dalam lingkup luas, masyarakat akan meninggikan derajat seseorang berkat kepantasan yang dibangunnya dalam bermasyarakat.

Hukum relativitas berkata, ada aksi ada reaksi. Bukan hanya di dalam ilmu fisika saja hukum itu berlaku, namun juga di dalam sistem sosial.

Sebuah tindakan “baik” yang sinambung akan menimbulkan simpati dan bukan mustahil menjelma menjadi sebuah penghargaan. Penghargaan tidak bisa diraih dengan instan. Semua melalui proses kesetiaan dan kesabaran. Ada kalanya bisa cepat diraih karena kualitas besar yang mendukungnya. Namun dalam pergaulan sosial, tidak ada kebaikan standar. Kebaikan bukan sesuatu yang bisa distandarisasi. Kebaikan akan terus berkembang seiring kebangkitan dan perkembangan rasa.

Mas Ben pernah menuliskan dalam status facebooknya : seandainya dia bisa mengulang waktu, dia ingin kembali ke masa lalunya untuk meraih kembali kesempatan yang pernah dilewatkannya. Namun dia sadar, bahwa kesempatan itu bukan hanya milik masa lalu. Kesempatan bisa diciptakan kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja dan untuk siapa saja. Karena buah kesempatan itu bukan kuantitas, melainkan kualitas. Jadi bila masa lalunya belum membuahkan penghargaan baginya di masa kini. Dia masih punya kesempatan beraksi sekarang untuk menciptakan reaksi lingkungan sosialnya memberikan penghargaan baik baginya.

Bila Anda sudah menemukan CINTA dan yakin itu jalan hidup dan pilihan terbaik, poleslah dengan KOMITMEN yang setia. Klemlah CINTA & KOMITMEN menjadi sekeping koin hidup Anda yang tidak saling terpisah kedua sisinya. Maka Cinta Anda akan terus betumbuh subur dan memberikan buah-buah pencapaian dalam setiap langkah Anda meniti kehidupan.

Indah bukan ?

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko