Tentang pemikiran dan renungan, Sang Guru mengatakan :

Kehidupan telah membawa kita dari satu tempat ke tempat lain, dan nasib telah memindahkan kita dari satu titik ke titik lain. Sedangkan kita, sembari mengejar keduanya, mendengar hanya suara – suara yang mengerikan dan melihat hanya penghalang yang merintangi jalan.

Keindahan pernah menampakkan dirinya kepada kita, duduk di atas mahligai kemuliaan. Namun kita memburunya dengan penuh nafsu, merenggut mahkota kesuciannya dan mengotori pakaiannya dengan perbuatan jahat kita.

Cinta berjalan di hadapan kita mengenakan gaun kelembutan. Tetapi sebagian kita lari darinya dalam ketakutan atau bersembunyi dalam kegelapan. Dan yang lain mengikutinya, untuk melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan cinta.

Orang yang paling  bijaksana sekalipun di antara kita akan bersimpuh di bawah wibawa cinta, dan dalam sinaran kebenaran cinta ia akan seterang matahari yang melintasi Lebanon.

Kebebasan menawarkan kepada kita untuk turut serta menyantap hidangannya yang lezat dan mereguk anggurnya yang nikmat. Tapi ketika duduk di hadapannya, kita makan dengan sangat rakus serta menimbun makanan untuk diri kita sendiri.

Alam memeluk kita dengan sentuhan mesra dan menawarkan kepada kita untuk menikmati keindahannya, tetapi kita takut dengan kebisuannya dan bergegas ke kota – kota kumuh, untuk berjubel seperti anak kambing yang lari ketakutan dari kejaran serigala ganas.

Kebenaran memanggil kita dalam tawa yang murni dari seorang bocah atau ciuman dari seorang kekasih; tetapi kita menutup pintu kasih sayang di wajahnya dan menganggapnya sebagai seorang musuh.

Hati manusia menjerit meratap memohon pertolongan; jiwa manusia memohon dengan sangat kepada kita untuk kebebasan; tetapi kita tidak menghiraukan jeritan mereka, karena tidak mendengar dan tidak memahami. Bahkan orang – orang yang mendengar dan memahaminya kita sebut gila, dan kita lari darinya.

Begitulah malam – malam berlalu, dan kita tinggal dalam ketidaksadaran; dan hari – hari memberi salam kepada kita dan memeluk kita. Tetapi kita tinggal dalam kengerian konstan dari siang dan malam.

Kita berpegang teguh pada bumi, sementara gerbang Hati Tuhan terbuka lebar – lebar. Kita menginjak – injak roti Kehidupan, sementara orang yang kelaparan menggerogoti hati kita. Betapa bagusnya Kehidupan bagi Manusia; namun betapa jauhnya Manusia dari Kehidupan itu !

Tentang Akal dan Pengetahuan, Sang Guru memberi uraian :

Dengarkanlah apa yang dikatakan kepadamu ketika akal bicara, dan kalian akan selamat. Gunakanlah apa yang telah ia berikan dengan sebaik – baiknya, maka kalian akan menjadi prajurit bersenjata. Tuhan tidak pernah memberikan pembimbing yang lebih baik dari akal, dan tidak ada senjata yang lebih ampuh dari akal. Bila akal berbisik kepada batinmu, maka kamu akan kuat melawan nafsu. Karena ia adalah materi yang cakap, pembimbing yang setia, dan penasihat yang bijaksana. Akal adalah cahaya dalam kegelapan, sebagaimana amarah adalah kegelapan di tengah cahaya. Jadilah kalian orang – orang bijaksana – biarkanlah akal, bukan nafsu, menjadi pembimbingmu.

Namun akal sendiri tidak akan berdaya tanpa bantuan pengetahuan. Tanpa saudara kembarnya ini akal hanyalah si miskin yang tidak berwisma, sedangkan pengetahuan tanpa akal seperti sebuah rumah yang tidak dirawat. Bahkan Cinta, Keadilan, dan Kebaikan sekalipun tidak akan banyak berguna jika akal tidak ada.

Pemikir yang tidak adil adalah tentara yang terjun ke medan perang tanpa senjata. Hawa amarahnya akan mencemari musim semi dan akan menjadi beracun bagi kendi yang berisi air suci.

Akal yang tidak digunakan untuk belajar bagaikan tanah yang tidak diolah, atau tubuh manusia yang kurang makanan.

Akal bukan barang dagangan, tidak ada harga yang mampu membelinya. Nilai akal ada bersama kelimpahannya. Tidak seperti barang – barang yang dia jual di pasar, hanya orang bijak yang mampu memahami nilai akal yang sebenarnya.

Orang bodoh hanya tahu mengenai kebodohan; dan orang gila hanya dapat melihat kegilaan. Kemarin aku meminta orang bodoh untuk menghitung orang – orang bodoh di antara kami. Dia tertawa dan mengatakan, “Ini adalah pekerjaan yang terlalu sulit untuk dilakukan, dan akan menghabiskan waktu terlalu lama. Bukankah lebih baik bila menghitung orang – orang bijak ?”

Jika kalian mengetahui nilai diri kalian yang sebenarnya, maka kalian tidak akan binasa. Akal adalah cahaya dan menara api kebenaran bagi kalian. Akal adalah sumber kehidupan. Tuhan telah memberikan pengetahuan kepada kalian, sehingga dengan cahayanya kalian tidak hanya bisa menyembahNya, tetapi juga mampu memahami kelemahan dan kekuatan diri kalian sendiri.

Bila kalian tidak mampu melihat kesalahan kecil di mata sendiri, maka kalian tidak akan mampu melihatnya di mata tetanggamu.

Hari – hari yang berlalu adalah para pengawas kesadaran kalian dan memperbaiki kesalahan – kesalahan kalian, dan jika gagal dalam menjalankan kewajiban ini, maka kalian akan menyalahi akal dan pengetahuan yang ada dalam diri kalian sendiri.

Kewaspadaan harus selalu dijaga untuk mengawasi diri seolah ia adalah musuh kalian sendiri; karena kalian tidak mungkin dapat belajar mengatur diri, sebelum terlebih dulu belajar mengendalikan nafsu – nafsu dan mematuhi perintah dari kesadaran kalian sendiri.

Aku pernah mendengar seorang terpelajar mengatakan, “Setiap penyakit memiliki obat, kecuali kebodohan. Menasihati orang bodoh yang keras kepala adalah menulis di atas air. Yesus mampu menyembuhkan orang buta, pincang, lumpuh, dan penderita kusta. Namun Ia tidak mampu menyembuhkan orang – orang bodoh.”

“Lihatlah sebuah persoalan dari berbagai pandangan, maka kalian akan yakin untuk menemukan di mana kesalahan itu berada.”

“Ketika gerbang rumah – rumah kalian terbuka., lihatlah bahwa gerbang itu tidak terlalu sempit.”

“Siapa yang mencoba mengambil kesempatan setelah kesempatan itu lewat adalah orang yang melihat kesempatan itu mendekatinya, tetapi ia tidak pergi menemuinya.”

Tuhan tidak pernah berbuat jahat. Dia telah memberi kita akal dan pengetahuan sehingga kita bisa menghindar dan melawan berbagai jebakan kesalahan dan kehancuran.

Beruntunglah mereka yang mau menggunakan akalnya.

Tentang Kearifan, Sang Guru mengatakan :

Seorang arif adalah dia yang mencintai dan mengagungkan Tuhan. Kebaikan manusia ada pada pengetahuan dan perbuatan, dan bukan pada warna kulit, agama, ras, atau keturunan. Karena itu ingatlah, sahabatku, anak – anak padang pasir yang memiliki pengetahuan adalah bagian dari kemuliaan negerinya. Sebab pengetahuan adalah bukti paling nyata dari kebangsawananmu, tidak peduli siapa ayahmu dan apa warna kulitmu.

Pengetahuan adalah satu – satunya kekayaan yang tidak dapat dirampas. Hanya kematian yang bisa memadamkan lampu pengetahuan yang ada dalam dirimu. Kekayaan sejati dari sebuah negeri tidak terletak pada emas atau perak, tetapi dalam pengetahuan dan kearifan – yang tidak akan pernah mengkhianatimu. Pengetahuan adalah mahkota dan pemahaman adalah para sahaya. Ketika mereka bersamamu, engkau tidak dapat memiliki harta yang lebih berharga dari mereka.

Dia yang memahamimu adalah kerabat yang lebih dekat kepadamu daripada saudaramu sendiri. Karena mungkin keluargamu tidak pernah bisa memahamimu atau mengenal siapa dirimu yang sebenarnya.

Bersahabat dengan orang tolol sama bodohnya dengan berdebat dengan orang yang sedang mabuk.

Tuhan telah menganugerahkan kecerdasan dan pengetahuan kepadamu. Janganlah kamu padamkan pelita cinta itu dan jangan  biarkan lilin kearifan mati dalam kegelapan nafsu dan kesalahan. Karena orang yang bijak mendekati manusia dengan obornya untuk menerangi jalan umat manusia.

Ingatlah, hanya seorang pimpinan penjahat lebih kuat daripada sejuta orang beriman yang buta.

Sedikit pengetahuan yang dilaksanakan jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan tapi tidak digunakan.

Jika pengetahuanmu tidak mengajarkan nilai segala sesuatu, dan tidak membebaskan dari belenggu materi, maka engkau tidak akan pernah mendekati singgasana kebenaran.

Jika pengetahuanmu tidak mengajarimu untuk menghilangkan derita manusia dan tidak membimbing para pengikutmu di atas jalan yang benar, sungguh engkau adalah orang yang tidak berharga dan akan tetap demikian hingga ajal tiba.

Pahamilah kata – kata bijak yang diucapkan oleh orang – orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri. Hidupkanlah kata – kata itu – tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan – perbuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami, tidak lebih baik dari seekor keledai yang mengangkut buku – buku.

———————

[Dari : Pesan – Pesan Peninggalan Sang Guru – Kahlil Gibran]

Iklan