Posts from the ‘Catatan Harian’ Category

REFRESHMENT

Dear sahabat blogger,

Bulan April, bulannya RA Kartini, bulannya tonggak kelahiran emansipasi kaum perempuan. Di bulan April pula semestinya patut menjadi kesyukuran bersama bagi kita di negri ini, bahwa berkat Kartinian, maka mata kita kembali di-refresh oleh pemandangan apik tentang betapa kaya dan beragamnya budaya nusantara – bumi pertiwi kita. Ya, darimana lagi bila bukan dari pakaian adat yang dikenakan putera dan puteri kita, termasuk para pegawai instansi / lembaga / perusahaan swasta, dan para pewarta di televisi.

Selain Kartinian, bulan April juga menyimpan keunikan. Ya, saya sebut unik karena adanya perayaan sedikit bernuansa gaul yang bila kita termasuk yang mengamininya pasti tidak asing bagi kita, yaitu April Mop; ya moment di mana setiap keisengan, kejahilan dan bahkan kebohongan mendapatkan pengakuannya dan pemakluman untuk dilakukan.

Ya, itulah April. April 2018, bulan dimana berita masih disesaki oleh berita yang itu-itu saja genrenya, itu-itu saja topiknya, dia lagi dan mereka saja lagi yang tampil diwartakan, termasuk adegan buka-bukaan “balon pemimpin bangsa” berikut dikotomisasinya partai politik oleh pelaku politik sepuh yang semakin menjauh dari sang damai. Di bulan April 2018 pula saya untuk pertama kalinya sejak terakhir kali jejak saya tinggalkan bulan Januari 2018 lalu.

Yuuk mumpung masih bulan keempat, dan demi menyambut kedamaian bulan Ramadan dan demi berjumpa hari lebaran dengan hati yang berbahagia. Yuuk, kini saatnya – di bulan April 2018 juga … iyaaaaaa di bulan April ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mari bersatu dalam puisi, kita refresh jiwa dan raga kita di kota Tegal, Jawa Tengah. Mari kita rayakan kemerdekaan kita dalam keberagaman.

Kapaaaan ? Catat ya … tanggal 27-28 April 2018 di Kota Tegal.

Hayuuuk, mumpung masih ada waktu. Buruan ya. Don’t miss it.

 

Salam Sadhana

Ben Sadhana

 

Iklan

Writer or Author ?

Dear Pembaca,

Dalam beberapa waktu lalu saya menuliskan sebuah status di facebook saya terkait perbedaan dari “Writer” dan “Author”. Status yang langsung memunculkan beberapa pertanyaan, teristimewa tentang sebutan Author yang (mengapa) lebih pas dikaitkan / disandang oleh mereka yang condong kepada kepenulisan fiksi (katakanlah cenderung sastra). Komentar-komentar susulan yang masuk, salah satunya menanyakan sastra itu yang seperti apa, kok kelihatan sulit ya 🙂

Dalam kesempatan ini saya ingin sedikit memposting kembali status saya di facebook saya, tentang apa itu parameter sebuah tulisan (prosa) sehingga digolongkan sebagai karya sastra, sebagai berikut.

Dalam menulis, saya tidak pernah berpikir mau jadi apa tulisan saya nanti, atau adakah pakem yang telah saya abaikan dan langgar sehingga justeru apa yang saya tuliskan akan menjadi polemik di kemudian hari. Bukannya saya sengaja bebal dan tidak peduli dan atau mati rasa, bahkan.

Saya cuma berpikir simpel, saya berawal dari kepapaan ilmu dalam dunia kepenulisan. Yang saya tahu, saya senang nulis dengan gaya yang kata mereka yang mengenal saya, bahwa setiap untaian kata baik dalam status maupun ucapan lisan saya itu unik dan ada rasa nyastra. Ya, itu saja.

Namun demikian, saya juga anti keributan, karenanya selain sekedar menuliskan apa yang saya pikirkan, semua tulisan saya bisa dipastikan mengalami evaluasi diri yang melalui tahapan : tulis – baca sendiri – cek nilai rasa – koreksi – sesuaikan – evaluasi nilai rasa kembali. Sering tidak serta merta langsung saya posting atau kirim ke perlombaan atau materi kurasi. Karena saya yakin, satu saat pasti perlu touch up atas tulisan-tulisan saya itu, sehingga saat pada akhirnya saya rilis, saya benar-benar plong dan merasa jiwa saya turut serta ada di dalam tulisan itu.

Seorang penulis punya ego, tapi di luar dirinya tetap berlaku juga tatanan dan kaidah yang harus dipenuhi, dan setiap penulis harus tunduk. Ada parameter-parameter yang menjadi patokan, khususnya untuk karya prosa, yaitu :

1) Harus hidup dan sehat; maksudnya tulisan harus memiliki jiwa dalam hal ini “konflik”, semakin tajam konflik, makan akan semakin kuat dan unggul sebuah karya prosa. Konflik yang memikat apabila langsung menohok ke persoalan manusia paling hakikiah, seperti cinta, politik, intrik, kekuasaan. Jiwa kedua yaitu ” alur cerita”, sebab tanpa alur, cerita tentu akan menjadi sulit diikuti. Jiwa ketiga adalah “deskripsi”, menyangkut penokohan yang kuat atas tokoh-tokoh dalam cerita, latar (setting), serta deskripsi lain pendukung cerita misal ipoleksosbud (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya) dan / atau adat istiadat.

Selain jiwa, sebuah karya prosa harus meniliki raga. Raga paling utama adalah kalimat yang komunikatif, efektif, serta mengikuti kaidah minimal EYD. Tentu prosa dalam hal ini berbeda dengan puisi yang tumpuannya berbasis pada kata, bukan larik (kalimat). Kalimat yang baik ialah yang didukung teknik bercerita. Apalah arti konflik tajam, bila tidak didukung kalimat dan teknik bercerita yang baik.

2) mengandung amanat memuliakan nilai humanisme yang paling luhur, yaitu antara hidup dan mati. Karya yang baik bukan semata menjadi hiburan, tetapi sekaligus tuntunan bagi pembacanya. Karenanya penulis dipaksa untuk melepaskan egonya demi mengedepankan nilai-nilai humanis yang hakiki.

3) mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang kontekstual yang lahir dari penghayatan budi pekerti manusia terhadap sosiogeokultural.

Demikian uraian ini di-sharing-kan. Tentang apa itu prosa, dan apa saja karya-karya prosa, silakan bisa dirujuk sebagaimana tautan iniatau ini.

 

Salam literasi.

 

Ben Sadhana

PEREMPUAN DI BALIK JUBAH

 

Dear Pembaca,

 

Berat kulangkahkan kaki. Semarak gereja menyambut kehadiran umat tak juga mampu menyaput gundah yang menggelayuti hatiku. Ya, ini tahun kesembilanku setelah menikah ke gereja menyambut natal tanpa disertai istri dan anakku. Toh kesendirian yang harus kuterima sebagai konsekuensi pilihanku.

Gunung bukit bermadah puji | hutan rimba bersorak sorai karna Tuhan hampir tiba, berkuasa , alleluya. Khidmat syair madah Gunung Bukit Bermadah Puji mengalun. Seketika kurasakan sejuk menguasai gereja. Kusaksikan dengan kelu dari bangku segenap umat dengan khidmat berbaris hendak menyambut tubuhNya. Aku sendiri tetap duduk, tidak bangkit menyambut tubuh Kristus karena “tidak layak”.

Dengan membuat tanda salib sebelum berbalik meninggalkan misa. Langkahku terhenti di ambang pintu gereja, saat di antara kerumunan umat yang hendak pulang dan akan hadir misa kedua, kulihat sesosok yang pernah sangat kukenal. Dia juga kaget ketika mata kami bersitatap. Aku tergagu ketika dia menghampiriku, mengulurkan tangannya. “Hai apa kabar?” sapanya. “Baik,” jawabku singkat – kunikmati kecantikannya yang masih tetap terjaga di balik balutan pakaian biarawati. “Kamu sekarang …” kata saya belum usai yang langsung dijawabnya, “iya, aku tanggapi panggilanku,” katanya. Hingga akhirnya sebelum kami berpisah, “maafkan aku ya waktu itu kutolak pinanganmu,” katanya. “Iya, aku paham sekarang,” kataku yang dibalasnya dengan sebuah anggukan anggun. “Pram!” katanya setengah berteriak ketika aku hampir melangkah keluar gerbang gereja. Lanjutnya kemudian : “Terimakasih juga, dulu sudah kenalkan aku kepada Kristus.” Kulambaikan tanganku, “Selamat Priska, selamat berkarya di ladang Tuhan.” Kulihat senyum kembali mengembang di parasnya, senyum yang sangat manis.[]

 

Salam hangat

Ben Sadhana

Pentigraf ini termasuk karya yang terdapat dalam buku “Semangkuk Sup di Malam Kudus”

BATIK LEGACY

Dear,

Batik, siapa yang yang tidak kenal ? Ada yang tidak suka batik ? 🙂 – Tentunya semua suka dan cinta batik ya 🙂

Ya, Semua orang tersirep oleh pesonanya. Begitu dahsyatnya daya pikat batik tidak terbantahkan lagi. Tentunya masih belum hilang dari ingatan kita, bagaimana Malaysia negara jiran kita yang dengan terang-terangan mengklaim dan mengakui bahwa batik merupakan warisan budaya / milik negara Malaysia. Yang setelah melalui perjalanan panjang sejak tahun 2003, pada akhirnya, tahun 2009 Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang semula pada awal keberadaannya hanya terbatas pada lingkup keluarga dan kegiatan kerajaan, dalam perkembangan masa telah mengalami beberapa tahapan asumsi, mulai dari bahwa batik adalah pakaian para orang sepuh, kemudian hanya untuk keperluan formil, hingga pada masa kini batik telah mempu diterima dan menjadi kebanggan segala usia yang mengenakannya. Termasuk menjadi standar pakaian kerja yang wajib dikenakan setiap hari Jumat. Kita akan dengan mudah menemukan gerai maupun butik batik di pusat-pusat grosir atau pusat perbelanjaan mulai dari yang tradisional hingga moderen.

Masyarakat pada awalnya yang hanya mengenal  Batik Jogja, Batik Solo, dan Batik Pekalongan, kini hampir semua kota dan daerah di Indonesia memiliki batik dengan khas coraknya masing-masing. Bahkan Bogor yang terkenal sebagai kota fashion dengan deretan factory outlet yang menjamur, kini memiliki batik ciri motif hujan gerimis. Daerah pesisir juga dengan bangga memiliki batiknya. Sebut saja Lasem, Cirebon, Indramayu, Madura, Tuban sudah memiliki batik dengan kekhasannya – termasuk kampung-kampung batik yang dikelola dengan apik.

Batik, dari motifnya sendiri terdapat beberapa motif tradisional (pakem) sejak awal perkembangannya. Tentu saja semua motif / corak tersebut memiliki riwayat historis dan makna filosofisnya masing-masing, yaitu :

  • Sida Mukti : Harapan untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin
  • Sida Luhur: Harapan mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi panutan
  • Sida Asih: Harapan akan kasih sayang terhadap sesama
  • Semen Rama: Kehidupan yang makmur
  • Sekar Jagad: Keberagaman dunia dan keindahan
  • Kawung Picis : Umur panjang dan kesucian
  • Truntum : Cinta Bersemi, (arti lain: menuntun)
  • Babon Angrem: Kesabaran dan kasih sayang layaknya induk ayam yang mengerami telur
  • Pringgondani: Prenggondani adalah kesatriyan tempat tinggal Gathot Kaca
  • Tambal: Menambal atau memperbaiki hal yang rusak
  • Irian : Isnpirasi tokoh batik di Imogiri akan kedatangan orang Irian
  • Sri Kuncoro (Truntum Sri Kuncoro): Dari kata tumaruntum saling menuntun, dapat dimaknai lain dari kata tuntum yang berarti tumbuh atau bersemi
  • Udan Liris: Ketabahan dan prihatin menjalani hidup
  • Buntal: Semangat persatuan dan kesatuan
  • Keong Renteng: Dapat dimaknai ikatan yang kokoh dan kuat
  • Wahyu Tumurun: Turunnya wahyu atau anugerah
  • Manggaran: Sering disebut Sigar Semangka di Giriloyo, motif yang berasal dari masa kerajaan Majapahit
  • Gegot: Berawal dari kata Gegoro yang berarti awal mula, harapan hidup berumah tangga dengan prinsip yang kuat
  • Bantulan: Makna Geografis Bantul Yogyakarta
  • Adi Luhung: Bernilai tinggi (seni dan budaya)
  • Parang Rusak: Karang yang terkikis (erat kaitannya dengan pertemuan Sultan dan Ratu Kidul, motif ini hanya untuk raja dan kalangan bangsawan)

Sementara dari sisi kontemporer, terdapat motif-motif :

  • Pisang Mas
  • Polkadot
  • Kunir Pita
  • Kanthil
  • Mega Mendung
  • Senandung Cinta
  • Merak, dan
  • Anggur

Lalu bagaimana dengan Mas Ben sendiri, apakah juga mencintai batik ?

Oh tentu saja, batik bagi saya adalah belahan jiwa kedua setelah istri saya. Saya dengan bangga akan mengenakan batik dalam aneka kesempatan, termasuk pada suatu ketika saya bersama dengan kawan-kawan merayakan gembira dengan karaoke bersama di sebuah franchise rumah karaoke. Bagi saya pribadi, batik selain memberikan efek keren, batik juga luwes dan mampu memberikan aura pas dalam setiap kesempatan baik resmi, semi resmi maupun non resmi. Saya memakai batik tidak perlu menunggu hari Jumat atau tanggal 2 Oktober, karena bagi saya setiap hari adalah hari batik 🙂

Jadi, meskipun baru besok (2 Oktober) baru diperingati sebagai hari Batik Nasional, tanggal 1 Oktober saya sudah mendahului menuliskan kesaksian saya tentang kebanggan akan batik – karena kebanggan dan kecintaan saya akan batik.

Ayo kita warnai hari-hari indah dan bermakna kita dengan batik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selamat hari batik nasional 🙂

 

Salam

Ben Sadhana

 

Referensi :

  1. http://www.antaranews.com/berita/156389/batik-indonesia-resmi-diakui-unesco
  2. http://batik.or.id/
  3. http://www.winotosastro.com
  4. http://batikgiriloyo.com/

KASET-KASETKU SAYANG

“Apa to itu Mas Ben ?” tanya Jeng Arum ketika dilihatnya Mas Ben mengeluarkan sebungkusan platik dari dalam kulkas.

“Eh ini, kaset Jeng.” Jawab Mas Ben dengan tetap tangannya menepuk-nepuk bungkusan membuang embun es yang menempel di plastik.

Mas Ben beranjak dan menuju kamar, tak lama kemudian terdengarlah nada lagu lama kesukaan Mas Ben diiringi teriakan girang Mas Ben, “horrreeeee bissssaaaaa”

Jeng Arum yang tengah asyik memimbing belajar Gus Atya, tergopoh-gopoh menuju kamar menemukan Mas Ben sedang girang gemirang di depan mini compo cap “PNS” kesayangannya.

“Ada apa to Mas, koq sampe teriak bikin kaget begitu ?” Tanya Jeng Arum dengan bingungnya.

“Ini lho Jeng, kaset-kaset koleksi lawas ini kan kemarin saya coba nyetel ternyata sudah nglokor karena lama tidak disetel. Kan sayang, barang kenangan yang sudah sangat sulit didapatkan lagi. Kemarin saya ingat dulu pernah baca di majalah, tips untuk mengembalikan kualitas kaset yang nglokor  itu dengan cara dikulkaskan semalam. Ternyata tips itu benar adanya, lagu-lagu kesayangan saya bisa bunyi bagus lagi.” Mas Ben bercerita dengan gembiranya.

“Oalah Mas, saya kira kenapa. Ternyata cuma gara-gara kaset to.” Kata Jeng Arum berbalik meninggalkan Mas Ben, kembali menyelesaikan tugas pengajarannya untuk putera mereka.

“Lho Jeng, lha namanya koleksi je, kelangenan yang sudah langka di pasaran. Kalau pun bisa didapatkan di tukang jual barang-barang lama, pasti kualitas fisiknya sudah tidak sebagus punya saya yang penuh perawatan kasih sayang to Jeng.” Seru Mas Ben sembari manggut-manggut mengikuti irama lagunya The Williams Brother Can’t cry hard enough itu.

“Ya sudah, yang penting jangan sampai kulkasnya rusak.” balas Jeng Arum dari ruang tengah.

“Tenang saja Jeng, kalau kulkasnya rusak nanti dibelikan baru lagi. Yang penting kaset saya awet dan bias disetel lagi hehehe.”

Mas Ben larut dalam keasyikannya bernostalgia memutar lagu-lagu kenangannya. Tak terasa hampir dua kaset telah diputarnya.

Penasaran dengan suaminya yang anteng lama tidak terdengar suaranya, Jeng Arum melongok ke dalam kamar sambil membisikkan, “Mudah-mudahan mini componya juga rusak kecapean ya Mas, biar dibelikan baru lagi yang lebih mutakhir.” Goda Jeng Arum yang disambut dengan nyonyoan bibir Mas Ben.

Demikianlah kisah Mas Ben yang menemukan kembali kebahagiaannya bersama kaset-kaset koleksi lamanya.


Salam

Ben Sadhana

Menulis Pentigraf

Dear,

Banyak yang menunjukkan keheranan baik secara ekplisit maupun terang – terangan menyatakan keheranannya akan perubahan kecenderungan halaman dunia maya saya, khususnya konten yang saya tampilkan. Ya banyak kawan termasuk saudara saya yang heran tentang perubahan mendadak saya ketika halaman facebook saya makin rutin terisi dengan baris – baris kata puitis. Saya mendadak puitis, demikian komentar adik saya atas satu postingan saya di facebook. Bahkan seorang kawan lama, dengan jenakanya “ngguyoni” saya melalui komentarnya yang dikaitkan dengan usia saya saat ini, katanya saya sedang masa – masa “P” 🙂

Baiklah saya mengaku. Semua berawal ketika saya menemukan satu info di facebook tentang adanya pelatihan menulis Pentigraf, sebuah acara workhsop menulis yang merupakan kerjasama dari Komunitas Menulis Deo Gratias dengan Universitas Katolik Widyakarya di Malang.

Singkat cerita saya mendaftar dan hadir pada acara tersebut.

Topik yang diangkat juga unik menurut saya, PENTIGRAF. Sebuah istilah yang terdengar asing di telinga saya, yang baru kemudian saya ketahui sebagai kependekan dari Cerpen Tiga Paragraf. Pertanyaan baru muncul di benak, bagaimana wujudnya, sebuah cerpen cuma dalam tiga paragraf, bagaimana mungkin ? Kalaupun setiap paragrafnya panjang, apa malah tidak menjadi bertele – tele, toh kenyataan sesuai kaidah satu paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran.

Hal yang awalnya tidak mungkin untuk pemahaman saya yang telah lama libur dati aktivitas menulis (blogging), terjawab gamblang dan tuntas di 2 hari workshop yang dilaksanakan tanggal 8 – 9 Juli 2017. Selain paparan dari Pak Tengsoe Tjahyono yang telah memulai memperkenalkan pentigraf sejak awal tahun 1980-an itu, kami pun para peserta berkesempatan mempelajari dan menikmati 200 karya Pentigraf dari para cerpenis yang tergabung dalam Buku Kitab Pentigraf “Pedagang Jambu Biji Dari Phnom Penh” yang dilaunching pada hari kedua workshop, dan dibagikan kepada setiap peserta yang hadir.

Di hari pertama setiap peserta langsung diminta membuat pentigraf ala mereka, yang akan dipilih satu pentigraf terpilih dari  7 kelompok yang akan diprsentasikan pada hari kedua, sekaligus dikomentari oleh para cerpenis yang hadir. Setelahnya, masih di hari kedua, Peserta workshop berkesempatan berdiskusi interaksi dengan Ibu Maria Lupiani dan Bapak Eka Budianta yang dengan sabar dan jelas menanggapi setiap pertanyaan para peserta yang masih awam akan Pentigraf.

Dan, ini yang paling menarik.

Pada akhir acara, kepada setiap peserta diberikan Pekerjaan Rumah, menulis sedikitnya 6 (enam) karya pentigrafnya yang selanjutnya akan dikurasi dan dievaluasi untuk dikompilasikan ke dalam sebuah buku Pentigraf. Sebuah PR yang sangat menantang. 🙂

Penasaran dengan Pentigraf ? 🙂

pentigraf

Posting ini sekaligus undangan.

Silakan hadir pada tanggal 27 Agustus 2017 mendatang. 🙂


Salam

Ben Sadhana

Pandu – Pandu Kemerdekaan

Dear,

Perjalanan 2017 telah sampai pada bulan kedelapan. Ya, bulan Agustus. Dan kini kita sudah di penghujung pekan kesatu, menyongsong pekan – pekan berikutnya. Di bulan Agustus setidaknya tercatat 2 tanggal penting, entah bila sudah bertambah, karena saat ini banyak sekali hari – hari baru yang muncul berkat deklarasi – deklarasi. Tanggal 14 Agustus yang diperingati sebagai hari pramuka, dan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan republik Indonesia.

Tanggal 14 Agustus kita peringati sebagai Hari Pramuka. Pramuka atau gerakan kepanduan, yang berawal di Inggris berkat jasa Sir Lord Robert Baden Powell of Gilwell sebagai pendirinya. Berawal tahun 1908 hingga tahun 1920 saat dilaksanakan Jambore Dunia pertama kalinya di Olympia Hall, London. Di Indonesia sendiri, dimulai dengan lahirnya gerakan kepanduan pada tanggal  9 maret 1961 melalui ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Pada tanggal 20 Mei 1961 gerakan kepanduan dinyatakan bubar oleh Presiden Sukarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961, menggantikannya dengan organisasi gerakan pendidikan kepanduan yang tunggal berlambang tunas kelapa bernama GERAKAN PRAMUKA yang diberi tugas melaksanakan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia. Secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada khalayak pada tanggal 14 Agustus 1961 sesaat setelah Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961. Pada saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-45 Gerakan Pramuka tahun 2006, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka. Pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Pramuka yang antara lain dalam upaya pemantapan organisasi Gerakan Pramuka melalui terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang GERAKAN PRAMUKA.

Sementara tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Tahun ini HUT ke-72. Dalam perjalanannya, dengan dikumandangkannya Proklamasi oleh Dwitunggal Soekarno dan Hatta, kemerdekaan tidaklah serta merta menjadikan bangsa ini tenang dan rakyatnya hidup dalam ketentraman yang medamaikan. Kedatangan pasukan Inggris yang sedianya untuk melucuti tentara Jepang yang ada di Indonesia, nyatanya diboncengi oleh Belanda dengan kepentingan untuk menguasai kembali Republik Indonesia. Berbagai upaya perundingan yang berakhir sebagai basa – basi, kerana akhirnya dilanggar sendiri oleh pihak Belanda dengan dua agresi militernya di Indonesia. Pembantaian rakyat meluas bukan hanya di Jawa, di Makasar sejarah mencatat kekejian Westerling. Bukan hanya dari pihak asing, dari dalam negeri pun tak kurang sengitnya pemberontakan dilancarkan oleh tokoh – tokoh Indonesia sendiri. Mr. Amir Sjarifoeddin salah satu pemimpin terawal RI sebagai Perdana Menteri kedua yang juga sebagai negosiator perwakilan Indonesia pada perundingan Renville, pada akhirnya harus berhadapan dengan eksekutor karena diketahui menjadi tokoh di balik pemberontakan tahun 1948 di Madiun. Beruntung kita memiliki nama-nama besar yang berperan besar dalam upaya mengantarkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa pada saat menjelang dan tahun – tahun awal setelah masa kemerdekaan. Tercatat nama Panglima Besar Soedirman, AH Nasution, Supardjo Rustam, Oerip Sumoharjo yang sangat dekat dan mendukung perjuangan gerilya yang dipimpin oleh Panglima Besar Soedirman.

Bagaimana dengan tahun 2017 ? Kita selayaknya bersyukur, bangsa kita telah berhasil mempertahankan kemerdekaannya sejauh ini. Bertubi – tubi ujian silih berganti berupaya merongrong kedaulatan bangsa kita, namun berkat kekuatan Pemimpin kita selaku Panglima Tertinggi Militer didukung dengan kekuatan militer dan polri, negara selalu berhasil bisa menggugurkan upaya yang berpotensi mengusik dan memecah persatuan kita sebagai masyarakat dalam berbangsa. Benar, tidak dipungkiri ada pihak – pihak yang merasa masih belum merdeka, dan berupaya keras menanamkan benih – benih faham – faham yang mengarah kepada permusuhan di antara anak – anak bangsa. Namun selama kita berdiri tegap merapatkan betis kita, percayalah bahwa kedaulatan itu akan terus kita miliki. Karena kita sudah benar – benar merdeka, kemerdekaan yang diakui dunia. NKRI dengan keragamannya namun tetaplah satu.

Dirgahayu Indonesia. Jayalah di darat, laut dan udara.

 


Salam

Ben Sadhana

%d blogger menyukai ini: