Posts from the ‘Catatan Harian’ Category

BATIK LEGACY

Dear,

Batik, siapa yang yang tidak kenal ? Ada yang tidak suka batik ? 🙂 – Tentunya semua suka dan cinta batik ya 🙂

Ya, Semua orang tersirep oleh pesonanya. Begitu dahsyatnya daya pikat batik tidak terbantahkan lagi. Tentunya masih belum hilang dari ingatan kita, bagaimana Malaysia negara jiran kita yang dengan terang-terangan mengklaim dan mengakui bahwa batik merupakan warisan budaya / milik negara Malaysia. Yang setelah melalui perjalanan panjang sejak tahun 2003, pada akhirnya, tahun 2009 Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang semula pada awal keberadaannya hanya terbatas pada lingkup keluarga dan kegiatan kerajaan, dalam perkembangan masa telah mengalami beberapa tahapan asumsi, mulai dari bahwa batik adalah pakaian para orang sepuh, kemudian hanya untuk keperluan formil, hingga pada masa kini batik telah mempu diterima dan menjadi kebanggan segala usia yang mengenakannya. Termasuk menjadi standar pakaian kerja yang wajib dikenakan setiap hari Jumat. Kita akan dengan mudah menemukan gerai maupun butik batik di pusat-pusat grosir atau pusat perbelanjaan mulai dari yang tradisional hingga moderen.

Masyarakat pada awalnya yang hanya mengenal  Batik Jogja, Batik Solo, dan Batik Pekalongan, kini hampir semua kota dan daerah di Indonesia memiliki batik dengan khas coraknya masing-masing. Bahkan Bogor yang terkenal sebagai kota fashion dengan deretan factory outlet yang menjamur, kini memiliki batik ciri motif hujan gerimis. Daerah pesisir juga dengan bangga memiliki batiknya. Sebut saja Lasem, Cirebon, Indramayu, Madura, Tuban sudah memiliki batik dengan kekhasannya – termasuk kampung-kampung batik yang dikelola dengan apik.

Batik, dari motifnya sendiri terdapat beberapa motif tradisional (pakem) sejak awal perkembangannya. Tentu saja semua motif / corak tersebut memiliki riwayat historis dan makna filosofisnya masing-masing, yaitu :

  • Sida Mukti : Harapan untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin
  • Sida Luhur: Harapan mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi panutan
  • Sida Asih: Harapan akan kasih sayang terhadap sesama
  • Semen Rama: Kehidupan yang makmur
  • Sekar Jagad: Keberagaman dunia dan keindahan
  • Kawung Picis : Umur panjang dan kesucian
  • Truntum : Cinta Bersemi, (arti lain: menuntun)
  • Babon Angrem: Kesabaran dan kasih sayang layaknya induk ayam yang mengerami telur
  • Pringgondani: Prenggondani adalah kesatriyan tempat tinggal Gathot Kaca
  • Tambal: Menambal atau memperbaiki hal yang rusak
  • Irian : Isnpirasi tokoh batik di Imogiri akan kedatangan orang Irian
  • Sri Kuncoro (Truntum Sri Kuncoro): Dari kata tumaruntum saling menuntun, dapat dimaknai lain dari kata tuntum yang berarti tumbuh atau bersemi
  • Udan Liris: Ketabahan dan prihatin menjalani hidup
  • Buntal: Semangat persatuan dan kesatuan
  • Keong Renteng: Dapat dimaknai ikatan yang kokoh dan kuat
  • Wahyu Tumurun: Turunnya wahyu atau anugerah
  • Manggaran: Sering disebut Sigar Semangka di Giriloyo, motif yang berasal dari masa kerajaan Majapahit
  • Gegot: Berawal dari kata Gegoro yang berarti awal mula, harapan hidup berumah tangga dengan prinsip yang kuat
  • Bantulan: Makna Geografis Bantul Yogyakarta
  • Adi Luhung: Bernilai tinggi (seni dan budaya)
  • Parang Rusak: Karang yang terkikis (erat kaitannya dengan pertemuan Sultan dan Ratu Kidul, motif ini hanya untuk raja dan kalangan bangsawan)

Sementara dari sisi kontemporer, terdapat motif-motif :

  • Pisang Mas
  • Polkadot
  • Kunir Pita
  • Kanthil
  • Mega Mendung
  • Senandung Cinta
  • Merak, dan
  • Anggur

Lalu bagaimana dengan Mas Ben sendiri, apakah juga mencintai batik ?

Oh tentu saja, batik bagi saya adalah belahan jiwa kedua setelah istri saya. Saya dengan bangga akan mengenakan batik dalam aneka kesempatan, termasuk pada suatu ketika saya bersama dengan kawan-kawan merayakan gembira dengan karaoke bersama di sebuah franchise rumah karaoke. Bagi saya pribadi, batik selain memberikan efek keren, batik juga luwes dan mampu memberikan aura pas dalam setiap kesempatan baik resmi, semi resmi maupun non resmi. Saya memakai batik tidak perlu menunggu hari Jumat atau tanggal 2 Oktober, karena bagi saya setiap hari adalah hari batik 🙂

Jadi, meskipun baru besok (2 Oktober) baru diperingati sebagai hari Batik Nasional, tanggal 1 Oktober saya sudah mendahului menuliskan kesaksian saya tentang kebanggan akan batik – karena kebanggan dan kecintaan saya akan batik.

Ayo kita warnai hari-hari indah dan bermakna kita dengan batik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selamat hari batik nasional 🙂

 

Salam

Ben Sadhana

 

Referensi :

  1. http://www.antaranews.com/berita/156389/batik-indonesia-resmi-diakui-unesco
  2. http://batik.or.id/
  3. http://www.winotosastro.com
  4. http://batikgiriloyo.com/
Iklan

KASET-KASETKU SAYANG

“Apa to itu Mas Ben ?” tanya Jeng Arum ketika dilihatnya Mas Ben mengeluarkan sebungkusan platik dari dalam kulkas.

“Eh ini, kaset Jeng.” Jawab Mas Ben dengan tetap tangannya menepuk-nepuk bungkusan membuang embun es yang menempel di plastik.

Mas Ben beranjak dan menuju kamar, tak lama kemudian terdengarlah nada lagu lama kesukaan Mas Ben diiringi teriakan girang Mas Ben, “horrreeeee bissssaaaaa”

Jeng Arum yang tengah asyik memimbing belajar Gus Atya, tergopoh-gopoh menuju kamar menemukan Mas Ben sedang girang gemirang di depan mini compo cap “PNS” kesayangannya.

“Ada apa to Mas, koq sampe teriak bikin kaget begitu ?” Tanya Jeng Arum dengan bingungnya.

“Ini lho Jeng, kaset-kaset koleksi lawas ini kan kemarin saya coba nyetel ternyata sudah nglokor karena lama tidak disetel. Kan sayang, barang kenangan yang sudah sangat sulit didapatkan lagi. Kemarin saya ingat dulu pernah baca di majalah, tips untuk mengembalikan kualitas kaset yang nglokor  itu dengan cara dikulkaskan semalam. Ternyata tips itu benar adanya, lagu-lagu kesayangan saya bisa bunyi bagus lagi.” Mas Ben bercerita dengan gembiranya.

“Oalah Mas, saya kira kenapa. Ternyata cuma gara-gara kaset to.” Kata Jeng Arum berbalik meninggalkan Mas Ben, kembali menyelesaikan tugas pengajarannya untuk putera mereka.

“Lho Jeng, lha namanya koleksi je, kelangenan yang sudah langka di pasaran. Kalau pun bisa didapatkan di tukang jual barang-barang lama, pasti kualitas fisiknya sudah tidak sebagus punya saya yang penuh perawatan kasih sayang to Jeng.” Seru Mas Ben sembari manggut-manggut mengikuti irama lagunya The Williams Brother Can’t cry hard enough itu.

“Ya sudah, yang penting jangan sampai kulkasnya rusak.” balas Jeng Arum dari ruang tengah.

“Tenang saja Jeng, kalau kulkasnya rusak nanti dibelikan baru lagi. Yang penting kaset saya awet dan bias disetel lagi hehehe.”

Mas Ben larut dalam keasyikannya bernostalgia memutar lagu-lagu kenangannya. Tak terasa hampir dua kaset telah diputarnya.

Penasaran dengan suaminya yang anteng lama tidak terdengar suaranya, Jeng Arum melongok ke dalam kamar sambil membisikkan, “Mudah-mudahan mini componya juga rusak kecapean ya Mas, biar dibelikan baru lagi yang lebih mutakhir.” Goda Jeng Arum yang disambut dengan nyonyoan bibir Mas Ben.

Demikianlah kisah Mas Ben yang menemukan kembali kebahagiaannya bersama kaset-kaset koleksi lamanya.


Salam

Ben Sadhana

Menulis Pentigraf

Dear,

Banyak yang menunjukkan keheranan baik secara ekplisit maupun terang – terangan menyatakan keheranannya akan perubahan kecenderungan halaman dunia maya saya, khususnya konten yang saya tampilkan. Ya banyak kawan termasuk saudara saya yang heran tentang perubahan mendadak saya ketika halaman facebook saya makin rutin terisi dengan baris – baris kata puitis. Saya mendadak puitis, demikian komentar adik saya atas satu postingan saya di facebook. Bahkan seorang kawan lama, dengan jenakanya “ngguyoni” saya melalui komentarnya yang dikaitkan dengan usia saya saat ini, katanya saya sedang masa – masa “P” 🙂

Baiklah saya mengaku. Semua berawal ketika saya menemukan satu info di facebook tentang adanya pelatihan menulis Pentigraf, sebuah acara workhsop menulis yang merupakan kerjasama dari Komunitas Menulis Deo Gratias dengan Universitas Katolik Widyakarya di Malang.

Singkat cerita saya mendaftar dan hadir pada acara tersebut.

Topik yang diangkat juga unik menurut saya, PENTIGRAF. Sebuah istilah yang terdengar asing di telinga saya, yang baru kemudian saya ketahui sebagai kependekan dari Cerpen Tiga Paragraf. Pertanyaan baru muncul di benak, bagaimana wujudnya, sebuah cerpen cuma dalam tiga paragraf, bagaimana mungkin ? Kalaupun setiap paragrafnya panjang, apa malah tidak menjadi bertele – tele, toh kenyataan sesuai kaidah satu paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran.

Hal yang awalnya tidak mungkin untuk pemahaman saya yang telah lama libur dati aktivitas menulis (blogging), terjawab gamblang dan tuntas di 2 hari workshop yang dilaksanakan tanggal 8 – 9 Juli 2017. Selain paparan dari Pak Tengsoe Tjahyono yang telah memulai memperkenalkan pentigraf sejak awal tahun 1980-an itu, kami pun para peserta berkesempatan mempelajari dan menikmati 200 karya Pentigraf dari para cerpenis yang tergabung dalam Buku Kitab Pentigraf “Pedagang Jambu Biji Dari Phnom Penh” yang dilaunching pada hari kedua workshop, dan dibagikan kepada setiap peserta yang hadir.

Di hari pertama setiap peserta langsung diminta membuat pentigraf ala mereka, yang akan dipilih satu pentigraf terpilih dari  7 kelompok yang akan diprsentasikan pada hari kedua, sekaligus dikomentari oleh para cerpenis yang hadir. Setelahnya, masih di hari kedua, Peserta workshop berkesempatan berdiskusi interaksi dengan Ibu Maria Lupiani dan Bapak Eka Budianta yang dengan sabar dan jelas menanggapi setiap pertanyaan para peserta yang masih awam akan Pentigraf.

Dan, ini yang paling menarik.

Pada akhir acara, kepada setiap peserta diberikan Pekerjaan Rumah, menulis sedikitnya 6 (enam) karya pentigrafnya yang selanjutnya akan dikurasi dan dievaluasi untuk dikompilasikan ke dalam sebuah buku Pentigraf. Sebuah PR yang sangat menantang. 🙂

Penasaran dengan Pentigraf ? 🙂

pentigraf

Posting ini sekaligus undangan.

Silakan hadir pada tanggal 27 Agustus 2017 mendatang. 🙂


Salam

Ben Sadhana

Pandu – Pandu Kemerdekaan

Dear,

Perjalanan 2017 telah sampai pada bulan kedelapan. Ya, bulan Agustus. Dan kini kita sudah di penghujung pekan kesatu, menyongsong pekan – pekan berikutnya. Di bulan Agustus setidaknya tercatat 2 tanggal penting, entah bila sudah bertambah, karena saat ini banyak sekali hari – hari baru yang muncul berkat deklarasi – deklarasi. Tanggal 14 Agustus yang diperingati sebagai hari pramuka, dan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan republik Indonesia.

Tanggal 14 Agustus kita peringati sebagai Hari Pramuka. Pramuka atau gerakan kepanduan, yang berawal di Inggris berkat jasa Sir Lord Robert Baden Powell of Gilwell sebagai pendirinya. Berawal tahun 1908 hingga tahun 1920 saat dilaksanakan Jambore Dunia pertama kalinya di Olympia Hall, London. Di Indonesia sendiri, dimulai dengan lahirnya gerakan kepanduan pada tanggal  9 maret 1961 melalui ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Pada tanggal 20 Mei 1961 gerakan kepanduan dinyatakan bubar oleh Presiden Sukarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961, menggantikannya dengan organisasi gerakan pendidikan kepanduan yang tunggal berlambang tunas kelapa bernama GERAKAN PRAMUKA yang diberi tugas melaksanakan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia. Secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada khalayak pada tanggal 14 Agustus 1961 sesaat setelah Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961. Pada saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-45 Gerakan Pramuka tahun 2006, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka. Pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Pramuka yang antara lain dalam upaya pemantapan organisasi Gerakan Pramuka melalui terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang GERAKAN PRAMUKA.

Sementara tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Tahun ini HUT ke-72. Dalam perjalanannya, dengan dikumandangkannya Proklamasi oleh Dwitunggal Soekarno dan Hatta, kemerdekaan tidaklah serta merta menjadikan bangsa ini tenang dan rakyatnya hidup dalam ketentraman yang medamaikan. Kedatangan pasukan Inggris yang sedianya untuk melucuti tentara Jepang yang ada di Indonesia, nyatanya diboncengi oleh Belanda dengan kepentingan untuk menguasai kembali Republik Indonesia. Berbagai upaya perundingan yang berakhir sebagai basa – basi, kerana akhirnya dilanggar sendiri oleh pihak Belanda dengan dua agresi militernya di Indonesia. Pembantaian rakyat meluas bukan hanya di Jawa, di Makasar sejarah mencatat kekejian Westerling. Bukan hanya dari pihak asing, dari dalam negeri pun tak kurang sengitnya pemberontakan dilancarkan oleh tokoh – tokoh Indonesia sendiri. Mr. Amir Sjarifoeddin salah satu pemimpin terawal RI sebagai Perdana Menteri kedua yang juga sebagai negosiator perwakilan Indonesia pada perundingan Renville, pada akhirnya harus berhadapan dengan eksekutor karena diketahui menjadi tokoh di balik pemberontakan tahun 1948 di Madiun. Beruntung kita memiliki nama-nama besar yang berperan besar dalam upaya mengantarkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa pada saat menjelang dan tahun – tahun awal setelah masa kemerdekaan. Tercatat nama Panglima Besar Soedirman, AH Nasution, Supardjo Rustam, Oerip Sumoharjo yang sangat dekat dan mendukung perjuangan gerilya yang dipimpin oleh Panglima Besar Soedirman.

Bagaimana dengan tahun 2017 ? Kita selayaknya bersyukur, bangsa kita telah berhasil mempertahankan kemerdekaannya sejauh ini. Bertubi – tubi ujian silih berganti berupaya merongrong kedaulatan bangsa kita, namun berkat kekuatan Pemimpin kita selaku Panglima Tertinggi Militer didukung dengan kekuatan militer dan polri, negara selalu berhasil bisa menggugurkan upaya yang berpotensi mengusik dan memecah persatuan kita sebagai masyarakat dalam berbangsa. Benar, tidak dipungkiri ada pihak – pihak yang merasa masih belum merdeka, dan berupaya keras menanamkan benih – benih faham – faham yang mengarah kepada permusuhan di antara anak – anak bangsa. Namun selama kita berdiri tegap merapatkan betis kita, percayalah bahwa kedaulatan itu akan terus kita miliki. Karena kita sudah benar – benar merdeka, kemerdekaan yang diakui dunia. NKRI dengan keragamannya namun tetaplah satu.

Dirgahayu Indonesia. Jayalah di darat, laut dan udara.

 


Salam

Ben Sadhana

Tragedi Pendidikan

Dear,

Enam gedung sekolah dasar terbakar dalam sebulan, demikian sebuah judul artikel yang menghampiri ruang baca saya hari ini.

Kebakaran adalah musibah yang bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan pada apa saja. Namun menjadi tidak umum, apabila kejadian kebakaran terjadi secara beruntun dalam waktu berdekatan dan menimpa objek yang sama di satu kota, dalam kasus ini yaitu institusi pendidikan sekolah dasar.

Sebenarnya saya sudah mendengar dan mengikuti peristiwa ini sejak beberapa waktu lalu melalui group WA almuni SMP dan SMA Katolik Palangkaraya, dimana saya menjadi member dua group tersebut. Dari foto – foto yang dipost kawan – kawan, saya bisa menyaksikan bagaimana api dengan ganasnya melumat bangunan gedung – gedung sekolah dasar itu. Miris, karena saya pernah menjadi bagian dari kota Palangkaraya semasa SMP hingga SMA saya. Kota yang begitu damai, kini dihentak oleh berita kebakaran beruntun sekolahan. Apa yang sedang terjadi di kota tempat saya pernah mengenyam pendidikan ? Sejauh ini tersiar kabar aparat telah menangkap terduga pelaku pembakar, seorang pemuda berusia 21 tahun.

SD Negeri 1 Palangkaraya, SD Negeri 4 Menteng di Jalan Thamrin, SD Negeri 4 Langkai Jumat, SD Negeri 1 Langkai, SD Negeri 5 Langkai, SD Negeri 8 Palangkaraya adalah saksi bisu peristiwa kebakaran sekolah dasar di Palangkaraya. Semoga tidak ada lagi peristiwa sekolah terbakar. Diperlukan kewaspadaan sinergis antara aparat dengan masyarakat termasuk juga peran serta para orang tua dan guru. Tidak adil rasanya bila keamanan dan pengamanan sekolahan kita percayakan pasrah sepenuhnya kepada seorang penjaga sekolah dengan segala keterbatasannya.

Sekolah Dasar adalah institusi pendidikan awal, tempat dimana para calon pemimpin negeri ini diperkenalkan dengan etiket dan dasar – dasar budi pekerti luhur. Marilah kita jaga bersama. Semoga aparat segera mampu mengungkap pelaku dan motifnya, sehingga tidak ada lagi kejadian kebakaran sekolah dasar dan institusi pendidikan lainnya baik di kota Palangkaraya maupun kota – kota lainnya.


Salam

Ben Sadhana 

Entah

Dear,

Beberapa waktu ini, saya jadi suka ngulik Rumah Sadhana; perbaikan dan re-modifikasi serta copot dan pasang sana sini sedang menjadi konsentrasi saya. Saya serasa mengalami lahir kembali, mengalami passion menulis yang sebenarnya obsesi lama saya untuk tekun dalam kegiatan literati, namun sempat kendur dan tak-tersalurkan lebih dari satu repelita 🙂 .

Suka dan suka, begitulah yang saya rasakan. Bahkan istri dan anak saya sesekali ngecengi tiap kali keduanya mendapati saya tengah asyik berlama – lama di depan komputer, menata ulang dan mengisi posting di Rumah Sadhana, dan juga blog saya lainnya. 🙂 Surprise banget, setelah sekian tahun saya tidak menengok Rumah Sadhana, saya dapati berbagai pembaruan telah ditampilkan oleh wordpress, mulai dari feature yang makin enak dipandang, juga ragam pilihan template desain baru yang makin manis  enak dipandang dan elegan disediakannya.

Namun di balik gairah yang saya temukan kembali ini, terbersit pula kegundahan dalam hati saya. Ketika saya merambah pada bagian blogroll atau senarai, saya menemukan banyak sekali kawan – kawan blogger yang dulu aktif tampil dengan desain dan konten yang manis – manis, kini telah banyak yang tidak merawat ladang inspirasi mereka sebagaimana juga yang telah saya lakukan pada Rumah Sadhana saya ini. Yang membuat saya makin sedih, bahkan ada blog – blog yang telah dihapus, entah oleh pemiliknya, maupun oleh wordpress sendiri. Sungguh kondisi yang sangat disayangkan. Ada juga yang mengunci blog mereka menjadi private, untuk ini saya menghargai pilihan privacy mereka. 🙂

Mungkin adakalanya kita merasa bosan dan mengalami letih, namun menghapus jejak kenangan yang telah terekam indah di halaman blog, bagi saya sebuah keputusan yang terburu – buru dan disayangkan. Karena sejauh yang saya tahu, provider layanan blog terutama layanan blog gratis, tidak pernah menutup blog yang telah ada kontennya, kecuali memang blog itu tidak pernah ada pengisian kontent sama sekali, seperti saya alami ketika saya coba buat di blogdrive yang pada akhirnya di-delete dengan peringatan resmi disampaikan melalui email saya, atau karena penyelenggara blog yang tidak melanjutkan layanannya seperti blogspot (sekarang diambil alih google) dan juga blog.com.

Sehingga kemarin itu, saya pun akhirnya harus merelakan melepaskan nama – nama indah yang pernah sama – sama mengalami kebersamaan dalam diskusi maya melalui blog – blog mereka, menanggalkannya dari daftar tautan di Rumah Sadhana dan blog saya lainnya. Saya jadi teringat pernyataan pakar telematika beberapa tahun lampau sekitar tahun 2009 – 2010 kalau tidak salah ingat. Ketika itu melalui acara bincang – bincang di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Pak Roy Suryo menyebutkan blog hanyalah euforia sesaat yang akan hilang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Pernyataan yang awalnya saya tentang oleh batin saya, karena sedang senang – senangnya saya ngeblog waktu itu.

Pernyataan Pak Roy Suryo itu mau tidak mau harus saya akui ada benarnya saat ini. Ketika saya mulai bangkit membenahi Rumah Sadhana, banyak teman – teman blogger yang saya ketahui sudah benar – benar meninggalkan aktivitas blogging mereka. Mudah – mudahan asumsi saya tidak benar, namun mohon perkenankan saya menyampaikan sebuah kesimpulan, bahwa mungkin teman – teman selain mengalami kejenuhan seperti yang pernah saya alami, juga melihat kegiatan blogging sudah tidak ada gregetnya lagi, terbukti dari web yang dulu berlomba bersaing menyediakan layanan tools SEO (yang hingga saat ini saya masih tetap salah mengejanya SE-E-O, bukan ES-E-O), sudah mengundurkan diri menghentikan layanan dan kalau masih pun sudah tidak seakurat dulu lagi hitungannya, termasuk layanan badge atau lencana facebook yang sudah tidak disediakan lagi oleh facebook. Ditambah dengan tidak berlanjutnya layanan blogspot yang dulu banyak dipilih oleh pemain blog. Dari dalam negeri tercatat dagdigdug, kompasiana, indonesiana dan blogdetik yang sudah mulai mengurangi porsi memanjakan pengguna maupun pengunjungnya, saya rasa menjadikan animo nge-blog saat ini menjadi tidak sesemarak dan segempita dulu. – Sekali lagi mohon maaf bila analisa saya ini tidak benar.

Namun demikian saya menemukan beberapa teman yang masih bertahan setia pada kegiatan bloggingnya, dengan idelisme yang masih tetap terjaga seperti dulu. Salam salut buat Gus Kar dan juga Om Sigit S Darmawan. Keduanya masih terpantau jejak bloggingnya konsisten hingga posting terakhirnya di bulan Juli 2017 ini.

Akhir kata, ayo mari kita ngeblog lagi teman – teman 🙂

 


Salam

Ben Sadhana

N(e)geri Tanpa Medsos

Dear,

Bingung. Itu yang terpikir pertama saat saya hendak memilih kalimat utama tulisan saya kali ini. Bingung, yah saya memang benar bingung. Karena post ini adalah tulisan saya yang pertama sejak publikasi tulisan terakhir saya tanggal 26 Maret 2011 lalu. Bisa dibayangkan, sebuah rentang waktu yang sangat lama bagi seorang blogger ya. Lebih enam tahun seorang Blogger membiarkan blog yang dibangunnya terlantar terabaikan, luar biasa hehehe.

Saya teringat kembali dengan Rumah Sadhana ini setelah di media (online dan elektronik) – saya memang sudah jarang menjamah media cetak lagi 🙂 – mulai suka mewartakan wacana pemblokiran beberapa media silaturahmi seperti Telegram, WA atau bahkan konon facebook dan youtube pun tersebutkan pula masuk dalam target incaran blokir, jangan – jangan Twitter, Instagram dan Path juga mulai dag dig dug (bukan local blog provider lhoh ya). Bayangkan dunia tanpa WA, tanpa Telegram, tanpa Facebook, tanpa Youtube dan lain – lain yang saya belum kenal.

Meski ada keasyikan dan menghadirkan sense of romantisme tersendiri ketika hendak menyapa keluarga atau sohib atau kekasih hati bahkan, kita yang di rantau harus membeli kertas surat dan pena, kemudian menuliskan secara manual (tulis tangan – red) beribu – ribu abjad tanpa dibatasi kuota maksimal karakter, berikutnya ke warung bila ada (kalau tidak ada ya mesti ke kantor pos) beli perangko terus cari bis surat, atau biar keren kirim pake pos kilat khusus atau pos tercatat. Ngeng ngeng ngeng ngeng … berlaku sama jika pakai pos express, dengan Telegram konvensional layanan Perumtel yang bisa diatur – atur jumlah kata atau beritanya sesuai biaya yang dikehendaki, pun seandainya ini alternatif yang dipilih paling cepat keesokan harinya baru bisa sampai di alamat orang tua kita atau penerima surat lainnya. – Diterima, dibaca, dipahami (mungkin perlu juga melankolisasi pakai nangis – nangis dulu, bila isi surat mengandung konten mengharu biru mewartakan transfer uang bulanan yang belum diterima dari ortu dan lain – lain). Baru kemudian dengan proses panjang yang sama dilakukan oleh ortu atau penerima untuk membuat surat balasan. A ha 🙂

Proses jalan panjang perjalanan sebuah surat bolak – balik untuk membangun silaturahmi interaktif, bayangkan. Memang benar ada sisi daramatisasi proses membangun emosi saat menantikan datangnya surat hingga sampai diterima dan dibaca (ingat lagunya Mr. Postman dari group B*Witched dan Surat Cintaku dari Vina Panduwinata ?), tapi kan … O la la.

Jadi, saya berdoa semoga penutupan massal beberapa nama media komunikasi online dan / atau elektronik sebagaimana konon diwacanakan oleh pemerintah kita, hanya sebuah wacana dan tidak jadi direalisasikan karena kekuatiran yang terbangun sudah ditindaklanjuti dengan baik dan kooperatif oleh penyedia layanan. Hal lain, mengingat disamping penyimpangan yang sudah diindikasikan telah dilakukan oleh kelompok tertentu untuk mewujudkan misi tidak terpujinya, tetaplah jauh lebih banyak user baik nan bijaksana yang menggunakan akun-nya dengan dan untukmaksud – maksud yang baik pula. Betul tidaak ?

Banyak lho orang baik yang menggunakan media sosial untuk membagikan kebaikan, seperti Gus Sholah, Gus Mus, Gus Can, Pak Tifatul Sembiring, (yang terakhir disebut termasuk aktif lho di twitter 🙂 ) dll yang menggunakan akun twitter beliau semua untuk membagikan nasihat – nasihat kebaikan dari sisi keyakinan mereka namun tetap bernuansa universal bisa diterima semua umat.

Tapi ngomong – ngomong, kalau benar semua jadi diblokir … bisnis warpostel kayanya menggiurkan lhoh, bisa jadi peluang bisnis profitable. Hehehehehe.

 

Salam

Ben Sadhana

 

%d blogger menyukai ini: