Posts from the ‘Arsip Pribadi’ Category

Enaknya Menertawakan Diri Sendiri

Salam untuk Anda semua,

 

Disoraki atau ditertawakan oleh orang lain, tentu saja itu sudah biasa. Saya, Anda atau yang lain, saya yakin sekali atau 2 kali bahkan lebih mungkin, pernah melakukan sebuah tindakan blunder yang konyol. Entah sengaja atau tidak sengaja, melakukan sebuah kekonyolan biasanya pasti akan menciptakan respon gelak tawa, minimal cibir dari orang-orang yang mengetahuinya. Dan pasti dampaknya adalah malu, sakit hati, minder, salah tingkah.

Namun demikian ada kalanya, sikap blunder kita pun bisa mendatangkan simpati dan empati. Seperti halnya pernah saya alami, suatu ketika saya pernah tertimpa malu berjuta rasa ketika saya harus terjerembab ke dalam kubangan air [yang tidak bersih tentunya]. Jadi ceritanya malam [suasana gelap] itu saya bermaksud hendak bermain ke tempat kost teman saya. Dalam perjalanan saya berpapasan dengan sepasang muda-mudi, dan saya untuk berbasa-basi [karena belum kenal, dan ingin bersikap ramah], berkata : “awas hati-hati, tempatnya gelap … tersandung lho.” Dan sedetik kemudian …. jblashb. Sayapun terpersok ke dalam kubangan air tepat di sebelah kedua muda-mudi itu. Ya, saya telah bertemu dengan “kekonyolan tidak sengaja” saya sendiri. Bagaimana tidak ? Lha wong tempat dimana saya terperosok itu adalah halaman samping rumah tetangga saya sendiri yang semestinya saya sudah sangat mengenali medannya, tapi kok ya tetap saja saya yang mesti terperosok,  mengapa bukan muda-mudi itu ? 🙂

Saya sangat malu sekali saat itu, meskipun tidak mendapatkan tertawaan secara visual [karena saya yakin, pasti kedua anak muda itu dalam hati mereka tertawa terpingkal-pingkal … menertawakan penasehat yang kurang hati-hati dan menemui lengahnya]. Keduanya membantu saya untuk keluar dari kubangan.

Kekonyolan lain yanga pernah saya lakukan ketika masih duduk di bangku SMP. Saya tidak begitu menyukai pelajaran ilmu pasti semisal Aritmatika, tentu saja semangat saya untuk mempelajari giat pun kurang. Alhasil nilai-nilai saya untuk ilmu pasti bisa dipastikan kebakaran di buku raport. Saat itu guru kami memberikan test bergilir menjawab soal dari buku. Saya yang merasa lemah di mata pelajaran itu sudah ancang-ancang menghitung giliran saya. [saya tidak menyimak jawaban kawan-kawan saya,  saya mencari tahu jawaban pas soal yang yang “akan” menjadi giliran saya menjawab. Dan tibalah saat giliran saya menjawab. Saya pun bangkit untuk maju ke papan tulis … namun ternyata. Ya, saya salah hitung, ada teman saya yang terlewatkan saya hitung, jadi sebenarnya hak jawab saya adalah untuk soal nomor setelahnya. Panik melanda.

Saya menyaksikan kawan saya maju dan menuliskan jawaban jitu di papan tulis. Nah, di sinilah saya mempertunjukkan kekonyolan saya dengan sukses sekali.

“Agung, mengapa sudut ini sekarang menjadi 45 derajat ?”

“Anu, dikira-kira Pak.” Jawaban lantang dan spontan saya yang langsung disambut gemuruh sorakan dan tawa kawan-kawan sekelas.

“Ya, jawaban yang betul untuk anak yang tidak nyimak soal.” jawab guru Aritmatika kami.

Dan masih ada beberapa hal blunder dan konyol lainnya yang pernah saya alami sepanjang 39 tahun umur saya ini, dan pastinya saya tidak akan ungkap kepada Anda semua di sini, untuk menghindari paduan suara gelak tawa Anda menertawakan saya, ya :).

Ya, ditertawakan orang meski karena kita sadar memang layak dan sepantasnya kita ditertawakan atau disoraki, namun pintu kerelaan untuk hal itu tidak ada seorang pun yang mau membukakannya, bukan ?

Saya hingga sekarang pun masih terekam jelas dalam memori ingatan saya atas kedua hal itu, dan sulit sekali untuk menolak menertawakan kejadian itu. Bedanya tertawa saya menertawakan diri saya sendiri itu terasa nikmat sekali.

Jadi jika Anda mengalami malu karena ditertawakan oleh keblunderan Anda, jangan panik atau bahkan menjadi rendah diri. Kenangkanlah peristiwa malu itu dalam sepanjang perjalanan hidup Anda, untuk mengenang bahwa Anda pun manusia biasa yang bisa setiap saat melakukan kebodohan yang konyol. Tertawalah pada diri Anda sendiri. Dan pastikan semakin Anda sering menertawakan diri Anda sendiri, maka Anda akan memiliki kekuatan yan g dahsyat untuk men-drive diri Anda menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dan waspada dalam berfikir, bertindak / melangkah menuju kepada kebijaksanaan hidup.

 

HAHAHHAHAHHAHAHHAA

 

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan

123

Salam untuk Anda semua,

Horeeee saya punya lahan baru untuk dikelola, senangnya. Begitulah perasaan bungah saya saat ini. Sebelumnya yang hanya dua bidang saja, kini bertambah satu menjadi 3 bidang lahan saya.

Ya, saya mempunyai blog baru. Umurnya baru satu pekan, namanya Bentoelisan, tempat Mas Ben Berkata-kata. Sebagaimana judulnya, melalui blog ini saya akan banyak berkata-kata. Berkata-kata tentang berbagai topik, baik itu tentang saya dan permasalahannya, dan warta di sekitar kita.

Bentoelisan hadir dengan format gaya penulisan bercerita yang encer, santai dan dikemas secara kocak dan sedikit nakal.

Bentoelisan bisa saja dikatakan hadir tanpa direncanakan, karena memang saya tidak menyediakan waktu kusus untuk merancang ataupun menyambut kehadirannya. Bentoelisan menjadi milik saya karena saya terinspirasi oleh sebuah acara di televisi yang saat ini sudah punah dari kotak ajaib tivi. Acara Mbangun  Desa dan Kontak Tani, sebuah tayangan sarat dengan pesan-pesan pendidikan dan budi pekerti.

Bila dalam Mbangun Desa tokoh sentralnya adalah Pak Bina, dan di Kontak Tani oleh Pak Kontak, maka dalam Bentoelisan Mas Ben mengedepankan diri sebagai ikonnya [pede dan narcis tulen deh].

Bila di sinetron, kehadiran tokoh baru berarti meniadakan tokoh lama, maka tidak demikian dengan tiga lahan saya. Sebagai cikal bakal, Rumah Sadhana dan saudara kembarnya akan menjadi percontohan bagi Bentoelisan. Dan saya pun berkewajiban merawat dan menjaga dengan baik ketiganya, secara adil tentunya.

Jadi mari kita ucapkan selamat datang kepada Bentoelisan.

Bentoelisan akan sangat bergembira menyambut dan menerima kehadiran Anda sekalian, menggemburkan tanahnya dengan atensi dan apresiasi Anda, dan menyuburkannya dengan komentar atau diskusi-diskusi menggugah dari Anda.

Selamat datang Bentoelisan !

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Aku

Salam untuk Anda semua,

Kawanku mewartakan, kata dia aku dicela mereka.

Aku tersenyum.

Kau disalahkan olehnya, kata kawanku lain.

Aku tersenyum.

Kawan dari kawanku mendesak, bertindaklah setidaknya sanggahlah.

Aku tersenyum.

Kawan-kawanku berujar,

Hai, mengapakah kau tersenyum ?

Mengapakan kau tidak menjawab ?

Mengapakan kau tiada melawan ?

Mengapakah kau tiada membela diri ?

Aku tersenyum.

Hai kawan-kawanku, bukanlah kuasaku menjawabi mereka,

bukanlah kuasaku membela diri, tiada kuasaku melawan, tiada kuasaku menghakimi mereka.

Kata dan laku mereka atasku itulah keyakinan mereka.

Layaknya angka 9, berkali-kali kita mengalikannya dengan berbagai angka, dengan berapa pun digitnya. Perhatikanlah angka hasil perkaliannya pasti akan kembali lagi kepada 9 bila dijumlahkan.

Tidak terbantahkan.

Itulah sifat keyakinan, tiada bisa dipertentangkan dengan beragam dalih dan dalil atau pun teori.

Bila kumenolaknya, sama halnya aku memaksa mereka mempercayai keyakinanku.

Tidak mungkin.

Kau sudah tahu, mengapakah masih saja resah dan membiarkan amarah menghiasi hatimu ?

Biarlah engkau bertumbuh dengan keyakinanmu, demikian pun mereka.

Semua ada masanya.

Bila keyakinanmu salah pastilah pencerahan dan masa akan menuntunmu kepada pembenaran.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Tahun “Logo” Baru

Salam untuk Anda semua,

21 Pebruari 2008

Awalnya hanya buah dari rasa penasaran dan keingintahuan akan blog, hadirlah sebuah prasasti bergambar ikan bertajuk “Menciptakan Kegemilangan”.

9 September 2008

Seiring dengan bertumbuhnya atensi sahabat pembaca yang meninggalkan jejak, prasasti ini dikukuhkan namanya menjadi RUMAH SADHANA.

Januari 2010

Tetap setia kepada spirit awal pembangunan RUMAH SADHANA, yaitu keinginan untuk menjadikan “rumah” ini sebagai wahana perenungan dan rekoleksi diri, juga kepada para sahabat pembaca yang berkenan dengan buah-buah perenungan di dalamnya.

Dengan ini, mulai Januari 2010 RUMAH SADHANA hadir dengan logo baru.

Logo baru ini bermakna :

  • Rumah dengan Atap dan Fondasi kokoh, bermakna sebuah tempat berlindung yang nyaman dan memberikan ketentraman serta perlindungan yang aman kepada siapa pun yang berteduh / tinggal di dalamnya. Dengan pintu yang lebar dimaksudkan RUMAH SADHANA terbuka lebar kepada siapa saja yang ingin berkunjung.
  • Ikan, bermakna berkelimpahan.

Terimakasih untuk apresiasi dan diskusi-diskusi baik dari para sahabat pembaca yang telah menjadikan RUMAH SADHANA semakin semarak dan indah.

Selamat datang kepada sahabat [baru] pembaca lainnya yang bertandang atau singgah di RUMAH SADHANA.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Edelweis -2-

Salam untuk Anda sekalian,

Sebelumnya :

Kulihat Ningrum keluar sambil meniriskan rambutnya yang basah selepas keramas dan hendak menjemur handuk. Buru – buru aku keluar dan kupanggil dia, dengan hati – hati tentunya. Ningrum pun mengetahui isyarat panggilanku dan sudah ada di depan kamarku kost-ku beberapa menit kemudian. Aku jadi terpana memandang Ningrum, dia nampak semakin ayu dengan rambutnya yang basah itu.

“Ada apa Mas ?” Tanya Ningrum membuyarkan keterpanaanku kepadanya.

swiss_alpine_wildflower07“Eh … Ya. Oh ya, ini hari Minggu kan ? Mbak Ningrum masih ingat jam berapa katanya temanku yang minggu kemarin kesini mau datang hari ini ?” Jawabku terbata – bata. “Ampun, cantik bener sih Ningrum,” batinku.

“Oh, itu. Kalau gak salah sih agak siangan sebelum adzan dhuhur Mas.” Jawab Ningrum.

“Masih lama berarti,” kataku. “Mbak Ningrum ntar jam setengah sebelasan aku tunggu di sini ya.” Lanjutku kemudian, yang dijawab Ningrum dengan anggukan.

Perasaanku jadi makin tidak karuan. Jantungku makin berdebar – debar saja membayangkan betapa berdosanya aku harus berbohong kepada orang yang sebenarnya tidak begitu bersalah kepadaku dengan resiko bakal membuatnya menjadi sedih, ditambah harus menyeret orang lain ke dalam lingkaran dosaku karena harus berbohong mengaku sebagai pacarku, atau lebih tepatnya memanfaatkan wanita untuk menyakiti perasaan seorang wanita lainnya. Lebih berdebar – debar lagi justeru karena perasaanku menuntut lebih dariku bejana yang melingkupi rasa dan batin di dalamnya, yaitu kenapa tidak sekalian saja Ningrum kuminta jadi pacarku sesungguhnya, kenapa hanya meminta dia untuk pura – pura jadi pacarku.

Kulihat jarum jam dinding menunjukkan posisi angka sepuluh, masih belum ada tanda – tanda kehadiran teman perempuanku. Tumben juga Titis & Co tidak menampakkan batang hidungnya ke tempatku, apa mereka sudah pada bosan dengan film India pikirku. Ah, mereka kan para adik yang baik, jadi tahu donk kalau kakaknya lagi gundah hatinya. Jadi sebagai adik yang baik tidak ingin mengganggu kakak yang sedang galau hatinya tentunya, kata batinku lagi menerka – nerka.

Hingga akhirnya jam sepuluh lewat tiga puluh menit, kudengar suara ketukan pintu dari luar sana. Dengan langkah gontai kuseret kakiku menuju pintu, sesaat aku ragu untuk membukanya. Hingga ketukan berikutnya membuat aku membukanya …. Seraut wajah manis telah berdiri di seberang pintu.

“Mas … Mas Bagus, jangan bengong gitu donk.” Celetuk Ningrum sambil menggoyang – goyangkan telapak tangannya di hadapan wajahku.

“Eh … Ehm, maaf Mbak. Saya kaget dan bingung … soalnya saya harus mengajak Mbak Ningrum untuk berbuat dosa hari ini dengan pura – pura mengaku jadi pacar saya.” Jawabku sedikit berbohong.

“Tidak apa – apa, tadi saya juga sudah berdoa koq Mas, memohon seandainya perbuatan saya nanti ini adalah dosa, saya memohon agar dosanya dibebankan kepada Mas Bagus semuanya hehehe,” Ningrum terkekeh. Dan kami pun tertawa bersama.

“Mari, silakan masuk Mbak.” Kataku mempersilakan Ningrum untuk masuk.

“Oh, ya … Titis, dan yang lainnya tidak kelihatan kemana ?” tanyaku berbasa – basi.

“Mereka bertiga sedang jalan – jalan Mas, mau cari buku resep bikin kue .” Jawab Ningrum.

“Oo …” gumamku singkat.

Selanjutnya suasana menjadi hening. Aku mencoba mengurangi ketawaran suasana dengan menawarkan remote tivi kepada Ningrum kalau – kalau dia ingin pindah channel atau saluran siaran yang lain, ataupun menawarkan minum dan makanan ringan. Ningrum yang biasanya renyah dan sering melontarkan banyolan – banyolan, kali ini terlihat pendiam dan seperti kurang nyaman.

Setengah jam berlalu dengan keheningan, tamu yang ditunggu masih belum juga menampakkan diri. Seperempat jam berikutnya masih tetap sama … berdua dalam kediaman. Hingga akhirnya jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, dan kupikir Ningrum harus menunaikan shalat Dhuhur. ‘Aku harus bertindak sekarang sebelum Ningrum pulang untuk shalat, ini saat yang tepat,’ begitu kata batinku mendorong semangatku.

Kutetapkan niat dan kurangkai segenap keberanian, aku beranjak dari dudukku dan aku tutup tirai kamar serta kurapatkan pintu.
Kulihat Ningrum sangat kaget dengan apa yang aku lakukan, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Ada apa Mas, Mas Bagus mau apa ?” Tanya Ningrum dengan penuh kecemasan ketika aku sudah kembali ke posisi dudukku kembali.

“Maaf, Mbak Ningrum. Saya hanya ingin menebus dosa saya hari ini.” Kataku

“Maksud Mas Bagus apa ?” Lanjut Ningrum

Aku terdiam, kurasakan tenggorokanku menjadi tercekat sulit mengeluarkan suara. Dan kurasakan butir – butir peluh mulai menyembul dari pori – poriku dan mengalir di sekujur tubuhku. Aku masih belum bisa bersuara dan peluh makin membasahi pakaian dan pantalon yang kukenakan.

“Mbak Ningrum ….. “ suaraku akhirnya keluar.
“Waktu itu saya meminta Mbak Ningrum untuk pura – pura jadi pacar saya. Dan entah mengapa saya sungguh merasa bahagia saat Mbak Ningrum bersedia menjadi pacar bohong – bohongan untuk saya.” Aku terus berbicara tetap dengan tetesan peluh mengaliri seluruh permukaan kulitku, membuatku makin menjadi tidak nyaman.

“Saya ikhlas koq Mas pura – pura jadi pacarnya Mas Bagus.” Balas Ningrum sesaat kemudian

“Maksud saya bukan itu … saya tahu Mbak Ningrum berniat baik dan tulus.” Aku kembali terdiam sesaat lamanya.
“Maksud saya, saya sangat senang bisa kenal dengan teman – teman yaitu Titis, Ainur, Sumiyati dan juga Mbak Ningrum. Sudah enam bulan kita bersahabat dan saya sangat menikmati hubungan ini.” Kataku melanjutkan.

“Saya juga senang koq Mas, diberi kesempatan bertemu dengan Mas Bagus. Mas Bagus orangnya baik, dan bahkan saya sudah anggap Mas Bagus itu seperti kakak saya sendiri.”

‘Apa ? sudah seperti kakak sendiri ? Mati aku !’ aku begitu kaget mendengar pengakuan jujur dari Ningrum. Untung aku masih bisa menguasai diriku sehingga umpatan kekagetanku itu tidak meluncur dari mulutku dan hanya tertahan dalam batin saja.

“Maksud saya Mbak … maaf saya koq jadi gugup begini ya ?” kataku sambil sedikit bercanda untuk mengembalikan kepercayaan diriku sembari menyeka keringat yang makin membuat bajuku jadi berat.

“Maksud saya, kita kan sudah kenal sejak bulan Januari lalu dan sekarang sudah bulan Juni akhir. Sudah setengah tahun kita bersahabat dan selama ini juga saya merasakan hubungan yang semakin erat di antara kita. Saya sangat senang akan hal ini.” Kataku.

Kulihat Ningrum mengernyitkan dahi, “Maaf, saya tidak ngerti maksud perkataan Mas Bagus.” Ningrum berkata sesaat kemudian. Aku bisa menangkap gerak senyum yang tersembunyi di balik kulit wajahnya yang bersih itu. Aku tahu dia sudah bisa menangkap maksudku, hanya saja dia masih ingin “membuatku mandi keringat” lebih lama lagi. Dan dia berhasil !

“Ehm … Eh, … maksud saya, saya sangat menikmati dan sungguh bahagia atas persahabatan di antara kita selama setengah tahun ini.” Makin deras kurasakan cucuran peluh di tubuhku.

“… dan saya ingin ….. kita lebih dari sekedar sahabat. Dan bukan hanya sekedar pura – pura pacaran. Saya ingin Mbak Ningrum dan saya memiliki hubungan yang lebih erat lagi dan istimewa.” Kataku mengakhiri pertempuran batin.

Selesai mengucapkan kata terakhir kurasakan aku mengalami kebasahan sangat hebat, benar – benar basah. Tapi plong rasanya. Aku sudah tidak berpikir lagi apa jawaban yang akan diberikan oleh Ningrum atas peromohonanku barusan. Yang kurasakan hanyalah kelegaan yang luar biasa.

“Mas Bagus serius dengan kata – kata Mas ?” Tanya Ningrum dengan hati – hati.

“Ya, saya sangat serius. Dan bahkan bila Mbak Ningrum meminta saya untuk menikahi Mbak Ningrum besok, saya akan dengan senang hati mengabulkannya.” Kali ini aku menjawab pertanyaan Ningrum dengan lancar dan mantap, tanpa ada lagi tetesan keringat.

“Tolong Mas Bagus pertimbangkan lagi. …

Bersambung,

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Bertemu Kembali

Sebelumnya :

Jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing.

“Terimakasih Mas Tody” kataku mengakiri pertemuan hari itu.

“Sama – sama, besok Minggu kamu siap – siap aku jemput jam tujuh tiga puluh” Balas Mas Tody.

Mas Tody dan Rasdi menghilang bersama mobilnya di tikungan, dan aku langsung masuk kamar kostku.

waiting-for-youHari Minggu ini aku bangun lebih pagi dari pada biasanya. Ya, karena aku ada janji buat bantu Mas Tody pindahan ke rumah barunya. Aku rapihkan dan sapu kamar serta teras kostku. Sambil menunggu Mas Tody aku kembali memutar kaset, “We re no strangers to love, You know the rules and so do I, A full commitments what I’m thinking of, You wouldn’t get this from any other guy …” Bait pertama lagu Never Gonna Give You Up mengalun indah lewat tarikan vocal keren Rick Astley. Lumayan nge-beat dan membangkitkan semangatku di Minggu pagi ini.

Baru berjalan dua lagu, lengkingan klakson mobil Mas Tody sudah memaksaku untuk keluar rumah pagi itu. Kami berangkat ke rumah baru Mas Tody. Lumayan jauh juga perjalanan kami, untung Minggu pagi jadi jalanan belum begitu macet. Lebih kurang satu jam perjalanan, kami telah sampai di alamat tujuan. Kami segera turun bersama perlengkapan kerja yang sudah disiapkan Mas Tody sebelumnya. Mas Tody mengeluarkan dua pail kecil cat tembok, rupanya agenda kami hari ini adalah mengecat rumah. Cukup besar memang rumahnya, kamarnya ada tiga seperti diceritakan Mas Tody tempo hari.

“Kita sarapan dulu, sebelum mulai.” Kata Mas Tody sambil menjinjing bungkusan tas plastik berisi nasi bungkus dan beberapa botol minuman kemasan.

Tidak berapa lama kami selesai santap pagi. Kami mulai melakukan pembersihan dan melakukan pengecatan. Aku sebenarnya tergolong orang yang tidak suka dengan pekerjaan rumah semacam ini. Namun keakraban di antara aku dan Mas Tody serta Rasdi telah membuat pekerjaan kami hari ini jadi menyenangkan.

Tidak lebih dari empat jam pekerjaan kami akhirnya selesai. Cukup berkeringat juga, namun asyik.

“Gimana Gus, kamu jadi tinggal di sini ?” Mas Tody membuka kata di tengah istirahat kami.

“Enak sih memang di sini, di lingkungan perumahan”. Tapi kayaknya jauh dari tempat kerja ya.” Kilahku

“Ya ntar deh aku pikir – pikir dulu, soalnya aku juga belum lama pindah ke tempat kostku yang sekarang.” Lanjutku

“Ya’ udah. Gak gabung sekarang juga tidak kenapa. Yang penting kalau kamu berubah pikiran kasih tahu aja ke aku.” Balas Mas Tody.

“Ya, Mas. Terimakasih.” Sahutku

Sore itu aku diantar Mas Tody pulang ke kostku, sementara Rasdi udah langsung gabung tinggal bareng di rumah baru Mas Tody. Di perjalanan aku berpikir, untung Mas Tody bisa menerima alasanku menolak diajak tinggal bareng di rumah dia. Padahal kalau dipikir – pikir sih memang lebih irit karena biaya sewa kamar sudah pasti lebih murah. Dan lagi berangkat kerja bisa ikut Bareng Mas Tody sampe ke jalan besar. Mas Tody kerja di kantor pusat, sedangkan aku di workshop. Masalahnya kalau aku mau menerima tinggal sama dia, berarti aku jadi jauh dong sama Titis, Ainur, Sumiyati, terutama sama Ningrum. Jelas lebih enak mahal dikit tapi dekat dengan Ningrum.

Menjelang maghrib aku dan Mas Tody tiba di tempat kostku. Mas Tody langsung pulang ke rumahnya.

Belum separuh badaku masuk ke kamar, kudengar teriakan nyaring penuh semangat memanggilku. “Mas Baguuuus, dari mana aja sih. Kita pulang lagi koq gak disambut sih ?”

A ha, aku langsung berbalik dan berteriak, “Kapan nyampe, jam berapa tadi pagi sampenya ?” Kulihat pasukan Trio Kwek Kwek dan Ningrum sudah menuju ke arahku.

“Maaf ya, saya tadi barusan maen ke rumah temen. Dia baru pindahan hari ini.” Jawabku mengawali pertemuan kembali.

“Pergi koq gak ajak – ajak, sih !” Rajuk Titis.

“Eh, mana nih oleh – olehnya ?” Godaku kemudian kepada mereka.

“Kita bawain gak banyak Mas, soalnya susah bawanya. Lagian bisnya penuh banget dari Jawa. Enting – enting saja gak apa – apa ya Mas ?” Terang Titis, Ainur dan Sumiyati hampir bersamaan.

“Ningrum bawain agak beda, Mas. Dia bawa jenang kudus tuh.” Lanjut mereka.

“Gak apa deh, yang penting oleh – oleh.” Kataku sambil tersenyum lebar.

“Mas Bagus, nonton tivi.” Rengek Titis kemudian.

Kamipun tertawa dan tak lama sudah larut kembali dalam kegembiraan.

“Oh ya Mas, tadi siang ada ceweq yang nyariin Mas Bagus. Katanya kenal Mas Bagus waktu mudik satu bis bareng.” Kata Sumiyati.

“Oh ya ?” Jawabku cuek.

“Iya, Mas. Lama dia nungguin Mas bagus tadi. Katanya dia nyariin di tempat kost Mas Bagus yang lama, terus dikasih tahu kalau Mas Bagus udah pindah ke sini.” Terang Sumiyati.

“Katanya, dia besok Minggu mau ke sini lagi. Tadi Ningrum yang nemenin dia Mas.” Imbuh Sumiyati.

Kualihkan pandangan ke arah Ningrum, dan kulihat dia mengangguk tanda membenarkan ucapan Sumiyati.

Bersambung

Salam gemilang,

Benedict Agung Widyatmoko

Senandung Rindu -2-

Petikan cerita sebelumnya :

“Iya Mas, ceritanya kemarin kan ada kampanye partainya anak muda. Mereka bawa motornya kenceng banget pas lewat depan kompleks kita. Udah gitu ada sebagian yang masuk belok ke tempat kita. Kita semua kaget dan takut, trus pada lompat ke kebon bambu di belakang. Pas lompat, kaki Ningrum nginjak tunggak bambu. Gitu ceritanya yang benar Mas Bagus.” Cerita Titis dengan penuh semangat empat lima.

Kulihat Ningrum salah tingkah karena kebohongannya diuangkap sohib kentalnya sendiri. “Ya udah, gak apa – apa, yang penting ntar diolesi parem atau diurut, Mbak.” nasihatku kepada Ningrum.

Esoknya perusahaanku sudah mulai diliburkan. Ningrum main ke tempat kost-ku dan untuk pertama kalinya aku bicara berdua saja dengan Ningrum.

dark_honey_bee_hembergerMas Bagus pemilu mau nyoblos di mana ?” Tanya Ningrum

“Kayaknya sih nyoblos di sini Mbak, saya kebetulan didaftar di sini.” Jawabku

“Mbak Ningrum mau nyoblos di Jawa apa dimana ?” tanyaku kemudian.

“Kebetulan pabrik tempat kami bekerja diliburkan untuk menyambut pemilu. Katanya pemilu di Jakarta suka rame ya Mas, saya takut jadinya saya mau ke Jawa aja pas liburan, mau ngungsi.” Jawab Ningrum sembari bergidik.

Gaya bicara dan pembawaan Ningrum yang lugu dan polos membuatku sangat gemas.

“Wah, lama dong ya liburannya ?” Tanyaku kemudian

“Paling lama seminggu koq Mas, habis itu balik lagi ke sini.” Jawab Ningrum tetap dengan gaya polosnya.

“Titis, Ainur, dan Sumiyati juga mau pemilu di Jawa katanya Mas. Mereka KTP nya Jawa.” Lanjut Ningrum.

“Wah berarti sepi dong ntar pas pemilu di sini ya ? Selorohku sambil tersenyum.

“Ya nggak sepi to Mas, kan nggak semua orang mudik pas pemilu. Mereka yang udah punya KTP sini pasti nyoblosnya juga di sini.” Kali ini Ningrum berkata sambil memonyongkan bibirnya, lucu sekali.

Aku sungguh menikmati percakapan dengan Ningrum.

“Oh ya, memang kampungnya Mbak Ningrum di mana ya ?” Tanyaku lagi.

“Jauh Mas, di Pantai Utara Jawa tengah.” Jawab Ningrum.

“Saya juga pernah ke daerah Pantai Utara Jawa Tengah, Mbak. Tapi udah lama sekali. Waktu saya masih SD, saya diajak orang tua saya ke Pantai Kartini di Jepara.” Ceritaku.

Kulihat Ningrum tersenyum. “Koq senyum, Mbak ?” tanyaku.

“Mbak Ningrum pernah ke Pantai Kartini di Jepara ?” tanyaku kemudian.

“Orang tua saya memang asli Jepara, Mas. Jadi ya sering ke Pantai Kartini.” Ningrum kali ini tertawa renyah, menampilkan deretan geliginya yang yang rapih putih bersih.

“Ooh …” aku Cuma melenguh karena malu.

“Trus rencananya, Mbak Ningrum sama teman – temannya mau berangkat ke Jawa kapan ?” selidikku.

“Insya Allah besok kami berangkat Mas, dari Pulogadung.” Jawab Ningrum.

“Oh ya Mas, maaf ya saya pamit dulu. Saya harus siap – siap buat besok.” Lanjut Ningrum.

“Ya udah, terimakasih Mbak Ningrum sudah menemani saya ngobrol.”

Entah mengapa aku merasakan kesepian bakal ditinggal adik – adikku terutama Ningrum. Kekonyolan Titis, dan Ainur. Gaya Sumiyati yang bak seorang ibu bagi Titis dan Ainur. Serta kepolosan dan keluguan Ningrum yang ayu, senyum Ningrum yang terkesan mahal namun renyah, dan cara berjalannya dua hari terakhir yang terpincang – pincang membuatku semakin gemas dan sedih bakal kehilangan semua, paling tidak untuk satu minggu ke depan. Kegalauan menyertaiku sepanjang siang hingga sore itu. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat, ketika kudengar pintuku diketuk dari luar. Aku bergegas menyambut dan membukakan pintu. Kulihat Titis, Ainur dan Ningrum berada di hadapanku.

“Mas Bagus, kita mau pamit pulang kampung sebentar. Mas Bagus mau titip dibawain apa ya ?” Ucap Titis begitu kupersilakan masuk.

“Ya sudah, kalian hati – hati di jalan. Terserah kalian mau bawakan apa buat saya.” Jawabku singkat.

Sesaat mereka berada di tempatku dan kami mengobrol satu sama lain, hingga setengah jam kemudian Titis dan Ainur mohon pamit. Ningrum masih tinggal, “Mas Bagus bener tidak titip dibawain oleh – oleh ?” Ulang Ningrum.

“Ya sudah, kalau begitu saya dibawain oleh – oleh yang khas dari daerah Pantai Utara Jawa tengah saja.” Jawabku.

Kualihkan pandanganku ke kaki Ningrum, “Kakinya sudah baikan, Mbak ?” Tanyaku, yang dijawab langsung oleh Ningrum, “Sudah mendingan Mas, kemarin udah di balsam sama Sumiyati. Besok di kampung rencananya saya mau urutkan ke tukang urut, Mas.” Jawaban Ningrum sedikit membuatku lega.

“Ya sudah, sekarang istirahat. Hati – hati di jalan Mbak. Cepet sembuh ya kakinya.” Pesanku buat Ningrum.

“Baik Mas, kalau begitu saya pulang dulu.” Kuantar Ningrum sampai teras, dan aku menjadi semakin sedih dan merasa sepi.

Keesokan paginya kulihat mereka berangkat, aku sempat melambaikan tangan dari jendela kepada mereka. “Tuhan, lindungi perjalanan mereka berempat menuju kampung halaman mereka masing – masing. Jauhkan perjalanan mereka dan liburan mereka dari segala bahaya. Dan izinkan kami bertemu mereka semua kembali minggu depan dengan selamat dan sehat … Amin.” Doaku dalam hati.

–oOo–

Hari yang ditunggu pun tiba. Semarak dan antusiasme warga kampung tempatku tinggal begitu tampak memeriahkan acara lima tahunan ini. Gang – gang menjadi tampak begitu bersih, dan tanah – tanah lapang atau lahan kebun warga yang sebelumnya ditumbuhi ilalang sejak beberapa hari lalu telah berubah menjadi bersih dan rapih dengan dihiasi bilik suara dan bangku – bangku plastik untuk para warga yang akan menggunakan hak pilihnya. Pemilu 1997, ini kali kedua aku memperoleh dan menggunakan hak pilihku. Aku teringat kepada kawan – kawanku yang sedang berada di Jawa saat ini, sedang apa mereka ya ? Apa mereka juga sedang ada di TPS sepertiku sekarang ? Ningrum apa kakinya sudah sembuh dari keseleo ? Ya, bayangan wajah Ningrum kembali kubiarkan mengisi ruang benakku. Aku sungguh kangen dengannya. Entah mengapa, Ningrum begitu kuat menguasai perasaanku. Belum pernah aku merasakan hal ini kepada teman – teman perempuanku yang kukenal sebelumnya, entah teman kampus sewaktu aku kuliah di Jogja, sekalipun aku naksir padanya juga tidak pernah kurasakan hal seperti yang kurasakan kepada Ningrum. Ya, pokoknya aku menjadi begitu bahagia setiap kali bertemu, ngobrol ataupun sekedar membayangkan wajah ayu Ningrum.

Aku tiba kembali di tempat kostku. Kuraih kaset dan kumasukkan ke dalam mini compo, selang beberapa detik kemudian alunan suara Tommy Page ditemani Amy Mastura terdengar lembut menyenandungkan lagu The Best Part, menghadirkan suasana sejuk di kamarku “The best part of the morning is opening my eyes, Seeing you next to me make me realize, That all in my heart, You’re the best part …”

Sejenak kemudian aku terhenyak kaget oleh suara memanggilku. Ooh rupanya aku tertidur barusan. Di depan pintu kulihat Rasdi dan Mas Tody, mereka adalah junior dan seniorku di tempat kerja.

“Gus, hari Minggu kamu ada acara gak ? Ke tempatku ya.” Ajak Mas Tody

“Mau ada acara apa, Mas” tanyaku ke Mas Tody.

“Aku mau pindahan rumah, ada temanku yang meminjamkan rumahnya untuk kutinggali. Katanya sayang daripada kosong.” Mas Tody menambahkan

“Ooh, oke lah kalau gitu. Tapi aku dijemput ya.” Kataku

“Oke yoai. Aku jemput kamu besok Minggu jam setengah delapan pagi, Gus. Oh ya rumahnya gede lho, kamarnya tiga. Ntar kalau kamu mau boleh koq kamu ikutan tinggal disana, Gus.” Lanjut Mas Tody.

“Ya, bagaimana nanti sajalah. Yang penting Minggu besok kita bikin rapih dulu rumahnya.” Jawabku kemudian

“Gus, kita kita ke Circus yuk. Aku kangen sama Nasi uduknya.” Ajak Mas Tody

Iya Gus, kita ke Circus. Mas Tody mau traktir kita sekalian syukuran mau pindahan besok Minggu.” Giliran Rasdi berkomentar.

“Giliran makan aja, kamu semangat Di. Dasar.” Ejekku.

“Ya sudah, aku mandi dulu deh. Kalian tunggu sebentar sambil nonton tivi atau nyetel radio di dalam.” Kataku sambil menuju ke kamar mandi.

Sesaat kemudian kami bertiga sudah melaju ke arah Circus. Circus adalah pusat jajan cukup lengkap yang bisa dibilang pujasera di kawasan timur kota Jakarta. Lumayan terkenal karena di area itu juga terdapat kompleks pertokoan yang biasa buat jalan – jalan para ekspatriat Boss pabrik yang banyak beroperasi di sana.

“Mas tolong pesen ayam gorengnya tiga, trus udang goreng sausnya juga tiga, tahu tempe gorengnya boleh juga. Nasinya … ehhm lima deh. Sama air jeruk panas tiga.” Mas Tody mulai memesan makanan.

“Jeruk panasnya dua aja, aku pesan teh manis Mas” ucapku kepada Pelayan.

“Baik Pak, ditunggu sebentar.” Jawab Pelayan

Tak lama semua pesanan sudah tersaji. Aku bingung juga kenapa Mas Tody pesan makanan sebanyak ini, trus berapa Mas Tody mesti keluar uang buat bayar semua makanan ini.

“Banyak banget.” Gumamku

“Sudah makan aja, santai aja. Ntar kalau kurang boleh nambah lagi. Pokoknya jangan malu deh kalau jalan atau makan sama Mas Tody, dijamin kenyang dan puas.” Kata Mas Tody menyadari kebingunganku.

Kulihat Rasdi sudah asyik dengan kelahapannya dan hampir habis satu potong ayam.

“Ayo makan, mantap banget rasanya.” Ucap Rasdi kepadaku.

Akupun mulai menikmati suasana sore itu di kompleks jajan tersebut. Kami makan sambil ngobrol ngalor ngidul bertiga tentang banyak hal.

“Mas udah, tolong tagihannya ya.” Mas Tody melambaikan tangannya kepada Pelayan.

“Jadi semua totalnya Tujuh Puluh Delapan Ribu Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah, Pak.” Kata Pelayan setelah selesai menghitung. Angka yang cukup besar di tahun 1997 hanya untuk beli makanan batinku.

Mas Tody mengeluarkan selembar seratusan ribu dan menyerahkannya kepada Pelayan. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Mall yang ada di kawasan itu setelah menerima uang kembalian.

Di pusat perbelanjaan cukup rame suasananya. Kami berputar – putar beberapa saat hingga akhirnya kami berhenti di toko sepatu. Kulihat Mas Tody mulai memilih dan mencoba beberapa sepatu sebelum akhirnya membeli sepasang sepatu. Mas Tody anak orang kaya di kampungnya di Solo, dan dia sangat peduli dengan penampilannya. Bisa dibilang mungkin istilah kerennya dia itu pria metroseksual lah.

Jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing.

“Terimakasih Mas Tody” kataku mengakiri pertemuan hari itu.

“Sama – sama, besok Minggu kamu siap – siap aku jemput jam tujuh tiga puluh” Balas Mas Tody.

Mas Tody dan Rasdi menghilang bersama mobilnya di tikungan, dan aku langsung masuk kamar kostku.

Bersambung …

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

%d blogger menyukai ini: