Posts from the ‘Apresiasi’ Category

Mawar dalam Sup Hangat

Dear Pembaca,

Satu lagi persembahan kasih dari KPKDG untuk penutup 2017 dan pembuka 2018.

Saat Natal tlah menjelang. Peristiwa kelahiran menjadi satu moment penting yang paling dinantikan. Kelahiran Yesus Kristus, terlebih kedatanganNya kembali bagi kita yang percaya, sudahkah kita menyiapkan diri menyongsongNya?

2 (dua) buku karya pena dari Ben Sadhana a.k.a. Benedikt Agung Widyatmoko, dkk dari Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG), siap menjadikan momen natal yang paling tidak terlupakan, natal dan tahun baru paling indah dan hangat bersama orang-orang terkasih.

Pastikan dua buku berikut hadir dalam natal dan tahun baru sahabat pembaca yang terkasih. 🙂

Ayo ….

Semangkuk Sup di Malam Kudus

“Semangkuk Sup di Malam Kudus”, sajian istimewa dengan menu rupa rupa puisi dan cerita pendek terpilih seputar natal di dalamnya, siap hadir menghangatkan Natal yang indah bersama orang orang terkasih

Dilaunching tanggal 15 Desember 2017, buku terbitan Lingkar Antarnusa yang berukuran 14 x 21 cm, dengan jumlah halaman 362 sudah bisa dipesan, cukup dengan pengganti biaya cetak Rp. 85.000,00 + ongkos kirim.

P.S. Sssstttt … Ada 3 menu istimewa racikan Om Ben Sadhana lho di dalamnya 😉

24068656_10211500800575909_4418253327302516533_o

Mawar Untuk Gereja

Berisi puisi puisi pendek devosi kepada Bunda Maria.

Dilaunching tanggal 20 Desember 2017, buku terbitan Kosa Kata Kita yang berukuran 13.5 x 20.5 cm, dengan jumlah halaman 200 sudah bisa dipesan, cukup dengan pengganti biaya cetak Rp. 70.000,00 + ongkos kirim.

 

24255004_10211520856757301_3810785900597633218_o

Ayo, kepada yang mau kasih kado istimewa kepada someone specialnya, untuk natalan / tahun baru / valentine day. Monggo pesan dan order sekarang, sudah bisa ya.

Saluran PM, WA, Line, Telegram dibuka 24 jam. Pokoknya pesan dan order ya 👉 ke Mas Ben, di nomor 081803107847 😉

Terimakasih.

 

Salam literasi

Ben Sadhana

Iklan

Lokawisata Tirto Argo Siwarak – Satu Diantara Pesona Alam Ungaran

Dear Pembaca,

Ketika anak kami yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, sedang bermanja-manja kepada saya dan ibunya – mendadak mengatakan : “Pak, kenapa kita tidak pindah saja ke kota yang banyak tempat pikniknya ?”. Entah darimana ide itu terpantik, saya klok tiba-tiba saja menyebutkan Ungaran. “Bagaimana kalau kita ke Ungaran saja?” Pertanyaan saya yang langsung berlanjut antusias darinya. “Banyak tempat piknik ya Pak di Ungaran?” tanya anak kami seketika.

Istri saya yang mendengar, menimpali, “nek kelakon tenan, kapok. Boyongan meneh.” Kata-katanya yang saya jawab sambil terkekeh, “Yo rakpopo, sopo ngerti rejekine anak lanang nang Ungaran. Bapak yo lagi golek-golek gawean meneh kok yo Le.”

Ya, saya mendadak teringat kepada Ungaran. Kenangan tentang Ungaran paling melekat pada saya yaitu ketika masih kecil, saya berdua bersama adik laki-laki saya berkesempatan diajak berekreasi ke kolam pemandian Siwarak. Sebagai anak kecil, baru tahu mau diajak jalan-jalan saja sudah bisa dibayangkan, betapa tiada taranya kegirangan kami, belum lagi ditambah rekreasinya di luar kota – waah, tampah berlipat-lipat kebahagiaan kami, plus sampai di lokasi diperhadapkan pada wahana air … sudah deh tidak perlu dijelaskan lagi, bagaimana “liarnya” kami dua bocah kecil ketika itu. Adik saya langsung nyemplung klebus ke kolam, sementara yang takut berenang, sudah tak terkira bahagianya mencelupkan kedua kaki saya ke dalam kolam, menikmati sejuknya alam Siwarak.

Tidak terlalu istimewa bila kita cuma bicara dari sisi air dan kolam plus papan prosotan yang berliku-liku itu – toh wisata wahana air sudah marak saat ini dengan segala fasilitasnya di beberapa daerah di Indonesia ini. Tapi daya pikat yang tiada tara – yang saya percayai hingga saat ini meski saya belum banyak menjelajahi wisata alam air, di Siwarak ini menjadi istimewa karena didukung pesona lokasi dan lingkungan sekitar dan dan di dalamnya. Bernuansa hutan pinus yang rimbun, sudah sangat cukup menjadikan kawasan wisata ini penuh pesona.

Mengingat kembali Ungaran dan Siwarak, membangkitakan kepenasaran saya untuk tahu lebih banyak tentang Siwarak ini. Maka saya upreg-lah internet, dan berkat jasa kebaikan google atas kemurahatian datanya, bersukalah saya atas data yang saya peroleh.

Taman wisata Siwarak, berjarak sekitar 2 kilometer dari kota Ungaran atau sekitar 23 kilometer dari kota Semarang,  Kolam renang Tirto Argo – lebih dikenal dengan nama Siwarak karena lokasinya yang terletak di Desa Siwarak, tepatnya di Jl. Nyatnyono, Siwarak, Ungaran, Kabupaten Semarang Jawa Tengah ini diresmikan pada 8 Agustus 1968. Selain karena suasananya sejuk, adem dan lokasinya relatif dekat dengan pusat kota, konon air kolamnya termasuk sangat bersih dan rendah kaporit, karena sumber airnya berasal dari mata air Gunung Ungaran.

Didukung dengan kemudahan akses dan fasilitas yang tersedia di dalamnya, menjadikan kolam Siwarak sangat menarik dan nyaman dikunjungi. Dulu saja pada saat kami kecil, masih jelas sekali dalam ingatan kami, sarana kamar mandi dan peturasan yang tersedia jumlahnya cukup dan bersih. Bahkan ada juga tempat penitipan barang, bila pengunjung terlanjur membawa tentengan yang gede-gede yang tidak mungkin dibawa-bawa sepanjang waktu di kolam, bisa dititipkan dengan aman 🙂

Bagi Anda yang bermaksud berwisata ke sana, berikut sebagai sekilas info kolam wisata Siwarak dapat dijelaskan sebagai berikut :

Alamat

Jl. Tirto Argo RT.04 / RW.08 Nyatnyon, Ungaran Barat, Jawa Tengah.

Jam buka

kecuali Selasa dan Rabu (Tutup), Kolam Siwarak dibuka mulai jam 06.30 – 17.00 bbwi.

HTM

Rp. 15.000,- per orang. Rombongan sebanyak lebih dari 30 orang akan mendapat diskon sebesar 10%

Kontak

0812-2927-2707 (edy.tedjos@yahoo.com)

Website

http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

Jadi demikian nostalgia maya saya tentang jalan-jalan wisata saya ke Siwarak – Ungaran. Ungaran, tempat yang dengan nuansa ngangeni, selain tentu saja kota kelahiran saya Yogyakarta 🙂

Masih ada yang ingin saya ulas terkait dengan Ungaran, tentang potensi dan pesonanya : alam, wisata dan ragam kulinernya. Untuk lebih lanjutnya, akan saya uraikan pada tulisan berikutnya ya 🙂

Akhir kata, selain memberikan gambaran singkat tentang pesona alam alam dan lokawisata Siwarak di Ungaran, tulisan ini didedikasikan dan dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Kabupaten Semarang.

 

Salam Sapta Pesona

Ben Sadhana

 

Note : gambar diambil dari berbagai sumber dan web http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

PADA DETIK TERAKHIR

Dear,

PADA DETIK TERAKHIR, demikianlah tajuk buku Kumpulan Cerpen Duet yang akan diluncurkan di Semarang pada 11 Nopember 2017 yang akan datang ini.

Barangkali istilah cerita pendek (cerpen) sudah cukup jamak dikenal, namun bagaimana halnya dengan Cerita Pendek Duet ? Apa maksudnya ?

Ya, cerita pendek duet adalah sebuah cerita pendek yang dibangun dan dikerjakan oleh dua orang cerpenis (penulis). Kedua penulis, menuangkan imajinya secara liar — ya liar, karena keduanya sama sekali tidak sedang berada di tempat dan waktu yang sama. Kisah cerpen duet ini dikerjakan secara tandem bergantian paragraf per paragraf. Jadi melalui kalimat-kalimat yang tersaji pada paragraf pertama-lah cerita itu selanjutnya mengalir secara alamiah dan liar seturut imaji masing-masing penulisnya. Kedua penulis juga tidak saling menebak akan adanya tokoh-tokoh baru yang kemudian muncul di perjalanan kisah maupun yang dihilangkan dalam pertengahan kisah. Kedua penulis sama-sama tidak bisa menebak ending cerita yang sedang digarap berdua, maupun kelanjutan / kejutan-kejutan yang akan disajikan oleh penulis pasangannya di setiap poragrafnya.

Kunci keberhasilan cerpen duet ini yaitu terletak pada kekuatan paragraf pertama yang menjadi kunci tersajinya alur cerita yang apik dengan segala konflik yang terbangun di dalamnya, tentu juga didukung oleh kuatnya karakter para tokoh cerita yang diciptakan oleh kedua penulisnya — penulis yang dipertemukan dalam proyek cerpen duet, yang bahkan sebelumnya tidak pernah bertemu atau saling kenal satu dengan lainnya. Menarik bukan ?

22553189_10211221587995769_1960192612047709682_o

Buku Antologi Cerpen Duet “Pada Detik Terakhir”, menampilkan 40 kisah cerpen duet terpilih dari 34 penulis, yaitu : Tengsoe Tjahjono, Benedikt Agung Widyatmoko (Ben Sadhana), Julia Utama, Alfred B. Jogo Ena, Deny Ketip, BE Priyanti, Tantrini Aandang, Maria Lupiani, Yusup Priyasudiarja, Johny Barliyanta, Irene Roostini, Yosep Margono, Iskandar Noe, Caecilia Joel, Celly Kwok, Demitria Budiningrum, Robertus Sutartomo, Adrian Diarto, Megawati Lie, Agnes Kinasih, Emmelia Meitry, Eulalia Adventi Kesiyanti, Pak Kokok, Sri Widati, dkk.

Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan menjadi koleksi, khususnya mereka para penikmat sastra.

Tunggu apa lagi ?

Buku apik dengan spesifikasi :

  • Harga Rp. 120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah) + ongkos kirim
  • Ukuran : 14×21 cm
  • Jumlah halaman : 448
  • Penerbit : Bajawa Press

Telah bisa dipesan awal (Pre-order), langsung melalui Nomor WA/Telegram/Line : 081803107847.

Selamat menikmati 🙂

 

Salam,

Ben Sadhana

 

BATIK LEGACY

Dear,

Batik, siapa yang yang tidak kenal ? Ada yang tidak suka batik ? 🙂 – Tentunya semua suka dan cinta batik ya 🙂

Ya, Semua orang tersirep oleh pesonanya. Begitu dahsyatnya daya pikat batik tidak terbantahkan lagi. Tentunya masih belum hilang dari ingatan kita, bagaimana Malaysia negara jiran kita yang dengan terang-terangan mengklaim dan mengakui bahwa batik merupakan warisan budaya / milik negara Malaysia. Yang setelah melalui perjalanan panjang sejak tahun 2003, pada akhirnya, tahun 2009 Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang semula pada awal keberadaannya hanya terbatas pada lingkup keluarga dan kegiatan kerajaan, dalam perkembangan masa telah mengalami beberapa tahapan asumsi, mulai dari bahwa batik adalah pakaian para orang sepuh, kemudian hanya untuk keperluan formil, hingga pada masa kini batik telah mempu diterima dan menjadi kebanggan segala usia yang mengenakannya. Termasuk menjadi standar pakaian kerja yang wajib dikenakan setiap hari Jumat. Kita akan dengan mudah menemukan gerai maupun butik batik di pusat-pusat grosir atau pusat perbelanjaan mulai dari yang tradisional hingga moderen.

Masyarakat pada awalnya yang hanya mengenal  Batik Jogja, Batik Solo, dan Batik Pekalongan, kini hampir semua kota dan daerah di Indonesia memiliki batik dengan khas coraknya masing-masing. Bahkan Bogor yang terkenal sebagai kota fashion dengan deretan factory outlet yang menjamur, kini memiliki batik ciri motif hujan gerimis. Daerah pesisir juga dengan bangga memiliki batiknya. Sebut saja Lasem, Cirebon, Indramayu, Madura, Tuban sudah memiliki batik dengan kekhasannya – termasuk kampung-kampung batik yang dikelola dengan apik.

Batik, dari motifnya sendiri terdapat beberapa motif tradisional (pakem) sejak awal perkembangannya. Tentu saja semua motif / corak tersebut memiliki riwayat historis dan makna filosofisnya masing-masing, yaitu :

  • Sida Mukti : Harapan untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin
  • Sida Luhur: Harapan mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi panutan
  • Sida Asih: Harapan akan kasih sayang terhadap sesama
  • Semen Rama: Kehidupan yang makmur
  • Sekar Jagad: Keberagaman dunia dan keindahan
  • Kawung Picis : Umur panjang dan kesucian
  • Truntum : Cinta Bersemi, (arti lain: menuntun)
  • Babon Angrem: Kesabaran dan kasih sayang layaknya induk ayam yang mengerami telur
  • Pringgondani: Prenggondani adalah kesatriyan tempat tinggal Gathot Kaca
  • Tambal: Menambal atau memperbaiki hal yang rusak
  • Irian : Isnpirasi tokoh batik di Imogiri akan kedatangan orang Irian
  • Sri Kuncoro (Truntum Sri Kuncoro): Dari kata tumaruntum saling menuntun, dapat dimaknai lain dari kata tuntum yang berarti tumbuh atau bersemi
  • Udan Liris: Ketabahan dan prihatin menjalani hidup
  • Buntal: Semangat persatuan dan kesatuan
  • Keong Renteng: Dapat dimaknai ikatan yang kokoh dan kuat
  • Wahyu Tumurun: Turunnya wahyu atau anugerah
  • Manggaran: Sering disebut Sigar Semangka di Giriloyo, motif yang berasal dari masa kerajaan Majapahit
  • Gegot: Berawal dari kata Gegoro yang berarti awal mula, harapan hidup berumah tangga dengan prinsip yang kuat
  • Bantulan: Makna Geografis Bantul Yogyakarta
  • Adi Luhung: Bernilai tinggi (seni dan budaya)
  • Parang Rusak: Karang yang terkikis (erat kaitannya dengan pertemuan Sultan dan Ratu Kidul, motif ini hanya untuk raja dan kalangan bangsawan)

Sementara dari sisi kontemporer, terdapat motif-motif :

  • Pisang Mas
  • Polkadot
  • Kunir Pita
  • Kanthil
  • Mega Mendung
  • Senandung Cinta
  • Merak, dan
  • Anggur

Lalu bagaimana dengan Mas Ben sendiri, apakah juga mencintai batik ?

Oh tentu saja, batik bagi saya adalah belahan jiwa kedua setelah istri saya. Saya dengan bangga akan mengenakan batik dalam aneka kesempatan, termasuk pada suatu ketika saya bersama dengan kawan-kawan merayakan gembira dengan karaoke bersama di sebuah franchise rumah karaoke. Bagi saya pribadi, batik selain memberikan efek keren, batik juga luwes dan mampu memberikan aura pas dalam setiap kesempatan baik resmi, semi resmi maupun non resmi. Saya memakai batik tidak perlu menunggu hari Jumat atau tanggal 2 Oktober, karena bagi saya setiap hari adalah hari batik 🙂

Jadi, meskipun baru besok (2 Oktober) baru diperingati sebagai hari Batik Nasional, tanggal 1 Oktober saya sudah mendahului menuliskan kesaksian saya tentang kebanggan akan batik – karena kebanggan dan kecintaan saya akan batik.

Ayo kita warnai hari-hari indah dan bermakna kita dengan batik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selamat hari batik nasional 🙂

 

Salam

Ben Sadhana

 

Referensi :

  1. http://www.antaranews.com/berita/156389/batik-indonesia-resmi-diakui-unesco
  2. http://batik.or.id/
  3. http://www.winotosastro.com
  4. http://batikgiriloyo.com/

YOGYAKARTA MINIATUR INDONESIA (JOGJA ISTIMEWA)

Dear Pembaca,


 

Waktu sebenarnya masih pagi, masih jauh sebelum menyentuh siang. Namun suasana di Jalan Magelang sudah demikian padatnya dipenuhi oleh kendaraan, laju kendaraan tidak bisa lebih dari 10 km per jam sungguh menguji kesabaranku. Satu hal yang paling membuatku lupa sabar adalah bila terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Dan kenapa ini harus kualami hari ini, di kota kelahiranku sendiri – Hufff. Aku cuma bisa mengumpat pelan. Isteriku yang melihat perubahan ekspresi wajahku, “Sudah to, dinikmati saja. Justeru karena macet anak kita jadi senang bisa melihat banyak mobil yang dipamerkan sepanjang jalan ini.” Tangannya mengelapkan tissue ke wajahku, mengusap peluh yang meleleh di pelipisku. Lanjutnya “Lagipula, kalau sepi lancar terus kan namanya ndak ada pertumbuhan di Jogja kita.” Dalam hatiku, benar juga apa yang dikatakan isteriku.

Sejak 1995 saat aku meninggalkan kota Jogja, mengejar rejeki di luar Jogja sekaligus menjemput jodoh di sana, memang Jogja sekarang sudah banyak sekali perubahan. Perubahan ke arah modernisasi. Pertumbuhan hotel berbintang bak jamur di musim hujan, namun dengan tidak mengurangi eksotika asli nuansa Jogja. Budaya dan suasana asli Jogja tetap dipertahankan, sehingga menjadikan Jogja tetap menyimpan daya pesonanya dengan terus memicu animo pelancong domestik maupun mancanegara untuk mengunjunginya.

Dalam perjalanan sejarahnya, banyak peristiwa penting yang menyertai termasuk tokoh – tokoh besar di belakangnya tercatat di Jogja. Sejarah ketatanegaraan sudah dimulai dari sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I seiring berdirinya Keraton Yogyakarta paska perundingan perdamaian Gianti tahun 1755, fungsi Nayoko melalui Kenayakan telah diatur hal – hal terkait urusan dalam dan luar Keraton, mulai soal yayasan dan pekerjaan umum, hasil dan keuangan, agraria dan praja, dan pertahanan. Sistem ini terus berlanjut dipertahankan demi melestarikan budaya di Keraton Yogyakarta. Dalam masa pergerakan pun Jogja mencatatakan peristiwa – peristiwa penting, sejak mulai dijadikannya sebagai Pusat Pemerintahan (Ibukota Negara) sementara, hingga saat peristiwa agresi militer, kesakaralan Keraton begitu difahami oleh pasukan Belanda yang tidak berani merangsek masuk melangkahi benteng tubuh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, meski tahu di dalamnya ada bersembunyi para pejuang dan juga isteri dan anak – anak Jenderal Besar Sudirman sang Panglima tertinggi TKR. Sebuah pengakuan yang absolut betapa istimewanya Jogja dengan Kekuasaan Keraton dan Sultannya.

Pulang ke kotamu / ada setangkup haru dalam rindu / Masih seperti dulu / Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna / … Terhanyut aku akan nostalgi / Saat kita sering luangkan waktu / Nikmati bersama / Suasana Jogja. – Vokal merdu Katon Bagaskoro melantunkan lagu Yogyakarta cukup menjadi penyejuk bagi kami yang masih di dalam kemacetan lalu lintas. Hhhm, suasana Jogja bagaimanapun selalu ngangeni. Harus kuakui banyak hal istimewa yang menjadikan Jogja menjadi special. Pembangunannya yang terus menggeliat menata diri menjadikan Jogja semakin elok mengundang penasaran kepada siapapun untuk bisa menginjakkan kakinya meski sekedar mengambil foto diri di bawah plang papan warna hijau yang menunjukkan sedang berada di Jl. Malioboro, atau menikmati segala pesona kulinernya dan pariwisatanya. Catat saja Gudeg, sayur nangka kering yang begitu fenomenal. Juga Bakpia Patok yang meski di kota lain ada tetap saja menjadikan sensasi tersendiri apabila di dalam kabin pesawat ataupun kereta api terlihat tangan menenteng kardus bertuliskan bakpia patok, penanda oleh – oleh dari Jogja.

Lagu Yogyakarta masih mengalun menghibur perjalanan kami mengurai macet Jalan Magelang. Di detik ini rasa kesalku karena macet berangsur sudah kulupakan, berganti dengan rasa bahagia dan syukur karena menjadi orang Jogja. Jogajaku sekarang dengan segala permasalahanya, kuanggap wajar dan sah – sah saja bila pembangunan selalu melahirkan pro dan kontra dari para pihak berkepentingan. Mulai dari penataan area pedestrian sepanjang Jl. A. Yani – Malioboro yang sarat pendekatan dan negosiasi, toh akhirnya juga terealiasasi dengan damai. Malioboro menjadi indah. Pejalan kaki lebih nyaman menikmati trotoar tanpa gangguan terhalang parkiran sepeda motor.

Dalam kemacetan kulihat seorang anak pedagang koran, kubeli satu darinya. Masih dapat kembalian karena sudah siang kata si loper – uang kembalian yang ditukar oleh isteriku dengan minuman sari buah dalam kemasan, yang diterimanya dengan sukacita. Kuangsurkan koran ke isteriku, memintanya membacakan barangkali ada berita penting. Ya, mungkin saja ada berita prestisius baru tentang Jogja yang masa kini  pemerintahannya di bawah Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk penataan kota dibantu oleh walikotanya dan para bupati.

“Kok lama, mampir mana saja.” Kata Bapak menyambut kami yang baru tiba, seraya menangkap tubuh kecil putra kami, yang langsung menemukan kenyamanan di gendongan Kakungnya.

“Macet di Jl. Magelang.” Jawabku singkat, sambil kuhempaskan tubuhku ke bangku di teras.

“Jogja sudah beda banget sekarang ya Pak.” Kata isteriku.

“Jogja sekarang rame banget, aku saja suka aras-arasen kalau ibumu minta diantar keluar naik motor.” Kata bapak, “Mata tuaku dan kegesitanku sudah kurang banget, suka gruyah gruyuh kalau naik motor mbongcengkan ibumu.” Lanjut bapak sambil terkekeh.

Kuraih koran yang baru kubeli, kutemukan sebuah judul “Ziarah Raih Penghargaan Film ASEAN Berkat Nenek Gunung Kidul.” Dalam berita ini disebutkan Ziarah diganjar penghargaan Best Screenplay dan Special Jury Award di Kuching, Serawak, Malaysia. Malam penganugerahan AIFFA berlangsung di Pullman Hotel, 1A Jalan Mathies, Kuching Serawak, Malaysia pada Sabtu, 6 Mei 2017 – Indonesia keangkat nih, batinku. Mau tidak mau menjadi Jogja menjadi Indonesia, kebanggaanku semakin penuh menjadi Jogja sudah pasti menjadi Indonesia. Apa yang orang ketahui dan temukan di Jogja, kalau baik menjadikan Indonesia baik, demikian pun jika kesan Jogja jelek maka tidak baik pula kesan Indonesia.

Aku teringat dengan klipingku tentang Jogja, potongan artikel tentang Jogja, tentang prestasinya. Kubuka album klipingku yang tersimpan di data telepon genggamku. Berbagai prestasi dan penghargaan – nasional / internasional – yang pernah diraih Jogja diantaranya, dan masih banyak lainnya :

  1. Daerah Istimewa Yogyakarta meraih penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara 2017 dalam kategori provinsi dengan perencanaan terbaik dari Kementerian PPN/ Bappenas. Yogyakarta berhasil meraih nilai baik memenuhi 12 kriteria yang meliputi keterkaitan, konsistensi, kelengkapan dan kedalaman, keterukuran, inovasi kebijakan, proses perencanaan teknokratik, proses perencanaan politik, inovasi proses dan program daerah, tampilan dan materi presentasi, serta kemampuan presentasi dan penguasaan materi.
  2. Kota Gudeg dinobatkan sebagai Kota Terbaik dalam bidang Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Penghargaan diberikan oleh International Council For Small Business (ICSB) award 2016.
  3. Program modernisasi pengadaan di Unit Layanan Pengadaan Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh apresiasi internasional yaitu dari Millenium Challenge Corporation yang berpusat di Amerika Serikat. MCC mengapresiasi Yogyakarta melalui Unit Layanan Pengadaan yang dimiliki bisa menjadi salah satu contoh atau model pengembangan sistem pengadaan yang efektif dan efisien.
  4. Pemkot Jogja menerima penghargaan di bidang pariwisata sebagai The Best Performance kategori Gold yang diberikan oleh Menteri Pariwisata RI, Dr Ir Arif Yahya MSc dalam acara Travel Club Tourism Award (TCTA), Kamis malam 20/11/2014 di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah.

Isteriku yang melihatku mesam – mesem mengamati ponselku, mengetahui apa yang kubaca – kakinya diketukkan ke kakiku. “Kenapa ?” Tanya bapak yang melihat ulah isteriku.

“Ini Pak, Mas Ben tadi ngedumel terus mengeluhkan macet.” Jawab isteriku menggodaku.

“Kamasmu yo ncen begitu, ora sabaran.” Kata bapak yang memicu tawa kami bertiga. Ibu kami yang mendengar keriangan di teras, menyusul keluar bergabung.

“Ada apa ini, kok sepertinya gayeng banget, kedengaran dari dapur.”

“Anak lanang, jarene getun dadi wong Jogja, dalane macet.” Bapak berkelakar.

“Halah kok reko – reko. Mereka itu para turis, belum sah ngaku sudah ke Indonesia kalau belum ke Jogja.” Kata ibu sambil balik kanan kembali masuk meneruskan rapi – rapi dapur, isteriku mengikutinya.

Ya, memang benar rupanya. Menjadi Jogja berarti menjadi Indonesia. Karena semua budaya Indonesia berkumpul ruah di Jogja. Provinisi dengan kultur dan religi beragam di dalamnya, tetapi tetap mampu merayakan perbedaan dalam keharmonisan dengan damai yang menentramkan semua penghuninya; baik penduduk maupun para pendatang dan wisatawan.

Sekali lagi, menjadi Jogja berarti menjadi Indonesia, karena Jogja Istimewa.

 


Salam

Ben Sadhana

Entah

Dear,

Beberapa waktu ini, saya jadi suka ngulik Rumah Sadhana; perbaikan dan re-modifikasi serta copot dan pasang sana sini sedang menjadi konsentrasi saya. Saya serasa mengalami lahir kembali, mengalami passion menulis yang sebenarnya obsesi lama saya untuk tekun dalam kegiatan literati, namun sempat kendur dan tak-tersalurkan lebih dari satu repelita 🙂 .

Suka dan suka, begitulah yang saya rasakan. Bahkan istri dan anak saya sesekali ngecengi tiap kali keduanya mendapati saya tengah asyik berlama – lama di depan komputer, menata ulang dan mengisi posting di Rumah Sadhana, dan juga blog saya lainnya. 🙂 Surprise banget, setelah sekian tahun saya tidak menengok Rumah Sadhana, saya dapati berbagai pembaruan telah ditampilkan oleh wordpress, mulai dari feature yang makin enak dipandang, juga ragam pilihan template desain baru yang makin manis  enak dipandang dan elegan disediakannya.

Namun di balik gairah yang saya temukan kembali ini, terbersit pula kegundahan dalam hati saya. Ketika saya merambah pada bagian blogroll atau senarai, saya menemukan banyak sekali kawan – kawan blogger yang dulu aktif tampil dengan desain dan konten yang manis – manis, kini telah banyak yang tidak merawat ladang inspirasi mereka sebagaimana juga yang telah saya lakukan pada Rumah Sadhana saya ini. Yang membuat saya makin sedih, bahkan ada blog – blog yang telah dihapus, entah oleh pemiliknya, maupun oleh wordpress sendiri. Sungguh kondisi yang sangat disayangkan. Ada juga yang mengunci blog mereka menjadi private, untuk ini saya menghargai pilihan privacy mereka. 🙂

Mungkin adakalanya kita merasa bosan dan mengalami letih, namun menghapus jejak kenangan yang telah terekam indah di halaman blog, bagi saya sebuah keputusan yang terburu – buru dan disayangkan. Karena sejauh yang saya tahu, provider layanan blog terutama layanan blog gratis, tidak pernah menutup blog yang telah ada kontennya, kecuali memang blog itu tidak pernah ada pengisian kontent sama sekali, seperti saya alami ketika saya coba buat di blogdrive yang pada akhirnya di-delete dengan peringatan resmi disampaikan melalui email saya, atau karena penyelenggara blog yang tidak melanjutkan layanannya seperti blogspot (sekarang diambil alih google) dan juga blog.com.

Sehingga kemarin itu, saya pun akhirnya harus merelakan melepaskan nama – nama indah yang pernah sama – sama mengalami kebersamaan dalam diskusi maya melalui blog – blog mereka, menanggalkannya dari daftar tautan di Rumah Sadhana dan blog saya lainnya. Saya jadi teringat pernyataan pakar telematika beberapa tahun lampau sekitar tahun 2009 – 2010 kalau tidak salah ingat. Ketika itu melalui acara bincang – bincang di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Pak Roy Suryo menyebutkan blog hanyalah euforia sesaat yang akan hilang dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Pernyataan yang awalnya saya tentang oleh batin saya, karena sedang senang – senangnya saya ngeblog waktu itu.

Pernyataan Pak Roy Suryo itu mau tidak mau harus saya akui ada benarnya saat ini. Ketika saya mulai bangkit membenahi Rumah Sadhana, banyak teman – teman blogger yang saya ketahui sudah benar – benar meninggalkan aktivitas blogging mereka. Mudah – mudahan asumsi saya tidak benar, namun mohon perkenankan saya menyampaikan sebuah kesimpulan, bahwa mungkin teman – teman selain mengalami kejenuhan seperti yang pernah saya alami, juga melihat kegiatan blogging sudah tidak ada gregetnya lagi, terbukti dari web yang dulu berlomba bersaing menyediakan layanan tools SEO (yang hingga saat ini saya masih tetap salah mengejanya SE-E-O, bukan ES-E-O), sudah mengundurkan diri menghentikan layanan dan kalau masih pun sudah tidak seakurat dulu lagi hitungannya, termasuk layanan badge atau lencana facebook yang sudah tidak disediakan lagi oleh facebook. Ditambah dengan tidak berlanjutnya layanan blogspot yang dulu banyak dipilih oleh pemain blog. Dari dalam negeri tercatat dagdigdug, kompasiana, indonesiana dan blogdetik yang sudah mulai mengurangi porsi memanjakan pengguna maupun pengunjungnya, saya rasa menjadikan animo nge-blog saat ini menjadi tidak sesemarak dan segempita dulu. – Sekali lagi mohon maaf bila analisa saya ini tidak benar.

Namun demikian saya menemukan beberapa teman yang masih bertahan setia pada kegiatan bloggingnya, dengan idelisme yang masih tetap terjaga seperti dulu. Salam salut buat Gus Kar dan juga Om Sigit S Darmawan. Keduanya masih terpantau jejak bloggingnya konsisten hingga posting terakhirnya di bulan Juli 2017 ini.

Akhir kata, ayo mari kita ngeblog lagi teman – teman 🙂

 


Salam

Ben Sadhana

You Are My Valentine

Salam untuk Anda sekalian,

Hari ini tanggal 14 Februari, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya … nuansa cinta merebak dan mewarnai banyak aspek sosial. Mulai dari acara televisi,  supermarket, department store, hotel bahkan di beberapa institusi pendidikan dan perusahaan, ada tradisi rutin di antara para karyawan dan siswanya untuk merayakan hari valentine Ornamen warna pink yang konon melambangkan warna cinta kasih menonjol di berbagai sudut, dalam bentuk-bentuk hiasan. Tradisi bertukar hadiah, bunga, kartu, puisi, atau coklat berbentuk hati masih mengedepan di sebagian masyarakat bumi ini.

Menilik balik kepada masa lalu di mana titik awal dipilih dan ditetapkannya tanggal 14 Februari menjadi hari kasih sayang atau lebih tren sebagai valentine day, tidak ada referensi akurat yang dapat menjadi rujukan sejarah.

Ada beberapa versi cerita yang melatarinya; di Yunani [Athena] pertengahan bulan Februari terkait dengan cinta dan kesuburan. Dalam kalender mereka, pertengahan bulan Januari dan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai, terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Dalam sejarah gereja [Katholik Roma], catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa :

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)

When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa :

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Pada era modern, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A Howland [1828 – 1904] dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

Bagaimana tradisi hari Valentine di begara-negara non-barat ?

Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih” [White Day] muncul. Pada tangga 14 Maret pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan”[Qi Xi]. Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

Terlepas dari keshahihan semua sejarah tentang asal mula hari valentine sebagaimana diriwayatkan di atas [wikipeidia], toh semua meriwayatkan tentang peristiwa kelahiran dan  cinta. Namun,  hingga hari ini tentang perayaan hari kasih sayang masih menjadi polemik di Indonesia, baik tentang esensi dan sejarah dari hari valentine itu sendiri maupun idealisme sebuah keyakinan yang menolak budaya barat [ingat semua referensi merujuk kepada tradisi barat, bukan Asia atau Timur Tengah]. Bahkan terakhir tersiar kabar bahwa ada sebuah institusi keagamaan yang telah mengeluarkan fatwa haram untuk hari valentine.

Valentine day atau hari kasih sayang, terlepas dari semua kontroversi dan pertentangannya, tidak ada salahnya bila ada kehendak baik di antara kita sekalian untuk mengakui bahwa kasih sayang itu adalah esensi kehidupan kekal yang telah dibekalkan oleh Tuhan Sang Kasih kepada semesta alam ciptaanNya. Tidak ada semua kehidupan yang berawal, dan berkembang tumbuh tanpa peran serta dan campur tangan dari Dzat Mahakasih.

Sebagai penutup untuk kita renungkan bersama, marilah kita membayangkan penderitaan dan kesakitan ibu dan bunda kita, yang karena cinta kasihnya kepada kita berjuang mempertaruhkan jiwanya demi ingin menyaksikan kehadiran kita buah cinta dengan ayah kita. Demikian pun puja-puji doa atau lafadz adzan yang didengungkan ke telinga kita oleh ayah mengharapkan pertumbuhan baik untuk kita putera-puterinya terkasih. Pun karena alasan cinta.

Dan semua itu akan terus bersambung kepada kita, putra-puteri kita, cucu, cicit dan seterusnya. Semua karena cinta kasih, bukan ?

Ada sebuah firman Tuhan yang sangat indah bagaimana cinta kasih itu dimaknakan dalam Kidung Agung :

5 – Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? –Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.
6  – Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
7  – Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

 

Selamat hari kasih sayang.

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

%d blogger menyukai ini: