You Are My Valentine

Salam untuk Anda sekalian,

Hari ini tanggal 14 Februari, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya … nuansa cinta merebak dan mewarnai banyak aspek sosial. Mulai dari acara televisi,  supermarket, department store, hotel bahkan di beberapa institusi pendidikan dan perusahaan, ada tradisi rutin di antara para karyawan dan siswanya untuk merayakan hari valentine Ornamen warna pink yang konon melambangkan warna cinta kasih menonjol di berbagai sudut, dalam bentuk-bentuk hiasan. Tradisi bertukar hadiah, bunga, kartu, puisi, atau coklat berbentuk hati masih mengedepan di sebagian masyarakat bumi ini.

Menilik balik kepada masa lalu di mana titik awal dipilih dan ditetapkannya tanggal 14 Februari menjadi hari kasih sayang atau lebih tren sebagai valentine day, tidak ada referensi akurat yang dapat menjadi rujukan sejarah.

Ada beberapa versi cerita yang melatarinya; di Yunani [Athena] pertengahan bulan Februari terkait dengan cinta dan kesuburan. Dalam kalender mereka, pertengahan bulan Januari dan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai, terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

Dalam sejarah gereja [Katholik Roma], catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa :

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)

When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa :

  • Sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”.
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Pada era modern, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A Howland [1828 – 1904] dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)

Bagaimana tradisi hari Valentine di begara-negara non-barat ?

Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih” [White Day] muncul. Pada tangga 14 Maret pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan”[Qi Xi]. Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.

Terlepas dari keshahihan semua sejarah tentang asal mula hari valentine sebagaimana diriwayatkan di atas [wikipeidia], toh semua meriwayatkan tentang peristiwa kelahiran dan  cinta. Namun,  hingga hari ini tentang perayaan hari kasih sayang masih menjadi polemik di Indonesia, baik tentang esensi dan sejarah dari hari valentine itu sendiri maupun idealisme sebuah keyakinan yang menolak budaya barat [ingat semua referensi merujuk kepada tradisi barat, bukan Asia atau Timur Tengah]. Bahkan terakhir tersiar kabar bahwa ada sebuah institusi keagamaan yang telah mengeluarkan fatwa haram untuk hari valentine.

Valentine day atau hari kasih sayang, terlepas dari semua kontroversi dan pertentangannya, tidak ada salahnya bila ada kehendak baik di antara kita sekalian untuk mengakui bahwa kasih sayang itu adalah esensi kehidupan kekal yang telah dibekalkan oleh Tuhan Sang Kasih kepada semesta alam ciptaanNya. Tidak ada semua kehidupan yang berawal, dan berkembang tumbuh tanpa peran serta dan campur tangan dari Dzat Mahakasih.

Sebagai penutup untuk kita renungkan bersama, marilah kita membayangkan penderitaan dan kesakitan ibu dan bunda kita, yang karena cinta kasihnya kepada kita berjuang mempertaruhkan jiwanya demi ingin menyaksikan kehadiran kita buah cinta dengan ayah kita. Demikian pun puja-puji doa atau lafadz adzan yang didengungkan ke telinga kita oleh ayah mengharapkan pertumbuhan baik untuk kita putera-puterinya terkasih. Pun karena alasan cinta.

Dan semua itu akan terus bersambung kepada kita, putra-puteri kita, cucu, cicit dan seterusnya. Semua karena cinta kasih, bukan ?

Ada sebuah firman Tuhan yang sangat indah bagaimana cinta kasih itu dimaknakan dalam Kidung Agung :

5 – Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? –Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.
6  – Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
7  – Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

 

Selamat hari kasih sayang.

 

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Mau Dibawa Kemana … Negeri kita ?

Salam untuk Anda sekalian,

Denmas Detelu meraih slot kunci pagar rumahnya, membukanya. Kelelahan yang mengelayutinya sepanjang perjalanan menuju rumah dari tempatnya bekerja, perlahan berganti dengan kecerahan tatkala dari balik pintu ruang tamunya muncul sosok kecil putranya menyambut, “Bapak, Mamah Bapak Mah.”

Sekejab tubuh mungil montok itu sudah berada dalam gendongan Denmas Detelu.

“Bapak, enak … enak … enak.” Rengek manja si kecil Atya sambil memainkan rambut kumis bapaknya.

“Eh, anak pinter harus salim sama Bapak dulu. Mosok oleh-oleh dulu yang disambut, gak kangen sama Bapak ya ? Suara Nyai Detelu terdengar merdu.

Denmas Detelu mengecup gemas pipi gembil putranya.

“Ayo sini, turun sama Mamah dulu. Biar Bapak lepas sepatu dan masuk rumah dulu.” Lanjut Nyai Detelu sambil mengambil alih tubuh Atya dari suaminya.

Di dalam ruang tamu, Atya sibuk menggeledah tas yang biasa menemani bapaknya dalam bekerja. Wajahnya menyemburatkan kegirangan, “enak .. enak, Bapak yah ?” Suara bocah yang sedang belajar berkata-kata itu semakin menyejukkan hatinya. Tangan Atya mengacung-acungkan dos kecil berisi kueh yang sengaja Denmas Detelu beli di perjalanan pulang.

“Iya, itu untuk Atya putra Bapak”

“Terima kasih ya Bapak. Ayo bilang apa sama Bapak ?”

“Wah, bukan anak pinter itu namanya kalau diam saja.” Kata Nyai Detelu ketika dilihat putranya itu sudah asyik mengemil kueh oleh-oleh.

“Sudah biar, gak apa-apa Nyai, biarkan saja jangan diganggu. Lumayan dia sudah mulai mau maem walau sedikit.”

Nyai Detelu mengangguk, “Iya Mas, tumben dia mau maem roti.”

“Lho, lha tumben juga Kangmas tidak bawakan susu ultra seperti biasanya ?”

“Iya, sengaja aku tadi tidak beli susu. Biar dia belajar mengenal dan merasai makanan selain susu. Moso sudah 2 tahun cuma nyusu thok.” Jawab Denmas Detelu sambil menuju kamar.

“Iya, Mas. Lagipula kan juga lagi hangat-hangatnya berita susu formula mengandung bakteri to di tivi. Ngeri juga saya jadinya.”

“Handukku mana Nyai ?” Terdengar suara Denmas Detelu dari dalam kamar.

“Oh, iya, itu Mas sudah saya taruh di atas rak baju Atya. Mandinya jangan lama-lama, kemarin baru sembuh masuk anginnya to.” Imbuh Nyai Detelu mengingatkan.

Tidak ada jawaban terdengar, cuma suara pintu kamar mandi ditutup saja.

Denmas Detelu keluar dari dalam kamar, sudah klimis berganti pakaian, menuju kursi dimana Nyai Detelu sedang memangku Atya. Dilihatnya Atya sudah asyik dengan botol dot susunya.

“Mau langsung dahar, Mas ?” Tanya Nyai Detelu.

“Tidak Nyai, nanti saja.” Biar si Atya selesai dengan dotnya dulu.

“Ini koran baru Nyai ?” Denmas Detelu meraih surat kabar sore yang sudah lecek itu.

“Iya, tadi sudah didului sama Atya.” Jawab Nyai sambil tersenyum geli melihat suaminya memilah-milah koran baru yang sudah ada yang tersobek halamannya itu.

“Ya, tanda anak bakal pinter, ndak apa-apa to ya Atya.” Kata Denmas Detelu sambil mengusap kepala putranya. Tidak ada respon dari Atya kecuali matanya yang kriyip-kriyip entah menikmati enaknya susu buatan ibunya atau karena nyaman diusap-usap kepalanya.

“Ini koran koq beritanya cuma Mesir, Cikeusik, Temanggung dan masih juga tentang Gayus to ? Selebihnya berita kecil-kecil tapi banyak soal kejahatan dan demo anarkis mahasiswa yang bersitegang dengan aparat keamanan dan juga perkelahian antara warga kampung di daerah.”

“Lha ya memang itu to Mas trendnya berita sekarang ini. Soal wacana suksesi kepemimpinan di Mesir, terus PR lama pemerintah mendamaikan masyarakat Ahmadiyah dengan saudara kita Muslim, masalah mafia pajak vs apa itu, lembaga yang ada Denny Indrayana-nya Mas ?”

“Ah, aku juga lupa namanya.” Pendek Denmas Detelu menjawab. Pandangannya masih asyik tertuju pada lembaran koran di hadapannya.

“Malah terbaru ada berita yang cukup meresahkan kami para ibu yang punya anak kecil, tentang susu formula yang mengandung bakteri E-Zakazii itu.” imbuh Nyai Detelu.

“He eh.”

“Iya Mas, yang bikin saya kuatir itu koq sampai sekarang masih belum juga ada klarifikasi dari pemerintah yang mengumumkan merek-merek susu berbakteri itu.”

“Lho bukannya, sudah ada klarifikasi kemarin to, dari Bu Kepala BPOM bahwa susu-susu yang beredar di pasaran bebas dari bakteri.” Jawab Denmas Detelu, dia menoleh sesaat kepada isterinya.

“Iya Mas, tapi masalahnya kan beritanya tidak terus berhenti setelah ada keterangan itu, malah jadi semakin gencar disiarkan di tivi-tivi. Saya kan juga jadi ikut panik Mas. Apalagi putera kita ini kan belum bisa mengurangi konsumsi susunya.”

Denmas Detelu merasakan kecemasan isterinya.

Ya sudah ndak usah terlalu dirisaukan to Nyai soal susu itu. Toh sudah ada pernyataan dari pemerintah tentang tidak adanya bakteri terkandung di susu-susu yang ada di pasaran.  Lagipula bakteri itu kan ditemukan di susu-susu objek praktek kampus. Ya bisa saja to, susu sampel test itu kebetulan karena kondisi yang tidak higienis saat percobaan hingga timbul bakerinya. Test itu juga bersifat independen tidak melibatkan atau diketahui oleh lembaga yang berkompeten dengan masalah kesehatan susu, misalnya analis atau ahli dari departemen kesehatan atau dari BPOM. Ndak usah digagas lah, bikin tambah parno saja.”

“Saya maunya ya begitu, tidak mengambil pusing. Lha tapi beritanya ndak surut-surut di tivi je, Mas.”

“Ya itulah Nyai, semakin banyak stasiun tivi, semakin banyak media cetak, tapi beritanya ndak joss. Tidak ada yang berinisiatif untuk melakukan diversifikasi berita. Semua melakukan eksplorasi membabi buta dengan slogan ekslusivitas beritanya. Berita yang sama diputar berulang-ulang gantian di setiap tivi dengan sedikit bumbu wajah reporter atau anchornya yang dicemberut-cemberutkan, dipanik-panikkan, dipletat-pletotkan, pokoknya ya gitu deh. Semuanya terjebak dalam trend berita. Malah lucunya, ada to berita di tivi ini tapi bagian pojoknya ada seperti bekas plester menutupi simbol atau logo tivi lainnya. Jadi mereka itu pinjam gambar dari stasiun tivi lain untuk disiarkan di tivi mereka. Lha kan ndak mbois bener to ?” Sengit Denmas Detelu.

“Lho koq panjenengan malah jadi yang emosi to, ndak baik ah.” Canda Nyai Detelu sambil mencubit pinggang suaminya yang semakin nggajih itu.

“Lho ini bener lho Nyai. Para juragan tivi dan koran itu kan sebenarnya mengemban tugas mulia memberikan informasi yang cukup, representatif, lugas, inspiratif dan mendidik kepada para pemirsa dan pembacanya. Lha kalau kejadiannya seperti sekarang ini, semua tivi dan koran jor-joran saling memberitakan berita yang sama dan menurut saya ndak ada manfaatnya itu …”

“Lho sik sik sik, koq ndak ada manfaatnya. Maksudnya gimana to Mas ? Potong Nyai Detelu.

“Iya, ndak ada manfaatnya. Maksudku begini lho Nyai. Coba lihat, sekarang ini kan yang musim setiap hari berita itu kalau ndak soal demo kekecewaan rakyat Mesir akan Presidennya yang katanya diktator itu, terus kejadian di Cikeusik Pandeglang dan Temanggung, Mafia Pajak, Kasus travel check dari Bu Miranda yang sedang membuat para anggota dewan menjadi gerah karena menghitung hari menunggu giliran dicokok dari kediamannya, kasus Bank Century, dan terbaru ya soal susu berbakteri itu. Pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan, seharusnya itu kan cukup dijadikan janji untuk percaya, tapi kenapa tivi seolah tidak mau tahu dan tetap saja mengabaikan janji permerintah dengan tetap terus memanas-manasi pemirsa tivi dengan pemberitaan mereka yang panas dan dipanas-panasi terus itu.”

“Sebentar ya Mas, Atya sudah bobok lelap sepertinya. Saya pindahkan ke kamar dulu.” Kata Nyai Detelu.

“Iya Nyai.” Denmas Detelu menoleh ke arah Atya yang dilihatnya menggeliat kecil dalam gendongan ibunya menuju kamar.

Terdengar suara tebah [sapu lidi] dikibas-kibaskan mengusir nyamuk dan suara obat nyamuk semprot dari dalam kamar.

“Lalu gimana Mas ?” Tanya Nyai Detelu sesaat setelah keluar kembali dari dalam kamar.

“Ya mestinya kan warta berita itu fungsinya untuk memberikan keterangan yang secukupnya. Yang terjadi sekarang kan terkesan lebay. Semua tivi balapan tayangkan talkshow dengan narasumber para pakar dan pengamat yang ndak jelas siapa sebelumnya, tiba-tiba dimunculkan dengan opininya yang terbungkus suara menggebu-gebu menghakimi. Yang terjadi bukannya konklusi yang solutif, malah justeru hati sebagian masyarakat kita terprovokasi untuk membenci satu kelompok dan mendukung kelompok lain. Sebenarnya kan tidak bisa gitu, media elektronik atau cetak harus memposisikan diri sebagai saluran informasi yang independen, netral tidak memihak opini dari para pengamat atau pakar. Mereka kan lebih bagus kalau mau ngundang pakar atau pengamat mbok ya yang netral dan tidak terikat oleh faham tertentu.”

Denmas Detelu menghela nafas, tangannya meraih teh manis hangat dari meja di sebelahnya, diseruputnya.

Lalu, “Terus lagi Nyai, berita terbaru yang disiarkan terkait kasus Pandeglang dan Temangung bukan penyelesaian masalah dengan mengejar dan mengusut tuntas pelaku dan motif yang melatari perbuatan tidak terpuji mereka, malah pencopotan jabatan para pejabat kepolisian di wilayah dimaksud. Ya bukan berarti tidak boleh mencopot atau apalah istilahnya, penonaktifan misalnya. Tapi mestinya kan sanksi itu berupa sanksi administratif terlebih dahulu dengan tuntutan untuk penuntasan kasus hingga ke akarnya. Jadi terkesan tidak solutif ke akar masalah, malah memperlama penyelesaian penyidikan dengan mendudukkan  orang-orang baru yang belum kenal dengan wilayah dan karakter kemasyarakatannya, diberikan mandat untuk melanjutkan penyidikan.”

“Benar juga ya Mas, saya terkadang juga bertanya-tanya merenungi kata-kata para “pakar dan pengamat” di berbagai tivi itu. Mereka mengomentari dan beropini untuk perbaikan Mesir dengan seolah-olah mereka sangat mengenal jeroannya Mesir. Dan seolah mereka sangat yakin opininya akan mampu menyelesaikan konflik yang mendera negeri Firaun itu. Lucunya mereka malah sebelumnya belum pernah terdengar suara solusinya untuk penyelesaian masalah dalam negeri kita ya Mas” Tanggap Nyai Detelu.

“Dan penyelenggara media sangat bangga dengan program mereka itu.” Imbuh Denmas Detelu.

“Benar Mas. Ya mudah-mudahan segala masalah yang mendera di negeri kita ini terkait masalah toleransi dan kerukunan umat beragama dan berkeyakinan serta masalah-masalah besar lain yang masih belum tertuntaskan dapat segera diatasi. Dan para penyelenggara media segera sadar dan kembali kepada fungsi mereka dengan mengedepankan peranan informasi dan pengetahuan dalam memberi inspirasi kemajuan bangsa.

“Benar juga Nyai. Semoga pula kepada pemimpin negeri kita ini diberikan terang dan kemampuan untuk mengawal negeri tercinta kita, dan menuntaskan masa baktinya hingga pemilu yang akan datang tanpa adanya gangguan. Dan juga agar para lawan politik pemimpin kita diberikan terang hatinya bahwa kemajuan bangsa kita ini hanya bisa dicapai dengan persatuan antar semua elemen masyarakatnya.”

“Ah ya, saya tadi lihat si Atya mainan kertas dari meja Kangmas. Yang pas saya baca kalau ndak salah info  Kontes Ngeblog Inspiratif Visimaya, ya ?”

“Ah iya, Nyai. Lupa saya, untung diingatkan, ini hari terakhir kontes tahap pertamanya.” Denmas Detelu terhenyak.

“Saya akan angkat topik diskusi kita barusan deh untuk materi tulisan saya.” Imbuh Denmas Detelu.

“E e, nulisnya nanti. Makan malam dulu, Mas. Kebiasaan kalau lupa makan malam suka pusing to keesokan harinya.” Sergah Nyai Detelu yang melihat Denmas Detelu beranjak hendak menuju meja kerjanya.

“Eh iya Nyai, makan dulu kita.” Kata Denmas Detelu sambil menggamit lengan isteri tercintanya itu membimbingnya menuju ruang makan.

Demikianlah diskusi mesra keluarga Detelu.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

p.s. :

“Wah Nyai, ini info kontes blognya ada yang ketinggalan sepertinya, info harus ke mana artikel  disubmit-kan koq tidak tersebutkan ya.”

“Ya sudah tidak apa-apa, yang penting tuliskan saja Mas. Ndak udah terpaku pada lomba, katanya mau jadi Blogger sejati yang setia berbagi tanpa pamrih.” Goda Nyai Detelu.

“Iya sih, lha tapi lumayan je Nyai janji hadiahnya. Ya sudah deh ndak apa-apa, saya tetap tuliskan saja di Rumah Sadhana, sebagai hadiah kerinduan para sahabat blogger saya dan sahabat baca lainnya.

“Ah, sudah ketemu link pendaftarannya koq Nyai, nih ada di paling bawah email yang Kangmas peroleh dari milis.”

***

Semarak Mozaik Semesta

Salam untuk Anda sekalian,

Wahai saudaraku,

Lihatlah piano. Ebony dan ivory, hitam putih berdampingan menghadirkan denting merdu nada-nada indah

Lihatlah grafiti di tembok kusam usang. Indah berkat berpadunya aneka warna

Lihatlah pelangi. Begitu indahnya oleh ragam warna yang membentuk pagar cakrawala

Lihatlah laut luas. Begitu indah airnya berwarna-warni berkat pantulan warna-warni ekosistem di dasarnya

Wahai saudaraku

Masih adakah pemberontakan di hatimu untuk membantah semua keindahan itu ?

Bayangkanlah seandainya tuts piano diciptakan dengan satu warna saja dengan tuts hitam rata dengan yang putih ?

Bayangkanlah sesandainya tembok-tembok kusam usang dipinggir kota, tidak berhiaskan karya usil grafiti ?

Bayangkanlah seandainya saja pelangi itu hanya selengkung besar dengan satu warna saja ?

Bayangkanlah seandainya air laut itu diam tanpa hiasan riak dan ombak dan kemilau warnanya yang bening berpadu indah ?

Wahai saudaraku,

Percayakah engkau akan menjadi nyaman hatimu ketika kepadamu diperdengarkan alunan musik yang hanya berasal dari satu media dan bunyinya monoton ? Bandingkanlah suasana batinmu ketika setelahnya engkau diperdengarkan sebuah orkestrasi, perpaduan dari berpuluh alat musik yang berbeda.

Pernahkah engkau bayangkan suara yang tercipta dari biola dan gitar yang hanya memiliki satu dawai saja ?

Wahai saudaraku

Begitu banyak sudah bukti keindahan yang terciptakan oleh perbedaan.

Lalu mengapakah engkau masih mengingkarinya ?

Mengapakah engkau mengijinkan dirimu menghakimi satu dengan yang lain karena berbeda ?

Mengapakah engkau begitu mudah tersulut amarahmu bila dia atau mereka tidak sama denganmu ?

Mengapakah engkau begitu tega menyakti, melukai bahkan merampas hidup saudaramu yang lain … pun hanya karena kau merasa mereka tidak sama denganmu ?

Engkau meminta dia dan mereka untuk menjadi sama dan serupa denganmu. Sementara engkau tidak pernah mengijinkan dirimu untuk memahami mengapa mereka berbeda denganmu.

Wahai saudaraku

Aku percaya engkau pun telah tahu bahwa Tuhan menciptakan semua ciptaannya beragam untuk membaikkan alam semesta ciptanNya.

Dan engkau tahu bahwa kita diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbahasa-bahasa dan berras-ras karena Tuhan berkehendak memberikan warna pada alam semesta.

Tuhan walau MahaKuasa tidak berkenan menciptakan alam semesta hanya dalam satu warna, satu bahasa dan satu budaya saja.

Maha Besar Tuhan atas segala CiptaanNya yang beragam.

Wahai saudaraku,

Marilah kita menjadi warna kita masing-masing. Berpadu indah dengan warna lain dari saudara dan kawan kita lainnya.

Biarlah warna kita melebur indah dengan warna lainnya menampilkan mozaik semesta yang agung tanpa harus kita kehilangan warna indah kita masing-masing.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

17 Agustus [Bila Engkau Masih Bertanya …]

Salam untuk Anda semua,

17 Agustus 1945

Setelah lebih tiga setengah abad sebelumnya, dalam kungkungan kolonial. Pada hari itu negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya.

Pekik tempik sorak membahana di seluruh persada nusantara ini merayakan saat kulminasi itu. Pedih duka lara keterjajahan sirna sudah. Mengejawantah pada preambule UUD 45 aline kedua :

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kini, 17 Agustus 2010. Hari ini tepat 65 tahun kemudian. Peristiwa bahagia itu diperingati.

Namun seketika ternodai, oleh noktah yang dititikkan pada kesucian merah putih.

… kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur …

Di manakah kini sirnanya ? Persatuan tercederai, oleh mereka yang terbutakan. Merampas kemerdekaan sesama anak bangsa. Merampas kemerdekaan berpikir bahwa negeri ini sudah merdeka.

Merongrong

Kedaulatan dipertaruhkan

Wahai engkau di sini dan di sana. Berada di manakah engkau selama ini ? Mengapakah engkau enggan membuka matamu dan terjaga dari tidur panjangmu, ketika lebih dari sebagian bangsa ini larut dalam kebahagiaan dan keharuan, merayakan pesta bangsa ?

Ke manakah engkau simpan nuranimu ? Engkau masih saja mempertanyakan kemerdekaan, meragukan pertumbuhan kemakmuran bangsa ini.

Kemanakah bilik pengertianmu kau sembunyikan ?

Tidakkah tercipta pengertian di ruang benak dan hatimu ? Dengan tega dan sadar engkau mengingkari perputaran roda masa. Dalam keyakinanmu enggan menerima kemerdekaan bangsa ini.

Riuh rendah engkau mendoktrinkan, memasung opini banyak orang, menebar agitasi … memfahamkan bahwa negeri ini masih terjajah jauh dari kemakmuran.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Engkau dalam kebanggaanmu sebagai anak bangsa, dengan nasionalisme adalah mahkotamu.

Di kedalaman manakah cintamu bersemayam kini ?

Engkau berkeliling negeri ini, mengobarkan kebencian, mewartakan segala keburukan negeri ini sebagaimana opinimu.

Kau mencaci, kau memaki … negeri ini belum makmur … perlu perubahan total. mendustakan pengertianmu bahwa di belahan bumi sana engkau pun tahu masih banyak perjuangan melawan tirani dan keganasan alam.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Di manakah belas kasihmu ? ketika engkau berkeliling dalam kemegahanmu di titik-titik pelosok keterpurukan yang engkau pilih. Dalam pongah engkau menghamburkan kemakmuranmu, engkau dengan sadar mengumbar amarahmu di hadapan mereka yang sesungguhnya berharap uluran tanganmu, berharap berkat Tuhan mengalir dari pundi-pundi kemewahan dan kekuasaanmu.

Namun wahai engkau di sini dan di sana,

Sama sekali engkau tidak bergeming. Bukan derma kau berikan, sebaliknya kebencian kepada negeri kita yang kau tanam dan siramkan ke hati mereka.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila saja negeri ini dipasrahkan kepada pengelolaanmu, apakah itu kemerdekaan yang kau harapkan selama ini ?

Sadarkah engkau jika janji kemakmuran dari bibirmu, itu telah dicatat dalam buku kehidupanmu dan dipiutangkan kepadamu ? Janji kemakmuran maka akan ditagihkan darimu kemakmuran pula. Dan itu hukum alam yang mutlak kekal.

Seberapakah kemakmuran rakyat dalam takaranmu ? Sebanding dengan harta yang telah engkau hamburkan sia-sia kah ?

Wahai engkau yang di sini dan di sana,

Masih belum cukupkah bagimu, penderitaan bangsa ini ? Dalam lantang suara dan gelak tawamu, engkau berpesta pora di atas semakin terpuruknya negeri ini sesuai skenariomu. Berharap dalam kechaosan bangsa ini, lalu engkau tampil sebagai juru selamat atas kesia-siaan yang telah engkau ciptakan.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila engkau masih bertanya, apakah bangsa ini sudah merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur atas pengertianmu.

Maka dalam pengertianku yang dangkal ini menjawab sebagaimana pengertianmu, Indonesia, negeri yang indah ini baru akan merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, apabila engkau telah dengan segenap keikhlasan dan pengertianmu mengakui kemerdekaan dan kemakmuran Indonesia yang berdaulat dalam keadilan yang makmur.

Dirgahayu negeriku Indonesia.

Benar atau salah, inilah negeriku yang menjadi tanggung jawabku dan yang lainnya untuk terus mengawalnya agar tetap menjadi negara yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Blogger United Absolutely Bloggerhood [Oleh-oleh Dari Amprokan Blogger 2010]

Salam untuk Anda sekalian,

Adakah persahabatan sejati ? Ada, jawabnya.

Antara Siapa ? Blogger, jawabnya.

Ya, selama ini mungkin ada beberapa kejadian menyakitkan, berkat ternodainya kesucian persahabatan … itu kata mereka yang merasa tersakiti tentunya. Namun benarkah dalam setiap hubungan selalu berakhir sakit dengan perasaan terkhianati ? Tidak, jawabnya.

Dalam setiap hubungan, selama itu dibangun dengan fondasi ketulusan dan tidak ada motif kepentingan, pasti akan langgeng walau terpisah jarak dan waktu. Hubungan akan menjadi indah dan terjaga langgeng tanpa harus menuntut kehadiran fisik dan kedekatan jarak.

Hal ini telah dibuktikan dengan nyata dalam event temu blogger yang digagas dan dirancang dengan apik oleh Be-Blog dalam acara Amprokan Blogger bertajuk Blogger Cerdaskan dan Hijaukan Bekasi pada tanggal 6-7 Maret 2010 kemarin.

Acara dimulai pada hari Sabtu tanggal 6 Maret 2010 pagi di Wisma Haji kota Bekasi. Ratusan blogger dari berbagai kota  Depok, Jakarta, Bogor, Bandung, Bekasi, Kuningan, Karesidenan Surakarta [Solo, Surakarta, Karanganyar], Ponorogo, Mojokerto, Pontianak, Cirebon, Jogja, Tangerang, Palembang, Surabaya, Pekanbaru, Karawang, Cikarang, Ngawi, Kubu Raya, Pasuruan, Banyumas, Brebes, Kudus, Purwokerto, Balikpapan, Magelang, Gresik, Malang, Madiun, Ponorogo, Bangkalan, Makassar, Aceh, Ngawi, Riau, Wonosobo, Padang, mulai berdatangan saling sapa dan berbagi cerita sebelum memulai acara di hari pertama.

Setelah semua blogger melakukan registrasi ulang dan menerima goody bag dari panitia,  satu persatu mulai menaiki bus sesuai dengan pembagian bus yang telah ditetapkan panitia.

Dengan pengawalan polisi, iring-iringan lima bus bergerak meninggalkan Wisma Haji kota Bekasi yang juga menjadi tempat menginap bagi para blogger peserta, menuju Tugu Bina Bangsa, yang merupakan maskot kota Bekasi, menggambarkan semangat perlawanan para pahlawan mengusir penjajah.

Dari Tugu Bina Bangsa, rombongan blogger bergerak menuju Sentra Usaha Kecil Menengah [UKM] boneka HIKPID. Para blogger disambut oleh warga dan pelaku UKM dipimpin Bapak Wakil Walikota Bekasi H Rahmat Effendi, SSos, MSi. Para blogger dengan senang hati menerima souvenir bantal cinta.

Perjalanan dilanjutkan ke TPA Sumur Batu Bekasi. Di sana para blogger diberikan pengetahuan tentang manfaat pengolahan sampah menjadi pupuk dan pembangkit tenaga listrik melalui pengolahan gas metana.

Perjalanan dilanjutkan ke Kota Jababeka di Cikarang. Para blogger dapat menikmati keindahan dan kelengkapan serta keasrian Kota Jababeka. Para blogger disambut hangat di President University, dan mendapatkan penjelasan detail dari Bp. Suresh Kumar [President Director PU] tentang visi misi pembangunan dan pelaksanaan kegiatan akademik di PU. PU didirikan untuk mendukung program pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendidik para siswanya menjadi para ahli yang siap pakai melalui pendidikan intelektualitas dan mental kepemimpinan. PU menerapkan sistem biaya pendidikan tetap untuk masa 2.5 tahun lulus, yaitu semua biaya dibayar di muka dan para siswa dibebaskan segala macam biaya pendidikan lagi selama masa belajar mereka, berapa kali pun mereka mengulang mata kuliah karena kurang nilai. Para siswa diwajibkan tinggal di dormitory pada masa setahun pertama. Di dormitory para siswa memperoleh pendidikan sosial dan kepemimpinan dengan program lomba antar blok, yang dimaksudkan untuk menilai seberapa mampu seorang siswa yang ditunjuk sebagai ketua camp [RT] dormitory dalam mengatur di masyarakat kecilnya. PU menugaskan dua ketua asrama, yang dipilih dari latar belakang militer.

PU juga berprinsip tidak ingin meluluskan pengangguran dengan cara menerima siswa hanya sesuai dengan permintaan perusahaan di lingkungan Jababeka. Para siswa wajib program ekstensif / permagangan selama 1 tahun. Setelah itu menyusun skripsi. Dan otomatis siswa setelah wisuda akan langsung mendapatkan penempatan di perusahaan magangnya.

[Ssssst, ini bisa jadi inspirasi untuk lomba blog UII yang bertema Kampus Idaman 🙂 ]

Para blogger juga cukup memperoleh ilmu berkat pemaparan tentang alasan pembangunan dan tujuan jangka panjang, serta kelengkapan fasilitas kota Jababeka oleh GM Residential Commercial Kota Jababeka, Bp. I Made Surya Darma.

Kegiatan anjangsana di Kota Jababeka ditutup dengan city tour dan aksi penamaman pohon di Botanical Garden, yang dipimpin oleh Bp Eka Budianta. Para blogger banyak belajar tentang pohon di mini kebun raya ini. Dan juga bahwa rumah Tuhan ternyata ada di pohon, itulah mengapa alasan kita selalu memanjatkan doa :), cara indah Pak Eka untuk menanamkan rasa cinta kepada pohon.

Dengan pemotongan tumpeng perayaan ulang tahun ke-3 Botanical Garden dan pelepasan balon ke udara, para peserta beria-ria meninggalkan Kota Jababeka.

Di sini kebahagiaan blogger semakin lengkap, berkat masih dengan pengawalan ditambah lambaian tangan warga yang terusik kepenasarannya akibat bunyi sirene motor polisi, kelima bus yang mengangkut para blogger kembali ke kota Bekasi menuju kediaman dinas Bapak Walikota Bekasi untuk acara sarasehan. Para blogger benar-benar sangat diistimewakan, dengan pengawalan polisi tiada putus menembus tol yang dalam keadaan macet menjadi lancar dan punya hak didahulukan … [semoga para blogger menjadi tetap rendah hati ya hehehe].

Sambil menunggu acara sarasehan dimulai, para blogger ditantang membuat liputan kegiatan hari pertama Amprokan Blogger dalam perlombaan live blogging bertema Aku Cinta Bekasi berhadiah total Rp. 22,5 untuk tiga blogger pemenang.

Tepat pukul 19.30 wib acara sarasehan dimulai dengan meriah di halaman rumah dinas walikota Bekasi, Bp. Mochtar Mohamad.

Acara dibuka dengan sambutan dari Mas Aris, ketua panitia Amprokan Blogger, dilanjutkan oleh Mas Enda Bapak Blogger Indonesia.

Dalam sambutannya, Pak Mochtar memaparkan tentang kota Bekasi dan kemajuannya. Beliau juga menjelaskan bahwa hanya melalui sampah saja Pendapatan Aseli Daerah [PAD] Bekasi mencapai Rp 30.4 M per tahunnya. Melalui sampah di TPA Bantar Gebang, kota Bekasi berhasil memproduksi 2MW listrik yang menerangi 100 KK, dari target 30MW. Selain listrik, kata Pak Mochtar, Pemkot Bekasi juga mengelola sampah menjadi pupuk dengan hasil produksi rata-rata 200 ton per hari. Untuk menggenjot produksi pupuk. Pemkot Bekasi juga membuat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus memproduksi pupuk. BUMD itu ditargetkan memproduksi 50 ton per hari.

Masih kata beliau, ada kabar bagus bagi pecinta sepakbola di Bekasi, bahwa dalam bulan Maret ini akan dilakukan peletakan batu pertama pembangunan stadion berstandar internasional di Bekasi untuk mendukung kesebelasan Bekasi yang telah masuk ke divisi A.

Setelah dipuaskan dengan jamuan yang menggugah selera, para blogger kembali dimanjakan dengan penampilan band dari para pemenang lomba band siswa dari acara perayaan ulang tahun ke-13 kota Bekasi. Juga aksi panggung Delilah, band yang keseluruhan personilnya puteri.

Puncak kehebohan para blogger, ketika Bang Jelly Tobing tampil prima besama band-nya. Juga ketika Pak Walikota dengan apiknya menyenandungkan tembang Akhirnya Kumenemukanmu-nya Naff. Hal ini menimbulkan celetukan dari kawan blogger dari TPC : Hebat, walikota biasanya nyanyi Widuri, Pak Mochtar nyanyi Naff .. bener-bener gaul. 🙂

Selepas penampilan memukau Pak Walikota, blogger makin dimanjakan dengan kehadiran Iyeth Bustami, yang selain menampilkan lagu Laksmana Raja di Laut, para blogger dikejutkan dengan dahsyatnya ia menyanyikan lagu New York New York yang njazzy sekali.

Hari semakin larut, acara di kediaman Pak Mochtar disambung oleh kehadiran Mbak Riesa Amrikasari yang ngetop sebagai Roseheart writers, dan Mbak Jane Shalimar. Dalam acara talk show yang dipandu Mas Eshape itu, banyak ilmu kepenulisan dari Mbak Riesa, terpenting adalah terbuka lebar pintu bagi para blogger untuk masuk dapur redaksi buku. Ilmu penting adalah masalah kaidah bahasa saja, dalam waktu ini masih banyak penulis yang belum memahami tentang cara penulisan kata depan.

Acara hari pertama dipungkasi dengan tantangan Pak Mochtar kepada para blogger untuk membuat tulisan di blog para blogger bertema kesan Amprokan Blogger, hingga Pak Mochtar punya alasan untuk menggelar acara temu blogger sebagai agenda tahunan kota Bekasi, melalui tulisan blogger tentang Amprokan Blogger. Blog terbaik akan dihadiahi tiket pesawat gratis untuk kembali ke kota blogger. Bila yang menang dari Bekasi, hadiahnya menginap gratis di Hotel Horizon Bekasi.

Para blogger menghabiskan malam pertamanya di wisma haji Bekasi dengan ngobrol begadang, dan sebagian lagi langsung mengejawantahkan tantangan Pak Walikota, lek-lekan sibuk merangkai kata mengharap peruntungan hehhehe.

Hari kedua Amprokan Blogger, dengan mata masih merah dan sipit berkat ngantuk dan kelelahan. Tak mampu memupuskan semangat para blogger untuk bersiap-siap menuju Aula Pusdiklat Mahkamah Konstitusi, mengikuti agenda hari kedua Seminar Interaktif bertopik Konsep Cybercity, Peran Komunitas Blogger dan e-Government.

Seminar yang bertabur ilmu dan doorprize itu dipandu oleh Mas Budi Putra, Mas Romi Satrio Wahono yang ternyata adik kelas saya di SD Sompok Semarang [berani-beraninya dia melangkahi sukses kakak kelasnya 🙂 ], dan pak Nukman Lutfie yang praktisi jejaring sosial itu.

Dalam amprokan blogger ini dilengkapi dengan aksi sosial para blogger untuk berpartisipasi dalam Sejuta Buku Untuk Anak Indonesia [SEBUAI], dengan menyumbangkan buku anak-anak yang masih layak baca.

Demikianlah segala kebahagiaan dan kebersamaan indah dua hari di Amprokan Blogger yang sukses berat itu.

Sampai kita bertemu kembali sahabat blogger-ku, sampai kita mengunduh manfaat lebih banyak lagi melalui blogging sehat sebagaimana telah diajarkan oleh Mas Budi, Mas Romi dan Pak Nukman.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Kampusku Riwayatmu Kini

Salam dari Rumah Sadhana,

Membaca pamflet lomba blog UII [Universitas Islam Indonesia], ingatan Denmas Detelu terbawa kembali ke masa remajanya tatkala ia masih berstatus sebagai mahasiswa. Kala itu betapa bahagianya ia menjadi mahasiswa. Bahagia bagaimana di hari pertama masa opspeknya Denmas Detelu sudah berhasil dipilih mengantarkan teman perempuannya kembali ke tempat kost-nya untuk mengambil kelengkapan opspek yang ketinggalan, yang karenanya telah memberikan kepada Desmas Detelu pengalaman pertama naik taxi dengan segala keluguannya. Betapa bahagianya Denmas Detelu merasakan jatuh cinta sesungguhnya kepada dua orang kawan mahasiswinya walau isi hatinya itu tidak pernah terungkapkan hingga selesai masa perkuliahan karena tidak mendapatkan dukungan nyalinya. Bagaimana Denmas Detelu menjadi sangat rajin hadir di salah satu mata kuliah demi menikmati keayuan ibu dosennya. Dan masih banyak lagi keindahan dan kebanggaan menjadi bagian kampus indah di selatan kota gudeg itu.

Kampus Denmas Detelu di masanya memang cukup terkenal dan diminati oleh para orang tua yang akan memahasiswakan anak-anak mereka. Berbagai julukan disandang kampus merah bata itu, mulai perguruan tinggi favorit karena biaya masuk dan kuliahnya yang sangat murah [sebagai bocoran, waktu itu Denmas Detelu cuma membayar Rp. 75.000,00 saja untuk uang sumbangan pembangunan], perguruan tinggi idaman [bagi para calon mahasiswa kampus lain] yang berbela-bela mengikuti perkuliahan di sana karena terkenal oleh adanya ibu dosennya yang ayu, perguruan tinggi terbaik pun layak disandangkan ke kampus di mana Denmas Detelu mengenyam pendidikan tinggi karena [barangkali] ketidaktegaan pihak yayasan untuk men-DO kan mahasiswa yang “enggan” lulus segera sehingga banyak yang mendapat gelar MA [mahasiswa abadi] 🙂 . Termasuk julukan “sangar” karena di setiap kelas perkuliahan selalu saja muncul nama salah satu genk yang cukup disegani di kota pendidikan itu dengan cat berukuran huruf besar-besar. Meskipun telah berulang kali dicat ulang temboknya, toh tidak menyurutkan nyali penulisnya untuk menghidupkan kejayaan genk ngeri itu di kampus itu dengan mengecatkan ulang nama genk sangar itu di temboknya. hiiiyyy.

Namun kini, empat belas tahun sesudah Denmas Detelu diwisuda, semua kenangan indah itu hanya menyisakan pagar seng usang yang mengelilingi enam hektare lahan menjadi saksi bisu bahwa di situ pernah berdiri megah kampus idaman favorit terbaik. Hanya gapura dengan nama dan logo kampus, yang masih menjadi prasasti.

Gempa bumi hebat empat tahun lalu telah meluluhlantakkan keperkasaan tembok kampus Denmas Detelu. Namun Denmas Detelu tidak rela jika peristiwa bencana alam itu disebut sebagai penyebab keruntuhan kampusnya. Kampus itu runtuh karena keangkaramurkaan.

Jauh sebelum peristiwa gempa bumi hebat itu, benih-benih kehancuran sudah menjalar merapuhkannya. Lihatlah institusi yang selayaknya menyediakan suasana nyaman dan mendidik, telah berubah menjadi padang kurusetra di mana dua kekuatan nafsu berkuasa saling bertikai memecah kebersamaan untuk satu tujuan ambisi kekuasaan. Pendidik terpecah saling menjatuhkan, pun mahasiswa/mahasiswi terperangkap sebagai amunisi penghancur untuk dua kubu berseteru.

Kepedihan selalu merongrong hati Denmas Detelu setiap kali ia melewati “tanah kosong” itu. Bukan karena sedih kesulitan melakukan legalisasi ijazah, toh masih ada kopertis. Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat ini, mengapa ? Mengapa mesti kemegahan itu hancur bukan oleh kekuatan eksternal ? Mengapa justeru digerogoti dan dihancurkan sendiri dari dalam oleh kekuatan yang seharusnya memperkokohnya ?

Kini empat tahun setelah peristiwa “keruntuhan fisik” kampusnya, banyak di tempat lain Denmas masih menyaksikan pembelokan fungsi dan misi awal sebuah institusi pendidikan dibangun. Misi penciptaan intelektualitas mumpuni sebagai pembangun bangsa, kini telah menjadi kendaraan bagi pribadi-pribadi yang haus dengan kekuasaan. Lihatlah bagaimana dengan brutalnya anak-anak muda lugu itu kini menjadi cyborg yang saling serang dan merusak fasilitas pencerdasnya. Lihatlah bagaimana “calon pemimpin” yang senantiasa mereka klaimkan sendiri, mereka bantah dan ingkari sendiri dengan turun di jalan-jalan merusak fasilitas umum demi membela keangkaramurkaan.

Tak bisa ditahan, bulir-bulir hangat bergulir dari kelopak matanya meleleh membasahi wajah Denmas Detelu. Bukan karena haru, tapi keperihan yang mendalam.

Kemanakah institusi baik itu ?

Kemanakah jiwa – jiwa baik pencetak generasi unggul itu ?

Kemanakah keluguan tulus untuk mereguk ilmu-ilmu kebaikan itu ?

Denmas Detelu berharap, semoga dengan ajang kompetisi ini.  Universitas Islam Indonesia yang bertetanggaan dengan “kampus yang hilang”, yang menjelang melakukan pemilihan pemimpin barunya, mampu menjadi titik awal kebangkitan kembali misi pencerdasan dan pembangunan bangsa yang adil makmur merata. Semoga dimulai dengan pemilihan pemimpin UII yang damai dan berzirah kehormatan kemegahan kampus sebagai institusi intelek, akan menjadi penawar bagi virus-virus kehancuran yang sedang menjalari negeri tercinta ini, dengan perlombaaan menuju perguruan tinggi terbaik, idaman dan favorit.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Tahun “Logo” Baru

Salam untuk Anda semua,

21 Pebruari 2008

Awalnya hanya buah dari rasa penasaran dan keingintahuan akan blog, hadirlah sebuah prasasti bergambar ikan bertajuk “Menciptakan Kegemilangan”.

9 September 2008

Seiring dengan bertumbuhnya atensi sahabat pembaca yang meninggalkan jejak, prasasti ini dikukuhkan namanya menjadi RUMAH SADHANA.

Januari 2010

Tetap setia kepada spirit awal pembangunan RUMAH SADHANA, yaitu keinginan untuk menjadikan “rumah” ini sebagai wahana perenungan dan rekoleksi diri, juga kepada para sahabat pembaca yang berkenan dengan buah-buah perenungan di dalamnya.

Dengan ini, mulai Januari 2010 RUMAH SADHANA hadir dengan logo baru.

Logo baru ini bermakna :

  • Rumah dengan Atap dan Fondasi kokoh, bermakna sebuah tempat berlindung yang nyaman dan memberikan ketentraman serta perlindungan yang aman kepada siapa pun yang berteduh / tinggal di dalamnya. Dengan pintu yang lebar dimaksudkan RUMAH SADHANA terbuka lebar kepada siapa saja yang ingin berkunjung.
  • Ikan, bermakna berkelimpahan.

Terimakasih untuk apresiasi dan diskusi-diskusi baik dari para sahabat pembaca yang telah menjadikan RUMAH SADHANA semakin semarak dan indah.

Selamat datang kepada sahabat [baru] pembaca lainnya yang bertandang atau singgah di RUMAH SADHANA.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko