N(e)geri Tanpa Medsos

Dear,

Bingung. Itu yang terpikir pertama saat saya hendak memilih kalimat utama tulisan saya kali ini. Bingung, yah saya memang benar bingung. Karena post ini adalah tulisan saya yang pertama sejak publikasi tulisan terakhir saya tanggal 26 Maret 2011 lalu. Bisa dibayangkan, sebuah rentang waktu yang sangat lama bagi seorang blogger ya. Lebih enam tahun seorang Blogger membiarkan blog yang dibangunnya terlantar terabaikan, luar biasa hehehe.

Saya teringat kembali dengan Rumah Sadhana ini setelah di media (online dan elektronik) – saya memang sudah jarang menjamah media cetak lagi 🙂 – mulai suka mewartakan wacana pemblokiran beberapa media silaturahmi seperti Telegram, WA atau bahkan konon facebook dan youtube pun tersebutkan pula masuk dalam target incaran blokir, jangan – jangan Twitter, Instagram dan Path juga mulai dag dig dug (bukan local blog provider lhoh ya). Bayangkan dunia tanpa WA, tanpa Telegram, tanpa Facebook, tanpa Youtube dan lain – lain yang saya belum kenal.

Meski ada keasyikan dan menghadirkan sense of romantisme tersendiri ketika hendak menyapa keluarga atau sohib atau kekasih hati bahkan, kita yang di rantau harus membeli kertas surat dan pena, kemudian menuliskan secara manual (tulis tangan – red) beribu – ribu abjad tanpa dibatasi kuota maksimal karakter, berikutnya ke warung bila ada (kalau tidak ada ya mesti ke kantor pos) beli perangko terus cari bis surat, atau biar keren kirim pake pos kilat khusus atau pos tercatat. Ngeng ngeng ngeng ngeng … berlaku sama jika pakai pos express, dengan Telegram konvensional layanan Perumtel yang bisa diatur – atur jumlah kata atau beritanya sesuai biaya yang dikehendaki, pun seandainya ini alternatif yang dipilih paling cepat keesokan harinya baru bisa sampai di alamat orang tua kita atau penerima surat lainnya. – Diterima, dibaca, dipahami (mungkin perlu juga melankolisasi pakai nangis – nangis dulu, bila isi surat mengandung konten mengharu biru mewartakan transfer uang bulanan yang belum diterima dari ortu dan lain – lain). Baru kemudian dengan proses panjang yang sama dilakukan oleh ortu atau penerima untuk membuat surat balasan. A ha 🙂

Proses jalan panjang perjalanan sebuah surat bolak – balik untuk membangun silaturahmi interaktif, bayangkan. Memang benar ada sisi daramatisasi proses membangun emosi saat menantikan datangnya surat hingga sampai diterima dan dibaca (ingat lagunya Mr. Postman dari group B*Witched dan Surat Cintaku dari Vina Panduwinata ?), tapi kan … O la la.

Jadi, saya berdoa semoga penutupan massal beberapa nama media komunikasi online dan / atau elektronik sebagaimana konon diwacanakan oleh pemerintah kita, hanya sebuah wacana dan tidak jadi direalisasikan karena kekuatiran yang terbangun sudah ditindaklanjuti dengan baik dan kooperatif oleh penyedia layanan. Hal lain, mengingat disamping penyimpangan yang sudah diindikasikan telah dilakukan oleh kelompok tertentu untuk mewujudkan misi tidak terpujinya, tetaplah jauh lebih banyak user baik nan bijaksana yang menggunakan akun-nya dengan dan untukmaksud – maksud yang baik pula. Betul tidaak ?

Banyak lho orang baik yang menggunakan media sosial untuk membagikan kebaikan, seperti Gus Sholah, Gus Mus, Gus Can, Pak Tifatul Sembiring, (yang terakhir disebut termasuk aktif lho di twitter 🙂 ) dll yang menggunakan akun twitter beliau semua untuk membagikan nasihat – nasihat kebaikan dari sisi keyakinan mereka namun tetap bernuansa universal bisa diterima semua umat.

Tapi ngomong – ngomong, kalau benar semua jadi diblokir … bisnis warpostel kayanya menggiurkan lhoh, bisa jadi peluang bisnis profitable. Hehehehehe.

 

Salam

Ben Sadhana

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s