Mau Dibawa Kemana … Negeri kita ?

Salam untuk Anda sekalian,

Denmas Detelu meraih slot kunci pagar rumahnya, membukanya. Kelelahan yang mengelayutinya sepanjang perjalanan menuju rumah dari tempatnya bekerja, perlahan berganti dengan kecerahan tatkala dari balik pintu ruang tamunya muncul sosok kecil putranya menyambut, “Bapak, Mamah Bapak Mah.”

Sekejab tubuh mungil montok itu sudah berada dalam gendongan Denmas Detelu.

“Bapak, enak … enak … enak.” Rengek manja si kecil Atya sambil memainkan rambut kumis bapaknya.

“Eh, anak pinter harus salim sama Bapak dulu. Mosok oleh-oleh dulu yang disambut, gak kangen sama Bapak ya ? Suara Nyai Detelu terdengar merdu.

Denmas Detelu mengecup gemas pipi gembil putranya.

“Ayo sini, turun sama Mamah dulu. Biar Bapak lepas sepatu dan masuk rumah dulu.” Lanjut Nyai Detelu sambil mengambil alih tubuh Atya dari suaminya.

Di dalam ruang tamu, Atya sibuk menggeledah tas yang biasa menemani bapaknya dalam bekerja. Wajahnya menyemburatkan kegirangan, “enak .. enak, Bapak yah ?” Suara bocah yang sedang belajar berkata-kata itu semakin menyejukkan hatinya. Tangan Atya mengacung-acungkan dos kecil berisi kueh yang sengaja Denmas Detelu beli di perjalanan pulang.

“Iya, itu untuk Atya putra Bapak”

“Terima kasih ya Bapak. Ayo bilang apa sama Bapak ?”

“Wah, bukan anak pinter itu namanya kalau diam saja.” Kata Nyai Detelu ketika dilihat putranya itu sudah asyik mengemil kueh oleh-oleh.

“Sudah biar, gak apa-apa Nyai, biarkan saja jangan diganggu. Lumayan dia sudah mulai mau maem walau sedikit.”

Nyai Detelu mengangguk, “Iya Mas, tumben dia mau maem roti.”

“Lho, lha tumben juga Kangmas tidak bawakan susu ultra seperti biasanya ?”

“Iya, sengaja aku tadi tidak beli susu. Biar dia belajar mengenal dan merasai makanan selain susu. Moso sudah 2 tahun cuma nyusu thok.” Jawab Denmas Detelu sambil menuju kamar.

“Iya, Mas. Lagipula kan juga lagi hangat-hangatnya berita susu formula mengandung bakteri to di tivi. Ngeri juga saya jadinya.”

“Handukku mana Nyai ?” Terdengar suara Denmas Detelu dari dalam kamar.

“Oh, iya, itu Mas sudah saya taruh di atas rak baju Atya. Mandinya jangan lama-lama, kemarin baru sembuh masuk anginnya to.” Imbuh Nyai Detelu mengingatkan.

Tidak ada jawaban terdengar, cuma suara pintu kamar mandi ditutup saja.

Denmas Detelu keluar dari dalam kamar, sudah klimis berganti pakaian, menuju kursi dimana Nyai Detelu sedang memangku Atya. Dilihatnya Atya sudah asyik dengan botol dot susunya.

“Mau langsung dahar, Mas ?” Tanya Nyai Detelu.

“Tidak Nyai, nanti saja.” Biar si Atya selesai dengan dotnya dulu.

“Ini koran baru Nyai ?” Denmas Detelu meraih surat kabar sore yang sudah lecek itu.

“Iya, tadi sudah didului sama Atya.” Jawab Nyai sambil tersenyum geli melihat suaminya memilah-milah koran baru yang sudah ada yang tersobek halamannya itu.

“Ya, tanda anak bakal pinter, ndak apa-apa to ya Atya.” Kata Denmas Detelu sambil mengusap kepala putranya. Tidak ada respon dari Atya kecuali matanya yang kriyip-kriyip entah menikmati enaknya susu buatan ibunya atau karena nyaman diusap-usap kepalanya.

“Ini koran koq beritanya cuma Mesir, Cikeusik, Temanggung dan masih juga tentang Gayus to ? Selebihnya berita kecil-kecil tapi banyak soal kejahatan dan demo anarkis mahasiswa yang bersitegang dengan aparat keamanan dan juga perkelahian antara warga kampung di daerah.”

“Lha ya memang itu to Mas trendnya berita sekarang ini. Soal wacana suksesi kepemimpinan di Mesir, terus PR lama pemerintah mendamaikan masyarakat Ahmadiyah dengan saudara kita Muslim, masalah mafia pajak vs apa itu, lembaga yang ada Denny Indrayana-nya Mas ?”

“Ah, aku juga lupa namanya.” Pendek Denmas Detelu menjawab. Pandangannya masih asyik tertuju pada lembaran koran di hadapannya.

“Malah terbaru ada berita yang cukup meresahkan kami para ibu yang punya anak kecil, tentang susu formula yang mengandung bakteri E-Zakazii itu.” imbuh Nyai Detelu.

“He eh.”

“Iya Mas, yang bikin saya kuatir itu koq sampai sekarang masih belum juga ada klarifikasi dari pemerintah yang mengumumkan merek-merek susu berbakteri itu.”

“Lho bukannya, sudah ada klarifikasi kemarin to, dari Bu Kepala BPOM bahwa susu-susu yang beredar di pasaran bebas dari bakteri.” Jawab Denmas Detelu, dia menoleh sesaat kepada isterinya.

“Iya Mas, tapi masalahnya kan beritanya tidak terus berhenti setelah ada keterangan itu, malah jadi semakin gencar disiarkan di tivi-tivi. Saya kan juga jadi ikut panik Mas. Apalagi putera kita ini kan belum bisa mengurangi konsumsi susunya.”

Denmas Detelu merasakan kecemasan isterinya.

Ya sudah ndak usah terlalu dirisaukan to Nyai soal susu itu. Toh sudah ada pernyataan dari pemerintah tentang tidak adanya bakteri terkandung di susu-susu yang ada di pasaran.  Lagipula bakteri itu kan ditemukan di susu-susu objek praktek kampus. Ya bisa saja to, susu sampel test itu kebetulan karena kondisi yang tidak higienis saat percobaan hingga timbul bakerinya. Test itu juga bersifat independen tidak melibatkan atau diketahui oleh lembaga yang berkompeten dengan masalah kesehatan susu, misalnya analis atau ahli dari departemen kesehatan atau dari BPOM. Ndak usah digagas lah, bikin tambah parno saja.”

“Saya maunya ya begitu, tidak mengambil pusing. Lha tapi beritanya ndak surut-surut di tivi je, Mas.”

“Ya itulah Nyai, semakin banyak stasiun tivi, semakin banyak media cetak, tapi beritanya ndak joss. Tidak ada yang berinisiatif untuk melakukan diversifikasi berita. Semua melakukan eksplorasi membabi buta dengan slogan ekslusivitas beritanya. Berita yang sama diputar berulang-ulang gantian di setiap tivi dengan sedikit bumbu wajah reporter atau anchornya yang dicemberut-cemberutkan, dipanik-panikkan, dipletat-pletotkan, pokoknya ya gitu deh. Semuanya terjebak dalam trend berita. Malah lucunya, ada to berita di tivi ini tapi bagian pojoknya ada seperti bekas plester menutupi simbol atau logo tivi lainnya. Jadi mereka itu pinjam gambar dari stasiun tivi lain untuk disiarkan di tivi mereka. Lha kan ndak mbois bener to ?” Sengit Denmas Detelu.

“Lho koq panjenengan malah jadi yang emosi to, ndak baik ah.” Canda Nyai Detelu sambil mencubit pinggang suaminya yang semakin nggajih itu.

“Lho ini bener lho Nyai. Para juragan tivi dan koran itu kan sebenarnya mengemban tugas mulia memberikan informasi yang cukup, representatif, lugas, inspiratif dan mendidik kepada para pemirsa dan pembacanya. Lha kalau kejadiannya seperti sekarang ini, semua tivi dan koran jor-joran saling memberitakan berita yang sama dan menurut saya ndak ada manfaatnya itu …”

“Lho sik sik sik, koq ndak ada manfaatnya. Maksudnya gimana to Mas ? Potong Nyai Detelu.

“Iya, ndak ada manfaatnya. Maksudku begini lho Nyai. Coba lihat, sekarang ini kan yang musim setiap hari berita itu kalau ndak soal demo kekecewaan rakyat Mesir akan Presidennya yang katanya diktator itu, terus kejadian di Cikeusik Pandeglang dan Temanggung, Mafia Pajak, Kasus travel check dari Bu Miranda yang sedang membuat para anggota dewan menjadi gerah karena menghitung hari menunggu giliran dicokok dari kediamannya, kasus Bank Century, dan terbaru ya soal susu berbakteri itu. Pemerintah sudah mengeluarkan pernyataan, seharusnya itu kan cukup dijadikan janji untuk percaya, tapi kenapa tivi seolah tidak mau tahu dan tetap saja mengabaikan janji permerintah dengan tetap terus memanas-manasi pemirsa tivi dengan pemberitaan mereka yang panas dan dipanas-panasi terus itu.”

“Sebentar ya Mas, Atya sudah bobok lelap sepertinya. Saya pindahkan ke kamar dulu.” Kata Nyai Detelu.

“Iya Nyai.” Denmas Detelu menoleh ke arah Atya yang dilihatnya menggeliat kecil dalam gendongan ibunya menuju kamar.

Terdengar suara tebah [sapu lidi] dikibas-kibaskan mengusir nyamuk dan suara obat nyamuk semprot dari dalam kamar.

“Lalu gimana Mas ?” Tanya Nyai Detelu sesaat setelah keluar kembali dari dalam kamar.

“Ya mestinya kan warta berita itu fungsinya untuk memberikan keterangan yang secukupnya. Yang terjadi sekarang kan terkesan lebay. Semua tivi balapan tayangkan talkshow dengan narasumber para pakar dan pengamat yang ndak jelas siapa sebelumnya, tiba-tiba dimunculkan dengan opininya yang terbungkus suara menggebu-gebu menghakimi. Yang terjadi bukannya konklusi yang solutif, malah justeru hati sebagian masyarakat kita terprovokasi untuk membenci satu kelompok dan mendukung kelompok lain. Sebenarnya kan tidak bisa gitu, media elektronik atau cetak harus memposisikan diri sebagai saluran informasi yang independen, netral tidak memihak opini dari para pengamat atau pakar. Mereka kan lebih bagus kalau mau ngundang pakar atau pengamat mbok ya yang netral dan tidak terikat oleh faham tertentu.”

Denmas Detelu menghela nafas, tangannya meraih teh manis hangat dari meja di sebelahnya, diseruputnya.

Lalu, “Terus lagi Nyai, berita terbaru yang disiarkan terkait kasus Pandeglang dan Temangung bukan penyelesaian masalah dengan mengejar dan mengusut tuntas pelaku dan motif yang melatari perbuatan tidak terpuji mereka, malah pencopotan jabatan para pejabat kepolisian di wilayah dimaksud. Ya bukan berarti tidak boleh mencopot atau apalah istilahnya, penonaktifan misalnya. Tapi mestinya kan sanksi itu berupa sanksi administratif terlebih dahulu dengan tuntutan untuk penuntasan kasus hingga ke akarnya. Jadi terkesan tidak solutif ke akar masalah, malah memperlama penyelesaian penyidikan dengan mendudukkan  orang-orang baru yang belum kenal dengan wilayah dan karakter kemasyarakatannya, diberikan mandat untuk melanjutkan penyidikan.”

“Benar juga ya Mas, saya terkadang juga bertanya-tanya merenungi kata-kata para “pakar dan pengamat” di berbagai tivi itu. Mereka mengomentari dan beropini untuk perbaikan Mesir dengan seolah-olah mereka sangat mengenal jeroannya Mesir. Dan seolah mereka sangat yakin opininya akan mampu menyelesaikan konflik yang mendera negeri Firaun itu. Lucunya mereka malah sebelumnya belum pernah terdengar suara solusinya untuk penyelesaian masalah dalam negeri kita ya Mas” Tanggap Nyai Detelu.

“Dan penyelenggara media sangat bangga dengan program mereka itu.” Imbuh Denmas Detelu.

“Benar Mas. Ya mudah-mudahan segala masalah yang mendera di negeri kita ini terkait masalah toleransi dan kerukunan umat beragama dan berkeyakinan serta masalah-masalah besar lain yang masih belum tertuntaskan dapat segera diatasi. Dan para penyelenggara media segera sadar dan kembali kepada fungsi mereka dengan mengedepankan peranan informasi dan pengetahuan dalam memberi inspirasi kemajuan bangsa.

“Benar juga Nyai. Semoga pula kepada pemimpin negeri kita ini diberikan terang dan kemampuan untuk mengawal negeri tercinta kita, dan menuntaskan masa baktinya hingga pemilu yang akan datang tanpa adanya gangguan. Dan juga agar para lawan politik pemimpin kita diberikan terang hatinya bahwa kemajuan bangsa kita ini hanya bisa dicapai dengan persatuan antar semua elemen masyarakatnya.”

“Ah ya, saya tadi lihat si Atya mainan kertas dari meja Kangmas. Yang pas saya baca kalau ndak salah info  Kontes Ngeblog Inspiratif Visimaya, ya ?”

“Ah iya, Nyai. Lupa saya, untung diingatkan, ini hari terakhir kontes tahap pertamanya.” Denmas Detelu terhenyak.

“Saya akan angkat topik diskusi kita barusan deh untuk materi tulisan saya.” Imbuh Denmas Detelu.

“E e, nulisnya nanti. Makan malam dulu, Mas. Kebiasaan kalau lupa makan malam suka pusing to keesokan harinya.” Sergah Nyai Detelu yang melihat Denmas Detelu beranjak hendak menuju meja kerjanya.

“Eh iya Nyai, makan dulu kita.” Kata Denmas Detelu sambil menggamit lengan isteri tercintanya itu membimbingnya menuju ruang makan.

Demikianlah diskusi mesra keluarga Detelu.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

p.s. :

“Wah Nyai, ini info kontes blognya ada yang ketinggalan sepertinya, info harus ke mana artikel  disubmit-kan koq tidak tersebutkan ya.”

“Ya sudah tidak apa-apa, yang penting tuliskan saja Mas. Ndak udah terpaku pada lomba, katanya mau jadi Blogger sejati yang setia berbagi tanpa pamrih.” Goda Nyai Detelu.

“Iya sih, lha tapi lumayan je Nyai janji hadiahnya. Ya sudah deh ndak apa-apa, saya tetap tuliskan saja di Rumah Sadhana, sebagai hadiah kerinduan para sahabat blogger saya dan sahabat baca lainnya.

“Ah, sudah ketemu link pendaftarannya koq Nyai, nih ada di paling bawah email yang Kangmas peroleh dari milis.”

***

Iklan

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s