Salam untuk Anda semua,

17 Agustus 1945

Setelah lebih tiga setengah abad sebelumnya, dalam kungkungan kolonial. Pada hari itu negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya.

Pekik tempik sorak membahana di seluruh persada nusantara ini merayakan saat kulminasi itu. Pedih duka lara keterjajahan sirna sudah. Mengejawantah pada preambule UUD 45 aline kedua :

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kini, 17 Agustus 2010. Hari ini tepat 65 tahun kemudian. Peristiwa bahagia itu diperingati.

Namun seketika ternodai, oleh noktah yang dititikkan pada kesucian merah putih.

… kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur …

Di manakah kini sirnanya ? Persatuan tercederai, oleh mereka yang terbutakan. Merampas kemerdekaan sesama anak bangsa. Merampas kemerdekaan berpikir bahwa negeri ini sudah merdeka.

Merongrong

Kedaulatan dipertaruhkan

Wahai engkau di sini dan di sana. Berada di manakah engkau selama ini ? Mengapakah engkau enggan membuka matamu dan terjaga dari tidur panjangmu, ketika lebih dari sebagian bangsa ini larut dalam kebahagiaan dan keharuan, merayakan pesta bangsa ?

Ke manakah engkau simpan nuranimu ? Engkau masih saja mempertanyakan kemerdekaan, meragukan pertumbuhan kemakmuran bangsa ini.

Kemanakah bilik pengertianmu kau sembunyikan ?

Tidakkah tercipta pengertian di ruang benak dan hatimu ? Dengan tega dan sadar engkau mengingkari perputaran roda masa. Dalam keyakinanmu enggan menerima kemerdekaan bangsa ini.

Riuh rendah engkau mendoktrinkan, memasung opini banyak orang, menebar agitasi … memfahamkan bahwa negeri ini masih terjajah jauh dari kemakmuran.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Engkau dalam kebanggaanmu sebagai anak bangsa, dengan nasionalisme adalah mahkotamu.

Di kedalaman manakah cintamu bersemayam kini ?

Engkau berkeliling negeri ini, mengobarkan kebencian, mewartakan segala keburukan negeri ini sebagaimana opinimu.

Kau mencaci, kau memaki … negeri ini belum makmur … perlu perubahan total. mendustakan pengertianmu bahwa di belahan bumi sana engkau pun tahu masih banyak perjuangan melawan tirani dan keganasan alam.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Di manakah belas kasihmu ? ketika engkau berkeliling dalam kemegahanmu di titik-titik pelosok keterpurukan yang engkau pilih. Dalam pongah engkau menghamburkan kemakmuranmu, engkau dengan sadar mengumbar amarahmu di hadapan mereka yang sesungguhnya berharap uluran tanganmu, berharap berkat Tuhan mengalir dari pundi-pundi kemewahan dan kekuasaanmu.

Namun wahai engkau di sini dan di sana,

Sama sekali engkau tidak bergeming. Bukan derma kau berikan, sebaliknya kebencian kepada negeri kita yang kau tanam dan siramkan ke hati mereka.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila saja negeri ini dipasrahkan kepada pengelolaanmu, apakah itu kemerdekaan yang kau harapkan selama ini ?

Sadarkah engkau jika janji kemakmuran dari bibirmu, itu telah dicatat dalam buku kehidupanmu dan dipiutangkan kepadamu ? Janji kemakmuran maka akan ditagihkan darimu kemakmuran pula. Dan itu hukum alam yang mutlak kekal.

Seberapakah kemakmuran rakyat dalam takaranmu ? Sebanding dengan harta yang telah engkau hamburkan sia-sia kah ?

Wahai engkau yang di sini dan di sana,

Masih belum cukupkah bagimu, penderitaan bangsa ini ? Dalam lantang suara dan gelak tawamu, engkau berpesta pora di atas semakin terpuruknya negeri ini sesuai skenariomu. Berharap dalam kechaosan bangsa ini, lalu engkau tampil sebagai juru selamat atas kesia-siaan yang telah engkau ciptakan.

Wahai engkau di sini dan di sana,

Bila engkau masih bertanya, apakah bangsa ini sudah merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur atas pengertianmu.

Maka dalam pengertianku yang dangkal ini menjawab sebagaimana pengertianmu, Indonesia, negeri yang indah ini baru akan merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, apabila engkau telah dengan segenap keikhlasan dan pengertianmu mengakui kemerdekaan dan kemakmuran Indonesia yang berdaulat dalam keadilan yang makmur.

Dirgahayu negeriku Indonesia.

Benar atau salah, inilah negeriku yang menjadi tanggung jawabku dan yang lainnya untuk terus mengawalnya agar tetap menjadi negara yang lebih baik sebagaimana dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan