Salam untuk Anda sekalian,

Persetujuan dan penolakan, akan selalu berpasangan mengiringi perjalan hidup setiap manusia. Entah itu dari orang lain atau bisa saja dari pribadi sumber asalnya.

Keputusan seseorang adalah sebuah bentuk dari persetujuan atau penolakan dari dirinya. Seorang yang bertindak ramah adalah keputusannya untuk menghindari perseteruan, seorang siswa yang memilih rajin belajar adalah keputusannya untuk menolak menjadi siswa dengan nilai akademik tidak baik. Demikian pun seorang yang bersahaja adalah keputusannya untuk tetap memperoleh simpati dari lingkungannya.

Tidak ada dalil khusus tentang hak memutuskan. Bahkan Tuhan pun walau telah menyediakan dan memberikan panduan kebaikan dan hal tidak baik, memberikan keluasaan kepada siapa pun untuk memutuskan pilihannya masing-masing sesuai dengan persetujuan batinnya. Tentu saja Tuhan Maha Baik tetap akan setia mendampingi dan memberikan pengingatan-pengingatanNya melalui peristiwa-peristiwa yang kemudian mengikuti tindakan / sikap yang kita pilih. Termasuk menyediakan pintu ampunan atas pertobatan.

Saya percaya bahwa sering kita walau telah tahu rumus kebaikan itu, namun kita akan mengupayakan sebuah toleransi bila menemukan celah untuk tidak konsisten. Benar ?

Hal ini saya alami dan harus saya amini sendiri, ketika saya di satu kesempatan menyaksikan siaran televisi bersama isteri saya. Ketika itu acara tentang griya unik yang menampilkan rumah dari seorang politisi muda. Rumahnya megah di tengah tanah luas yang sejuk bak kebun raya.

Saya yang sedang mengupayakan taraf hidup sebagaimana saya cita-citakan, berucap mengomentari tayangan tersebut. “Orang muda koq sudah bisa sesukses dan sekaya itu ya ? Doanya apa ya ?” Yang dijawab oleh isteri saya dengan ketenangannya, “ya bisa saja, karena tidak pernah menyia-nyiakan waktunya.”

Sebuah jawaban singkat, lugas dan cerdas bukan ?

Ya, itu pasti. Karena memang hal itulah rumus hidup hakiki. Tidak menyia-nyiakan waktu.

Isteri saya benar sekali. Sebab tidak ada istilah kesia-kesiaan [waktu] untuk setiap upaya baik dilandasi niat baik. Bila pun akhirnya belum sesuai harapan peraihannya, toh setidaknya sudah membukakan akses kepada pelaku tindakan itu sendiri untuk sesuatu kesempatan baik lainnya.

Hal paling sederhana saja, di ruang tamu tokoh acara itu, kepada pemirsa sudah dipertunjukkan berlemari buku-bukunya, banyak sekali. Koleksi bukunya sudah barang tentu terbanyak adalah yang merujuk kepada bidang minat dan konsentrasinya. Namun dia tetap menguapayakan membaca dan belajar ilmu-ilmu lain.

Mari kita hitung-hitungan. Ada berapa banyak koleksi buku Anda ? Berapa lama Anda membaca setiap kali ? Seberapa besar minat Anda untuk segera mengupasnya setiap melihat buku atau majalah atau surat kabar ?

Saya harus akui, meski saya sangat suka membeli buku, namun jangan ditanya berapa banyak buku yang tidak tamat saya baca. Bukan sebuah tindakan yang boleh ditiru tentunya 🙂

Tahukah Anda korelasi antara buku saya dengan penyia-nyiaan waktu saya ?

Ya, tepat sekali. Saya dengan sadar telah menyia-nyiakan waktu saya. Saya membuang waktu saya dengan percuma ketika saya memilih untuk bersantai-santai memanjakan tubuh saya di kursi malas tanpa sebuah buku menemani waktu luang saya. Kalkulasi sederhananya adalah setengah jam saja saya membaca buku saya, setidaknya ada pencerahan baru bagi pemahaman saya, dan saya sudah bisa punya alasan merayu isteri saya untuk membelikan saya buku baru lagi. Betul ?

Sebenarnya peluang dan kesempatan itu berbanding lurus dengan pengetahuan dan pemahaman yang kita punyai. Semakin luas pemahaman kita, maka kesempatan untuk maju dan naik tangga menjadi keunggulan komparatif.

Masih belum percaya ? Masih mau bukti ?

Coba Anda sebutkan nama para pengusaha yang sukses menurut Anda. Sudah ?

Sekarang coba Anda cari tahu siapa pengusaha sukses idola Anda yang punya titel sarjana ? Atau Anda mungkin pernah kenal atau mendengar nama Susi Pudjiastuti, seorang wanita super dari Pangandaran yang super suskes dan kaya punya kapal terbang meski cuma punya ijazah SMP ? Dan contoh lain adalah Pak Bob Sadino yang nyentrik itu, yang pernah diejek Andy F Noya dalam acaranya Kick Andy “Bagaimana orang bisa percaya Anda sukses, kalau buat beli celana panjang saja tidak mampu ?”.

Klu-nya adalah, mereka semua yang beruntung itu tidak pernah lupa menyertakan upaya besar di sepanjang hidupnya. Belajar dan berupaya tiada hentinya.

Jangan dulu Anda terburu-buru menghakimi pendidikan mahal, toh sudah banyak bukti hidup orang sukses kaya yang tidak mengenyam pendidikan formal tinggi.

Mereka semua itu adalah gambaran dari kecerdasan keputusan yang mereka pilih. Ketidaktahuan bukan menjadi penyurut langkah mereka. Toh alam sudah menyediakan banyak saluran pengetahuan yang tiada habisnya untuk dieksplorasi. Kita adalah guru terbaik, kita adalah motivator terbaik untuk kemajuan diri kita sendiri. Fasilitas dan sarana hanyalah pendukung, yang tanpanya pun tidak akan menjadi faktor pengurang keberhasilan selama Anda tidak mengendurkan semangat dan cita-cita Anda. Anda bisa mencari perpustakaan, Anda bisa mencari pedagang buku bekas, Anda bisa belajar melalui internet gratis yang sekarang sedang digalakkan.

Prof. Yohanes Surya lulusan Cum Laude ilmu fisika dari perguruan tinggi di Amerika mengajarkan bahwa “sesungguhnya semua orang itu ditakdirkan pintar, cuma tidak semua orang berkesempatan bertemu dengan guru yang baik”.

Sekarang, masihkah pantas kita untuk memilih menolak datangnya kesempatan hanya oleh karena perasaan kurang pengetahuan, masih berpegang fanatik akan fak atau jurusan bidang ilmu pendidikan ? Masihkah tidak mengijinkan diri Anda untuk membaca dan belajar ilmu yang lebih luas untuk membangun pemahaman Anda ?

Jadi, kesuksesan dan kemakmuran itu sebenarnya hak semua orang sebagaimana slogan Success is my right nya Andrie Wongso, baik dengan guru formal maupun dengan guru alam. Semua itu hanya masalah waktu, tergantung dari banyaknya waktu yang telah Anda sia-siakan.

Jadi Anda telah memutuskan, setuju atau menolak !

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan