I need “a builder”, not just a body.

Salam untuk Anda semua,

“I need “a builder”, not just a body.”

Begitu isi surat singkat boss saya yang bule kepada vice president kami. Saya bisa mengetahui isi surat itu karena kebetulan saya yang ditugaskan untuk mengirimkannya melalui fax ke kantor pusat kami di Jakarta.

Peristiwa itu terjadi 12 tahun lalu ketika saya sedang bertugas di site proyek di daerah Sumatera Selatan.

Membaca tulisan boss saya, jelas saya waktu itu berpikir betapa keji dan kasarnya boss bule saya itu, ditambah roman wajah yang tidak ramah saat meminta saya mengirimkannya melalui fax. Yang membuat saya terkejut berganda, karena bisanya boss saya itu ramah dan penuh maklum.

Perasaan kaget dan tidak habis mengerti tentang sikap “kasar” boss saya itu terbawa terus dan terngiang-ngiang di telinga saya. Namun akhirnya saya bisa mengerti mengapa boss saya sampai tega bersikap seperti itu.

Ya, saya mengerti bahwa tuntutan profesionalisme menjadi komponen primer dalam sebuah proyek dan teamwork. Profesionalisme yang didukung kompetensi plus basic mentality menjadi tuntutan mutlak yang tidak boleh ditawar. Sebab tidak mungkin ada profesionalisme bila tidak didukung oleh adanya basic mentality yang positif.

Perusahaan kami di site berperan sebagai subkontraktor dari Main Contractor yang menginduki beberapa subkontraktor lain. Kami selain bertanggung jawab kepada perusahaan yang mempekerjakan kami, tentu saja memiliki target dan tuntutan performance baik atas pekerjaan kami di site. Dan kenyataan yang sama dalam setiap teamwork adalah, tidak diberikannya keleluasaan bagi seorang Pemimpin Proyek / Superintendent untuk menentukan dan memilih sendiri timnya. Semua sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Sukses gagalnya sebuah proyek akan dibebankan kepada seorang Pemimpin Proyek. Dia harus mampu memanaj timnya untuk merealisasikan goal yang ditetapkan. Jadi sebuah kewajaran bila sang pemimpin proyek pun menanggungkan harapan besar kepada anggota timnya. Tentu saja hal ini hanya bisa tercapai bila ada kesamaan visi.

Visi adalah sebuah noktah di depan yang ingin dicapai. Dan dari sebuah titik akan mengejawantah menjadi sebuah bangun besar megah yang bernama kesuksesan bilamana ada kesamaan misi dan kontribusi positif dari semua team membernya.

Sebuah peraihan misi berbanding lurus kepada visi yang jelas. Sebuah visi menjadi tidak lurus mengarah ke depan bila satu saja pengupayanya tidak berkomitmen. Ada kalanya ketimpangan komitmen bisa menciptakan goal, namun akhir pertandingan tetap saja tidak sesuai harapan. Selalu ada keretakan di sana dan sini. Bisa kita lihat sebuah kesebelasan sepak bola yang walau menang tetap saja ada hal yang dikritisi oleh komentator atau penggemar kesebelasan itu sendiri.

[Kompetensi + komitmen] = [70% profesionalisme]

[Kompetensi + komitmen + basic mentality] = [100% profesionalisme]

Mengapa bisa demikian ?

Ya, karena kompetensi bisa diciptakan dengan pembelajaran dan belajar, komitmen pun bisa ditularkan. Namun peningkatan kompetensi menjadi mustahil bila tidak didukung oleh adanya basic mentality yang positif. Basic mentality menjadi engine untuk melejitnya kontribusi positif dan integritas. Karenanya basic mentality menjadi faktor utama yang harus selalu dan selalu dituntutkan.

“I need “a builder”, not just a body.” Kalimat yang menjadi pengganjal ruang benak dan batin saya selama 12 tahun itu kini terjawab sudah, ketika saya mengalaminya sendiri, ketika saya berada di posisi boss saya. Saya bisa memahami. Ketika kita berada pada posisi Pemimpin Proyek, maka kata-kata itu bukan mustahil terucap dari mulut atau hati kita.

Bila perkataan, anjuran, pengingatan dan contoh baik sudah tidak kuasa lagi menanamkan benih penyadaran, maka waktulah yang akan menjadi counting down untuk penghakiman bagi “pembangkang” dan peretak soliditas tim.

Boss-ku guru-ku, di manapun Anda berada kini, apa kabar ?

Kini aku pun sedang berjuang keras untuk menahan kata-kata yang sama Anda ucapkan dulu itu untuk tidak keluar dari batinku menjelma menjadi ucapan.

Bagaimana pun Anda telah banyak mengajarkan kepadaku tentang kesabaran menghadapi sebuah tim yang sulit.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan

2 thoughts on “I need “a builder”, not just a body.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s