Kok Berani-beraninya Lho …

Salam untuk Anda,

Mari kita menghitung umur kita. Sudah berapa lama kita hidup. Setelah itu mari kita perbandingkan antara kondisi senang dan kondisi tidak senang yang sudah kita alami dalam rentang umur kita hingga saat ini. Sudah ? Baik, Anda sudah mengetahuinya … Kesimpulan Anda ?

Dalam perjalanan kehidapan, sering kita mengalami harus tiba pada sebuah titik yang sangat tidak kita harapkan. Sebuah kondisi yang menjadikan kita sangat bosan, tidak nyaman, sakit, duka. Bisa karena orang lain, suatu keadaan, atau bahkan berasal dari kita sendiri; ya kita menciptakan sendiri kondisi tidak nyaman, tidak enak, membosankan, menyiksa dan lain-lain ketidakenakan atas diri kita sendiri.

“Aduh, sakit sekali rasanya seperti mau mati rasanya.”

“Aduh, panas sekali kaya di neraka aja deh.”

“duh, koq pegel banget kaya dicabuti [atau remuk] tulangku-tulangku.”

“Aduh sakit banget kaya kelindas setum rasanya.”

“Ampun deh, menyebalkan. Gak punya perasaan betul ya tuh orang, jadi kaya ngadepin setan ajah gue.”

dan lain-lain bla bla bla …

Mengerikan sekali bukan, bila kita mendengar semua jeritan di atas ?

Pengaruh kata-kata atau kalimat itu bisa langsung dirasakan; bisa langsung puas, bisa langsung bertambah bete, bisa langsung yakin kalau hidupnya jauh dari kenikmatan hidup. Dan parahnya perasaan bete atau tidak nyaman atau sakit yang diciptakan sendiri itu dampaknya luar biasa sekali. Mereka yang terbiasa mengeluh dengan kata-kata dahsyat itu akan menjadi terbiasa menciptakan kondisi mengerikan di dalam setiap keluhannya.

Masalahnya, tidak sadarkah kita bahwa menjustifikasi suatu keadaan  tidak diharapkan secara membabi buta itu, akan “menyedih”kan Tuhan ?

Berani-beraninya orang yang “belum” pernah mati, mengatakan seperti mau mati rasanya.

Berani-beraninya orang yang belum pernah “diinterview” Malaikat Munkar dan Nakir atau belum pernah diabsen Malaikat Malik, memberhakkan diri sudah merasakan panasnya neraka.

Berani-beraninya mengkhayalkan diri tulangnya dicabuti atau diremukkan.

Siapa yang pernah bergaul dengan setan, hingga berani-beraninya menyamaderajatkan mahluk berakal ciptaan Tuhan dengan setan ?

Dan lagi berani-beraninya “mengaku” pernah kelindas setum. Karena bukankah hanya mereka yang pernah mati kelindas setum yang berhak mengatakan itu 🙂

Bila demikian, bukankah kita yang paling berperan dalam semua ketidakbahagiaan kita sendiri ? Kita menciptakan sendiri dan melegalisasikan semua sakit dan ketidakbahagiaan.

Jika kebahagiaan adalah kodrat dan hak mutlak yang telah dikuasakan penuh kepada kita sebagai makhluk termuliaNya, mengapakah kita tidak saling berlomba untuk menjadikan hidup kita bahagia dan berarti bagi sesama dalam lomba berpacu dalam iman ? Akan lebih indah dan mengilhami, bilamana selalu berdamai dengan setiap keadaan. Yang pasti berdamai dan luwes dalam menghayati setiap keadaan dan lingkungan, akan berbanding lurus dengan penghormatan dan ketinggian derajat.

Keputusan ada pada Anda, ingin menjadi “miskin” tetapi mengilhami dan berderajat, atau tampak kaya tetapi berzirahkan ketersiksaan ? 🙂

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Iklan

2 thoughts on “Kok Berani-beraninya Lho …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s