Menghormati Tradisi Baik

Salam untuk Anda semua,

1suro1“… sudah mau kiamat masih percaya dan takut 1 Suro ?” Demikian gumam saya gemas. Gemas karena mengetahui jawaban para agen bus yang menyatakan bahwa tidak ada keberangkatan bus karena event 1 Suro, dan itu sama saja dengan bakal tertundanya kepulangan saya kembali ke Tangerang hari ini.

Kisah ini bermula ketika saya bersama isteri pulang untuk temu kangen keluarga di Jepara, termasuk paling utama adalah niat menengok putera pertama kami yang masih diistirahatkan di rumah kakek dan neneknya hingga sudah cukup kuat untuk diboyong ke Tangerang, berkumpul dengan ayah dan ibunya. Hari ini Favian Hanif Diya Atyaananda, putera yang kami kasihi belum genap berusia dua bulan.

Perjalanan kami dari Tangerang tanggal 27 Desember petang lumayan lancar, meskipun tidak senyaman biasanya dikarenakan kami menumpang bus bukan menggunakan PO yang biasa mengantarkan perjalanan kami. Termasuk bonus sedikit keributan dari beberapa penumpang yang memiliki nomor bangku sama … ya bersyukur sekali tidak menjadi berkepanjangan masalahnya, karena ada pihak penumpang yaitu seorang Ibu dengan puterinya yang manis πŸ™‚ rela mengalah dengan menempati bangku cadangan di sebelah sopir. Saya salut dengan ketulusan ibu dan puterinya tersebut, mengalah meskipun beliau membayar lebih mahal karena membeli tiket bukan dari agen seharusnya, dan juga sudah duduk nyaman hingga tiba di agen “nahas” itu yang mengharuskan beliau merelakan kenyamanan semalam di perjalanan.

Saya membisikkan ke isteri saya : “Dik, coba saja saya saat ini sendirian, pasti saya akan katakan ke puteri ibu itu begini, … Dik, put your head on my shoulder.” Isteri saya lalu mencubit gemas kepada saya, dan kamipun larut dalam kegembiraan perjalanan kami ke Jepara.

Singkat cerita kami tiba di kota Pati yang indah sekitar jam 10. 00 wib keesokan harinya, lalu kami menyambung perjalanan ke kota Jepara, sebuah kota cantik nan bersih dan syahdu di mana Tuhan telah menyediakan cinta sejati untuk saya. Setibanya kami, kami langsung mendatangi agen bus, untuk maksud memesan tiket bus kepulangan saya tanggal 29 Desember 2009. Di sinilah kisah gemas saya bermula.

Bagaimana tidak gemas, nyaris tidak dapat tiket dan terancam bolos kerja tanggal 30 Desember gara-gara pemilik bus menjunjung tinggi tradisi 1 Suro, lha kalau habis tiketnya kan lain soal … darah muda saya masih bisa sampai tahap anget – anget saja ya πŸ™‚ . Ya beruntungnya saya memiliki isteri yang begitu penyabar. Isteri saya meninggalkan nomor telepon genggam kami kepada penjaga agen, bilamana ada kemungkinan bus berangkat tanggal 29 Desember, kami bisa dihubungi.

Sore harinya, saya mendapati bapak dan ibu mertua saya melakukan sholat sunnah menyambut tahun baru Islam. Di sini saya tersentak, mendapatkan pengingatan betapa kita hidup ini karena adanya tradisi atau budaya adiluhung. Kita menjadi semaju ini juga karena kesetiaan para pendahulu kita mendidikkan tradisi-tradisi yang baik. Dan termasuk di dalam tatacara peribadatan kita, ada tradisi – tradisi mulia yang masih dijunjung tinggi dan dipelihara, tradisi ibadat para Rasul. A ha, mengapa saya tidak terpikirkan hal itu ya, mengapa saya sedemikian cepatnya memvonis pihak-pihak yang berusaha setia dengan keyakinan baik mereka. Ah betapa malunya saya …

Pagi ini saya kembali mencoba mendapatkan tiket untuk kepulangan saya sore ini. Karena tetap juga tidak mendapatkannya, saya terpaksa mempercepat temu kangen saya dengan putera kami dan keluarga. Saya memutuskan untuk mencari tiket dimaksud langsung ke kota Jepara, atau bila saja masih belum beruntung di Jepara, saya akan langsung ke kota Semarang, untuk mencari tiket dan langsung berangkat dari Semarang.

Tuhan Maha-baik. Puji Tuhan, saya berhasil mendapatkan tiket itu, meski hanya tersisa tujuan Pulogadung dan Lebak Bulus. Saya pilih yang Pulogadung, berangkat dari terminal kota Jepara jam 17.00 wib.

Sembari menunggu saya menyempatkan diri putar-putar kota Jepara yang sejuk dan asri. Di jalan Kartini, saya menemukan kedai bakso, saya masuk dan memesan 1 porsi bakso komplit dan segelas es teh manis. Amboi … bukan sekedar mak nyusss ketika kecapan pertama bakso tersebut membelai lidah saya. Saya benar-benar dibuat nglaras rasa … Sembari menikmati aroma kaldu bakso ABC yang top markotop itu, timbul ide menuliskan kisah saya ini.

Selesai bercanda rasa dengan nikmatnya rasa bakso ABC Jl. Kartini, saya melanjutkan perjalanan saya menanti waktu hingga jam 17.00. Dan di jalan Dr. Sutomo tidak jauh dari Hotel Kalingga Star yang anggun bersiap menyambut kunjungan tamu-tamunya, saya mendapati gerai internet yang nyaman … jadi deh, saya menuliskan kisah perjalanan saya di kota Jepara yang indah ini.

Tak terasa sudah jam 15.05 wib waktu Jepara.

Terimakasih Sang Waktu yang telah menuntun jiwa ini kepada kesyahduan menyadari betapa indahnya tradisi yang baik yang telah dibekalkan kepada kita sekalian. Betapa agungnya heritage Indonesia.

Masih ada waktu sekitar 2 jam lagi, saya mau melanjutkan jalan-jalan dulu ya.

Terimakasih easy-net yang sudah menyediakan tempat indah untuk teralirkannya kisah ini.

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Iklan

6 Comments

  1. Dearest Mas Sigit,
    Terimakasih ya πŸ™‚
    Selamat Natal dan Tahun Baru juga untuk Mas Sigit dan keluarga.
    Gimana kisah liburan panjang akhir tahun ? Pastinya asyik ya πŸ™‚

    Dearest Mbak Sazka,
    Apa kabar ? πŸ™‚
    Terimakasih ya untuk sudah mampir di ruang sederhana saya “Rumah Sadhana” dan “Rahasia Supermanusia” πŸ™‚
    Jangan kapok untuk mampir yaaa πŸ™‚

    Salam gemilang
    BAW

  2. Mas, aku belum pernah ke Jepara. Mbaca ceritamu di atas , kok jadi pengen kesana.. terutama nyobain kulinernya. Postingan di atas bikin aku ngiler nih..bukan sama 1 Suro tapi sama bakso ABC….
    Duh maklum sudah jam 18.00 ini, lapeerrr

    Hehehe
    Saya rekomendasikan untuk mencobanya langsung Mbak LuvJoy … dijamin menari-nari deh lidahnya πŸ™‚

    Salam hangat
    Ben

  3. Waduh…aku juga sudah ngak makan bakso nih!

    Jadi ingat ama baksa idolaku…hanya bisa ngiler hahaha..

    Ya…adat istiadat memang indah dan menarik bahkan memiliki nilai religius yang tinggi.

    Thanks ceritanya tentang Jepara!

    Oh ya ?
    Iya Ci Lie Na, bakso memang kuliner yang melegenda ya … dan di mana-mana ada hehehe

    Makan bakso yuuuk …. πŸ™‚

    Ben

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s