REFRESHMENT

Dear sahabat blogger,

Bulan April, bulannya RA Kartini, bulannya tonggak kelahiran emansipasi kaum perempuan. Di bulan April pula semestinya patut menjadi kesyukuran bersama bagi kita di negri ini, bahwa berkat Kartinian, maka mata kita kembali di-refresh oleh pemandangan apik tentang betapa kaya dan beragamnya budaya nusantara – bumi pertiwi kita. Ya, darimana lagi bila bukan dari pakaian adat yang dikenakan putera dan puteri kita, termasuk para pegawai instansi / lembaga / perusahaan swasta, dan para pewarta di televisi.

Selain Kartinian, bulan April juga menyimpan keunikan. Ya, saya sebut unik karena adanya perayaan sedikit bernuansa gaul yang bila kita termasuk yang mengamininya pasti tidak asing bagi kita, yaitu April Mop; ya moment di mana setiap keisengan, kejahilan dan bahkan kebohongan mendapatkan pengakuannya dan pemakluman untuk dilakukan.

Ya, itulah April. April 2018, bulan dimana berita masih disesaki oleh berita yang itu-itu saja genrenya, itu-itu saja topiknya, dia lagi dan mereka saja lagi yang tampil diwartakan, termasuk adegan buka-bukaan “balon pemimpin bangsa” berikut dikotomisasinya partai politik oleh pelaku politik sepuh yang semakin menjauh dari sang damai. Di bulan April 2018 pula saya untuk pertama kalinya sejak terakhir kali jejak saya tinggalkan bulan Januari 2018 lalu.

Yuuk mumpung masih bulan keempat, dan demi menyambut kedamaian bulan Ramadan dan demi berjumpa hari lebaran dengan hati yang berbahagia. Yuuk, kini saatnya – di bulan April 2018 juga … iyaaaaaa di bulan April ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mari bersatu dalam puisi, kita refresh jiwa dan raga kita di kota Tegal, Jawa Tengah. Mari kita rayakan kemerdekaan kita dalam keberagaman.

Kapaaaan ? Catat ya … tanggal 27-28 April 2018 di Kota Tegal.

Hayuuuk, mumpung masih ada waktu. Buruan ya. Don’t miss it.

 

Salam Sadhana

Ben Sadhana

 

Iklan

Writer or Author ?

Dear Pembaca,

Dalam beberapa waktu lalu saya menuliskan sebuah status di facebook saya terkait perbedaan dari “Writer” dan “Author”. Status yang langsung memunculkan beberapa pertanyaan, teristimewa tentang sebutan Author yang (mengapa) lebih pas dikaitkan / disandang oleh mereka yang condong kepada kepenulisan fiksi (katakanlah cenderung sastra). Komentar-komentar susulan yang masuk, salah satunya menanyakan sastra itu yang seperti apa, kok kelihatan sulit ya 🙂

Dalam kesempatan ini saya ingin sedikit memposting kembali status saya di facebook saya, tentang apa itu parameter sebuah tulisan (prosa) sehingga digolongkan sebagai karya sastra, sebagai berikut.

Dalam menulis, saya tidak pernah berpikir mau jadi apa tulisan saya nanti, atau adakah pakem yang telah saya abaikan dan langgar sehingga justeru apa yang saya tuliskan akan menjadi polemik di kemudian hari. Bukannya saya sengaja bebal dan tidak peduli dan atau mati rasa, bahkan.

Saya cuma berpikir simpel, saya berawal dari kepapaan ilmu dalam dunia kepenulisan. Yang saya tahu, saya senang nulis dengan gaya yang kata mereka yang mengenal saya, bahwa setiap untaian kata baik dalam status maupun ucapan lisan saya itu unik dan ada rasa nyastra. Ya, itu saja.

Namun demikian, saya juga anti keributan, karenanya selain sekedar menuliskan apa yang saya pikirkan, semua tulisan saya bisa dipastikan mengalami evaluasi diri yang melalui tahapan : tulis – baca sendiri – cek nilai rasa – koreksi – sesuaikan – evaluasi nilai rasa kembali. Sering tidak serta merta langsung saya posting atau kirim ke perlombaan atau materi kurasi. Karena saya yakin, satu saat pasti perlu touch up atas tulisan-tulisan saya itu, sehingga saat pada akhirnya saya rilis, saya benar-benar plong dan merasa jiwa saya turut serta ada di dalam tulisan itu.

Seorang penulis punya ego, tapi di luar dirinya tetap berlaku juga tatanan dan kaidah yang harus dipenuhi, dan setiap penulis harus tunduk. Ada parameter-parameter yang menjadi patokan, khususnya untuk karya prosa, yaitu :

1) Harus hidup dan sehat; maksudnya tulisan harus memiliki jiwa dalam hal ini “konflik”, semakin tajam konflik, makan akan semakin kuat dan unggul sebuah karya prosa. Konflik yang memikat apabila langsung menohok ke persoalan manusia paling hakikiah, seperti cinta, politik, intrik, kekuasaan. Jiwa kedua yaitu ” alur cerita”, sebab tanpa alur, cerita tentu akan menjadi sulit diikuti. Jiwa ketiga adalah “deskripsi”, menyangkut penokohan yang kuat atas tokoh-tokoh dalam cerita, latar (setting), serta deskripsi lain pendukung cerita misal ipoleksosbud (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya) dan / atau adat istiadat.

Selain jiwa, sebuah karya prosa harus meniliki raga. Raga paling utama adalah kalimat yang komunikatif, efektif, serta mengikuti kaidah minimal EYD. Tentu prosa dalam hal ini berbeda dengan puisi yang tumpuannya berbasis pada kata, bukan larik (kalimat). Kalimat yang baik ialah yang didukung teknik bercerita. Apalah arti konflik tajam, bila tidak didukung kalimat dan teknik bercerita yang baik.

2) mengandung amanat memuliakan nilai humanisme yang paling luhur, yaitu antara hidup dan mati. Karya yang baik bukan semata menjadi hiburan, tetapi sekaligus tuntunan bagi pembacanya. Karenanya penulis dipaksa untuk melepaskan egonya demi mengedepankan nilai-nilai humanis yang hakiki.

3) mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang kontekstual yang lahir dari penghayatan budi pekerti manusia terhadap sosiogeokultural.

Demikian uraian ini di-sharing-kan. Tentang apa itu prosa, dan apa saja karya-karya prosa, silakan bisa dirujuk sebagaimana tautan iniatau ini.

 

Salam literasi.

 

Ben Sadhana

PEREMPUAN DI BALIK JUBAH

 

Dear Pembaca,

 

Berat kulangkahkan kaki. Semarak gereja menyambut kehadiran umat tak juga mampu menyaput gundah yang menggelayuti hatiku. Ya, ini tahun kesembilanku setelah menikah ke gereja menyambut natal tanpa disertai istri dan anakku. Toh kesendirian yang harus kuterima sebagai konsekuensi pilihanku.

Gunung bukit bermadah puji | hutan rimba bersorak sorai karna Tuhan hampir tiba, berkuasa , alleluya. Khidmat syair madah Gunung Bukit Bermadah Puji mengalun. Seketika kurasakan sejuk menguasai gereja. Kusaksikan dengan kelu dari bangku segenap umat dengan khidmat berbaris hendak menyambut tubuhNya. Aku sendiri tetap duduk, tidak bangkit menyambut tubuh Kristus karena “tidak layak”.

Dengan membuat tanda salib sebelum berbalik meninggalkan misa. Langkahku terhenti di ambang pintu gereja, saat di antara kerumunan umat yang hendak pulang dan akan hadir misa kedua, kulihat sesosok yang pernah sangat kukenal. Dia juga kaget ketika mata kami bersitatap. Aku tergagu ketika dia menghampiriku, mengulurkan tangannya. “Hai apa kabar?” sapanya. “Baik,” jawabku singkat – kunikmati kecantikannya yang masih tetap terjaga di balik balutan pakaian biarawati. “Kamu sekarang …” kata saya belum usai yang langsung dijawabnya, “iya, aku tanggapi panggilanku,” katanya. Hingga akhirnya sebelum kami berpisah, “maafkan aku ya waktu itu kutolak pinanganmu,” katanya. “Iya, aku paham sekarang,” kataku yang dibalasnya dengan sebuah anggukan anggun. “Pram!” katanya setengah berteriak ketika aku hampir melangkah keluar gerbang gereja. Lanjutnya kemudian : “Terimakasih juga, dulu sudah kenalkan aku kepada Kristus.” Kulambaikan tanganku, “Selamat Priska, selamat berkarya di ladang Tuhan.” Kulihat senyum kembali mengembang di parasnya, senyum yang sangat manis.[]

 

Salam hangat

Ben Sadhana

Pentigraf ini termasuk karya yang terdapat dalam buku “Semangkuk Sup di Malam Kudus”

Mawar dalam Sup Hangat

Dear Pembaca,

Satu lagi persembahan kasih dari KPKDG untuk penutup 2017 dan pembuka 2018.

Saat Natal tlah menjelang. Peristiwa kelahiran menjadi satu moment penting yang paling dinantikan. Kelahiran Yesus Kristus, terlebih kedatanganNya kembali bagi kita yang percaya, sudahkah kita menyiapkan diri menyongsongNya?

2 (dua) buku karya pena dari Ben Sadhana a.k.a. Benedikt Agung Widyatmoko, dkk dari Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG), siap menjadikan momen natal yang paling tidak terlupakan, natal dan tahun baru paling indah dan hangat bersama orang-orang terkasih.

Pastikan dua buku berikut hadir dalam natal dan tahun baru sahabat pembaca yang terkasih. 🙂

Ayo ….

Semangkuk Sup di Malam Kudus

“Semangkuk Sup di Malam Kudus”, sajian istimewa dengan menu rupa rupa puisi dan cerita pendek terpilih seputar natal di dalamnya, siap hadir menghangatkan Natal yang indah bersama orang orang terkasih

Dilaunching tanggal 15 Desember 2017, buku terbitan Lingkar Antarnusa yang berukuran 14 x 21 cm, dengan jumlah halaman 362 sudah bisa dipesan, cukup dengan pengganti biaya cetak Rp. 85.000,00 + ongkos kirim.

P.S. Sssstttt … Ada 3 menu istimewa racikan Om Ben Sadhana lho di dalamnya 😉

24068656_10211500800575909_4418253327302516533_o

Mawar Untuk Gereja

Berisi puisi puisi pendek devosi kepada Bunda Maria.

Dilaunching tanggal 20 Desember 2017, buku terbitan Kosa Kata Kita yang berukuran 13.5 x 20.5 cm, dengan jumlah halaman 200 sudah bisa dipesan, cukup dengan pengganti biaya cetak Rp. 70.000,00 + ongkos kirim.

 

24255004_10211520856757301_3810785900597633218_o

Ayo, kepada yang mau kasih kado istimewa kepada someone specialnya, untuk natalan / tahun baru / valentine day. Monggo pesan dan order sekarang, sudah bisa ya.

Saluran PM, WA, Line, Telegram dibuka 24 jam. Pokoknya pesan dan order ya 👉 ke Mas Ben, di nomor 081803107847 😉

Terimakasih.

 

Salam literasi

Ben Sadhana

[Buku] LELAKI YANG TUBUHNYA HABIS DIMAKAN IKAN-IKAN KECIL

Dear Pembaca,

Dengan rasa syukur, kembali Mas Ben infokan adanya buku baru yang di dalamnya ada karya pena Mas Ben. Kali ini bertajuk “Antologi 25 Cerpen Pesisir Nusantara”. Sebagaimana judulnya, buku ini berisi 25 cerita pendek dengan topik seputar kondisi sosial, ekonomi serta permasalahan yang ada di daerah pesisir.

Buku ini menjadi menarik, karena para penulisnya mengambil perspektif yang berbeda dalam bercerita, meski dengan sentral topik yang sama. Diperkuat dengan latar para penulisnya yang beragam; wartawan, esais, sastrawan, penyair dari tingkatan generasi yang berbeda. Karenanya bila disejajarkan dengan karya lukis, maka dalam buku ini, pembaca akan dipertemukan dengan karya yang beraliran realis hingga surealis.

Penasaran, silakan bagi yang berminat bisa menghubungi langsung Mas Ben. Kebetulan saat ini tersisa 5 (lima) eksemplar di Mas Ben, yang bisa dipesan oleh pembaca yang ingin menambah koleksi perpustakaan keluarganya 🙂 Monggo.

23550317_10211423089713186_4124708517857648789_o

Spesifikasi buku :

Judul : “Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil

Dimensi    : 13,5 x 20 cm
Halaman  : xxi + 220
Penerbit   : Rumah Pustaka
ISBN           : 978-602-5557-08-8

 

Salam Literasi

Ben Sadhana

Sudut-sudut dan Sisi-sisi Pesona Kabupaten Semarang

Dear Pembaca,

 

Sebagaimana dalam ulasan saya sebelumnya tentang pesona Ungaran dan Kabupaten Semarang, yang salah satunya melalui Lokawisata Siwarak. Maka tidaklah adil rasanya bila kita tidak pula mengungkap daya-pesona Ungaran dan sekitarnya di kawasan Kabupaten Semarang dari sekian banyak sudut pesonanya.

Kabupaten Semarang identik dengan gunung Ungaran, sudah pasti kesegaran udara yang sejuk menjadi keunggulan komparatifnya tersendiri. Ya, Ungaran dan daerah sekitarnya memang termasuk sejuk, jauh lebih sejuk daripada kota Semarang-nya sendiri 🙂

Sebagaimana wialayah di area pegunungan lainnya, demikian pun Ungaran dan sekitarnya dipastikan menyimpan banyak potensi alam yang memesona. Setelah lokawisata Siwarak, masih terdapat pula di wilayah kita ini destinasi wisata lainnya; lokasi lain yang tidak kalah menarik, bahkan beberapa diantaranya lebih fenomenal karena selain lebih dikenal, juga faktor history yang membangunnya hingga menjadi begitu terkenal dan menangguk animo wisatawan untuk mengunjunginya.

Sebut saja :

  • Air terjun Semirang di Desa Gogik, Ungaran yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kota Ungaran atau lebih tepatnya lagi sekitar 25 kilometer dari kota Semarang.

  • Wisata Bukit Cinta yang terletak di Desa Rawapening, Kecamatan Banyubiru dengan panorama Rawa Pening yang mempunyai hamparan air membiru serta pesona hijaunya bukit Brawijaya,

bukit-cinta-semarang-lihat.co.id

 

  • Kawasan Wisata Umbul Sidomukti merupakan salah satu wisata alam pegunungan di Semarang, berada di desa Sidomukti kecamatan Bandungan kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini dengan didukung fasiltas & Servis: Outbond Training, Adrenalin Games, Taman Renang Alam, Camping Ground, Pondok Wisata, Pondok Lesehan, serta Meeting Room.
  • Vanaprastha Gedong Songo Park berada di kompleks Candi Gedong Songo, lereng Gunung Ungaran Kabupaten Semarang. Dengan suhu rata-rata 19 sampai 27 derajad celcius dan berada pada ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut. Rumah kayu jati yang telah berumur lebih dari satu abad, pada masa lalu digunakan sebagai guest house atau kantor resmi Kehutanan pada jaman pemerintahan Hindia Belanda.

vanaprasta-gedong-songo-cakrawalatour

  • Air Terjun Kali Pancur, berada di Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, sekitar 14 km sebelah barat Kota Salatiga. Untuk menuju lokasi ini mata akan dimanjakan dengan eloknya keindahan alam lereng gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu. Namun sayangnya untuk sementara ini, untuk ke lokasi baru bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi karena belum ada angkutan umum tersedia.
  • Kampung Seni Lerep, sebuah komunitas budaya yang berada di sebuah desa yang berhawa sejuk di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Bukan hanya sebuah wahana pengelanaan budaya, nguri-nguri dan mamaknai seni bukan sekadar sebagai warisan budaya saja, namun lebih dari itu, untuk bisa menjadi lahan persemaian berbagai buah pikiran, dan proses pengejawantahan pikiran, hingga memaknai sebuah proses kerja budaya sebagai ‘human intellectual work’.
  • Candi Gedong Songo, sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu peninggalan abad IX Masehi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut (suhu berkisar antara 19-27 °C). Kompleks candi ini berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Candi Gedongsongo, Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan.

 

  • Curug Benowo terletak di Lereng Gunung Ungaran, Desa Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Curug dalam Bahasa Jawa berarti Air Terjun. Eksotisme Curug Benowo ini mungkin sulit unutk dicapai orang kebanyakan, karena tempatnya benar benar alami, jalannya setapak, naik turun, mungkin hanya direkomendasikan pada para pecinta alam atau mereka yang suka tantangan, tidak untuk kebanyakan orang apalagi rekreasi keluarga. Dibalik capeknya medan menuju lokasi akan terbayar oleh keindahan pesona alam curug Benowo ini dan Pemandangan Air Terjun yang Eksotis. Di dekat Curug Benowo ini juga terdapat curug lainnya, yaitu Curug Lawe yang tak kalah indahnya.
  • Wisata Alam Wana Wisata Penggaron, terletak sekitar 2 km arah Kota Ungaran atau sekitar 18 km arah Selatan Kota Semarang. Wana Wisata ini adalah salah satu hutan binaan Kesatuan Bisnis Mandiri Wisata, Benih dan Usaha Lain (KBM WBU I) Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Masyarakat sekitar Semarang biasa memanfaatkan Wana Wisata Penggaron ini untuk berbagai aktivitas. Mulai dari olah raga, jungle tracking, outbound training, latihan SAR dan Pramuka, rekreasi, hingga penelitian dan kepentingan ilmu pengetahuan lainnya. Selain lokasinya yang sangat dekat dengan kota, Wanawisata Penggaron juga memiliki koleksi hidupan liar terutama burung yang cukup banyak dan menarik. SBC mencatat setidaknya ada 97 spesies yang terdapat dalam wanawisata tersebut. Dengan beberapa spesies yang menarik seperti Merak Hijau, Elang Ular Bido, Kadalan Birah, Kadalan Kembang dan beberapa raptor migran.

wisatapenggaron-exploresemarang

  • Bandungan, terletak sekitar 7 kilometer dari Ambarawa atau 12 kilometer dari kota Ungaran atau sekitar 23 kilometer dari kota Semarang. Berbagai fasilitas wisata alam seperti jogging track, kolam renang mata air dan lapangan tennis, dilengkapi dengan pemandangan pegunungan indah. Tak lupa tempat ini menyediakan pasar bunga, sayur dan buah segar bagi para pengunjung. Bandungan juga menyediakan tempat konferensi, perkemahan serta tempat peristirahatan baik hotel berbintang maupun hotel melati.

bandungan-nus3tara

  • Selain itu masih ada juga wisata edukasi dan history yaitu Monumen Palagan Ambarawa dan Stasiun Kereta Api di Ambarawa, dan Benteng Pendem Ambarawa (Benteng Fort Willem I).
  • Untuk yang suka wisata Religi, di Ambarawa juga ada Gua Maria Kerep.

gua-maria-kerep-ambarawa_seputarsemarang

Ok, puas jalan-jalan di Kabupaten Semarang, terus capek ? letih ? lelah ? lesu ?

Jangan kuatir, di Ungaran dan kabupaten Semarang banyak destinasi wisata kuliner yang bisa dijajah sebagai pelampiasan. Tercatat : Sate Sapi Pak Kempleng, Gudeg Koyor, Tahu Bakso, Gudeg Nglaras Rasa yang legendaris sejak tahun 1965 itu, semua tersedia.

Jadi pokoknya, setelah mata dan kaki lelah berpiknik, perut terpenuhi oleh kulinernya yang beragam, jiwa dan raga dijamin puas sepuas-puasnya … membangkitkan tuman kembali ke Ungaran dan Kabupaten Semarang.

Ok, jadi begitulah kisah petualangan litera kita tentang Ungaran dan Kabupaten Semarang , sebagaimana dalam 2 (dua) telah dengan berurutan dicatatkan di  Rumah Sadhana ini, menindaklanjuti dan atau dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Kabupaten Semarang.

 

Salam sapta pesona

Ben Sadhana

 

Catatan : Sumber gambar sebagaimana tertulis di nama file (ekstensi gbr). Gbr. Bukit Cinta dari lihat.co.id, Vanaprastha dari cakrawala tour, Wanawisata Penggaron dari exploresemarang, Bandungan dari nus3tara.co.id, Gua Maria Kerep dari seputarsemarang.

Lokawisata Tirto Argo Siwarak – Satu Diantara Pesona Alam Ungaran

Dear Pembaca,

Ketika anak kami yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, sedang bermanja-manja kepada saya dan ibunya – mendadak mengatakan : “Pak, kenapa kita tidak pindah saja ke kota yang banyak tempat pikniknya ?”. Entah darimana ide itu terpantik, saya klok tiba-tiba saja menyebutkan Ungaran. “Bagaimana kalau kita ke Ungaran saja?” Pertanyaan saya yang langsung berlanjut antusias darinya. “Banyak tempat piknik ya Pak di Ungaran?” tanya anak kami seketika.

Istri saya yang mendengar, menimpali, “nek kelakon tenan, kapok. Boyongan meneh.” Kata-katanya yang saya jawab sambil terkekeh, “Yo rakpopo, sopo ngerti rejekine anak lanang nang Ungaran. Bapak yo lagi golek-golek gawean meneh kok yo Le.”

Ya, saya mendadak teringat kepada Ungaran. Kenangan tentang Ungaran paling melekat pada saya yaitu ketika masih kecil, saya berdua bersama adik laki-laki saya berkesempatan diajak berekreasi ke kolam pemandian Siwarak. Sebagai anak kecil, baru tahu mau diajak jalan-jalan saja sudah bisa dibayangkan, betapa tiada taranya kegirangan kami, belum lagi ditambah rekreasinya di luar kota – waah, tampah berlipat-lipat kebahagiaan kami, plus sampai di lokasi diperhadapkan pada wahana air … sudah deh tidak perlu dijelaskan lagi, bagaimana “liarnya” kami dua bocah kecil ketika itu. Adik saya langsung nyemplung klebus ke kolam, sementara yang takut berenang, sudah tak terkira bahagianya mencelupkan kedua kaki saya ke dalam kolam, menikmati sejuknya alam Siwarak.

Tidak terlalu istimewa bila kita cuma bicara dari sisi air dan kolam plus papan prosotan yang berliku-liku itu – toh wisata wahana air sudah marak saat ini dengan segala fasilitasnya di beberapa daerah di Indonesia ini. Tapi daya pikat yang tiada tara – yang saya percayai hingga saat ini meski saya belum banyak menjelajahi wisata alam air, di Siwarak ini menjadi istimewa karena didukung pesona lokasi dan lingkungan sekitar dan dan di dalamnya. Bernuansa hutan pinus yang rimbun, sudah sangat cukup menjadikan kawasan wisata ini penuh pesona.

Mengingat kembali Ungaran dan Siwarak, membangkitakan kepenasaran saya untuk tahu lebih banyak tentang Siwarak ini. Maka saya upreg-lah internet, dan berkat jasa kebaikan google atas kemurahatian datanya, bersukalah saya atas data yang saya peroleh.

Taman wisata Siwarak, berjarak sekitar 2 kilometer dari kota Ungaran atau sekitar 23 kilometer dari kota Semarang,  Kolam renang Tirto Argo – lebih dikenal dengan nama Siwarak karena lokasinya yang terletak di Desa Siwarak, tepatnya di Jl. Nyatnyono, Siwarak, Ungaran, Kabupaten Semarang Jawa Tengah ini diresmikan pada 8 Agustus 1968. Selain karena suasananya sejuk, adem dan lokasinya relatif dekat dengan pusat kota, konon air kolamnya termasuk sangat bersih dan rendah kaporit, karena sumber airnya berasal dari mata air Gunung Ungaran.

Didukung dengan kemudahan akses dan fasilitas yang tersedia di dalamnya, menjadikan kolam Siwarak sangat menarik dan nyaman dikunjungi. Dulu saja pada saat kami kecil, masih jelas sekali dalam ingatan kami, sarana kamar mandi dan peturasan yang tersedia jumlahnya cukup dan bersih. Bahkan ada juga tempat penitipan barang, bila pengunjung terlanjur membawa tentengan yang gede-gede yang tidak mungkin dibawa-bawa sepanjang waktu di kolam, bisa dititipkan dengan aman 🙂

Bagi Anda yang bermaksud berwisata ke sana, berikut sebagai sekilas info kolam wisata Siwarak dapat dijelaskan sebagai berikut :

Alamat

Jl. Tirto Argo RT.04 / RW.08 Nyatnyon, Ungaran Barat, Jawa Tengah.

Jam buka

kecuali Selasa dan Rabu (Tutup), Kolam Siwarak dibuka mulai jam 06.30 – 17.00 bbwi.

HTM

Rp. 15.000,- per orang. Rombongan sebanyak lebih dari 30 orang akan mendapat diskon sebesar 10%

Kontak

0812-2927-2707 (edy.tedjos@yahoo.com)

Website

http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

Jadi demikian nostalgia maya saya tentang jalan-jalan wisata saya ke Siwarak – Ungaran. Ungaran, tempat yang dengan nuansa ngangeni, selain tentu saja kota kelahiran saya Yogyakarta 🙂

Masih ada yang ingin saya ulas terkait dengan Ungaran, tentang potensi dan pesonanya : alam, wisata dan ragam kulinernya. Untuk lebih lanjutnya, akan saya uraikan pada tulisan berikutnya ya 🙂

Akhir kata, selain memberikan gambaran singkat tentang pesona alam alam dan lokawisata Siwarak di Ungaran, tulisan ini didedikasikan dan dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Kabupaten Semarang.

 

Salam Sapta Pesona

Ben Sadhana

 

Note : gambar diambil dari berbagai sumber dan web http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

%d blogger menyukai ini: