Mawar dalam Sup Hangat

Dear Pembaca,

Satu lagi persembahan kasih dari KPKDG untuk penutup 2017 dan pembuka 2018.

Saat Natal tlah menjelang. Peristiwa kelahiran menjadi satu moment penting yang paling dinantikan. Kelahiran Yesus Kristus, terlebih kedatanganNya kembali bagi kita yang percaya, sudahkah kita menyiapkan diri menyongsongNya?

2 (dua) buku karya pena dari Ben Sadhana a.k.a. Benedikt Agung Widyatmoko, dkk dari Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG), siap menjadikan momen natal yang paling tidak terlupakan, natal dan tahun baru paling indah dan hangat bersama orang-orang terkasih.

Pastikan dua buku berikut hadir dalam natal dan tahun baru sahabat pembaca yang terkasih. 🙂

Ayo ….

Semangkuk Sup di Malam Kudus

“Semangkuk Sup di Malam Kudus”, sajian istimewa dengan menu rupa rupa puisi dan cerita pendek terpilih seputar natal di dalamnya, siap hadir menghangatkan Natal yang indah bersama orang orang terkasih

Dilaunching tanggal 15 Desember 2017, buku terbitan Lingkar Antarnusa yang berukuran 14 x 21 cm, dengan jumlah halaman 362 sudah bisa dipesan, cukup dengan pengganti biaya cetak Rp. 85.000,00 + ongkos kirim.

P.S. Sssstttt … Ada 3 menu istimewa racikan Om Ben Sadhana lho di dalamnya 😉

24068656_10211500800575909_4418253327302516533_o

Mawar Untuk Gereja

Berisi puisi puisi pendek devosi kepada Bunda Maria.

Dilaunching tanggal 20 Desember 2017, buku terbitan Kosa Kata Kita yang berukuran 13.5 x 20.5 cm, dengan jumlah halaman 200 sudah bisa dipesan, cukup dengan pengganti biaya cetak Rp. 70.000,00 + ongkos kirim.

 

24255004_10211520856757301_3810785900597633218_o

Ayo, kepada yang mau kasih kado istimewa kepada someone specialnya, untuk natalan / tahun baru / valentine day. Monggo pesan dan order sekarang, sudah bisa ya.

Saluran PM, WA, Line, Telegram dibuka 24 jam. Pokoknya pesan dan order ya 👉 ke Mas Ben, di nomor 081803107847 😉

Terimakasih.

 

Salam literasi

Ben Sadhana

Iklan

[Buku] LELAKI YANG TUBUHNYA HABIS DIMAKAN IKAN-IKAN KECIL

Dear Pembaca,

Dengan rasa syukur, kembali Mas Ben infokan adanya buku baru yang di dalamnya ada karya pena Mas Ben. Kali ini bertajuk “Antologi 25 Cerpen Pesisir Nusantara”. Sebagaimana judulnya, buku ini berisi 25 cerita pendek dengan topik seputar kondisi sosial, ekonomi serta permasalahan yang ada di daerah pesisir.

Buku ini menjadi menarik, karena para penulisnya mengambil perspektif yang berbeda dalam bercerita, meski dengan sentral topik yang sama. Diperkuat dengan latar para penulisnya yang beragam; wartawan, esais, sastrawan, penyair dari tingkatan generasi yang berbeda. Karenanya bila disejajarkan dengan karya lukis, maka dalam buku ini, pembaca akan dipertemukan dengan karya yang beraliran realis hingga surealis.

Penasaran, silakan bagi yang berminat bisa menghubungi langsung Mas Ben. Kebetulan saat ini tersisa 5 (lima) eksemplar di Mas Ben, yang bisa dipesan oleh pembaca yang ingin menambah koleksi perpustakaan keluarganya 🙂 Monggo.

23550317_10211423089713186_4124708517857648789_o

Spesifikasi buku :

Judul : “Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil

Dimensi    : 13,5 x 20 cm
Halaman  : xxi + 220
Penerbit   : Rumah Pustaka
ISBN           : 978-602-5557-08-8

 

Salam Literasi

Ben Sadhana

Sudut-sudut dan Sisi-sisi Pesona Kabupaten Semarang

Dear Pembaca,

 

Sebagaimana dalam ulasan saya sebelumnya tentang pesona Ungaran dan Kabupaten Semarang, yang salah satunya melalui Lokawisata Siwarak. Maka tidaklah adil rasanya bila kita tidak pula mengungkap daya-pesona Ungaran dan sekitarnya di kawasan Kabupaten Semarang dari sekian banyak sudut pesonanya.

Kabupaten Semarang identik dengan gunung Ungaran, sudah pasti kesegaran udara yang sejuk menjadi keunggulan komparatifnya tersendiri. Ya, Ungaran dan daerah sekitarnya memang termasuk sejuk, jauh lebih sejuk daripada kota Semarang-nya sendiri 🙂

Sebagaimana wialayah di area pegunungan lainnya, demikian pun Ungaran dan sekitarnya dipastikan menyimpan banyak potensi alam yang memesona. Setelah lokawisata Siwarak, masih terdapat pula di wilayah kita ini destinasi wisata lainnya; lokasi lain yang tidak kalah menarik, bahkan beberapa diantaranya lebih fenomenal karena selain lebih dikenal, juga faktor history yang membangunnya hingga menjadi begitu terkenal dan menangguk animo wisatawan untuk mengunjunginya.

Sebut saja :

  • Air terjun Semirang di Desa Gogik, Ungaran yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kota Ungaran atau lebih tepatnya lagi sekitar 25 kilometer dari kota Semarang.

  • Wisata Bukit Cinta yang terletak di Desa Rawapening, Kecamatan Banyubiru dengan panorama Rawa Pening yang mempunyai hamparan air membiru serta pesona hijaunya bukit Brawijaya,

bukit-cinta-semarang-lihat.co.id

 

  • Kawasan Wisata Umbul Sidomukti merupakan salah satu wisata alam pegunungan di Semarang, berada di desa Sidomukti kecamatan Bandungan kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini dengan didukung fasiltas & Servis: Outbond Training, Adrenalin Games, Taman Renang Alam, Camping Ground, Pondok Wisata, Pondok Lesehan, serta Meeting Room.
  • Vanaprastha Gedong Songo Park berada di kompleks Candi Gedong Songo, lereng Gunung Ungaran Kabupaten Semarang. Dengan suhu rata-rata 19 sampai 27 derajad celcius dan berada pada ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut. Rumah kayu jati yang telah berumur lebih dari satu abad, pada masa lalu digunakan sebagai guest house atau kantor resmi Kehutanan pada jaman pemerintahan Hindia Belanda.

vanaprasta-gedong-songo-cakrawalatour

  • Air Terjun Kali Pancur, berada di Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, sekitar 14 km sebelah barat Kota Salatiga. Untuk menuju lokasi ini mata akan dimanjakan dengan eloknya keindahan alam lereng gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu. Namun sayangnya untuk sementara ini, untuk ke lokasi baru bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi karena belum ada angkutan umum tersedia.
  • Kampung Seni Lerep, sebuah komunitas budaya yang berada di sebuah desa yang berhawa sejuk di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Bukan hanya sebuah wahana pengelanaan budaya, nguri-nguri dan mamaknai seni bukan sekadar sebagai warisan budaya saja, namun lebih dari itu, untuk bisa menjadi lahan persemaian berbagai buah pikiran, dan proses pengejawantahan pikiran, hingga memaknai sebuah proses kerja budaya sebagai ‘human intellectual work’.
  • Candi Gedong Songo, sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu peninggalan abad IX Masehi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut (suhu berkisar antara 19-27 °C). Kompleks candi ini berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Candi Gedongsongo, Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan.

 

  • Curug Benowo terletak di Lereng Gunung Ungaran, Desa Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Curug dalam Bahasa Jawa berarti Air Terjun. Eksotisme Curug Benowo ini mungkin sulit unutk dicapai orang kebanyakan, karena tempatnya benar benar alami, jalannya setapak, naik turun, mungkin hanya direkomendasikan pada para pecinta alam atau mereka yang suka tantangan, tidak untuk kebanyakan orang apalagi rekreasi keluarga. Dibalik capeknya medan menuju lokasi akan terbayar oleh keindahan pesona alam curug Benowo ini dan Pemandangan Air Terjun yang Eksotis. Di dekat Curug Benowo ini juga terdapat curug lainnya, yaitu Curug Lawe yang tak kalah indahnya.
  • Wisata Alam Wana Wisata Penggaron, terletak sekitar 2 km arah Kota Ungaran atau sekitar 18 km arah Selatan Kota Semarang. Wana Wisata ini adalah salah satu hutan binaan Kesatuan Bisnis Mandiri Wisata, Benih dan Usaha Lain (KBM WBU I) Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Masyarakat sekitar Semarang biasa memanfaatkan Wana Wisata Penggaron ini untuk berbagai aktivitas. Mulai dari olah raga, jungle tracking, outbound training, latihan SAR dan Pramuka, rekreasi, hingga penelitian dan kepentingan ilmu pengetahuan lainnya. Selain lokasinya yang sangat dekat dengan kota, Wanawisata Penggaron juga memiliki koleksi hidupan liar terutama burung yang cukup banyak dan menarik. SBC mencatat setidaknya ada 97 spesies yang terdapat dalam wanawisata tersebut. Dengan beberapa spesies yang menarik seperti Merak Hijau, Elang Ular Bido, Kadalan Birah, Kadalan Kembang dan beberapa raptor migran.

wisatapenggaron-exploresemarang

  • Bandungan, terletak sekitar 7 kilometer dari Ambarawa atau 12 kilometer dari kota Ungaran atau sekitar 23 kilometer dari kota Semarang. Berbagai fasilitas wisata alam seperti jogging track, kolam renang mata air dan lapangan tennis, dilengkapi dengan pemandangan pegunungan indah. Tak lupa tempat ini menyediakan pasar bunga, sayur dan buah segar bagi para pengunjung. Bandungan juga menyediakan tempat konferensi, perkemahan serta tempat peristirahatan baik hotel berbintang maupun hotel melati.

bandungan-nus3tara

  • Selain itu masih ada juga wisata edukasi dan history yaitu Monumen Palagan Ambarawa dan Stasiun Kereta Api di Ambarawa, dan Benteng Pendem Ambarawa (Benteng Fort Willem I).
  • Untuk yang suka wisata Religi, di Ambarawa juga ada Gua Maria Kerep.

gua-maria-kerep-ambarawa_seputarsemarang

Ok, puas jalan-jalan di Kabupaten Semarang, terus capek ? letih ? lelah ? lesu ?

Jangan kuatir, di Ungaran dan kabupaten Semarang banyak destinasi wisata kuliner yang bisa dijajah sebagai pelampiasan. Tercatat : Sate Sapi Pak Kempleng, Gudeg Koyor, Tahu Bakso, Gudeg Nglaras Rasa yang legendaris sejak tahun 1965 itu, semua tersedia.

Jadi pokoknya, setelah mata dan kaki lelah berpiknik, perut terpenuhi oleh kulinernya yang beragam, jiwa dan raga dijamin puas sepuas-puasnya … membangkitkan tuman kembali ke Ungaran dan Kabupaten Semarang.

Ok, jadi begitulah kisah petualangan litera kita tentang Ungaran dan Kabupaten Semarang , sebagaimana dalam 2 (dua) telah dengan berurutan dicatatkan di  Rumah Sadhana ini, menindaklanjuti dan atau dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Kabupaten Semarang.

 

Salam sapta pesona

Ben Sadhana

 

Catatan : Sumber gambar sebagaimana tertulis di nama file (ekstensi gbr). Gbr. Bukit Cinta dari lihat.co.id, Vanaprastha dari cakrawala tour, Wanawisata Penggaron dari exploresemarang, Bandungan dari nus3tara.co.id, Gua Maria Kerep dari seputarsemarang.

Lokawisata Tirto Argo Siwarak – Satu Diantara Pesona Alam Ungaran

Dear Pembaca,

Ketika anak kami yang masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, sedang bermanja-manja kepada saya dan ibunya – mendadak mengatakan : “Pak, kenapa kita tidak pindah saja ke kota yang banyak tempat pikniknya ?”. Entah darimana ide itu terpantik, saya klok tiba-tiba saja menyebutkan Ungaran. “Bagaimana kalau kita ke Ungaran saja?” Pertanyaan saya yang langsung berlanjut antusias darinya. “Banyak tempat piknik ya Pak di Ungaran?” tanya anak kami seketika.

Istri saya yang mendengar, menimpali, “nek kelakon tenan, kapok. Boyongan meneh.” Kata-katanya yang saya jawab sambil terkekeh, “Yo rakpopo, sopo ngerti rejekine anak lanang nang Ungaran. Bapak yo lagi golek-golek gawean meneh kok yo Le.”

Ya, saya mendadak teringat kepada Ungaran. Kenangan tentang Ungaran paling melekat pada saya yaitu ketika masih kecil, saya berdua bersama adik laki-laki saya berkesempatan diajak berekreasi ke kolam pemandian Siwarak. Sebagai anak kecil, baru tahu mau diajak jalan-jalan saja sudah bisa dibayangkan, betapa tiada taranya kegirangan kami, belum lagi ditambah rekreasinya di luar kota – waah, tampah berlipat-lipat kebahagiaan kami, plus sampai di lokasi diperhadapkan pada wahana air … sudah deh tidak perlu dijelaskan lagi, bagaimana “liarnya” kami dua bocah kecil ketika itu. Adik saya langsung nyemplung klebus ke kolam, sementara yang takut berenang, sudah tak terkira bahagianya mencelupkan kedua kaki saya ke dalam kolam, menikmati sejuknya alam Siwarak.

Tidak terlalu istimewa bila kita cuma bicara dari sisi air dan kolam plus papan prosotan yang berliku-liku itu – toh wisata wahana air sudah marak saat ini dengan segala fasilitasnya di beberapa daerah di Indonesia ini. Tapi daya pikat yang tiada tara – yang saya percayai hingga saat ini meski saya belum banyak menjelajahi wisata alam air, di Siwarak ini menjadi istimewa karena didukung pesona lokasi dan lingkungan sekitar dan dan di dalamnya. Bernuansa hutan pinus yang rimbun, sudah sangat cukup menjadikan kawasan wisata ini penuh pesona.

Mengingat kembali Ungaran dan Siwarak, membangkitakan kepenasaran saya untuk tahu lebih banyak tentang Siwarak ini. Maka saya upreg-lah internet, dan berkat jasa kebaikan google atas kemurahatian datanya, bersukalah saya atas data yang saya peroleh.

Taman wisata Siwarak, berjarak sekitar 2 kilometer dari kota Ungaran atau sekitar 23 kilometer dari kota Semarang,  Kolam renang Tirto Argo – lebih dikenal dengan nama Siwarak karena lokasinya yang terletak di Desa Siwarak, tepatnya di Jl. Nyatnyono, Siwarak, Ungaran, Kabupaten Semarang Jawa Tengah ini diresmikan pada 8 Agustus 1968. Selain karena suasananya sejuk, adem dan lokasinya relatif dekat dengan pusat kota, konon air kolamnya termasuk sangat bersih dan rendah kaporit, karena sumber airnya berasal dari mata air Gunung Ungaran.

Didukung dengan kemudahan akses dan fasilitas yang tersedia di dalamnya, menjadikan kolam Siwarak sangat menarik dan nyaman dikunjungi. Dulu saja pada saat kami kecil, masih jelas sekali dalam ingatan kami, sarana kamar mandi dan peturasan yang tersedia jumlahnya cukup dan bersih. Bahkan ada juga tempat penitipan barang, bila pengunjung terlanjur membawa tentengan yang gede-gede yang tidak mungkin dibawa-bawa sepanjang waktu di kolam, bisa dititipkan dengan aman 🙂

Bagi Anda yang bermaksud berwisata ke sana, berikut sebagai sekilas info kolam wisata Siwarak dapat dijelaskan sebagai berikut :

Alamat

Jl. Tirto Argo RT.04 / RW.08 Nyatnyon, Ungaran Barat, Jawa Tengah.

Jam buka

kecuali Selasa dan Rabu (Tutup), Kolam Siwarak dibuka mulai jam 06.30 – 17.00 bbwi.

HTM

Rp. 15.000,- per orang. Rombongan sebanyak lebih dari 30 orang akan mendapat diskon sebesar 10%

Kontak

0812-2927-2707 (edy.tedjos@yahoo.com)

Website

http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

Jadi demikian nostalgia maya saya tentang jalan-jalan wisata saya ke Siwarak – Ungaran. Ungaran, tempat yang dengan nuansa ngangeni, selain tentu saja kota kelahiran saya Yogyakarta 🙂

Masih ada yang ingin saya ulas terkait dengan Ungaran, tentang potensi dan pesonanya : alam, wisata dan ragam kulinernya. Untuk lebih lanjutnya, akan saya uraikan pada tulisan berikutnya ya 🙂

Akhir kata, selain memberikan gambaran singkat tentang pesona alam alam dan lokawisata Siwarak di Ungaran, tulisan ini didedikasikan dan dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Kabupaten Semarang.

 

Salam Sapta Pesona

Ben Sadhana

 

Note : gambar diambil dari berbagai sumber dan web http://kolam-renang-tirto-argo-siwarak.business.site

PADA DETIK TERAKHIR

Dear,

PADA DETIK TERAKHIR, demikianlah tajuk buku Kumpulan Cerpen Duet yang akan diluncurkan di Semarang pada 11 Nopember 2017 yang akan datang ini.

Barangkali istilah cerita pendek (cerpen) sudah cukup jamak dikenal, namun bagaimana halnya dengan Cerita Pendek Duet ? Apa maksudnya ?

Ya, cerita pendek duet adalah sebuah cerita pendek yang dibangun dan dikerjakan oleh dua orang cerpenis (penulis). Kedua penulis, menuangkan imajinya secara liar — ya liar, karena keduanya sama sekali tidak sedang berada di tempat dan waktu yang sama. Kisah cerpen duet ini dikerjakan secara tandem bergantian paragraf per paragraf. Jadi melalui kalimat-kalimat yang tersaji pada paragraf pertama-lah cerita itu selanjutnya mengalir secara alamiah dan liar seturut imaji masing-masing penulisnya. Kedua penulis juga tidak saling menebak akan adanya tokoh-tokoh baru yang kemudian muncul di perjalanan kisah maupun yang dihilangkan dalam pertengahan kisah. Kedua penulis sama-sama tidak bisa menebak ending cerita yang sedang digarap berdua, maupun kelanjutan / kejutan-kejutan yang akan disajikan oleh penulis pasangannya di setiap poragrafnya.

Kunci keberhasilan cerpen duet ini yaitu terletak pada kekuatan paragraf pertama yang menjadi kunci tersajinya alur cerita yang apik dengan segala konflik yang terbangun di dalamnya, tentu juga didukung oleh kuatnya karakter para tokoh cerita yang diciptakan oleh kedua penulisnya — penulis yang dipertemukan dalam proyek cerpen duet, yang bahkan sebelumnya tidak pernah bertemu atau saling kenal satu dengan lainnya. Menarik bukan ?

22553189_10211221587995769_1960192612047709682_o

Buku Antologi Cerpen Duet “Pada Detik Terakhir”, menampilkan 40 kisah cerpen duet terpilih dari 34 penulis, yaitu : Tengsoe Tjahjono, Benedikt Agung Widyatmoko (Ben Sadhana), Julia Utama, Alfred B. Jogo Ena, Deny Ketip, BE Priyanti, Tantrini Aandang, Maria Lupiani, Yusup Priyasudiarja, Johny Barliyanta, Irene Roostini, Yosep Margono, Iskandar Noe, Caecilia Joel, Celly Kwok, Demitria Budiningrum, Robertus Sutartomo, Adrian Diarto, Megawati Lie, Agnes Kinasih, Emmelia Meitry, Eulalia Adventi Kesiyanti, Pak Kokok, Sri Widati, dkk.

Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan menjadi koleksi, khususnya mereka para penikmat sastra.

Tunggu apa lagi ?

Buku apik dengan spesifikasi :

  • Harga Rp. 120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah) + ongkos kirim
  • Ukuran : 14×21 cm
  • Jumlah halaman : 448
  • Penerbit : Bajawa Press

Telah bisa dipesan awal (Pre-order), langsung melalui Nomor WA/Telegram/Line : 081803107847.

Selamat menikmati 🙂

 

Salam,

Ben Sadhana

 

BATIK LEGACY

Dear,

Batik, siapa yang yang tidak kenal ? Ada yang tidak suka batik ? 🙂 – Tentunya semua suka dan cinta batik ya 🙂

Ya, Semua orang tersirep oleh pesonanya. Begitu dahsyatnya daya pikat batik tidak terbantahkan lagi. Tentunya masih belum hilang dari ingatan kita, bagaimana Malaysia negara jiran kita yang dengan terang-terangan mengklaim dan mengakui bahwa batik merupakan warisan budaya / milik negara Malaysia. Yang setelah melalui perjalanan panjang sejak tahun 2003, pada akhirnya, tahun 2009 Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan, dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang semula pada awal keberadaannya hanya terbatas pada lingkup keluarga dan kegiatan kerajaan, dalam perkembangan masa telah mengalami beberapa tahapan asumsi, mulai dari bahwa batik adalah pakaian para orang sepuh, kemudian hanya untuk keperluan formil, hingga pada masa kini batik telah mempu diterima dan menjadi kebanggan segala usia yang mengenakannya. Termasuk menjadi standar pakaian kerja yang wajib dikenakan setiap hari Jumat. Kita akan dengan mudah menemukan gerai maupun butik batik di pusat-pusat grosir atau pusat perbelanjaan mulai dari yang tradisional hingga moderen.

Masyarakat pada awalnya yang hanya mengenal  Batik Jogja, Batik Solo, dan Batik Pekalongan, kini hampir semua kota dan daerah di Indonesia memiliki batik dengan khas coraknya masing-masing. Bahkan Bogor yang terkenal sebagai kota fashion dengan deretan factory outlet yang menjamur, kini memiliki batik ciri motif hujan gerimis. Daerah pesisir juga dengan bangga memiliki batiknya. Sebut saja Lasem, Cirebon, Indramayu, Madura, Tuban sudah memiliki batik dengan kekhasannya – termasuk kampung-kampung batik yang dikelola dengan apik.

Batik, dari motifnya sendiri terdapat beberapa motif tradisional (pakem) sejak awal perkembangannya. Tentu saja semua motif / corak tersebut memiliki riwayat historis dan makna filosofisnya masing-masing, yaitu :

  • Sida Mukti : Harapan untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin
  • Sida Luhur: Harapan mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi panutan
  • Sida Asih: Harapan akan kasih sayang terhadap sesama
  • Semen Rama: Kehidupan yang makmur
  • Sekar Jagad: Keberagaman dunia dan keindahan
  • Kawung Picis : Umur panjang dan kesucian
  • Truntum : Cinta Bersemi, (arti lain: menuntun)
  • Babon Angrem: Kesabaran dan kasih sayang layaknya induk ayam yang mengerami telur
  • Pringgondani: Prenggondani adalah kesatriyan tempat tinggal Gathot Kaca
  • Tambal: Menambal atau memperbaiki hal yang rusak
  • Irian : Isnpirasi tokoh batik di Imogiri akan kedatangan orang Irian
  • Sri Kuncoro (Truntum Sri Kuncoro): Dari kata tumaruntum saling menuntun, dapat dimaknai lain dari kata tuntum yang berarti tumbuh atau bersemi
  • Udan Liris: Ketabahan dan prihatin menjalani hidup
  • Buntal: Semangat persatuan dan kesatuan
  • Keong Renteng: Dapat dimaknai ikatan yang kokoh dan kuat
  • Wahyu Tumurun: Turunnya wahyu atau anugerah
  • Manggaran: Sering disebut Sigar Semangka di Giriloyo, motif yang berasal dari masa kerajaan Majapahit
  • Gegot: Berawal dari kata Gegoro yang berarti awal mula, harapan hidup berumah tangga dengan prinsip yang kuat
  • Bantulan: Makna Geografis Bantul Yogyakarta
  • Adi Luhung: Bernilai tinggi (seni dan budaya)
  • Parang Rusak: Karang yang terkikis (erat kaitannya dengan pertemuan Sultan dan Ratu Kidul, motif ini hanya untuk raja dan kalangan bangsawan)

Sementara dari sisi kontemporer, terdapat motif-motif :

  • Pisang Mas
  • Polkadot
  • Kunir Pita
  • Kanthil
  • Mega Mendung
  • Senandung Cinta
  • Merak, dan
  • Anggur

Lalu bagaimana dengan Mas Ben sendiri, apakah juga mencintai batik ?

Oh tentu saja, batik bagi saya adalah belahan jiwa kedua setelah istri saya. Saya dengan bangga akan mengenakan batik dalam aneka kesempatan, termasuk pada suatu ketika saya bersama dengan kawan-kawan merayakan gembira dengan karaoke bersama di sebuah franchise rumah karaoke. Bagi saya pribadi, batik selain memberikan efek keren, batik juga luwes dan mampu memberikan aura pas dalam setiap kesempatan baik resmi, semi resmi maupun non resmi. Saya memakai batik tidak perlu menunggu hari Jumat atau tanggal 2 Oktober, karena bagi saya setiap hari adalah hari batik 🙂

Jadi, meskipun baru besok (2 Oktober) baru diperingati sebagai hari Batik Nasional, tanggal 1 Oktober saya sudah mendahului menuliskan kesaksian saya tentang kebanggan akan batik – karena kebanggan dan kecintaan saya akan batik.

Ayo kita warnai hari-hari indah dan bermakna kita dengan batik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selamat hari batik nasional 🙂

 

Salam

Ben Sadhana

 

Referensi :

  1. http://www.antaranews.com/berita/156389/batik-indonesia-resmi-diakui-unesco
  2. http://batik.or.id/
  3. http://www.winotosastro.com
  4. http://batikgiriloyo.com/

KASET-KASETKU SAYANG

“Apa to itu Mas Ben ?” tanya Jeng Arum ketika dilihatnya Mas Ben mengeluarkan sebungkusan platik dari dalam kulkas.

“Eh ini, kaset Jeng.” Jawab Mas Ben dengan tetap tangannya menepuk-nepuk bungkusan membuang embun es yang menempel di plastik.

Mas Ben beranjak dan menuju kamar, tak lama kemudian terdengarlah nada lagu lama kesukaan Mas Ben diiringi teriakan girang Mas Ben, “horrreeeee bissssaaaaa”

Jeng Arum yang tengah asyik memimbing belajar Gus Atya, tergopoh-gopoh menuju kamar menemukan Mas Ben sedang girang gemirang di depan mini compo cap “PNS” kesayangannya.

“Ada apa to Mas, koq sampe teriak bikin kaget begitu ?” Tanya Jeng Arum dengan bingungnya.

“Ini lho Jeng, kaset-kaset koleksi lawas ini kan kemarin saya coba nyetel ternyata sudah nglokor karena lama tidak disetel. Kan sayang, barang kenangan yang sudah sangat sulit didapatkan lagi. Kemarin saya ingat dulu pernah baca di majalah, tips untuk mengembalikan kualitas kaset yang nglokor  itu dengan cara dikulkaskan semalam. Ternyata tips itu benar adanya, lagu-lagu kesayangan saya bisa bunyi bagus lagi.” Mas Ben bercerita dengan gembiranya.

“Oalah Mas, saya kira kenapa. Ternyata cuma gara-gara kaset to.” Kata Jeng Arum berbalik meninggalkan Mas Ben, kembali menyelesaikan tugas pengajarannya untuk putera mereka.

“Lho Jeng, lha namanya koleksi je, kelangenan yang sudah langka di pasaran. Kalau pun bisa didapatkan di tukang jual barang-barang lama, pasti kualitas fisiknya sudah tidak sebagus punya saya yang penuh perawatan kasih sayang to Jeng.” Seru Mas Ben sembari manggut-manggut mengikuti irama lagunya The Williams Brother Can’t cry hard enough itu.

“Ya sudah, yang penting jangan sampai kulkasnya rusak.” balas Jeng Arum dari ruang tengah.

“Tenang saja Jeng, kalau kulkasnya rusak nanti dibelikan baru lagi. Yang penting kaset saya awet dan bias disetel lagi hehehe.”

Mas Ben larut dalam keasyikannya bernostalgia memutar lagu-lagu kenangannya. Tak terasa hampir dua kaset telah diputarnya.

Penasaran dengan suaminya yang anteng lama tidak terdengar suaranya, Jeng Arum melongok ke dalam kamar sambil membisikkan, “Mudah-mudahan mini componya juga rusak kecapean ya Mas, biar dibelikan baru lagi yang lebih mutakhir.” Goda Jeng Arum yang disambut dengan nyonyoan bibir Mas Ben.

Demikianlah kisah Mas Ben yang menemukan kembali kebahagiaannya bersama kaset-kaset koleksi lamanya.


Salam

Ben Sadhana

%d blogger menyukai ini: