Beranda > Catatan Harian > Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu

Salam untuk Anda sekalian,

macanmarahBeberapa waktu ini di layar kaca televisi kita cukup diramaikan dengan berita tentang kasus perseteruan antara Cicak VS Buaya. Pada awalnya saya cukup antusias menyaksikannya dan mengupdate informasi yang dimunculkan terkait perkembangan kasus tersebut. Namun semakin lama kok saya menjadi bingung karena kasus ini sendiri pun berkembang sebagaimana luberan banjir bandang, tak tentu arah.

Sedikit menengok ke belakang, kasus ini berawal dari ditahannya Ketua KPK Non-aktf Antasari Ashar terkait dakwaan pembunuhan Nasrudin. Kasus pembunuhan yang tak kunjung berakhir itu, justeru merembet kemana-mana tak tentu arah, hingga pada saatnya memunculkan statemen upaya penyuapan kepada tim KPK itu sendiri dari Antasari. Kisah yang njlimet sebenarnya dan tidak nyambung. Pertanyaannya bagaimana akhir kisah pengungkapan pembunuhan itu sendiri ? Kapan berakhir ? Akankah berakhir klimaks ?

Ada hal yang menarik dari rembesan kisah Antasari dan Nasrudin [Alm], yaitu munculnya Cicak VS Buaya, yang diawali terugkapnya rekaman penyadapan yang dilanjutkan oleh pernyataan – pernyataan membara dari salah seorang pembesar korps penegak hukum “tersadap” di negara kita [yang sepintas pandangan saya cukup bangga dengan jabatannya :) ]. Entah mungkin terinspirasi dari filem nasional Cicak Bin Kadal yang dimainkan oleh Edy Sud ? Bisa saja hehhee; yang jelas beliau ini sangat rajin melakukan konferensi pers dan tentu saja dengan kata dan kalimat membara yang terumbar beraromakan arogansi [?]. Walau pada akhirnya dia terbungkamkan oleh “kalimat kepongahan” itu sendiri.

Kini muncul lagi perang kata dan argumentasi dari “talent dan extra talent” baru, tak kalah berapi-api tentu saja. Mampu menyulap semua program tayangan televisi menjadi sama, senada seirama dengan berbagai versi “eksklusivitasnya masing-masing”.

Kita sebagai audiens hanya mampu perpasrah hingga episode “melodrama kriminal” itu selesai dan berakhir memuaskan semua pihak [mungkinkah ?].

Barangkali benar kata iklan sebuah produk kontra kesehatan, mulutmu harimaumu. Jadi semakin keras kita mengaum akan semakin membuat orang menyadari betapa harus menjaga kewasdaan berada di dekat kita.

Jadi saat ini yang paling penting adalah kepada siapa pun yang berkepentingan dan terkait kasus ini, baik media, kuasa hukum, penegak hukum, saksi … selalu ingatlah bahwa mulutmu adalah harimaumu :)

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Catatan Harian
  1. November 17, 2009 pukul 3:13 am | #1

    Cicak VS Buaya… hmmm kasusnya semakin lma bukn mengrucut tp mlah mkin merembt dan meluas…
    tapi yakin mas kebenaran akan terungkap,, moga keadilan bisa di tegakan di negara ini

  2. November 17, 2009 pukul 3:15 am | #2

    oh ya mas minta izin tukeran link, “RUMAH SADHANA” linkY sudah di pasang di roll pada menu LINK
    makasih

    Sama-sama Mas El :)
    Terimakasih sudah berkenan menyimpan link Rumah Sadhana :)

    Salam hangat
    Ben

  1. Belum ada trackback.