Beranda > Apresiasi, Catatan Harian > Tentang Kecukupan

Tentang Kecukupan

Salam untuk Anda sekalian,

tearsKemarin lusa melalui tayangan pemberitaan di televisi, diwartakan tentang bahan bantuan makanan untuk para sahabat di Sumbar dan sekitarnya, yang diketahui telah lewat masa kadaluarsanya; dan tidak tanggung-tanggung tampak pada kemasannya, seharusnya sudah tidak layak konsumsi lagi bulan Desember 2008.

Terenyuh dan tertohok batin ini mengetahui kenyataan itu. Makanan yang telah disediakan Tuhan dengan melimpah ternyata ada masanya menjadi sulit didapatkan secara layak. Kenyataan bencana alam yang menimpa para sahabat dan bahan makanan “bantuan” yang telah kadaluarsa hampir setahun lamanya, dapat Anda bayangkan, penderitaan dan kegetiran yang saat ini dialami oleh para sahabat kita di bumi Andalas.

Semua keterbatasan itu, atas berkat rahmat dan kasih Tuhan tentu saja menjadi anugerah tak terkira di tengah penderitaan yang melanda. Dan makanan yang kadaluarsa itu pun seandainya saja terlambat diketahui, tetap saja berkat pertolongan Tuhan tidak akan berpengaruh kepada Sahabat yang sedang sangat sulit memperoleh bahan makanan untuk konsumsi keseharian mereka hingga semuanya kembali pulih kembali.

Tidak perlu kita mempermasalahkan lebih lanjut tentang makanan bantuan yang kadaluarsa itu, sekalipun media telah menyebutkan negara asal makanan itu. Lupakan itu.

Marilah kita masuk ke dalam batin kita, ambil saat tenang, tanyakan kepada batin kita masing – masing. Apakah kita telah memiliki kebijaksanaan dalam menanggapi karunia makanan yang disediakan oleh Tuhan ?

  • Apakah kita telah cukup bijak mengambil porsi makanan untuk kita dan keluarga kita di saat kita hadir di sebuah pesta ?
  • Apakah kita telah cukup bijak dalam memesan makanan ketika kita sedang berada di warung makan / restoran ?
  • Apakah kita cukup bijak telah mengambil makanan sesuai kapasitas kekenyangan kita ?
  • Apakah kita mengingat betapa masih banyak tamu undangan yang mengantri di belakang kita ?
  • Apakah kita cukup bahagia dan tenang telah dapat mencicipi aneka makanan yang tersaji, dan membuang sisa kelebihan yang barangkali tidak sesuai dengan selera kita, atau kebanyakan mengambilnya ?
  • Apakah kita pernah berpikir nasib remah-remah sisa makanan yang terbuang itu ?

Anda tidak perlu menjawabnya, cukup merenungkannya saja.

Tidak  ada hukuman nyata untuk penyia-nyiaan itu, tapi yang jelas Tuhan pun telah secara jelas mengajarkan :

Beginilah perintah Tuhan: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya.

Ya, meskipun Tuhan telah menyediakan semua makanan dan sumbernya secara melimpah, namun kepada kita senantiasa diingatkan untuk memungut sesuai keperluan kita saja. Bila sudah, kita tetap diperbolehkan mengambilnya kembali di saat kita membutuhkannya. Semua telah disediakan bagi kelangsungan hidup kita.

Masih belum cukupkah bagi kita untuk mempertahankan sifat tamak dan mau menang sendiri dengan mengabaikan kepedulian. Hal kecil saja, banyak orang yang belum bisa mengalami hal seperti kita boleh hadir dalam sebuah perhelatan pesta, atau  mereka yang belum disediakan kesempatan untuk dapat duduk nyaman di restoran. Namun kita begitu sering berlaku tidak bijaksana.

Satu kenyataan lagi bahwa “sampah” pun masih bisa memiliki nilai jual dan objek konsumsi bagi sebagian sahabat yang belum memiliki kesempatan cukup mengecap menu makanan enak dan berharga di atas rata-rata, bila hal itu dibandrol dengan harga murah. tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan sampah sisa makanan restoran dan hotel yang terdistribusikan ke dapur dan didaur ulang, untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi aneka makanan kering berharga murah.

Kejadian Sumbar dan sekitarnya, ada baiknya bila menjadikannya cermin bagi kita sekalian untuk lebih arif dan bersikap bijaksana dan mensyukuri nikmat yang disediakan Tuhan dengan secukupnya.

Marilah kita satukan doa agar kejadian di Sumatera Barat dan sekitarnya, tidak berulang kembali. Dan kita mendoakan agar semua keadaan segera dipulihkan kembali.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian
  1. Oktober 19, 2009 pukul 2:31 pm | #1

    selalu fresh!
    meski sudah sering denger, tapi tetep gaya penulisan Mas Ben membuat saya pengen baca sampe habis.

    semuga menjadi berkat.

    Amin, semoga berkat itu senantiasa hadir di antara kita :)
    Terimakasih dan salam hangat.

    Ben

  1. Belum ada trackback.