Manusia Pohon
Salam untuk Anda sekalian,
Dua hari ke depan, kemungkinan besar seluruh warga muslim di negeri kita akan menyambut dan merayakan hari raya Iedul Fitri 1 Syawal 1430 H. Hari yang telah dinantikan dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan lamanya, menahan segala hawa nafsu; bathin atau pun raga. Sebuah hari kemenangan bagi sahabat dan saudara kita yang berhasil melampaui segala ujian iman.
Dan pada masa bulan Ramadhan, disediakan pula sebuah mahabonus bagi sesiapa saja yang karena keikhlasan dan kekhusyukannya beribadah selama bulan Ramadhan [khususnya] dan 11 bulan sebelumnya, yaitu boleh menikmati anugerah rahmat malam seribu bulan atau Laillatul Qadar.
Lalu apakah kemenangan itu disediakan kepada semua sahabat atau saudara kita yang telah melaksanakan ibadah puasa ? Ya.
Lho bukankah adakalanya orang tidak melaksanakan puasa secara utuh ? Ya, itu benar.
Lalu mengapa semua orang disediakan kesempatan menjadi pemenang di hari raya Iedul Fitri ? Ya, karena Tuhan Mahabaik dan Mahaadil, menyediakan hak perolehan pahala secara sama bagi umatNya.
Mari kita perhatikan ibu, isteri, saudari atau kawan dan sahabat perempuan kita ? Kesemuanya diberikan rahmat oleh Tuhan untuk mengalami kondisi menstruasi dan nifas, yang karena hal itu Tuhan mentolerir untuk dibebaskan sementara dari kewajiban puasa dan ibadah Sholat. Masalah kesehatan pun termasuk hal yang menjadikan dasar pertimbangan dokter tidak menganjurkan pasiennya untuk melaksanakan puasa.
Kemenangan itu diberikan kepada siapa saja yang karena niat yang ditujukan kepada Tuhan, berkeinginan melaksanakan ibadah wajib sebagai persembahan iman kepada Tuhan. Bila di perjalanan waktu, terjadi hal yang menyebabkan batalnya ibadah; maka Tuhan tidak akan pernah membatalkan pahala atas ibadah yang tidak lengkap itu.
Demikian pula halnya pengalaman ‘mujizat’ malam laillatul qadar itu sendiri, tidak ada yang dapat melihat wujud anugerah itu, tidak ada seorang pun yang dapat merasakannya atau pun menerima pemberitahuan khusus dari Tuhan semesta alam. Semua umat kesayanganNya berkesempatan sama menerima anugerah itu, baik yang melaksanakan ibadah lengkap maupun yang karena “sesuatu hal” yang menjadikan ibadahnya tidak lengkap.
Tuhan pun telah berfirman bahwa segala sesuatu perbuatan itu dicatatkan pahalaNya, berdasarkan niat ikhlas yang ditujukan kepadaNya – Semua itu bergantung dari niat baiknya yang ikhlas. Orang yang berniat bersedekah namun mengalami pencopetan atau kehilangan uang, maka tetap akan memperoleh pahalanya meski batal bersedekah. Orang yang berniat berhaji, pada saat ia sudah mampu, namun ada hal, aturan atau ajal mejemput, maka pahala itu pun tetap menjadi haknya sekali pun yang menghajikannya adalah putera atau puterinya.
Tuhan memberikan pahala tanpa pernah diketahui, dan Tuhan pun tidak pernah memberikan bocoran nilai raport pahala semua umatnya termasuk para Nabi dan Rasul kekasih hatiNya. Semua pahala yang dikreditkan ke buku amal kehidupan masing-masing dari kita baru akan diketahui pada saat hari penghakiman.
Jadi, mengapakah kita masih berhitung-hitung apakah saya menang dalam bulan Ramadhan ? Apakah saya memperoleh anugerah laillatul qadar, karena telah melaksanakan ibadah secara khusus dan khusyuk pada hari – hari tertentu di bulan Ramadhan ?
Tuhan senantiasa menjaga dan memelihara segala ciptaanNya, manusia, satwa dan flora.
Mari kita perhatikan pohon, saya percaya kita semua pernah melihat pohon
Perhatikanlah betapa baiknya pohon. Nalurinya tiada lain hanyalah untuk bertumbuh, tidak peduli bagaimana orang melukai dan menandai batang tubuhnya dengan parang dan menulisinya dengan pahat, cat atau paku … tetap saja pohon dengan nalurinya bertumbuh. Dalam kondisi apapun pohon, kulit batangnya tercabik-cabik, dibuat takik-takik untuk memanjat, di sayat untuk jalur tiris getahnya yang bermanfaat … tetap saja memberikan keteduhan dan kesejukan bagia yang ada di sekitarnya. Pohon pun dengan kebaikannya menjaga cadangan air tanah dan kekuatan tanah. Pun menjadi tempat hidup dan arena bercengkrama para satwa. Hingga pada saat ia ditebang pun, tetap saja menyediakan manfaat melalui kayunya, atau cadangan investasi kehidupan baru melalui tunasnya.
Semua yang ada padanya memiliki nilai manfaat, baik masih berupa buji, kecambah, pohon hingga mati, kayunya pun memiliki manfaat.
Jadi, setelah kebahagiaan Iedul Fitri nanti, setelah suasana saling memaafkan, marilah kita semua merenungi kehendak Tuhan melalui kkta. Marilah kita menghayati kebaikan naluri alamiah pohon dengan satu naluri baiknya, yaitu bertumbuh menjadikan kenyamanan dan memberikan manfaat kepada lingkungannya dengan semua yang disertakan Tuhan seiring pertumbuhan dan siklus hidupnya.
Tetaplah menjadi penyejuk dan pemberi manfaat kepada lingkungan, seperti halnya pohon.
Salam gemilang
Benedikt Agung Widyatmoko





















































seandainya…manusia bisa seperti pohon…
mungkin dunia ini akan damai…
salaaam… udah lama ga main kesini, semoga selalu sehat dan berbahagia yah ^^