Beranda > Apresiasi, Catatan Harian > Merah Putih Indonesia

Merah Putih Indonesia

Salam untuk Anda semua,

bendera1Pagi kemarin saya menurunkan bendera merah putih yang telah terpasang di halaman rumah kami sejak sepekan sebelum pesta perayaan tujuh belasan. Ada perasaan syahdu ketika saya menurunkan bendera itu dari tiangnya, sama halnya ketika saya memasang dan mengibarkannya.

Saya memang sengaja untuk tidak menurunkannya sebelum bulan Agustus berakhir, meski para tetangga sudah menurunkan bendera merah putih mereka masing-masing. Bukan karena ingin tampil nasionalis atau dipandang jiwa keindonesiaan saya paling menonjol dari yang lain. Bukan, saya hanya rindu kemeriahan pesta Agustusan sebagaimana masa kanak-kanak saya dulu. Saya masih teringat bagaimana cerianya saya, adik dan teman-teman tampil bersama dalam karnaval Agustusan … mengenakan duk pramuka yang berwarna merah putih, dilingkarkan ke kepala masing-masing dari kami.

Dan saya pun bisa merasakan gempita keagungan merah putih, yang menjulang gagah di atas gapura tujuhbelasan yang dipersiapkan sedemikian rupa oleh para pemuda kampung dan ayah kami.

Hal lain yang masih begitu jelas terekam dalam ruang benak dan batin saya, adalah ketika saya dan kedua adik saya dibonceng bersama oleh ayah kami, ditemani ibu kami menuju jalan utama di kota masa kecil kami, Semarang. Kegembiraan melimpah ruah bertabur di sepanjang jalan oleh banyaknya warga lain yang antusias menyaksikan pawai pembangunan. Beraneka ragam kendaraan hias, berornamenkan bendera merah putih dan juga aneka ragam budaya beserta penunggang kendaraan pawai yang mengenakan aneka pakaian adat daerah … sungguh indah sekali.

Bebahagiaan dan keagungan negeri yang sempat saya rasakan hingga masa SMA saya di Palangkaraya.

Kini saya rasakan negara Indonesia bertumbuh dengan pesat, namun gegap gempita kebanggaan sebagai bangsa menyambut pesta hari kemerdekaan itu semakin pudar. Saya hanya menyaksikan antusiasme pedagang bendera dan umbul-umbul bermandikan peluh menjajakan dagangan musimannya.

Bendera merah putih yang saya saksikan sekarang tidak banyak yang sebersih dan “sesakral” sebagaimana saya lihat di masa kanak-kanak dan remaja saya. Bendera yang begitu selesai perayaan, langsung dikumpulkan untuk dicuci dan dirapihkan oleh para ibu-ibu PKK di kampung kami, dan disimpan di balai warga. Hingga pada saatnya digunakan selalu tampil bersih berwibawa.

Kini saya bisa menyaksikan bendera negara kita, bendera merah putih tampil menjulang dengan seadanya. Warna pudar dan sobek di sana-sini karena tidak pernah diturunkan atau dicuci. Jarang sekali ada prosesi pengibaran dan penurunan bendera merah putih di lembaga-lembaga pendidikan atau perusahaan, bahkan kantor pemerintahan.

Di ruang terbuka pun merah putih “merana” dalam kusam terbalut noda oli menghiasi kendaraan truk, kapal perahu dan sebagainya.

Bendera adalah kebanggaan bangsa yang merdeka, dan ini berlaku di semua negara; bendera menjadi pengiring kepergian bunga bangsa menuju peristirahatannya terakhir, pun merupakan warisan abadi nan membanggakan kepada keluarga dan handai taulan yang ditinggalkannya.

Saya senantiasa mengingat betapa bangganya almarhum kakek saya ketika mengenakan seragam LVRI, bersiap turut dalam upacara 17 Agustus … gagah sekali dalam sosok kurus keriput beliau.

Terimakasih pahlawanku, kusuma bangsaku, untuk kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dan persembahkan melalui cucuran darah , raga dan jiwa – jiwa suci yang telah engkau semua persembahkan bagi kebesaran negeri kita tercinta Indonesia.

Saya percaya bahwa masih ada kebanggaan dan kesemarakan yang agung dalam menyambut hari kemerdekaan di beberapa daerah bagian dari NKRI ini, melalui cinta bangsa penduduknya.

Indonesia jaya, bersatu padu berbalut kemegahan Bhinneka Tunggal Ika.

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian
  1. September 3, 2009 pukul 7:13 am | #1

    Maju Indonesiaku!!!!
    Merdeka!!!

    Sekali merdeka tetap merdeka, sepanjang hayat masih di kandung badan :)

    Terimakasih ya atensi dan apresiasinya :)

    Salam hangat
    Ben

  1. Belum ada trackback.