Edelweiss

Sebelumnya :

“Oh ya Mas, tadi siang ada ceweq yang nyariin Mas Bagus. Katanya kenal Mas Bagus waktu mudik satu bis bareng.” Kata Sumiyati.

“Oh ya ?” Jawabku cuek.

“Iya, Mas. Lama dia nungguin Mas bagus tadi. Katanya dia nyariin di tempat kost Mas Bagus yang lama, terus dikasih tahu kalau Mas Bagus udah pindah ke sini.” Terang Sumiyati.

“Katanya, dia besok Minggu mau ke sini lagi. Tadi Ningrum yang nemenin dia Mas.” Imbuh Sumiyati.

Kualihkan pandangan ke arah Ningrum, dan kulihat dia mengangguk tanda membenarkan ucapan Sumiyati.

swiss_alpine_wildflower07“Hayo, siapa tuh ? Nggak kasihan sama Ningrum yang cemburu ya ?” Goda Titis. Aku tidak habis pikir, kenapa mereka selalu menggodaku dengan Ningrum. Apa mereka tahu kalau aku agak lain dengan Ningrum.

“Ah, bukan siapa – siapa. Kami memang pernah satu bangku waktu perjalanan mudik lebaran. Saya turun duluan, setelah itu gak pernah ada komunikasi lagi sampai sekarang.” Bantahku.

“Ah, masa sih ?” Kembali Ainur menggodaku.

“Bener, swear.” Bantahku lagi.

“Iya, iya kita percaya gak ada apa – apa antara Mas Bagus sama tuh ceweq. Idih segitu sewotnya.” Goda Ainur

“Ya lagian, kalian maksa hehehe,” gurauku sambil terkekeh mencandai mereka.

Saat mereka hendak pulang, aku tahan Ningrum untuk tinggal sebentar. Dan dia menurut.

“Benar Mbak, ceweq itu mau datang lagi minggu depan ?” Trus dia ngobrol apa saja sama Mbak Ningrum ?” tanyaku menyelidik.

“Iya, dia memang bilang kalau Insya Allah mau datang lagi hari Minggu. Dan dia banyak cerita tentang Mas Bagus, katanya Mas bagus orangnya baik. Gitu aja sih Mas.” Jelas Ningrum.

“Aduh, gimana ya ?” Aku sedikit bingung.

“Memang ada apa Mas, koq jadi gugup begitu ?” Tanya Ningrum.

“Saya mau cerita, Mbak Ningrum mau percaya kan ?” Tanyaku kemudian, dan kulihat Ningrum mengangguk.

“Memang waktu itu kami pernah satu perjalanan pulang mudik. Dan kami banyak mengobrol sepanjang perjalanan, termasuk tentang tempat tinggal saya di sini. Saya turun duluan di Jogja, sementara dia turun di kota berikutnya arah Solo. Hingga akhirnya saya kembali lagi ke sini setelah liburan berakhir. Selang sekitar dua bulan kemudian dia datang ke tempat kost saya bersama temannya. Dia mengenalkan saya sebagai Mas-nya kepada temannya itu. Terus terang saya kaget waktu itu, tapi tak begitu saya hiraukan. Setelah itu dia sering main ke tempat saya, dan semakin lama saya menangkap dia punya maksud lebih dari sekadar pertemanan biasa. Terus terang saya tidak siap untuk itu, dan pernah sekali dia saya tegur dengan nada keras karena saya anggap sikapnya sudah kelewatan. Dia tampak kaget dan terkejut dengan nada keras saya itu. Dia langsung minta ijin pulang, dan setelah itu saya mulai cari tempat kost baru ke sini. Maksud saya biar dia tidak menemui saya lagi.”

“Waktu itu, kenapa Mas Bagus tidak bicara saja apa adanya kalau Mas Bagus hanya mau berteman saja dengan dia ? Maaf saya potong Mas ?” Ningrum memotong ceritaku.

“Saya tidak sampai hati, karena saya lihat dia sangat berharap Mbak “? Jawabku pelan

“Saya tidak ingin menyakiti dia.” Lanjutku. “Terus terang saya belum pernah merasakan menolak atau ditolak, tapi saya bisa rasakan dan bayangkan bahwa dia akan sedih bila saya bicara jujur.”

“Ya sudah, kalau begitu bila dia datang lagi, Mas Bagus bilang saja apa adanya. Saya yakin kalau Mas Bagus bicara baik, dia bisa menerima dan tetap menghormati Mas Bagus.” Ningrum menasehatiku.

“Mbak Ningrum, maaf sebelumnya. Mbak Ningrum bisa bantu saya ?” Tanyaku.

“Selama saya bisa Bantu, Insya Allah akan saya bantu Mas Bagus.” Jawab Ningrum menyejukkan hatiku.

“Saya mau minta tolong Mbak Ningrum pura – pura jadi pacar saya dan menemani saya saat teman saya datang besok. Saya akan pura – pura mengaku kalau saya sudah jadian sama Mbak Ningrum. Mbak Ningrum mau kan ?” pintaku.

Kulihat Ningrum kaget dengan permintaanku itu, sedetik kemudian kulihat dia tersenyum dan berkata, “Lho koq saya yang diminta bohong jadi pacarnya Mas Bagus sih ? Ntar Titis marah lho Mas. Gak kasihan sama Titis apa ?” Ningrum menggodaku, dan justeru membuatku tambah bingung. Apa maksudnya Titis jadi marah ? pikirku.

“Ya Mbak Ningrum kan kelihatan lebih dewasa, jadi saya pikir akan lebih meyakinkan daripada Titis yang pura – pura jadi pacar saya.” Aku memaksa Ningrum dengan polosnya tanpa mempertimbangkan apa yang bakal terjadi di belakang hari.

“Tapi bener ya Mas, kalau ntar Titis marah. Mas Bagus yang harus bicara ke dia kalau ini hanya trik sandiwara.” Ningrum kembali mengulangi pernyataannya yang semakin membuatku bertambah bingung.

“Ya, saya janji.” Jawabku singkat penuh kelegaan. Lega karena berfikir dengan skenario dadakan itu aku akan melakukan tindakan baik yaitu memupus harapan seorang perempuan tanpa menyakiti perasaannya, dan semuanya akan menjadi beres.

Setelah pembicaraanku dengan Ningrum tersebut, perasaanku terhadap Ningrum makin menjadi – jadi. Perasaan rindu dan sayang semakin menerpaku. Terus terang aku sangat takut menyadari getar – getar rasa yang kualami ini. Aku begitu takut, takut Ningrum justeru akan menjauhiku karena aku menaruh hati kepadanya sementara dia hanya menganggapku sekadar sebagai seorang kakak baginya. Kalaupun Ningrum mau menerimaku, aku sendiri masih bingung bagaimana menjalani masa berpacaran karena sampai umurku yang ke-duapuluh lima ini sama sekali aku belum pernah melakukan yang namanya “nembak ceweq”. Trus bagaimana juga jika Ningrum ternyata tidak marah tetapi tetap menolakku, aku pasti malu banget dengan Titis, Ainur dan juga Sumiyati.. Duh Gusti, pusing rasanya.

Akhirnya hari Minggu itu datang juga. Aku sebenarnya sudah lupa tentang skenario yang kukarang bersama Ningrum minggu lalu, meskipun kalau perasaan rindu terhadap Ningrum tidak lupa.

“Aduh gantengnya yang mau menerima tamu ceweq, tumben pagi udah rapih,” suara Titis dari seberang terdengar jelas dan mantap sekali saat aku sedang menjemur handuk.

“Ya ampun, ini hari Minggu rupanya.” Bergegas aku masuk kamar kostku dan mengintai keluar mengamati kalau – kalau Ningrum keluar dari kamarnya dan sendirian tanpa ada anggota Trio Kwek – Kwek lainnya.

Nha, kesempatan itu datang juga akhirnya. Kulihat Ningrum keluar sambil meniriskan rambutnya yang basah selepas keramas dan hendak menjemur handuk. Buru – buru aku keluar dan kupanggil dia, dengan hati – hati tentunya. Ningrum pun mengetahui isyarat panggilanku dan sudah ada di depan kamarku kost-ku beberapa menit kemudian. Aku jadi terpana memandang Ningrum, dia nampak semakin ayu dengan rambutnya yang basah itu.

“Ada apa Mas ?” Tanya Ningrum membuyarkan keterpanaanku kepadanya.

Bersambung

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian
  1. September 2, 2009 pukul 2:53 pm | #1

    yang jadi mas bagus kok seneng banget ya ? dikelilingi cewek cewek..he..he..

    Iya Bu Dyah, beruntung sekali memang si Bagus itu … saya aja sampe ngiri tenan deh … hehee.

    Terimakasih dan salam hangat

    Ben

  1. Belum ada trackback.