Beranda > Catatan Harian > Senandung Rindu -I-

Senandung Rindu -I-

Sekelumit kisah sebelumnya :

Aku hampir terbiasa lagi dengan sendiriku hingga tiba Sabtu sore seminggu berselang, aku kembali dikejutkan dengan sapaan nyaring ketiga kawanku. Ya, mereka bertiga datang lagi buat nebeng nonton tivi seperti minggu sebelumnya. Kami saling bercerita dan bercanda tentang segala hal mulai dari pekerjaan, cerita tentang tempat kerja dan pekerjaan, hingga ke kisah pacaran mereka dan pacar mereka di kampung.

dark_honey_bee_hembergerMinggu ini seperti biasanya, mereka datang ke tempatku untuk menonton tivi. Aku sedang menyeterika pakaianku ketika mereka datang. Aku tidak begitu memperhatikan ketika mereka sudah mulai lagi dengan kesenangan mereka menonton film India di tivi. Kami sama – sama asyik dengan kegiatan masing – masing. Hingga aku selesai dengan aktivitasku, dan ketika bermaksud bangkit berdiri untuk memindahkan pakaian yang telah rapih terseterika ke dalam almari, aku baru sadar kalau mereka datang berempat hari ini.

Pergerakanku mengagetkan kawan keempat yang kebetulan berada tepat di sebelah kiriku. Kami berdua sama – sama kaget, dan wajah kami tepat beradu pandang. Cukup lama wajah kami bertatapan, hingga suara Titis memecah keheningan, “Wah saking rajinnya sampai gak nyadar kalau ditemani ceweq manis nih.” Rupanya yang dimaksud Titis dengan ceweq manis itu adalah Ningrum, si ceweq keempat yang baru hari ini aku temui.

“Maaf ya, saya tadi nggak ngeh kalau ada Mbak Ningrum. Jadinya saya cuek aja.” Kataku menyaput kekakuan. Kuakui Ningrum memang manis. Penampilannya lugu dan kulitnya bersih. Rambutnya juga panjang terpelihara hingga menyentuh ke pinggulnya.

“Nggak apa – apa koq, malah saya yang minta maaf datang gak permisi. Saya diajak nemenin Titis, Ainur dan Sumiyati nonton tivi di tempatnya Mas Bagus.” Jawab Ningrum santun sembari masih tersipu.

“Iya, udah tiga minggu ini Trio Kwek Kwek ngramein tempat saya.” Kataku kemudian.

Setelah itu, semua kembali berjalan seperti biasa. Penuh kekonyolan dan celetuk jenaka dari Titis dan Ainur. Meski terkadang aku dibikin bosan juga karena kuasa remote tivi sepenuhnya ada di tangan mereka, bahkan terkadang aku menyaksikan perebutan hak guna remote di antara mereka berempat. Ya, yang penting akhir pekanku jadi semarak, kurelakan tiviku jadi milik mereka sementara.

–oOo–

Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam ketika kudengar suara dengan nada cemas sambil mengetuk pintu kamarku. Aku segera bergegas menuju pintu dan membukakannya. Kulihat Titis dan kawan – kawan dengan wajah pucat dan ketakutan masih mengenakan seragam kerja mereka.

“Ada apa ? tanyaku.

“Cepat keluar Mas, Tempat kost Mas Bagus mau diserang dan dibakar sama warga kampung sebelah, Mas.” Kata Titis masih dengan nada tinggi dan wajah penuh kekhawatiran.

“Iya Mas, kemarin katanya warga kampung kita ada yang berantem sama warga kampung sebelah, dan sekarang mereka mau nyerang balik.” Ainur menambahkan.

Aku keluar, dan kulihat di luar, di pinggir jalan masuk kompleks kami tepatnya memang tengah berjaga – jaga cukup banyak tenaga pengamanan dari Hansip dan Kepolisian. Ada isyu tempat kami akan dijadikan sasaran balas dendam warga kampung sebelah dikarenakan pemilik kompleks kost dimana kami tinggal adalah tokoh masyarakat di kampung kami.

Aku kembali ke dalam dan berusaha menenangkan Titis dan kawan – kawannya, bahwa semoga tidak akan ada kejadian yang tidak diinginkan. Malam itu kami berjaga – jaga dan tidak ada yang berani tidur nyenyak. Kejadian yang kami khawatirkan akhirnya tidak pernah terjadi. Ada satu hikmah tersendiri atas kejadian tersebut, yaitu bahwa aku sungguh bersyukur memiliki kawan sekaligus adik yang begitu peduli terhadap satu dengan lainnya.

–oOo–

Waktu terus berjalan dan persahabatan di antara kami makin indah dari hari ke hari. Hingga saat lonceng pesta demokrasi menjelang ditabuh, dan ketika hampir semua lembaga maupun instansi merencanakan libur untuk mensukseskan moment penting tersebut, saat itulah aku mulai menyadari betapa eratnya kekerabatan di antara kami.

Di daerah pinggiran Jakarta, kota tempat kami tinggal, geliat pesta demokrasi sudah mulai terasa dengan dimulainya pawai atau kampanye simpatik menggunakan kendaraan bermotor berkeliling kota. Begitu semarak gaung pesta demokrasi di daerah kami mengingat mayoritas penduduknya adalah kaum muda buruh sehingga pelaksanaan pawai simpatik bermotor menjadi meriah sekali untuk partai yang mengusung aspirasi kaum muda.

Hari ini aku pulang cepat, kebetulan rombongan Ningrum dan Titis masuk shift sore. kulihat Ningrum sedang menjemur pakaian dengan berjalan terpincang – pincang. “Kakinya kenapa, Mbak Ningrum ?” tanyaku

“Oh … ini, tidak apa – apa, Mas. Cuma terkilir sedikit pas mau turun dari bus jemputan.” Jawab Ningrum dengan sedikit kaget mendengar suaraku. “Koq udah pulang kerja, Mas ?”

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ningrum, tiba – tiba : “Bohong ding, Mas Bagus. Ningrum tuh kakinya keseleo gara – gara lompat pagar tembok belakang.” Potong Titis yang tiba – tiba saja keluar dari kamar kost-nya.

“Lompat pagar tembok belakang ?” Gumamku agak bingung.

“Iya Mas, ceritanya kemarin kan ada kampanye partainya anak muda. Mereka bawa motornya kenceng banget pas lewat depan kompleks kita. Udah gitu ada sebagian yang masuk belok ke tempat kita. Kita semua kaget dan takut, trus pada lompat ke kebon bambu di belakang. Pas lompat, kaki Ningrum nginjak tunggak bambu. Gitu ceritanya yang benar Mas Bagus.” Cerita Titis dengan penuh semangat empat lima.

Kulihat Ningrum salah tingkah karena kebohongannya diuangkap sohib kentalnya sendiri. “Ya udah, gak apa – apa, yang penting ntar diolesi parem atau diurut, Mbak.” nasihatku kepada Ningrum.

Esoknya perusahaanku sudah mulai diliburkan. Ningrum main ke tempat kost-ku dan untuk pertama kalinya aku bicara berdua saja dengan Ningrum.

Bersambung …

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Catatan Harian
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.