Menjadi Tetangga Baru

Sebelumnya :

Kupandangi wajah polos isteriku dalam tidurnya. Sungguh cantik. Tuhan sungguh baik telah memberikan setahun terakhir ini kepada kami. Kebersamaan yang senantiasa membuat kami takut untuk membayangkannya sebelumnya. Terimakasih Dik …

–oOo–

“Mas Bagus … Mas Bagus, buka pintunya dong.” Suara – suara nyaring dan melengking mengusikku dari kelelapan pagi itu.

“Hhhuh … , siapa sih pagi – pagi begini sudah teriak – teriak ?” Sungutku, sambil merapatkan guling berusaha meraih kembali kenyenyakanku yang terusik.

“Mas Bagus, udah siang, buka pintu dong !” Kembali teriakan – teriakan tak berirama itu terdengar riuh rendah. Kali ini benar – benar membuatku hilang kantuk.

Dengan malas kuraih pantalon, dan kukenakan sambil terhuyung mendekati pintu. “Lagian ini kan hari Minggu, kenapa sih ada saja yang usil ganggu pagi – pagi benar,” batinku.

kembang“Eehhh Mas Bagus, akhirnya. Kirain gak mau bukakan kita pintu.” Kata cewek paling paris (= padat berisi) di antara dua yang lainnya.

“Iya nih, habisnya lama banget bukanya. Wah baru bangun yach ?” seloroh cewek satunya lagi dengan gaya centilnya.

“Ada apa ?” Sergahku dengan wajah bete.

“Gini Mas Bagus, kita tetangga Mas Bagus yang tinggal di rumah kost seberang.” Tukas si Paris.

“Kemarin kita lihat Mas Bagus baru pindahan ke sini. Nah sebagai tetangga yang baik kita pengin kenalan sama warga baru, sekalian bantuin benah – benah barang gitu.” Lanjut si Centil.

“Benah – benahnya udah kelar, Mas ?” Tanya cewek terakhir yang sedari dari cuma diam aja sambil mesam – mesem.

“Sudah. Sudah selesai semalem”. Jawabku sekenanya sembari menguapkan sisa kantukku.

“Wah, capek dong ya berarti.” Imbuh cewek pendiam dengan polosnya.

“Iyalah” jawabku gondok.

“Ya sudah. Terus kalian mau apa lagi ? Kalian pulang dulu deh, saya mau mandi.” Kataku mengusir bingungku. Terus terang, ini pertama kalinya aku menghadapi serombongan cewek pede.

“Ya udah, Mas Bagus mandi aja dulu.” Kata mereka hampir berbarengan.

“Ya sudah …” kataku seraya kuraih handle pintu untuk menutupnya.

“Eh Mas bagus, pintunya jangan ditutup dong. Kita boleh numpang nonton tivi kan ?” Rajuk Paris sembari tangannya menahan daun pintu.

“Ampun deh, nih cewek – cewek pada pede banget ya ?” batinku.

“Boleh ya Mas, boleh ya ?” giliran Centil berusaha meyakinkan dan merayuku.

“Yyaa”. Jawabku pasrah. Aku hanya berharap mereka tidak melakukan yang aneh – aneh saja di tempatku.

“Terimakasih Mas Bagus, Mas Bagus baik deh.” Kata mereka sambil berhamburan masuk.

Selesai mandi kulihat mereka bertiga sedang asyik menyaksikan tayangan film India di salah satu stasiun televisi. “Dasar calon ibu – ibu, kalau sudah nonton telesinema pasti anteng teng deh.” Batinku sambil menahan tawa.

“Eh, Mas Bagus dah selesai mandi ya ? Film-nya bagus lho, yang jadi jagoannya Amittab Bachan sama Kajol.” Kata Paris dan Centil.

“Ya udah, kalian nonton aja” jawabku singkat.

Aku mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya, lalu meminumnya. Lumayan segar juga ternyata pagi – pagi minum air putih.

“Sorry, masih berantakan rumahnya. Kalian mau minum apa ? Adanya sih air putih.” Kataku berusaha menetralisir ketegangan sesaat lalu.

“Gak apa – apa koq, ini juga udah rapih termasuknya untuk ukuran cowoq, hehehe.” Goda mereka.

“Gak usah Mas, terimakasih.” Imbuh cewek pendiam.

“Ya sudah kalau begitu. Ini gelas sama airnya, kalau kalian mau minum tuang saja sendiri ya.” Aku mulai melupakan bete-ku.

Kuperhatikan tingkah mereka saat menonton film di tivi sembari menyapukan cairan pekat obat semir pada permukaan kulit sepatuku. Mereka sungguh polos. Aku menduga usia mereka terpaut sekitar enam – tujuh tahunan di bawahku. Kini mereka seperti halnya aku merantau dari daerah asal mencoba belajar hidup mandiri. Aku sungguh salut pada mereka. Anak – anak yang kuat.

“Mas Bagus koq di depan aja, gak suka sama film India ya ? Suara cewek pendiam mengagetkanku.

“Saya sedang menyemir sepatu, tanggung nih.” Jawabku.

“Film India, saya suka ceritanya. Cuma kadang gak betah aja kalau harus nonton dari awal, soalnya durasinya lama.” Tambahku.

“Oohh, kirain …Ya, udah. Mas Bagus terusin aja nyemirnya, ntar kita ceritain aja deh tamatnya.” Giliran si paris bersuara.

“Oh ya ngomong – ngomong kalian sudah tahu nama saya, giliran kalian donk kenalin nama kalian ke saya.” Aku mulai menikmati pertemanan dengan mereka.

“Namaku Titis, Mas. Aku dari Jawa Tengah” Terang si paris.

“Kalau aku namanya Ainur, kelahiran pinggiran kota Jogja.” Lanjut si centil.

“Nha kalau yang ini namanya Mbak Sumiyati, Mas. Dia satu daerah sama Titis.” Centil memperkenalkan si ceweq pendiam.

“Oh jadi nama kalian Titis, Ainur dan Sumiyati toh ?” ulangku.

Aku melanjutkan beres – beres pasca pindahan kemarin, dan mereka bertiga kembali larut dalam keasyikan cerita film di tivi. Hingga akhirnya mereka bertiga pamit pulang menjelang sore hari.

Aku kembali ditemani kesendirian. Selain aku sering pulang malam dari tempat kerjaku, aku juga tinggal sendirian. Seminggu lamanya aku nyaris putus komunikasi dengan ketiga kawan baruku : Titis, Ainur dan Sumiyati. Meskipun sempat sekedar say hello saat ketemu akan ke warung atau kebetulan sama – sama nyantai di teras. Pagi – pagi sekali mereka sudah berangkat menuju tempat kerja, atau resiko teringgal bus jemputan karyawan yang mengantarkan mereka ke tempat kerja bila terlambat sedikit saja. Kangen juga sih dengan tingkah konyol mereka.

Aku hampir terbiasa lagi dengan sendiriku hingga tiba Sabtu sore seminggu berselang, aku kembali dikejutkan dengan sapaan nyaring ketiga kawanku. Ya, mereka bertiga datang lagi buat nebeng nonton tivi seperti minggu sebelumnya. Kami saling bercerita dan bercanda tentang segala hal mulai dari pekerjaan, cerita tentang tempat kerja dan pekerjaan, hingga ke kisah pacaran mereka dan pacar mereka di kampung. Menyenangkan sekali punya tetangga sekaligus kawan seperti mereka. Untung saja mereka tidak terpengaruh dengan keketusanku saat mula pertama menemui mereka.

Dengan adanya mereka, perasaan jauh dari keluarga dan saudara di kampung jadi terobati. Mereka sudah seperti adik – adikku sendiri. Aku tetap dapat mengerjakan pekerjaan rumahku dengan nyaman sekalipun mereka juga ada di tempatku menonton tivi. Aku juga tidak perlu lagi harus bingung menetapkan tujuan weekend dengan adanya Titis, Ainur dan juga Sumiyati. Sekarang dengan di rumah pun aku bisa fresh lagi melupakan semua beban kerja seminggu berlalu. Pernah kami pergi berempat sekedar berjalan – berjalan ke mall, malah pernah juga aku harus menemani mereka belanja ke pasar. Benar – benar hal yang membosankan menemani para calon ibu yang selalu telaten dan sabar menawar hingga lima puluh rupiah hingga harus rela berpindah dari satu kios ke kios lainnya walau pada akhirnya mesti kembali ke kios awal lagi hanya untuk kembali mempertahankan lima puluh rupiahnya. Namun bersama tiga sekawan Titis, Ainur dan Sumiyati, perburuan di dalam pasar menjadi suatu liburan yang teramat sangat menyenangkan.

[Bersambung]

Salam gemilang,

Benedict Agung Widyatmoko

2 Tanggapan to this post.

  1. wah… seru banget tuh ceritanya….
    semoga dengan adanya mereka bertiga bisa lebih menjadikan dunia mas lebih berasa lebih….
    hehehhe

    Iya Mas Alfaroby, makin seru jadinya hehehe
    Makasih ya

    Salam hangat
    Ben

  2. apa kabar /waaah bunda ketinggalan banyak postingan ya mas Ben…
    Ternyata tulisan2 nya makin luar biasa….

    Kabar saya baik, berkat doa Bunda Dyah dan kawan-kawan :)
    Terimakasih Bu Dyah … cuma pengin kasih nuansa beda aja di Rumah Sadhana hehehe

    Salam hangat
    Ben

Tanggapi posting ini