Salam untuk Anda semua,
Wajah Denmas Detelu menyembul dari balik selimut yang mengiringi lelapnya semalam. Tangannya menggapai ke arah meja di samping peraduannya, meraih jam beker, melirik sebentar untuk kemudian meletakkannya kembali di meja.
“Jam berapa Kangmas ?” terdengar suara lirih Nyai Detelu, masih di dalam hangatnya pelukan selimut.
“Baru jam 04.00 pagi, Nyai.” Balas Denmas Detelu.
Di luar kebiasaan, hari Minggu ini Denmas Detelu terjaga lebih dahulu daripada isteri tercintanya. Hal ini bisa dimaklumi karena malam sebelumnya Nyai Detelu menemani suami gegantilaning ati, dalam rangka temu kangen yang baru berakhir hingga lewat tengah malam. Ya, Denmas Detelu sehari sebelumnya baru tiba dari luar kota, terkait penunaian tugas dari perusahaan tempatnya bekerja. Hampir empat pekan lamanya keduanya terpisah jarak.
Denmas dan Nyai Detelu kembali melanjutkan lelap, melepas segala kelelahan setelah pesta tertutup semalam.
***
“Mau sarapan sekarang atau nanti Kangmas ?” terdengar suara indah Nyai Detelu yang sudah berada di hadapannya, menggendong Danang Fahdyan, putera mereka.
“Nanti saja, Nyai. Ini rotinya juga masih ada, masih kenyang Kangmas.” Jawab Denmas Detelu di sela keasyikannya membaca koran minggu.
Nyai Detelu pun mengambil posisi duduk di samping suaminya, dan menghidupkan tivi. Sementara di pangkuannya, si kecil Fahdyan juga mulai asyik menarik-narik koran yang tengah dibaca oleh Denmas Detelu; dan sukses mengalihkan perhatian Denmas Detelu untuk mengambil alih buah cinta mereka itu ke dalam pangkuannya.
“Nyai, kesempatan seperti saat ini sungguh membuat Kangmas merasakan begitu melimpahnya kasih Gusti Alloh kepada keluarga kita.” Denmas Detelu memecah kesyahduan minggu pagi itu.
“Kangen ya sama Bapak ?” Nyai Detelu menggoda si kecil Fahdyan yang larut bahagia dalam pangkuan Denmas Detelu.
“Oh ya Kangmas, bagaimana dengan progress tugas dinas Kangmas kemarin ?”
“Berkat doa Nyai, semua berjalan lancar Nyai. Terimakasih Nyai, untuk cinta dan perhatian Nyai.” Jawab Denmas Detelu sambil mencium kening isterinya.
“O o o, Bapak juga sayang putera Bapak yang ganteng.” Denmas Detelu pun mencium sayang putera mereka, yang sempat berontak iri karena ibunya mendapatkan kecupan hangat dari bapaknya.
“Wah pasti di sana banyak ketemu temen-temen yang cantik-cantik dong ya, Kangmas ?” Goda Nyai Detelu.
“Wooo itu sudah pasti Nyai, makanya Kangmas kemarin juga sedih waktu pamitan dengan kawan-kawan di sana. Berat rasanya Nyai.” Balas Denmas Detelu tidak kalah menggoda.
“Iiih dasar Kangmas, deh.” Nyai Detelu mencubit pinggang suaminya gemas.
Denmas Detelu merengkuh pundak isterinya untuk lebih mendekatkan jarak mereka.
“Nyai, betapa indahnya mengetahui dan boleh merasakan indahnya kasih Gusti Alloh melalui orang-orang yang menyayangi kita.”
“Gusti Alloh menuntun Kangmas untuk bertemu dan memiliki Nyai beserta putera kita, teman-teman di tempat kerja, atasan dan pimpinan yang semuanya sangat baik kepada Kangmas.”
“Semua selalu mendukung dalam setiap hari-hari Kangmas … Mak nyesss, rasanya Nyai.”
“Wah padahal Nyai kan terpaksa waktu itu ya Kangmas, waktu Kangmas minta Nyai jadi pacar Kangmas. Kangmas saja kan yang selalu memaksa Nyai yang minder sama Kangmas, biar mau jadi pacarnya Kangmas.” Goda Nyai Detelu.
“Nyai … Nyai … Nyai … kok bicara yang tidak-tidak tho di depan putera kita.” protes Denmas Detelu.
“Weh, Kangmas koq njur sensitif sih.” balas Nyai Detelu yang langsung mampu membuat mak nyesss kembali hati Denmas Detelu.
“Ya, sudah sepantasnya to Kangmas kalau Nyai ini harus setia mengabdi dan mendukung Kangmas. Kangmas dalam keadaan baik, Nyai harus mendukung dan mengabdi, demikian pun bila kangmas dalam keadaan tidak baik pun, sudah menjadi restu Gusti Alloh untuk Nyai tetap memberikan penghiburan dan penguatan kepada Kangmas.”
“Jangan sentimentil gitu ah Kangmas, jadi geer Nyai.” Kembali Nyai Detelu mencubit pinggang Denmas Detelu yang keren [tidak tahan geli, maksudnya
].
“Wah puji syukur kepada Gusti Alloh … tambah mak nyesss rasanya, memiliki Nyai dan Danang Fahdyan.”
Denmas Detelu menciumi wajah isterinya itu … hingga terdengar rewelan putera mereka yang mulai merasa tidak nyaman terhimpit di antara tubuh orang tuanya yang makin merapat itu.
“Aduh aduh duh Kangmas sudah tho Kangmas, kasihan putera kita kejepit badan kita lho Kangmas.”
Denmas pun segera tersadar dan menghentikan aksinya itu.
“Cup cup cup anak ganteng jangan nangis … cup cup cup.”
Dan kesempatan hari Minggu yang indah itu menjadi saksi keintiman dan kebahagiaan keluarga Detelu.
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko





















































Posted by iwan on April 14, 2009 at 8:07 pm
sorry sobat baru muncul lagi so aq baru dari luar daerah and disana kagak ada koneksi internet……..
Tapi sekarang dah aq buat postingan baru……
jangan lupa singgah baca yah untuk menambah pengetahuan….