Aku, Lilin, Malam dan Kanji

Salam untuk Anda semua,

piller-candlesLilin, beragam bentuk lilin dengan warna-warni dan aromanya – kini semakin mudah kita jumpai di warung, toko bahkan pusat perbelanjaan. Fungsi dasarnya dengan bentuk sederhana; putih dan panjang hanyalah sebagai alat penerang di kala gelap menyapa atau hadir. Seiring perubahan waktu, peran lilin makin meluas, mulai sebagai penghias kue ulang tahun, sebagai ornamen atau pelengkap upacara peribadatan, dan juga menjadi ornamen romantisme dan terapi kesehatan :)

Malam, tentu kita masih ingat betapa riangnya kita semasa kanak-kanak dulu; melumat dan mengubah segenggam malam dari satu bentuk ke bentuk lain, dan mempadupadankannya ke dalam aneka warna dan bentukannya :)

Kanji, cairan kental dan pekat hingga sekarang masih mengemban tugas-nya yaitu melindungi kain dari kepudaran warna atau motif-nya. Sebagian kaum sepuh masih menggunakannya untuk mengawetkan kain batik mereka.

Lilin, malam, kanji dan … kita … ya, kita :)

Pernahkan terpikir oleh kita; saya dan Anda – bila saja ketiganya tidak pernah diciptakan atau ada ? Kita harus berjuang keras mendapatkan minyak tanah yang stok dan distribusinya semakin terbatas ini, hanya sekedar untuk mengisi tabung lampu “teplok” dengan resiko jelaga mengotori langit-langit rumah kita, atau kita harus menjaga stok tanaman bambu agar selalu tersedia obor ? Demikian juga dengan malam, … masa kanak-kanak kita tidak akan menjadi berwarna karenanya, dan kanji juga dengan perannya yang tidak remeh :)

Saya mengajak Anda masuk ke dalam suasana rekoleksi :

Setelah kita belajar tentang arti penyerahan dari lilin, malam, dan kanji … bagaimanakah dengan diri kita, mahluk bernyawa dan berakal budi ini, pun mampu memaknai hakiki kebaikan ? Apakah kita; saya dan Anda – masih menghitung peran atau kebaikan yang telah kita bagikan ? Apakah kita masih berharap “kebaikan” yang kita niatkan itu akan kembali baik juga untuk kita ? Apakah kita akan tetap mampu melakukan “kebaikan kita” itu secara rutin, dan tanpa niatan ?

Apakah kita masih akrab dengan pertanyaan – pertanyaan ini :

“Menyesal saya sudah bantu dia.”
“Nggak bakal lagi deh, jangan pernah berharap.”
“Kamu, segitu saja gak ikhlas … padahal aku suka kasih ke kamu lebih dari itu.”

—-

:) … cukup.

—-

Kebaikan tidak perlu diperkenalkan, kebaikan akan menemukan nilainya dengan sendirinya ketika kebaikan itu berimbas menjadikan kebaikan. Ijinkan orang lain yang menilai. Bukan kapasitas Anda untuk menentukan hasil tindakan Anda itu sebagai kebaikan; tulus, ikhlas dan berkelanjutan … itu saja.

Namun bila Anda tetap ingin mengetahui apakah Anda telah melakukan kebaikan, mungkin ini satu-satunya petunjuk : Ambillah saat tenang, mohon Anda mendiskusikannya dengan batin Anda sendiri … tanyakan ini bagi diri Anda : Apakah Anda telah menyerahkan seluruh ketulusan dan diri Anda dalam “perbuatan baik itu” ? Seperti lilin yang telah membiarkan diri-nya meleleh dan hancur untuk memberikan terang. Seperti malam yang fleksibel mengijinkan dirinya dilumat, ditarik, diremas dan dibentuk sesuai keinginan (mohon Anda bedakan antara fleksibel dan hanyut dalam arus). Dan seperti kanji yang mampu mengawetkan kebaikan corak warna dan tekstur kain batik, apakah Anda juga mampu menutupi kekurangan orang-orang terkasih Anda dengan kebaikan termasuk pada saat Anda sedang sangat marah ?

:) Bagaimana perasaan Anda saat ini ? Apakah Anda merasa lebih damai atau sebaliknya ?

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

20 Tanggapan to this post.

  1. Nice post… matur nuwun mas… akan kurenungkan kembali tulisanmu di atas :)

    Tapi ada sedikit perasaan lega setelah baca postingmu ini :D

    Terimakasih Mbak Retie, apa kabar ? :)
    Senang bisa membuat Mbak Retie menjadi lega hehehe

    Salam hangat
    Ben

  2. comen dulu ah baru baca :D
    PertamaX!!
    salam kenal :)

    hehehe … silakan dibaca … yuk mari
    Terimakasih ya atensinya, salam kenal juga deh hehehe
    n’ jangan kapok mampir lagi yaaa :)

    Salam hangat
    Ben

  3. Posted by yoana on Januari 28, 2009 at 2:22 am

    Tengkiuya postingannya bermanfaat&mengingatkan banget,salam kenal&damai dari richa :)

    Terimakasih juga Mbak Richa sudah main dan menyemangati saya :)
    Salam kenal kembali hehehe

    Salam hangat dan salam damai
    Ben

  4. Pertamaxxxxxx kah?
    Salam kenal
    Hm…. perlu direnungi bait tentang menilai kebaikan yang telah kita lakukan…. kadang memang ego muncul disaat kebaikan telah dilakukan, kadang keinginan akan pengakuan mencuat begitu dahsyat melebihi hasrat…. manusiawi memang, tapi mungkin dengan pengendalian diri mampu membatasinya. Tak berlebihan…. kata kuncinya.
    Alir air mengalir… seperti itulah perasaan saya saat ini, kadang tenang, kadang riak atau bahkan bergejolak…. :P

    Siipp, memang diperlukan pijakan kaki yang mantap menjejak ke dasar sungai, agar kita tetap tegak dan kuat dalam kuatnya arus sungai (kehidupan) :) … dan yang terpenting tidah hanyut dalam kepongahan, bukan ? :)

    Terimakasih Mas Jay
    Salam hangat
    Ben

  5. nice post boss..
    sering memang melakukan kebaikan tapi karena terpaksa.. hati tidak larut didalamnya…
    sebaliknya, pas melakukan kejelekan, hati rasanya sulit untuk gak ikut.. hehhe
    suwun artikele mas.

    Sami-sami Mas Trijoko :)
    Salam kenal dan salam hangat

    Ben

  6. renungan yg mengetarkan dan menyadrkan hatiku…..thk…

    :) Halo Pak Bugiakso, apa kabar ?
    Terimakasih Pak, atensinya :)
    Jangan kapok mampir lagi yaaa :)

    Salam hangat
    Ben

  7. So Nice……….spechless

    Halo Mbak Anny, apa kabar ?
    Terimakasih ya sudah berkunjung ke Rumah Sadhana yang sederhana ini :) , dan juga terimakasih atensi baiknya.

    Salam hangat
    Ben

  8. Blom bisa jawab skarang karena perlu perenungan… aw nice post mas…. Kalau kebaikan/amal, seperti kata Rosul, bila tangan kiri memberi tangan kanan gak tau menahu, kalau memberi tidak mengarapkan balasan dari yang diberi melainkan mengharapkan kasih sayang Yang Maha Kuasa…

    Halo Mbak Rita, apa kabar ?
    Terimakasih Mbak, sudah berkunjung di Rumah Sadhana yang sederhana ini :) , dan juga untuk sharing yang diberikan :)

    Salam hangat
    Ben

  9. Hi friend.. Nice cool post.. gud work.. Do visit my blog and post your comments.. take care mate.. Cheers!!!

    Hi Sriram, thank’s for visiting my blog.
    Nice to know you and your good blog :)

    Regards
    Ben

  10. Tulisan yang sangat bagus….mengingatkan kita semua…
    Jangan sekali kali melakukan sesuatu kebaikan karena punya kepentingan lain …apalagi sifatnya duniawi,,,kekuasaan,,,kemenangan…
    Ternyata kita ,manusia tidak berarti apa2….tapi yang kita lihat sekarang, seolah olah mereka itu paling hebat sendiri,paling pinter sendiri….malu ya…dengan Lilin dan kanji dan malam….

    Dearest Ibu Dyah, apa kabar di Jogja ?
    Terimakasih Ibu, sudah berkenan mampir ke gubug “Rumah Sadhana” yang sederhana ini :)
    Mohon bimbingan Ibu untuk saya agar dapat menulis lebih santun dan baik lagi, Ibu Dyah :)

    Salam hangat
    Ben

  11. Wah, betul2 pencerahan yg bagus mas

  12. komenku tadi sore kok hilang yach….?

    btw pencerahan yang bagus

    Halo Mas Pencerah, apa kabar ?
    Oh, ada koq … maaf settingannya dalam mode awaiting moderation :) , jadi komentar dari Mas kepending di ruang moderasi.

    Terimakasih Mas, atensinya :)

    Salam hangat
    Ben

  13. Comment sik ah.. bar kuwi baru baca.. hahahaha…
    kunjungan balik,,
    salam kenal yo dab’….. hehehehehe…

    Silakan … monggo … :)
    Mboten punapa dipun komen rumiyin, nembe sasampunipun dipun waos :)

    Hehehe … Apa kabar Mbak Retno ? :
    Terimakasih ya atensinya hehhee

    Salam hangat
    Ben

  14. Yup!
    Merasa lebih damai….!

    Halo apa kabar ?
    Terimakasih ya :)

    Salam hangat
    Ben

  15. Tulisan ini luar biasa maknanya, dan tentu besar artinya utk diri saya sbg intropeksi diri sendiri, tak mungkin sbg bahan intropeksi org lain he..he..he. Oh ya mas trims link-nya ke benss.co.cc & sdh saya juga sudah buat link kemari di blog saya.

    Terimakasih Pak Ben, sama – sama :)
    Sesama blogger harus saling mengorbitkan hahahaha

    Salam hangat
    Ben

  16. hah? ada dua ben? *bingung*

    Ah mosok sih ada dua Ben ?! [bingung juga sayanya]
    Oh iya … Pak Ben yang di atas ya ? Itu sohib blogger saya :)

    Salam hangat
    Ben

  17. baca tulisannya mas ben saya jadi terharu mengingat dia… dia yang tidak pernah menuntut saya.. dia yang bs mengikuti irama emosi saya tanpa harus membuat hati saya dan bahkan hatinya sendiri, menjadi terluka…

    makasih mas utk pencerahannya… ^^v

    —-

    Ooohhh menyentuh sekali, jadi ngiri saya sama si-dia saya :)
    Terimakasih ya Mbak Rephi, atensinya :)

    Salam hangat
    Ben

  18. manusia bukan lilin, manusia bukan kanji…
    rasa keras, rasa ego manusia, kadang membutakan hati nurani sendiri…
    tapi apapun itu, cm dengan rasa iklas, manusia dapat dgn damai menjalani hidupnya…

    salam kenal mas Ben ^-^ sedikit torehan-mu di blog ku membuatku ikut terdampar di sini

    ^eL

    —-

    Halo Mbak Yanti, apa kabar ?
    Hahaha, mari kita saling mendamparkan diri :)
    Terimakasih yang atensinya

    Salam hangat
    Ben

  19. Wah Mas, dalem banget tulisannya :) Rasa kesal saya jadi hilang deh :D

    Btw, untuk menjawab pertanyaan Mas di blog saya, saya baik aja nih. Maaf baru sempat kunjungan balik sekarang. Biasa, alasan basi: sibuk hehehe :P

    —-
    Hai Mbak Regina, terimakasih ya sapaannya :)
    Ndak apa-apa, saya maklumi deh hehehe

    Salam hangat
    Ben

  20. salam kenal mas,
    mampira nang blog ku senadyan elek-elekan

    Salam kenal juga dari saya Pak Sudaryadi :)
    Maturnuwun sampun mampir, aku yo bakal mampir nang blog-e Pak Sudar :)

    Salam hangat
    Ben

Tanggapi posting ini