Salam untuk Anda semua,
Lilin, beragam bentuk lilin dengan warna-warni dan aromanya – kini semakin mudah kita jumpai di warung, toko bahkan pusat perbelanjaan. Fungsi dasarnya dengan bentuk sederhana; putih dan panjang hanyalah sebagai alat penerang di kala gelap menyapa atau hadir. Seiring perubahan waktu, peran lilin makin meluas, mulai sebagai penghias kue ulang tahun, sebagai ornamen atau pelengkap upacara peribadatan, dan juga menjadi ornamen romantisme dan terapi kesehatan
Malam, tentu kita masih ingat betapa riangnya kita semasa kanak-kanak dulu; melumat dan mengubah segenggam malam dari satu bentuk ke bentuk lain, dan mempadupadankannya ke dalam aneka warna dan bentukannya
Kanji, cairan kental dan pekat hingga sekarang masih mengemban tugas-nya yaitu melindungi kain dari kepudaran warna atau motif-nya. Sebagian kaum sepuh masih menggunakannya untuk mengawetkan kain batik mereka.
Lilin, malam, kanji dan … kita … ya, kita
Pernahkan terpikir oleh kita; saya dan Anda – bila saja ketiganya tidak pernah diciptakan atau ada ? Kita harus berjuang keras mendapatkan minyak tanah yang stok dan distribusinya semakin terbatas ini, hanya sekedar untuk mengisi tabung lampu “teplok” dengan resiko jelaga mengotori langit-langit rumah kita, atau kita harus menjaga stok tanaman bambu agar selalu tersedia obor ? Demikian juga dengan malam, … masa kanak-kanak kita tidak akan menjadi berwarna karenanya, dan kanji juga dengan perannya yang tidak remeh
Saya mengajak Anda masuk ke dalam suasana rekoleksi :
Setelah kita belajar tentang arti penyerahan dari lilin, malam, dan kanji … bagaimanakah dengan diri kita, mahluk bernyawa dan berakal budi ini, pun mampu memaknai hakiki kebaikan ? Apakah kita; saya dan Anda – masih menghitung peran atau kebaikan yang telah kita bagikan ? Apakah kita masih berharap “kebaikan” yang kita niatkan itu akan kembali baik juga untuk kita ? Apakah kita akan tetap mampu melakukan “kebaikan kita” itu secara rutin, dan tanpa niatan ?
Apakah kita masih akrab dengan pertanyaan – pertanyaan ini :
“Menyesal saya sudah bantu dia.”
“Nggak bakal lagi deh, jangan pernah berharap.”
“Kamu, segitu saja gak ikhlas … padahal aku suka kasih ke kamu lebih dari itu.”
—-
… cukup.
—-
Kebaikan tidak perlu diperkenalkan, kebaikan akan menemukan nilainya dengan sendirinya ketika kebaikan itu berimbas menjadikan kebaikan. Ijinkan orang lain yang menilai. Bukan kapasitas Anda untuk menentukan hasil tindakan Anda itu sebagai kebaikan; tulus, ikhlas dan berkelanjutan … itu saja.
Namun bila Anda tetap ingin mengetahui apakah Anda telah melakukan kebaikan, mungkin ini satu-satunya petunjuk : Ambillah saat tenang, mohon Anda mendiskusikannya dengan batin Anda sendiri … tanyakan ini bagi diri Anda : Apakah Anda telah menyerahkan seluruh ketulusan dan diri Anda dalam “perbuatan baik itu” ? Seperti lilin yang telah membiarkan diri-nya meleleh dan hancur untuk memberikan terang. Seperti malam yang fleksibel mengijinkan dirinya dilumat, ditarik, diremas dan dibentuk sesuai keinginan (mohon Anda bedakan antara fleksibel dan hanyut dalam arus). Dan seperti kanji yang mampu mengawetkan kebaikan corak warna dan tekstur kain batik, apakah Anda juga mampu menutupi kekurangan orang-orang terkasih Anda dengan kebaikan termasuk pada saat Anda sedang sangat marah ?
Bagaimana perasaan Anda saat ini ? Apakah Anda merasa lebih damai atau sebaliknya ?
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko





















































Posted by Retie on Januari 27, 2009 at 7:23 pm
Nice post… matur nuwun mas… akan kurenungkan kembali tulisanmu di atas
Tapi ada sedikit perasaan lega setelah baca postingmu ini
—
Terimakasih Mbak Retie, apa kabar ?
Senang bisa membuat Mbak Retie menjadi lega hehehe
Salam hangat
Ben
Posted by yenin on Januari 28, 2009 at 12:00 am
comen dulu ah baru baca
PertamaX!!
salam kenal
—
hehehe … silakan dibaca … yuk mari
Terimakasih ya atensinya, salam kenal juga deh hehehe
n’ jangan kapok mampir lagi yaaa
Salam hangat
Ben
Posted by yoana on Januari 28, 2009 at 2:22 am
Tengkiuya postingannya bermanfaat&mengingatkan banget,salam kenal&damai dari richa
—
Terimakasih juga Mbak Richa sudah main dan menyemangati saya
Salam kenal kembali hehehe
Salam hangat dan salam damai
Ben
Posted by Jay on Januari 28, 2009 at 8:26 am
Pertamaxxxxxx kah?
Salam kenal
Hm…. perlu direnungi bait tentang menilai kebaikan yang telah kita lakukan…. kadang memang ego muncul disaat kebaikan telah dilakukan, kadang keinginan akan pengakuan mencuat begitu dahsyat melebihi hasrat…. manusiawi memang, tapi mungkin dengan pengendalian diri mampu membatasinya. Tak berlebihan…. kata kuncinya.
Alir air mengalir… seperti itulah perasaan saya saat ini, kadang tenang, kadang riak atau bahkan bergejolak….
—
Siipp, memang diperlukan pijakan kaki yang mantap menjejak ke dasar sungai, agar kita tetap tegak dan kuat dalam kuatnya arus sungai (kehidupan)
… dan yang terpenting tidah hanyut dalam kepongahan, bukan ?
Terimakasih Mas Jay
Salam hangat
Ben
Posted by trijokobs on Januari 28, 2009 at 10:23 pm
nice post boss..
sering memang melakukan kebaikan tapi karena terpaksa.. hati tidak larut didalamnya…
sebaliknya, pas melakukan kejelekan, hati rasanya sulit untuk gak ikut.. hehhe
suwun artikele mas.
—
Sami-sami Mas Trijoko
Salam kenal dan salam hangat
Ben
Posted by Blog Competition 2009 on Januari 29, 2009 at 1:49 pm
renungan yg mengetarkan dan menyadrkan hatiku…..thk…
—
Terimakasih Pak, atensinya
Jangan kapok mampir lagi yaaa
Salam hangat
Ben
Posted by anny on Januari 30, 2009 at 11:36 am
So Nice……….spechless
—
Halo Mbak Anny, apa kabar ?
, dan juga terimakasih atensi baiknya.
Terimakasih ya sudah berkunjung ke Rumah Sadhana yang sederhana ini
Salam hangat
Ben
Posted by Rita on Januari 30, 2009 at 10:51 pm
Blom bisa jawab skarang karena perlu perenungan… aw nice post mas…. Kalau kebaikan/amal, seperti kata Rosul, bila tangan kiri memberi tangan kanan gak tau menahu, kalau memberi tidak mengarapkan balasan dari yang diberi melainkan mengharapkan kasih sayang Yang Maha Kuasa…
—
Halo Mbak Rita, apa kabar ?
, dan juga untuk sharing yang diberikan
Terimakasih Mbak, sudah berkunjung di Rumah Sadhana yang sederhana ini
Salam hangat
Ben
Posted by starbozz on Januari 31, 2009 at 12:47 pm
Hi friend.. Nice cool post.. gud work.. Do visit my blog and post your comments.. take care mate.. Cheers!!!
—
Hi Sriram, thank’s for visiting my blog.
Nice to know you and your good blog
Regards
Ben
Posted by dyahsuminar on Januari 31, 2009 at 5:38 pm
Tulisan yang sangat bagus….mengingatkan kita semua…
Jangan sekali kali melakukan sesuatu kebaikan karena punya kepentingan lain …apalagi sifatnya duniawi,,,kekuasaan,,,kemenangan…
Ternyata kita ,manusia tidak berarti apa2….tapi yang kita lihat sekarang, seolah olah mereka itu paling hebat sendiri,paling pinter sendiri….malu ya…dengan Lilin dan kanji dan malam….
—
Dearest Ibu Dyah, apa kabar di Jogja ?
Terimakasih Ibu, sudah berkenan mampir ke gubug “Rumah Sadhana” yang sederhana ini
Mohon bimbingan Ibu untuk saya agar dapat menulis lebih santun dan baik lagi, Ibu Dyah
Salam hangat
Ben
Posted by Pencerah on Januari 31, 2009 at 6:06 pm
Wah, betul2 pencerahan yg bagus mas
Posted by Pencerah on Januari 31, 2009 at 8:35 pm
komenku tadi sore kok hilang yach….?
btw pencerahan yang bagus
—
Halo Mas Pencerah, apa kabar ?
, jadi komentar dari Mas kepending di ruang moderasi.
Oh, ada koq … maaf settingannya dalam mode awaiting moderation
Terimakasih Mas, atensinya
Salam hangat
Ben
Posted by retno damar on Februari 1, 2009 at 2:15 am
Comment sik ah.. bar kuwi baru baca.. hahahaha…
kunjungan balik,,
salam kenal yo dab’….. hehehehehe…
—
Silakan … monggo …
Mboten punapa dipun komen rumiyin, nembe sasampunipun dipun waos
Hehehe … Apa kabar Mbak Retno ? :
Terimakasih ya atensinya hehhee
Salam hangat
Ben
Posted by Blog Cantik on Februari 1, 2009 at 4:04 pm
Yup!
Merasa lebih damai….!
—
Halo apa kabar ?
Terimakasih ya
Salam hangat
Ben
Posted by ben on Februari 1, 2009 at 11:02 pm
Tulisan ini luar biasa maknanya, dan tentu besar artinya utk diri saya sbg intropeksi diri sendiri, tak mungkin sbg bahan intropeksi org lain he..he..he. Oh ya mas trims link-nya ke benss.co.cc & sdh saya juga sudah buat link kemari di blog saya.
—
Terimakasih Pak Ben, sama – sama
Sesama blogger harus saling mengorbitkan hahahaha
Salam hangat
Ben
Posted by INDAHREPHI on Februari 3, 2009 at 4:14 pm
hah? ada dua ben? *bingung*
—
Ah mosok sih ada dua Ben ?! [bingung juga sayanya]
Oh iya … Pak Ben yang di atas ya ? Itu sohib blogger saya
Salam hangat
Ben
Posted by INDAHREPHI on Februari 3, 2009 at 4:17 pm
baca tulisannya mas ben saya jadi terharu mengingat dia… dia yang tidak pernah menuntut saya.. dia yang bs mengikuti irama emosi saya tanpa harus membuat hati saya dan bahkan hatinya sendiri, menjadi terluka…
makasih mas utk pencerahannya… ^^v
—-
Ooohhh menyentuh sekali, jadi ngiri saya sama si-dia saya
Terimakasih ya Mbak Rephi, atensinya
Salam hangat
Ben
Posted by eL on Februari 3, 2009 at 5:40 pm
manusia bukan lilin, manusia bukan kanji…
rasa keras, rasa ego manusia, kadang membutakan hati nurani sendiri…
tapi apapun itu, cm dengan rasa iklas, manusia dapat dgn damai menjalani hidupnya…
salam kenal mas Ben ^-^ sedikit torehan-mu di blog ku membuatku ikut terdampar di sini
^eL
—-
Halo Mbak Yanti, apa kabar ?
Hahaha, mari kita saling mendamparkan diri
Terimakasih yang atensinya
Salam hangat
Ben
Posted by Regina on Februari 3, 2009 at 6:42 pm
Wah Mas, dalem banget tulisannya
Rasa kesal saya jadi hilang deh
Btw, untuk menjawab pertanyaan Mas di blog saya, saya baik aja nih. Maaf baru sempat kunjungan balik sekarang. Biasa, alasan basi: sibuk hehehe
—-
Hai Mbak Regina, terimakasih ya sapaannya
Ndak apa-apa, saya maklumi deh hehehe
Salam hangat
Ben
Posted by sudaryadi on April 23, 2009 at 2:57 pm
salam kenal mas,
mampira nang blog ku senadyan elek-elekan