Salam untuk Anda semua,
Pernahkah Anda merasa tertekan dan cemas karena suatu masalah, yang kemudian Anda baru sadar bahwa Anda berperan dalam ketertekanan Anda sendiri itu … Anda lupa akan penepatan janji yang Anda buat.
Janji … sebuah hal yang sangat mudah dilakukan. Dalam memberikan janji … entah disadari atau tidak, kita sering melupakan faktor – faktor pemungkin ataupun penunda terpenuhinya janji itu. Janji, bagi yang menerima janji, itu merupakan sebuah harapan … sehingga sering bagi kita pun bila merasa telah dijanjikan, akan menimbulkan kekecewaan bila janji itu terlambat terpenuhi atau batal.
Janji adalah hutang, begitu pepatah yang cukup melekat di ingatan kita. Namun demikian sangat sering janji itu mengalir manis dari bibir kita, terutama saat kita menginginkan sebuah pengabulan … janji – janji akan mengalir lancar dan manis … betul ?
Ingatlah apa saja yang Anda janjikan saat “menembak” calon kekasih Anda. Atau bagaimana Anda berjanji kepada isteri atau suami Anda ketika Anda merayunya untuk mengabulkan keinginan Anda. Bahkan yang paling meyakinkan yaitu ketika Anda memohon dalam doa, apa saja yang Anda janjikan kepada Tuhan agar permohonan Anda dikabulkan ?
Bila Anda sudah berhasil merangkum janji – janji Anda itu, sekarang hitunglah berapa jumlah dari sekian banyak janji itu yang telah Anda lunasi, ketika keinginan Anda sudah didapat ? Lalu Anda perbandingkan, berapakah persentase janji lunas dan janji terpending ?
Kembali lagi kepada janji adalah hutang, dan hutang yang tidak dibayar tepat waktu selalu ada bunganya. Jadi bila di kemudian hari setelah pengabulan doa, baik dari orang – orang terdekat atau yang terkasih, bahkan dari Tuhan sendiri pun … janji Anda itu sudah dihitungkan bunga hariannya. Namun bagaimana pun juga mereka yang menyayangi Anda itu, dan Tuhan sendiri tidak akan dengan kejamnya menagih yang telah Anda janjikan itu dengan kasar. Anda hanya akan diingatkan dengan kejadian – kejadian kecil yang mengganggu Anda.
Namun, ya itu tadi … kita sering lupa dengan janji kita sendiri. Jadi ketika kejadian – kejadian mengganggu yang dimaksudkan untuk mengingatkan kita, sering dianggap sebagai masalah baru. Sehingga kembali janji – janji manis baru dilambungkan dengan harapan sebagai penawar.
Tuhan itu memang sudah tak terbantahkan lagi, Maha Pengasih dan Maha Mengabulkan. Masalahnya adalah kita yang disayang lebih sering terbuai daripada terjaga menyadari betapa MahakasihNya Tuhan.
Bunga hutang yang tidak terbayarkan akan menjadi bunga berbunga yang semakin membebani Anda, maka satu – satunya penawar bagi kegelisahaan Anda adalah menjadilah peka. Catatlah dengan tekun dan rajin janji – janji Anda ke dalam rekening kehidupan Anda … sehingga Anda dapat menikmatihidup dengan damai dan berkelimpahan.
Salam gemilang,
Benedict Agung Widyatmoko





















































Posted by cinta on Januari 22, 2009 at 7:02 pm
Iya betul mas agung..
Berarti kita ga perlu terlalu percaya dengan janji” yang sering kita dengar dari orang lain….
Dan buktikan bahwa kita bukan orang bisa memegang janji kita apalagi janji terhadap diri kita sendiri..
—-
Kita terima saja janji-janji itu, dengan tetap menjadi diri kita sendiri yang mempertahankan kebaikan. Bila yang dijanjikan itu ternyata memang tidak terealisasi, bukan berarti kita rugi … toh keberhasilan itu disebabkan oleh pribadi kita yang tulus kan
Terimakasih Mbak Cinta untuk atensi baiknya, dan jangan kapok mampir lagi yaa
Salam hangat
Ben
Posted by inspirasi on Juni 9, 2009 at 7:22 am
Yups, setuju
manusia itu penuh dengan kesalahan
jadi jangan gampang percaya begitu aja
Posted by Benedict Agung Widyatmoko on Juni 9, 2009 at 1:24 pm