Salam untuk semua,
Pernahkah Anda begitu menginginkan sebuah kesempatan ? Anda telah mempersiapkan segala hal yang menurut Anda bisa mendukung tercapainya keinginan Anda tersebut, termasuk persiapan latihan yang pokoknya siiipp lah ! Hingga tiba pada hari atau saat yang paling menentukan, Tiba giliran Anda, dan Anda tampil percaya diri, namun tiba – tiba … splashhh ! hilang semua konsentrasi Anda, Anda menjadi bingung dan panik, tidak percaya diri. Diri sejati Anda tiba – tiba entah kemana, meninggalkan Anda dalam cemas … Anda merasa diri sejati Anda telah mengkhianati Anda.
Hampir setiap orang pernah mengalami hal seperti dalam ilustrasi di atas, termasuk saya. Sewaktu kuliah di Jogja, saya mendaftar untuk Pemilihan Bintang Iklan Se-Jawa yang diadakan oleh sebuah stasiun TV lokal dan disponsori oleh Majalah infotainment termasuk stasiun radio swasta di Jogja. Biaya pendaftaran waktu itu termasuk menguras uang wesel saya, belum lagi persyaratan mengumpul beberapa photo mengharuskan saya mendatangi studio photo yang ditunjuk oleh panitia lomba.
Hingga hari lomba itu tiba, saya dengan percaya diri mengayuh “sepeda onthel’ kendaraan yang setia menemani saya berangkat dan pulang kuliah, menuju tempat lomba di sebuah hotel di kawasan jl. Sudirman – Jogja. Tiba di sana ternyata banyak juga pesertanya. Singkat cerita saya berhasil melewati tahapan tes mulai wawancara hingga tes pemotretan di lokasi lomba, dan saya masuk final. Panitia menjelaskan hal – hal yang harus dipersiapkan finalis pada saat malam final termasuk wardrobe yang harus dipersiapkan.
Malam final tiba, dan saya masih tetap menaiki sepeda saya yang setia itu menuju lokasi pemilihan. Di sana saya sedikit terkesiap, karena semua peserta didampingi orang tua, saudara dan membawa juru rias. Kecuali seorang peserta laki – laki dan saya. Peserta yang saya ketahui berasal dari bumi serambi Mekkah itu datang ditemani kawannya, sementara saya datang seorang diri, pun tanpa wardrobe yang dipersyaratkan karena saya tidak berhasil mendapatkan pinjaman jas untuk malam final. Ya gimana lagi, mau sewa jas, sisa uang wesel tinggal sedikit … ya sudah … hehehe.
Dalam undian, saya mendapatkan jatah mempromosikan produk dari sebuah merk peralatan elekronik.
Tiba giliran saya naik pentas, saya tampil pede dengan balutan jas yang dipinjamkan oleh peserta lain yang sudah tampil lebih dulu, disambut tepuk tangan penonton. Saya mulai melakukan tugas saya. Saya langsung “melambung” begitu lampu blitz kamera wartawan dan keluarga peserta bertubi – tubi menyerang saya. Namun tiba – tiba … BLANK. Saya kehabisan kata dan bingung. Beberapa saat saya terdiam kehabisan “kata – kata iklan saya”. Saya berusaha menguasai keadaan dengan senyum. Tiba – tiba di barisan penonton ada keluarga peserta lain yang belakangan saya ketahui adalah termasuk pendukung saya, berdiri dan memberikan semangat kepada saya. Mengetahui hal itu saya terbangkitkan lagi dan berhasil menyelesaikan tugas saya di panggung.
Saya mendapatkan pelajaran malam itu, bahwa untuk meraih prestasi janganlah kita terlalu fokus pada diri kita sendiri. Terlalu yakin akan menjadi tidak efektif sekiranya kita pun membutakan diri dengan “kawan” yang juga bercita – cita sama dengan kita. Seperti sang juara yang menyatakan bahwa kemenangannya lebih disebabkan bahwa dia memperhatikan penampilan peserta – peserta yang lebih dulu tampil dan pada gilirannya tampil, ia menyatukan semua “gaya” peserta itu ke dalam penampilan cemerlangnya. Memang dia pun ingin menang, tetapi saat melihat peserta lain tampil, dia hanya menggunakan energinya sambil menanti giliran untuk berpikir bahwa dia harus tampil lebih baik dari yang sudah tampil. Sederhana. Bukankah juara tinju dunia atau pun para kampiun olah raga dunia yang lainnya selalu tekun menonton rekaman gaya bertanding calon lawannya, hingga saatnya mereka berhadap – hadapan sudah lebih tahu kelemahan lawan ?
Ya … saya tahu akhirnya, bahwa : menjadi cemerlang, adalah bila kita mampu mengenali kekurangan kita dan menambahkannya dengan kelebihan yang dimiliki orang lain.
Salam Gemilang,
Benedict Agung Widyatmoko




















































