Menggambar Cita – Cita

Salam untuk Anda sekalian,

Ketika seorang anak kecil ditanya apa cita-citanya kelak, pasti jawaban tangkas dan cepat akan langsung terlontar dari bibirnya; dokter, artis, tentara, presiden ? Cita-cita begitu mudah masuk ke dalam ruang benak seorang anak-anak karena mereka masih polos dan lugu. Semua karakter impian itu meresap dalam ke dalam pikiran polos mereka, karena mereka melihat betapa indahnya menjadi karakter impian mereka. Mereka sama sekali belum mengetahui betapa banyaknya tingkatan pola tindakan / perilaku yang harus mereka penuhi untuk mencapai posisi pada status atau pangkat kemasyarakaratan itu.

Coba bandingkan ketika pertanyaan yang sama Anda lontarkan kepada anak-anak usia SMP, atau bahkan SMA. Bisa ditebak jawaban mereka tidak sespontan dan seberani sebagaimana saat mereka masih kanak-kanak atau balita. Semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka akan semakin sulit untuk mengatakan apa cita-cita mereka. Karena dengan bertambahnya ilmu dan memori dalam otak, semakin banyak nalar dan pertimbangan dalam pola berpikir sebelum mengejawantah menjadi sebuah perkataan atau tindakan.

Cita-cita orang seiring pertumbuhan usia dan kedewasaan mereka cenderung akan melebar, tidak spesifik. Meski ada sedikit kadar cita-cita kanak-kanak mereka yang terus mengikuti sampai ujung usia. Rata-rata impian dewasa lebih bersifat materi dan penghargaan.

Namun sering lupa disadari bahwa semakin banyaknya komparasi, akan semakin menjadikan standar / target pencapaian menjadi blur dan bukan mustahil berakhir kepada pudarnya keinginan baik seseorang. Pencapaian menjadi sangat sulit karena semakin banyak pula kompetitor yang berkeinginan sama dengan kita. Ambil contoh, seorang staff yang berkeinginan menjadi seorang manajer, maka dia harus bersaing dan berlomba dengan banyak karyawan lainnya yang berkeinginan sama dengannya. Demikian pun seseorang yang berkeinginan menjadi artis maka dia harus berani menguasai seluas-luasnya pergaulan, karena saat ini perusahaan agency sedemikian banyaknya.

Kenyataan sementara ada yang berhasil dan ada yang “gagal” mewujudkan cita-cita mereka. Mengganti cita-cita dan kembali “gagal”.

Apakah Anda percaya sebuah pencapaian itu telah ditetapkan mutlak oleh Tuhan kepada orang-orang tertentu ? Apakah Anda mengamini bahwa Tuhan menginginkan si A menjadi begini, dan si B menjadi begitu … seterusnya ?

Apakah cita-cita tidak selalu cocok untuk semua orang ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki kemungkinan yang sama.

Apakah hanya orang-orang tertentu saja yang bisa meraih impian sesuai harapannya ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki kesempatan sama.

Apakah seseorang mesti memiliki kompetensi atau keunggulan yang sama untuk bisa meraih impian yang diinginkannya ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki keunggulan komparatifnya masing-masing.

Begini ya, Tuhan hanya memilih menetapkan orang-orang secara khusus hanya untuk menjadi Nabi dan Rasulnya. Selebihnya kita semua umat manusia ini adalah secitra denganNya. Jadi semua diberikan hak dan kesempatan sama untuk menjadi apapun yang diinginkannya.

Saya mengerti pertanyaan yang terpendam di hati Anda. Mengapa ada orang yang sedemikian mudahnya mencapai impiannya ? Mengapa mereka yang menurut kebanyakan orang seharusnya tidak layak meraih predikat tertentu karena bekal akademik yang kurang memadai ? Dan pertanyaan-pertanyaan bernuansa keraguan lainnya.

Rahasia sederhana dari mereka yang mencapai impiannya meski “tidak pantas dan selayaknya”, adalah karena mereka memiliki gambar cita-cita dan menyimpannya.

Saya mengerti kebingungan di raut wajah Anda; menggambar cita-cita ?

Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan bahwa impian akan tercapai entah kapan, hanya dengan rajin membayangkannya. Benar ?

Mari kita samakan persepsi mulai sekarang. Hapus paradigma hanya membayangkan cita-cita. Membayangkan tanpa tindakan hanya omong kosong.

Sekarang ijinkan saya menghapus setitik dari memori ingatan Anda semua, zap ! mulai sekarang Anda tidak akan membayangkan cita-cita Anda dan menunggu tiada berkesudahan. Mulai sekarang ambil pinsil atau alat tulis lainnya. Lalu gambarkanlah apa yang Anda cita-citakan. Berikan warna seindah mungkin agar membangkitkan hasrat Anda untuk penyegeraan terwujudnya cita-cita Anda.

Ambil contoh, Anda menginginkan sebuah mobil, maka gambarkanlah mobil sesuai impian Anda [pastikan mereknya / warnanya / tahun produksinya]. Atau Anda berkeinginan besar menjadi seorang artis hebat, Anda bisa menggambar diri Anda sedang berada di atas panggung megah dengan applaus banyak sekali orang [boleh juga anda gambarkan kostum panggung Anda]. Dan lain sebagainya impian Anda.

Sudah ? Sekarang mari kita sedikit bermain ilmu kebatinan.

Setelah Anda melihat hasil gambaran cita-cita Anda, apakah yang terbaca darinya ? Keagungan, kemegahan, keindahan, kepuasan. Lalu saya yakin Anda tidak akan membantah bahwa untuk mencapai itu semua pasti membutuhkan cara dan sarana, benar ?

Kembali lihatlah dalam-dalam dan renungilah gambar cita-cita Anda tadi. Tambahkanlah sebuah cara lainnya, dan semakin banyak Anda menambahkan cara akan semakin baik.

Selesai dan Anda simpanlah gambaran cita-cita itu.

Oh saya masih membaca raut wajah bingung tentang penglihatan cara dalam sebuah gambar cita-cita.

Begini.

Bila Anda menggambar mobil karena ingin memilikinya, maka cara termudah untuk mengejawantahkan mobil itu menjadi bentuk mobil seutuhnya adalah dengan menabung, untuk menabung caranya Anda harus berperilaku hemat, lalu Anda harus mengupayakan kenaikan penghasilan Anda secara nyata, caranya bekerjalah giat dan jujur. Insya Allah mobil impian Anda akan menghiasi rumah Anda.

Hal sama bisa Anda lakukan untuk rumah idaman, misalnya. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuat rancangan denahnya, sehingga Anda bisa mengetahui luas tanah yang harus Anda persiapkan. Dengannya Anda bisa mereka-reka jumlah anggaran yang diperlukan untuk pembangunannya. Alternatif bila belum memiliki dana cukup, Anda memerlukan pinjaman, maka Anda harus memenuhi syarat menciptakan kepercayaan dari bank, yaitu reputasi dan referensi baik dari perusahaan tempat Anda bekerja, dan memiliki tabungan yang grafiknya membukit, bukan menggambarkan grafik gigi ikan piranha [kredit,debit, kredit, debit dan seterusnya tanpa adanya peningkatan saldo].

Bila Anda menginginkan jadi public figure yang dihormati atau menjadi panutan, maka Anda harus menciptakan cara untuk menjadi pribadi yang santun, berwawasan luas, memiliki jaringan pergaulan luas dengan pribadi-pribadi lain yang bisa mendukung dan mengangkat derajat Anda. Bukan berarti Anda harus memilih bergaul dengan orang-orang tertentu saja, Tuhan akan langsung menegur dan membatalkan impian Anda. Bergaullah dengan sebanyak-banyaknya karakter, namun jangan habiskan waktu Anda berkumpul dengan karakter yang mematikan impian Anda.

Sudah mulai terang kan sekarang ?

Jadi jangan lagi bangga dengan membayangkan cita-cita Anda lagi, bertindaklah dengan menggambarkannya, dan Anda akan melihat cara-cara baik darinya untuk ngejawantahnya cita-cita Anda.

Tidak ada kemustahilan, jadilah pemimpin sejati bagi diri Anda sendiri untuk mengendalikan arah masa depan Anda.

Bertindaklah aktif, jangan membayangkan.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Catatan Harian

Mulutmu Harimaumu

Salam untuk Anda sekalian,

macanmarahBeberapa waktu ini di layar kaca televisi kita cukup diramaikan dengan berita tentang kasus perseteruan antara Cicak VS Buaya. Pada awalnya saya cukup antusias menyaksikannya dan mengupdate informasi yang dimunculkan terkait perkembangan kasus tersebut. Namun semakin lama kok saya menjadi bingung karena kasus ini sendiri pun berkembang sebagaimana luberan banjir bandang, tak tentu arah.

Sedikit menengok ke belakang, kasus ini berawal dari ditahannya Ketua KPK Non-aktf Antasari Ashar terkait dakwaan pembunuhan Nasrudin. Kasus pembunuhan yang tak kunjung berakhir itu, justeru merembet kemana-mana tak tentu arah, hingga pada saatnya memunculkan statemen upaya penyuapan kepada tim KPK itu sendiri dari Antasari. Kisah yang njlimet sebenarnya dan tidak nyambung. Pertanyaannya bagaimana akhir kisah pengungkapan pembunuhan itu sendiri ? Kapan berakhir ? Akankah berakhir klimaks ?

Ada hal yang menarik dari rembesan kisah Antasari dan Nasrudin [Alm], yaitu munculnya Cicak VS Buaya, yang diawali terugkapnya rekaman penyadapan yang dilanjutkan oleh pernyataan – pernyataan membara dari salah seorang pembesar korps penegak hukum “tersadap” di negara kita [yang sepintas pandangan saya cukup bangga dengan jabatannya :) ]. Entah mungkin terinspirasi dari filem nasional Cicak Bin Kadal yang dimainkan oleh Edy Sud ? Bisa saja hehhee; yang jelas beliau ini sangat rajin melakukan konferensi pers dan tentu saja dengan kata dan kalimat membara yang terumbar beraromakan arogansi [?]. Walau pada akhirnya dia terbungkamkan oleh “kalimat kepongahan” itu sendiri.

Kini muncul lagi perang kata dan argumentasi dari “talent dan extra talent” baru, tak kalah berapi-api tentu saja. Mampu menyulap semua program tayangan televisi menjadi sama, senada seirama dengan berbagai versi “eksklusivitasnya masing-masing”.

Kita sebagai audiens hanya mampu perpasrah hingga episode “melodrama kriminal” itu selesai dan berakhir memuaskan semua pihak [mungkinkah ?].

Barangkali benar kata iklan sebuah produk kontra kesehatan, mulutmu harimaumu. Jadi semakin keras kita mengaum akan semakin membuat orang menyadari betapa harus menjaga kewasdaan berada di dekat kita.

Jadi saat ini yang paling penting adalah kepada siapa pun yang berkepentingan dan terkait kasus ini, baik media, kuasa hukum, penegak hukum, saksi … selalu ingatlah bahwa mulutmu adalah harimaumu :)

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Catatan Harian

Edelweis -2-

Salam untuk Anda sekalian,

Sebelumnya :

Kulihat Ningrum keluar sambil meniriskan rambutnya yang basah selepas keramas dan hendak menjemur handuk. Buru – buru aku keluar dan kupanggil dia, dengan hati – hati tentunya. Ningrum pun mengetahui isyarat panggilanku dan sudah ada di depan kamarku kost-ku beberapa menit kemudian. Aku jadi terpana memandang Ningrum, dia nampak semakin ayu dengan rambutnya yang basah itu.

“Ada apa Mas ?” Tanya Ningrum membuyarkan keterpanaanku kepadanya.

swiss_alpine_wildflower07“Eh … Ya. Oh ya, ini hari Minggu kan ? Mbak Ningrum masih ingat jam berapa katanya temanku yang minggu kemarin kesini mau datang hari ini ?” Jawabku terbata – bata. “Ampun, cantik bener sih Ningrum,” batinku.

“Oh, itu. Kalau gak salah sih agak siangan sebelum adzan dhuhur Mas.” Jawab Ningrum.

“Masih lama berarti,” kataku. “Mbak Ningrum ntar jam setengah sebelasan aku tunggu di sini ya.” Lanjutku kemudian, yang dijawab Ningrum dengan anggukan.

Perasaanku jadi makin tidak karuan. Jantungku makin berdebar – debar saja membayangkan betapa berdosanya aku harus berbohong kepada orang yang sebenarnya tidak begitu bersalah kepadaku dengan resiko bakal membuatnya menjadi sedih, ditambah harus menyeret orang lain ke dalam lingkaran dosaku karena harus berbohong mengaku sebagai pacarku, atau lebih tepatnya memanfaatkan wanita untuk menyakiti perasaan seorang wanita lainnya. Lebih berdebar – debar lagi justeru karena perasaanku menuntut lebih dariku bejana yang melingkupi rasa dan batin di dalamnya, yaitu kenapa tidak sekalian saja Ningrum kuminta jadi pacarku sesungguhnya, kenapa hanya meminta dia untuk pura – pura jadi pacarku.

Kulihat jarum jam dinding menunjukkan posisi angka sepuluh, masih belum ada tanda – tanda kehadiran teman perempuanku. Tumben juga Titis & Co tidak menampakkan batang hidungnya ke tempatku, apa mereka sudah pada bosan dengan film India pikirku. Ah, mereka kan para adik yang baik, jadi tahu donk kalau kakaknya lagi gundah hatinya. Jadi sebagai adik yang baik tidak ingin mengganggu kakak yang sedang galau hatinya tentunya, kata batinku lagi menerka – nerka.

Hingga akhirnya jam sepuluh lewat tiga puluh menit, kudengar suara ketukan pintu dari luar sana. Dengan langkah gontai kuseret kakiku menuju pintu, sesaat aku ragu untuk membukanya. Hingga ketukan berikutnya membuat aku membukanya …. Seraut wajah manis telah berdiri di seberang pintu.

“Mas … Mas Bagus, jangan bengong gitu donk.” Celetuk Ningrum sambil menggoyang – goyangkan telapak tangannya di hadapan wajahku.

“Eh … Ehm, maaf Mbak. Saya kaget dan bingung … soalnya saya harus mengajak Mbak Ningrum untuk berbuat dosa hari ini dengan pura – pura mengaku jadi pacar saya.” Jawabku sedikit berbohong.

“Tidak apa – apa, tadi saya juga sudah berdoa koq Mas, memohon seandainya perbuatan saya nanti ini adalah dosa, saya memohon agar dosanya dibebankan kepada Mas Bagus semuanya hehehe,” Ningrum terkekeh. Dan kami pun tertawa bersama.

“Mari, silakan masuk Mbak.” Kataku mempersilakan Ningrum untuk masuk.

“Oh, ya … Titis, dan yang lainnya tidak kelihatan kemana ?” tanyaku berbasa – basi.

“Mereka bertiga sedang jalan – jalan Mas, mau cari buku resep bikin kue .” Jawab Ningrum.

“Oo …” gumamku singkat.

Selanjutnya suasana menjadi hening. Aku mencoba mengurangi ketawaran suasana dengan menawarkan remote tivi kepada Ningrum kalau – kalau dia ingin pindah channel atau saluran siaran yang lain, ataupun menawarkan minum dan makanan ringan. Ningrum yang biasanya renyah dan sering melontarkan banyolan – banyolan, kali ini terlihat pendiam dan seperti kurang nyaman.

Setengah jam berlalu dengan keheningan, tamu yang ditunggu masih belum juga menampakkan diri. Seperempat jam berikutnya masih tetap sama … berdua dalam kediaman. Hingga akhirnya jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, dan kupikir Ningrum harus menunaikan shalat Dhuhur. ‘Aku harus bertindak sekarang sebelum Ningrum pulang untuk shalat, ini saat yang tepat,’ begitu kata batinku mendorong semangatku.

Kutetapkan niat dan kurangkai segenap keberanian, aku beranjak dari dudukku dan aku tutup tirai kamar serta kurapatkan pintu.
Kulihat Ningrum sangat kaget dengan apa yang aku lakukan, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Ada apa Mas, Mas Bagus mau apa ?” Tanya Ningrum dengan penuh kecemasan ketika aku sudah kembali ke posisi dudukku kembali.

“Maaf, Mbak Ningrum. Saya hanya ingin menebus dosa saya hari ini.” Kataku

“Maksud Mas Bagus apa ?” Lanjut Ningrum

Aku terdiam, kurasakan tenggorokanku menjadi tercekat sulit mengeluarkan suara. Dan kurasakan butir – butir peluh mulai menyembul dari pori – poriku dan mengalir di sekujur tubuhku. Aku masih belum bisa bersuara dan peluh makin membasahi pakaian dan pantalon yang kukenakan.

“Mbak Ningrum ….. “ suaraku akhirnya keluar.
“Waktu itu saya meminta Mbak Ningrum untuk pura – pura jadi pacar saya. Dan entah mengapa saya sungguh merasa bahagia saat Mbak Ningrum bersedia menjadi pacar bohong – bohongan untuk saya.” Aku terus berbicara tetap dengan tetesan peluh mengaliri seluruh permukaan kulitku, membuatku makin menjadi tidak nyaman.

“Saya ikhlas koq Mas pura – pura jadi pacarnya Mas Bagus.” Balas Ningrum sesaat kemudian

“Maksud saya bukan itu … saya tahu Mbak Ningrum berniat baik dan tulus.” Aku kembali terdiam sesaat lamanya.
“Maksud saya, saya sangat senang bisa kenal dengan teman – teman yaitu Titis, Ainur, Sumiyati dan juga Mbak Ningrum. Sudah enam bulan kita bersahabat dan saya sangat menikmati hubungan ini.” Kataku melanjutkan.

“Saya juga senang koq Mas, diberi kesempatan bertemu dengan Mas Bagus. Mas Bagus orangnya baik, dan bahkan saya sudah anggap Mas Bagus itu seperti kakak saya sendiri.”

‘Apa ? sudah seperti kakak sendiri ? Mati aku !’ aku begitu kaget mendengar pengakuan jujur dari Ningrum. Untung aku masih bisa menguasai diriku sehingga umpatan kekagetanku itu tidak meluncur dari mulutku dan hanya tertahan dalam batin saja.

“Maksud saya Mbak … maaf saya koq jadi gugup begini ya ?” kataku sambil sedikit bercanda untuk mengembalikan kepercayaan diriku sembari menyeka keringat yang makin membuat bajuku jadi berat.

“Maksud saya, kita kan sudah kenal sejak bulan Januari lalu dan sekarang sudah bulan Juni akhir. Sudah setengah tahun kita bersahabat dan selama ini juga saya merasakan hubungan yang semakin erat di antara kita. Saya sangat senang akan hal ini.” Kataku.

Kulihat Ningrum mengernyitkan dahi, “Maaf, saya tidak ngerti maksud perkataan Mas Bagus.” Ningrum berkata sesaat kemudian. Aku bisa menangkap gerak senyum yang tersembunyi di balik kulit wajahnya yang bersih itu. Aku tahu dia sudah bisa menangkap maksudku, hanya saja dia masih ingin “membuatku mandi keringat” lebih lama lagi. Dan dia berhasil !

“Ehm … Eh, … maksud saya, saya sangat menikmati dan sungguh bahagia atas persahabatan di antara kita selama setengah tahun ini.” Makin deras kurasakan cucuran peluh di tubuhku.

“… dan saya ingin ….. kita lebih dari sekedar sahabat. Dan bukan hanya sekedar pura – pura pacaran. Saya ingin Mbak Ningrum dan saya memiliki hubungan yang lebih erat lagi dan istimewa.” Kataku mengakhiri pertempuran batin.

Selesai mengucapkan kata terakhir kurasakan aku mengalami kebasahan sangat hebat, benar – benar basah. Tapi plong rasanya. Aku sudah tidak berpikir lagi apa jawaban yang akan diberikan oleh Ningrum atas peromohonanku barusan. Yang kurasakan hanyalah kelegaan yang luar biasa.

“Mas Bagus serius dengan kata – kata Mas ?” Tanya Ningrum dengan hati – hati.

“Ya, saya sangat serius. Dan bahkan bila Mbak Ningrum meminta saya untuk menikahi Mbak Ningrum besok, saya akan dengan senang hati mengabulkannya.” Kali ini aku menjawab pertanyaan Ningrum dengan lancar dan mantap, tanpa ada lagi tetesan keringat.

“Tolong Mas Bagus pertimbangkan lagi. …

Bersambung,

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Arsip Pribadi

Tentang Kecukupan

Salam untuk Anda sekalian,

tearsKemarin lusa melalui tayangan pemberitaan di televisi, diwartakan tentang bahan bantuan makanan untuk para sahabat di Sumbar dan sekitarnya, yang diketahui telah lewat masa kadaluarsanya; dan tidak tanggung-tanggung tampak pada kemasannya, seharusnya sudah tidak layak konsumsi lagi bulan Desember 2008.

Terenyuh dan tertohok batin ini mengetahui kenyataan itu. Makanan yang telah disediakan Tuhan dengan melimpah ternyata ada masanya menjadi sulit didapatkan secara layak. Kenyataan bencana alam yang menimpa para sahabat dan bahan makanan “bantuan” yang telah kadaluarsa hampir setahun lamanya, dapat Anda bayangkan, penderitaan dan kegetiran yang saat ini dialami oleh para sahabat kita di bumi Andalas.

Semua keterbatasan itu, atas berkat rahmat dan kasih Tuhan tentu saja menjadi anugerah tak terkira di tengah penderitaan yang melanda. Dan makanan yang kadaluarsa itu pun seandainya saja terlambat diketahui, tetap saja berkat pertolongan Tuhan tidak akan berpengaruh kepada Sahabat yang sedang sangat sulit memperoleh bahan makanan untuk konsumsi keseharian mereka hingga semuanya kembali pulih kembali.

Tidak perlu kita mempermasalahkan lebih lanjut tentang makanan bantuan yang kadaluarsa itu, sekalipun media telah menyebutkan negara asal makanan itu. Lupakan itu.

Marilah kita masuk ke dalam batin kita, ambil saat tenang, tanyakan kepada batin kita masing – masing. Apakah kita telah memiliki kebijaksanaan dalam menanggapi karunia makanan yang disediakan oleh Tuhan ?

  • Apakah kita telah cukup bijak mengambil porsi makanan untuk kita dan keluarga kita di saat kita hadir di sebuah pesta ?
  • Apakah kita telah cukup bijak dalam memesan makanan ketika kita sedang berada di warung makan / restoran ?
  • Apakah kita cukup bijak telah mengambil makanan sesuai kapasitas kekenyangan kita ?
  • Apakah kita mengingat betapa masih banyak tamu undangan yang mengantri di belakang kita ?
  • Apakah kita cukup bahagia dan tenang telah dapat mencicipi aneka makanan yang tersaji, dan membuang sisa kelebihan yang barangkali tidak sesuai dengan selera kita, atau kebanyakan mengambilnya ?
  • Apakah kita pernah berpikir nasib remah-remah sisa makanan yang terbuang itu ?

Anda tidak perlu menjawabnya, cukup merenungkannya saja.

Tidak  ada hukuman nyata untuk penyia-nyiaan itu, tapi yang jelas Tuhan pun telah secara jelas mengajarkan :

Beginilah perintah Tuhan: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya.

Ya, meskipun Tuhan telah menyediakan semua makanan dan sumbernya secara melimpah, namun kepada kita senantiasa diingatkan untuk memungut sesuai keperluan kita saja. Bila sudah, kita tetap diperbolehkan mengambilnya kembali di saat kita membutuhkannya. Semua telah disediakan bagi kelangsungan hidup kita.

Masih belum cukupkah bagi kita untuk mempertahankan sifat tamak dan mau menang sendiri dengan mengabaikan kepedulian. Hal kecil saja, banyak orang yang belum bisa mengalami hal seperti kita boleh hadir dalam sebuah perhelatan pesta, atau  mereka yang belum disediakan kesempatan untuk dapat duduk nyaman di restoran. Namun kita begitu sering berlaku tidak bijaksana.

Satu kenyataan lagi bahwa “sampah” pun masih bisa memiliki nilai jual dan objek konsumsi bagi sebagian sahabat yang belum memiliki kesempatan cukup mengecap menu makanan enak dan berharga di atas rata-rata, bila hal itu dibandrol dengan harga murah. tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan sampah sisa makanan restoran dan hotel yang terdistribusikan ke dapur dan didaur ulang, untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi aneka makanan kering berharga murah.

Kejadian Sumbar dan sekitarnya, ada baiknya bila menjadikannya cermin bagi kita sekalian untuk lebih arif dan bersikap bijaksana dan mensyukuri nikmat yang disediakan Tuhan dengan secukupnya.

Marilah kita satukan doa agar kejadian di Sumatera Barat dan sekitarnya, tidak berulang kembali. Dan kita mendoakan agar semua keadaan segera dipulihkan kembali.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian

Manusia Pohon

Salam untuk Anda sekalian,

Pine-ForestDua hari ke depan, kemungkinan besar seluruh warga muslim di negeri kita akan menyambut dan merayakan hari raya Iedul Fitri 1 Syawal 1430 H. Hari yang telah dinantikan dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan lamanya, menahan segala hawa nafsu; bathin atau pun raga. Sebuah hari kemenangan bagi sahabat dan saudara kita yang berhasil melampaui segala ujian iman.

Dan pada masa bulan Ramadhan, disediakan pula sebuah mahabonus bagi sesiapa saja yang karena keikhlasan dan kekhusyukannya beribadah selama bulan Ramadhan [khususnya] dan 11 bulan sebelumnya, yaitu boleh menikmati anugerah rahmat malam seribu bulan atau Laillatul Qadar.

Lalu apakah kemenangan itu disediakan kepada semua sahabat atau saudara kita yang telah melaksanakan ibadah puasa ? Ya.

Lho bukankah adakalanya orang tidak melaksanakan puasa secara utuh ? Ya, itu benar.

Lalu mengapa semua orang disediakan kesempatan menjadi pemenang di hari raya Iedul Fitri ? Ya, karena Tuhan Mahabaik dan Mahaadil, menyediakan hak perolehan pahala secara sama bagi umatNya.

Mari kita perhatikan ibu, isteri, saudari atau kawan dan sahabat perempuan kita ? Kesemuanya diberikan rahmat oleh Tuhan untuk mengalami kondisi menstruasi dan nifas, yang karena hal itu Tuhan mentolerir untuk dibebaskan sementara dari kewajiban puasa dan ibadah Sholat. Masalah kesehatan pun termasuk hal yang menjadikan dasar pertimbangan dokter tidak menganjurkan pasiennya untuk melaksanakan puasa.

Kemenangan itu diberikan kepada siapa saja yang karena niat yang ditujukan kepada Tuhan, berkeinginan melaksanakan ibadah wajib sebagai persembahan iman kepada Tuhan. Bila di perjalanan waktu, terjadi hal yang menyebabkan batalnya ibadah; maka Tuhan tidak akan pernah membatalkan pahala atas ibadah yang tidak lengkap itu.

Demikian pula halnya pengalaman ‘mujizat’ malam laillatul qadar itu sendiri, tidak ada yang dapat melihat wujud anugerah itu, tidak ada seorang pun yang dapat merasakannya atau pun menerima pemberitahuan khusus dari Tuhan semesta alam. Semua umat kesayanganNya berkesempatan sama menerima anugerah itu, baik yang melaksanakan ibadah lengkap maupun yang karena “sesuatu hal” yang menjadikan ibadahnya tidak lengkap.

Tuhan pun telah berfirman bahwa segala sesuatu perbuatan itu dicatatkan pahalaNya, berdasarkan niat ikhlas yang ditujukan kepadaNya – Semua itu bergantung dari niat baiknya yang ikhlas. Orang yang berniat bersedekah namun mengalami pencopetan atau kehilangan uang, maka tetap akan memperoleh pahalanya meski batal bersedekah. Orang yang berniat berhaji, pada saat ia sudah mampu, namun ada hal, aturan atau ajal mejemput, maka pahala itu pun tetap menjadi haknya sekali pun yang menghajikannya adalah putera atau puterinya.

Tuhan memberikan pahala tanpa pernah diketahui, dan Tuhan pun tidak pernah memberikan bocoran nilai raport pahala semua umatnya termasuk para Nabi dan Rasul kekasih hatiNya. Semua pahala yang dikreditkan ke buku amal kehidupan masing-masing dari kita baru akan diketahui pada saat hari penghakiman.

Jadi, mengapakah kita masih berhitung-hitung apakah saya menang dalam bulan Ramadhan ? Apakah saya memperoleh anugerah laillatul qadar, karena telah melaksanakan ibadah secara khusus dan khusyuk pada hari – hari tertentu di bulan Ramadhan ?

Tuhan senantiasa menjaga dan memelihara segala ciptaanNya, manusia, satwa dan flora.

Mari kita perhatikan pohon, saya percaya kita semua pernah melihat pohon :)

Perhatikanlah betapa baiknya pohon. Nalurinya tiada lain hanyalah untuk bertumbuh, tidak peduli bagaimana orang melukai dan menandai batang tubuhnya dengan parang dan menulisinya dengan pahat, cat atau paku … tetap saja pohon dengan nalurinya bertumbuh. Dalam kondisi apapun pohon, kulit batangnya tercabik-cabik, dibuat takik-takik untuk memanjat, di sayat untuk jalur tiris getahnya yang bermanfaat … tetap saja memberikan keteduhan dan kesejukan bagia yang ada di sekitarnya. Pohon pun dengan kebaikannya menjaga cadangan air tanah dan kekuatan tanah. Pun menjadi tempat hidup dan arena bercengkrama para satwa. Hingga pada saat ia ditebang pun, tetap saja menyediakan manfaat melalui kayunya, atau cadangan investasi kehidupan baru melalui tunasnya.

Semua yang ada padanya memiliki nilai manfaat, baik masih berupa buji, kecambah, pohon hingga mati, kayunya pun memiliki manfaat.

Jadi, setelah kebahagiaan Iedul Fitri nanti, setelah suasana saling memaafkan, marilah kita semua merenungi kehendak Tuhan melalui kkta. Marilah kita menghayati kebaikan naluri alamiah pohon dengan satu naluri baiknya, yaitu bertumbuh menjadikan kenyamanan dan memberikan manfaat kepada lingkungannya dengan semua yang disertakan Tuhan seiring pertumbuhan dan siklus hidupnya.

Tetaplah menjadi penyejuk dan pemberi manfaat kepada lingkungan, seperti halnya pohon.

Salam gemilang

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Catatan Harian

Lebaran Semarak

Salam untuk Anda sekalian,

Rail-emailLebaran akan tiba … hati gembira … mudik … pertemuan dengan orang-orang terkasih … silaturahmi … saling memaafkan … haru dan khidmat; demikianlah suasana yang terbayang.

Lebaran yang berarti lebar [bubar, selesai, setelah]; hari kemenangan bagi sudara-saudara kita yang menjalankan ibadah Ramadhan, setelah berpantang dari segala hawa nafsu batin dan fisik sebulan lamanya.

Lebaran menjadi begitu indah karena banyak hal indah dan menyenangkan hadir jadi satu dalam kesempatan ini. Kebersamaan, kasih sayang, empati, kepedulian dan keramahtamahan tercampur dalam satu kemasan kebersyukuran.

Bersyukur bagi karyawan yang memperoleh THR dan masa libur panjang, bersyukur bagi yang tidak mengalami libur panjang lebaran karena sedang menjalankan amanat Tuhan mendukung berlangsungnya lebaran penuh berkah [polisi, dokter dan paramedis, jurnalis, para transporter, dan saudara lainnya yang mengemban tugas mulia dari Tuhan di hari lebaran], bersyukur bagi yang sedang diberikan kelimpahan rahmat dan rizki boleh berbagi kebahagiaan dengan berzakat dan bersodaqoh [fitrah dan atau maal], bagi para saudara fakir – kekasih Tuhan yang akan mendapatkan bagian berkat Tuhan melalui saudara-saudara lainnya. Dan bagi para orang tua, lebaran adalah saat yang penuh kesyukuran menyongsong putera dan puteri; sebuah kebahagiaan tak terkira menjumpai putera-puteri yang sujud hormat kepadanya; sendiri maupun bersama keluarga yang saling asah, asih dan asuh.

Bagi kami [saya dan isteri] lebaran kali ini akan menjadi lebaran terindah; tahun ini adalah kesempatan pertama bagi kami “mempersembahkan” putera kami terkasih kepada kakek dan neneknya. Seorang cucu yang manis dan sehat buah dari doa dan harapan baik kakek dan neneknya. Memperkenalkan pangeran kecil kami kepada keluarga dan sanak saudara.

Kebahagiaan pun terpancar dari wajah putera kami yang sejak beberapa hari lalu mengalami sakit batuk, telah mengalami penurunan intensitas batuknya. Dan juga kesibukan isteri tercinta dalam mempersiapkan segala perlengkapan yang akan kami bawa. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan bahwa saya boleh mengalami kebahagiaan ini bersama isteri dan putera kami.

Tuhan, terimakasih atas segala karunia dan keindahan yang sedang Kau ujikan pengelolaannya kepadaku dan keluarga. Bimbinglah kami untuk senantiasa bijak dan memiliki kerendahan hati, menyadari bahwa masih banyak saudara kami yang sedang menantikan titipan rahmat dari Engkau, sehingga kami tidak menjadi loba dalam mengumpulkan sebanyak-banyaknya kebahagiaan duniawi. Berkatilah saudara-saudara kami, dan berikanlah kepada mereka kebahagiaan sebagaimana telah Engkau hadirkan kebahagiaan itu kepadaku dan keluarga.

Amin

Selamat merayakan Lebaran Iedul Fitri 1 Syawal 1430 H kepada Anda sekalian yang menyambut dan merayakannya … Mohon maaf lahir dan bathin dari kami dan keluarga.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian

Cinta DI Balik Gusar

Salam untuk Anda sekalian,

Woman-and-sleeping-child-001Ketika cinta sudah menyapa dan menyatukan 2 hati, adakah yang mampu atau memampukan untuk menarik kembali cinta itu ?

Sampai berapa lama Anda sanggup memelihara kemarahan Anda kepada orang terkasih Anda ? Sehari, dua hari, tiga hari atau bahkan lebih ?

Coba perhatikanlah wajah orang terkasih Anda pada saat tidurnya, rasakan betapa damainya sebenarnya di berada di dekat Anda, sehingga tiada sedikitpun kegelisahan dan ketakutan terpancar di wajahnya.

Maka percayalah bahwa ketika Anda terlelap dalam tidur, kekasih hati Anda pun memandangi wajah Anda dan mendaraskan doa baik untuk kesehatan dan keselamatan Anda, walau di dalam kemarahannya kepada Anda ?

Jika yang ada di dalam batin Anda adalah sesungguhnya cinta, dan bukannya nafsu, maka tidak ada kekuatan Anda untuk menyangkal bahwa dalam kegusaran Anda kepada kekasih hati Anda atau sebaliknya, tidak ada kekuatan sebesar apa pun untuk menjadikan rapuh akar-akar cinta Anda, melainkan semakin dalamnya akar-akar cinta itu menancap dalam ke dalam sanubari Anda.

Salam gemilang,

Benedikt Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian

Merah Putih Indonesia

Salam untuk Anda semua,

bendera1Pagi kemarin saya menurunkan bendera merah putih yang telah terpasang di halaman rumah kami sejak sepekan sebelum pesta perayaan tujuh belasan. Ada perasaan syahdu ketika saya menurunkan bendera itu dari tiangnya, sama halnya ketika saya memasang dan mengibarkannya.

Saya memang sengaja untuk tidak menurunkannya sebelum bulan Agustus berakhir, meski para tetangga sudah menurunkan bendera merah putih mereka masing-masing. Bukan karena ingin tampil nasionalis atau dipandang jiwa keindonesiaan saya paling menonjol dari yang lain. Bukan, saya hanya rindu kemeriahan pesta Agustusan sebagaimana masa kanak-kanak saya dulu. Saya masih teringat bagaimana cerianya saya, adik dan teman-teman tampil bersama dalam karnaval Agustusan … mengenakan duk pramuka yang berwarna merah putih, dilingkarkan ke kepala masing-masing dari kami.

Dan saya pun bisa merasakan gempita keagungan merah putih, yang menjulang gagah di atas gapura tujuhbelasan yang dipersiapkan sedemikian rupa oleh para pemuda kampung dan ayah kami.

Hal lain yang masih begitu jelas terekam dalam ruang benak dan batin saya, adalah ketika saya dan kedua adik saya dibonceng bersama oleh ayah kami, ditemani ibu kami menuju jalan utama di kota masa kecil kami, Semarang. Kegembiraan melimpah ruah bertabur di sepanjang jalan oleh banyaknya warga lain yang antusias menyaksikan pawai pembangunan. Beraneka ragam kendaraan hias, berornamenkan bendera merah putih dan juga aneka ragam budaya beserta penunggang kendaraan pawai yang mengenakan aneka pakaian adat daerah … sungguh indah sekali.

Bebahagiaan dan keagungan negeri yang sempat saya rasakan hingga masa SMA saya di Palangkaraya.

Kini saya rasakan negara Indonesia bertumbuh dengan pesat, namun gegap gempita kebanggaan sebagai bangsa menyambut pesta hari kemerdekaan itu semakin pudar. Saya hanya menyaksikan antusiasme pedagang bendera dan umbul-umbul bermandikan peluh menjajakan dagangan musimannya.

Bendera merah putih yang saya saksikan sekarang tidak banyak yang sebersih dan “sesakral” sebagaimana saya lihat di masa kanak-kanak dan remaja saya. Bendera yang begitu selesai perayaan, langsung dikumpulkan untuk dicuci dan dirapihkan oleh para ibu-ibu PKK di kampung kami, dan disimpan di balai warga. Hingga pada saatnya digunakan selalu tampil bersih berwibawa.

Kini saya bisa menyaksikan bendera negara kita, bendera merah putih tampil menjulang dengan seadanya. Warna pudar dan sobek di sana-sini karena tidak pernah diturunkan atau dicuci. Jarang sekali ada prosesi pengibaran dan penurunan bendera merah putih di lembaga-lembaga pendidikan atau perusahaan, bahkan kantor pemerintahan.

Di ruang terbuka pun merah putih “merana” dalam kusam terbalut noda oli menghiasi kendaraan truk, kapal perahu dan sebagainya.

Bendera adalah kebanggaan bangsa yang merdeka, dan ini berlaku di semua negara; bendera menjadi pengiring kepergian bunga bangsa menuju peristirahatannya terakhir, pun merupakan warisan abadi nan membanggakan kepada keluarga dan handai taulan yang ditinggalkannya.

Saya senantiasa mengingat betapa bangganya almarhum kakek saya ketika mengenakan seragam LVRI, bersiap turut dalam upacara 17 Agustus … gagah sekali dalam sosok kurus keriput beliau.

Terimakasih pahlawanku, kusuma bangsaku, untuk kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dan persembahkan melalui cucuran darah , raga dan jiwa – jiwa suci yang telah engkau semua persembahkan bagi kebesaran negeri kita tercinta Indonesia.

Saya percaya bahwa masih ada kebanggaan dan kesemarakan yang agung dalam menyambut hari kemerdekaan di beberapa daerah bagian dari NKRI ini, melalui cinta bangsa penduduknya.

Indonesia jaya, bersatu padu berbalut kemegahan Bhinneka Tunggal Ika.

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian

Edelweiss

Sebelumnya :

“Oh ya Mas, tadi siang ada ceweq yang nyariin Mas Bagus. Katanya kenal Mas Bagus waktu mudik satu bis bareng.” Kata Sumiyati.

“Oh ya ?” Jawabku cuek.

“Iya, Mas. Lama dia nungguin Mas bagus tadi. Katanya dia nyariin di tempat kost Mas Bagus yang lama, terus dikasih tahu kalau Mas Bagus udah pindah ke sini.” Terang Sumiyati.

“Katanya, dia besok Minggu mau ke sini lagi. Tadi Ningrum yang nemenin dia Mas.” Imbuh Sumiyati.

Kualihkan pandangan ke arah Ningrum, dan kulihat dia mengangguk tanda membenarkan ucapan Sumiyati.

swiss_alpine_wildflower07“Hayo, siapa tuh ? Nggak kasihan sama Ningrum yang cemburu ya ?” Goda Titis. Aku tidak habis pikir, kenapa mereka selalu menggodaku dengan Ningrum. Apa mereka tahu kalau aku agak lain dengan Ningrum.

“Ah, bukan siapa – siapa. Kami memang pernah satu bangku waktu perjalanan mudik lebaran. Saya turun duluan, setelah itu gak pernah ada komunikasi lagi sampai sekarang.” Bantahku.

“Ah, masa sih ?” Kembali Ainur menggodaku.

“Bener, swear.” Bantahku lagi.

“Iya, iya kita percaya gak ada apa – apa antara Mas Bagus sama tuh ceweq. Idih segitu sewotnya.” Goda Ainur

“Ya lagian, kalian maksa hehehe,” gurauku sambil terkekeh mencandai mereka.

Saat mereka hendak pulang, aku tahan Ningrum untuk tinggal sebentar. Dan dia menurut.

“Benar Mbak, ceweq itu mau datang lagi minggu depan ?” Trus dia ngobrol apa saja sama Mbak Ningrum ?” tanyaku menyelidik.

“Iya, dia memang bilang kalau Insya Allah mau datang lagi hari Minggu. Dan dia banyak cerita tentang Mas Bagus, katanya Mas bagus orangnya baik. Gitu aja sih Mas.” Jelas Ningrum.

“Aduh, gimana ya ?” Aku sedikit bingung.

“Memang ada apa Mas, koq jadi gugup begitu ?” Tanya Ningrum.

“Saya mau cerita, Mbak Ningrum mau percaya kan ?” Tanyaku kemudian, dan kulihat Ningrum mengangguk.

“Memang waktu itu kami pernah satu perjalanan pulang mudik. Dan kami banyak mengobrol sepanjang perjalanan, termasuk tentang tempat tinggal saya di sini. Saya turun duluan di Jogja, sementara dia turun di kota berikutnya arah Solo. Hingga akhirnya saya kembali lagi ke sini setelah liburan berakhir. Selang sekitar dua bulan kemudian dia datang ke tempat kost saya bersama temannya. Dia mengenalkan saya sebagai Mas-nya kepada temannya itu. Terus terang saya kaget waktu itu, tapi tak begitu saya hiraukan. Setelah itu dia sering main ke tempat saya, dan semakin lama saya menangkap dia punya maksud lebih dari sekadar pertemanan biasa. Terus terang saya tidak siap untuk itu, dan pernah sekali dia saya tegur dengan nada keras karena saya anggap sikapnya sudah kelewatan. Dia tampak kaget dan terkejut dengan nada keras saya itu. Dia langsung minta ijin pulang, dan setelah itu saya mulai cari tempat kost baru ke sini. Maksud saya biar dia tidak menemui saya lagi.”

“Waktu itu, kenapa Mas Bagus tidak bicara saja apa adanya kalau Mas Bagus hanya mau berteman saja dengan dia ? Maaf saya potong Mas ?” Ningrum memotong ceritaku.

“Saya tidak sampai hati, karena saya lihat dia sangat berharap Mbak “? Jawabku pelan

“Saya tidak ingin menyakiti dia.” Lanjutku. “Terus terang saya belum pernah merasakan menolak atau ditolak, tapi saya bisa rasakan dan bayangkan bahwa dia akan sedih bila saya bicara jujur.”

“Ya sudah, kalau begitu bila dia datang lagi, Mas Bagus bilang saja apa adanya. Saya yakin kalau Mas Bagus bicara baik, dia bisa menerima dan tetap menghormati Mas Bagus.” Ningrum menasehatiku.

“Mbak Ningrum, maaf sebelumnya. Mbak Ningrum bisa bantu saya ?” Tanyaku.

“Selama saya bisa Bantu, Insya Allah akan saya bantu Mas Bagus.” Jawab Ningrum menyejukkan hatiku.

“Saya mau minta tolong Mbak Ningrum pura – pura jadi pacar saya dan menemani saya saat teman saya datang besok. Saya akan pura – pura mengaku kalau saya sudah jadian sama Mbak Ningrum. Mbak Ningrum mau kan ?” pintaku.

Kulihat Ningrum kaget dengan permintaanku itu, sedetik kemudian kulihat dia tersenyum dan berkata, “Lho koq saya yang diminta bohong jadi pacarnya Mas Bagus sih ? Ntar Titis marah lho Mas. Gak kasihan sama Titis apa ?” Ningrum menggodaku, dan justeru membuatku tambah bingung. Apa maksudnya Titis jadi marah ? pikirku.

“Ya Mbak Ningrum kan kelihatan lebih dewasa, jadi saya pikir akan lebih meyakinkan daripada Titis yang pura – pura jadi pacar saya.” Aku memaksa Ningrum dengan polosnya tanpa mempertimbangkan apa yang bakal terjadi di belakang hari.

“Tapi bener ya Mas, kalau ntar Titis marah. Mas Bagus yang harus bicara ke dia kalau ini hanya trik sandiwara.” Ningrum kembali mengulangi pernyataannya yang semakin membuatku bertambah bingung.

“Ya, saya janji.” Jawabku singkat penuh kelegaan. Lega karena berfikir dengan skenario dadakan itu aku akan melakukan tindakan baik yaitu memupus harapan seorang perempuan tanpa menyakiti perasaannya, dan semuanya akan menjadi beres.

Setelah pembicaraanku dengan Ningrum tersebut, perasaanku terhadap Ningrum makin menjadi – jadi. Perasaan rindu dan sayang semakin menerpaku. Terus terang aku sangat takut menyadari getar – getar rasa yang kualami ini. Aku begitu takut, takut Ningrum justeru akan menjauhiku karena aku menaruh hati kepadanya sementara dia hanya menganggapku sekadar sebagai seorang kakak baginya. Kalaupun Ningrum mau menerimaku, aku sendiri masih bingung bagaimana menjalani masa berpacaran karena sampai umurku yang ke-duapuluh lima ini sama sekali aku belum pernah melakukan yang namanya “nembak ceweq”. Trus bagaimana juga jika Ningrum ternyata tidak marah tetapi tetap menolakku, aku pasti malu banget dengan Titis, Ainur dan juga Sumiyati.. Duh Gusti, pusing rasanya.

Akhirnya hari Minggu itu datang juga. Aku sebenarnya sudah lupa tentang skenario yang kukarang bersama Ningrum minggu lalu, meskipun kalau perasaan rindu terhadap Ningrum tidak lupa.

“Aduh gantengnya yang mau menerima tamu ceweq, tumben pagi udah rapih,” suara Titis dari seberang terdengar jelas dan mantap sekali saat aku sedang menjemur handuk.

“Ya ampun, ini hari Minggu rupanya.” Bergegas aku masuk kamar kostku dan mengintai keluar mengamati kalau – kalau Ningrum keluar dari kamarnya dan sendirian tanpa ada anggota Trio Kwek – Kwek lainnya.

Nha, kesempatan itu datang juga akhirnya. Kulihat Ningrum keluar sambil meniriskan rambutnya yang basah selepas keramas dan hendak menjemur handuk. Buru – buru aku keluar dan kupanggil dia, dengan hati – hati tentunya. Ningrum pun mengetahui isyarat panggilanku dan sudah ada di depan kamarku kost-ku beberapa menit kemudian. Aku jadi terpana memandang Ningrum, dia nampak semakin ayu dengan rambutnya yang basah itu.

“Ada apa Mas ?” Tanya Ningrum membuyarkan keterpanaanku kepadanya.

Bersambung

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Apresiasi, Catatan Harian

Menanti atau Menyongsong

Salam untuk Anda semua,

20051023-menyongsong-sanur Belum lama berselang, cukup marak pemberitaan maupun perbincangan mengenai 2012. Sebuah catatan dari peradaban masa lalu yang baru ditemukan, telah menjadikan 2012 menjadi “angka cantik” yang sedemikian populer, bahkan program tayangan pemirsa di stasiun televisi nasional pun tak ketinggalan mengupas secara gamblang berikut bumbu pendapat dari paranormal sehingga menuansakan “kemencekaman”.

Sebenarnya saya pun telah setidaknya mengalami beberapa kali hebohnya pemberitaan tentang akhir jaman atau dalam bahasa awam dimaknai sebagai kiamat. Saat saya masih bersekolah di kelas 4 SD, pun hal ini sudah cukup menarik dan mempengaruhi ruang benak kanak-kanak kami, dan argumen-argumen polos di antara kami waktu itu. Bahkan di sebuah surat kabar lokal ditampilkan sebuah berita seseorang membunuh dirinya sendiri, dengan wasiat ditinggalkan, dia sengaja memilih meninggal cepat karena takut mengalami hari kiamat.

Kemudian lahirnya mata uang euro, juga dikait-kaitkan dengan kiamat, dan brand produk yang menguasai pasar dunia juga tak luput dijadikan polemik tanda-tanda akan datangnya kiamat. Bahkan menjelang pergantian milenium pun ada kalangan yang menganggap sebagai tanda akan hadirnya hari kiamat.

Saya tidak ingin beradu pandangan tentang “rancangan / ramalan” hari kiamat, karena keyakinan bukan untuk dipertentangkan. Oleh karenanya sengaja saya pun memilih “waktu tenang” ini untuk mengejawantahkan pemikiran saya ini.

Kawan, sahabat, saudara di luar keimanan kita meyakini kiamat akan hadir pada waktu yang dimisterikan oleh Tuhan, demikian pula dalam kitab keyakinan saya; bahkan secara gamblang disebutkan tanda-tanda bagaimana proses kehancuran bumi ini secara gamblang – demikian dahsyat dan mengerikannya.

Namun perlu diingat dan dijadikan pegangan hidup yaitu bahwa semua itu hanya berupa tanda.

Sahabat terkasih, Tuhan mengaruniakan kita kehidupan dengan maksud untuk menjadikan bumi ini menjadi indah dan berwarna. Dalam perjalanan meng-indahkan itu banyak fase kehidupan telah berlangsung atas kuasa Tuhan, mulai masa prasejarah, masa sebelum masehi dan masehi – milenium.

Dan kita saat ini boleh berbangga hati, “dihidupkan” di masa yang sudah serba lengkap dan masa pengetahuan yang dinamis. Teknologi berkembang, segala fasilitas dan infrastruktur sudah tersedia berlimpah. Saya beserta Anda telah mengalami masa milenium ini, namun kenyataan kegelisahan yang terjadi setiap kali wacana “kiamat” didengungkan, selalu saja aroma “kehebohan” yang sama dalam menyikapinya. Kecenderungan rasa percaya ramalan demikian kentalnya menghiasi setiap pernyataan atau ulasan publik.

Kita memang percaya akhir jaman, namun tidak ada satu pun dalil shahih yang menyatakan tentang waktunya.

Apakah Anda yakin Tuhan akan mengakhiri semesta ini pada 2012 ?
Apakah yang Anda lakukan untuk menantikan masa itu, entah itu benar tahun 2012 atau tahun yang ditetapkan Tuhan sejak awal masa penciptaan ?

Teman saya mengatakan secara tegas dalam diskusi kanak-kanak kami saat kami kelas 4 SD, adalah : kenapa kita mesti takut kiamat besok ? Apa pun yang terjadi itu semua kehendak Tuhan.

Masa itu dirancangkan Tuhan bukan untuk dinantikan, namun disongsong. Dia datang sewaktu-waktu seperti halnya pencuri di malam hari.

Marilah kita samakan persepsi perbedaan menantikan dan menyongsong; menanti itu pasih, sementara menyongsong itu aktif. Seumpama seorang istri yang menanti kedatangan suaminya dari luar negeri menunggu di rumah sambil santai menonton televisi. Sedangkan istri yang menyongsong kedatangan suaminya, melakukan berbagai persiapan; mulai dari membersihkan rumah, menyiapkan makanan favorit sang suami, hingga menjemputnya di bandara.

Jadi daripada untuk selalu menghiasi hati dengan kecemasan akan ramalan atau catatan dari “peradaban masa lampau”, akan lebih baik dan bermakna hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada kita ini bila kita isi dengan perbuatan-perbuatan aktif yang baik dan membaikkan untuk kita semua menyongsong masa itu, sehingga bila saat itu [ajal] benar-benar tiba, maka Anda, saya dan lainnya telah benar-benar siap bekal untuk menghadapNya.

Misteri kehidupan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dikuak dan dimengerti rahasianya.

Salam gemilang

Benediktus Agung Widyatmoko

[tulisan ini dipersembahkan kepada Pak Nur Salim, guru kami di SD Sompok – Semarang, di mana pun berada saat ini. Salam hormat dan terimakasih dari kami, untuk pendidikan yang dibekalkan kepada kami; murid-murid Bapak]

Categories: Apresiasi, Catatan Harian

Bertemu Kembali

Sebelumnya :

Jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing.

“Terimakasih Mas Tody” kataku mengakiri pertemuan hari itu.

“Sama – sama, besok Minggu kamu siap – siap aku jemput jam tujuh tiga puluh” Balas Mas Tody.

Mas Tody dan Rasdi menghilang bersama mobilnya di tikungan, dan aku langsung masuk kamar kostku.

waiting-for-youHari Minggu ini aku bangun lebih pagi dari pada biasanya. Ya, karena aku ada janji buat bantu Mas Tody pindahan ke rumah barunya. Aku rapihkan dan sapu kamar serta teras kostku. Sambil menunggu Mas Tody aku kembali memutar kaset, “We re no strangers to love, You know the rules and so do I, A full commitments what I’m thinking of, You wouldn’t get this from any other guy …” Bait pertama lagu Never Gonna Give You Up mengalun indah lewat tarikan vocal keren Rick Astley. Lumayan nge-beat dan membangkitkan semangatku di Minggu pagi ini.

Baru berjalan dua lagu, lengkingan klakson mobil Mas Tody sudah memaksaku untuk keluar rumah pagi itu. Kami berangkat ke rumah baru Mas Tody. Lumayan jauh juga perjalanan kami, untung Minggu pagi jadi jalanan belum begitu macet. Lebih kurang satu jam perjalanan, kami telah sampai di alamat tujuan. Kami segera turun bersama perlengkapan kerja yang sudah disiapkan Mas Tody sebelumnya. Mas Tody mengeluarkan dua pail kecil cat tembok, rupanya agenda kami hari ini adalah mengecat rumah. Cukup besar memang rumahnya, kamarnya ada tiga seperti diceritakan Mas Tody tempo hari.

“Kita sarapan dulu, sebelum mulai.” Kata Mas Tody sambil menjinjing bungkusan tas plastik berisi nasi bungkus dan beberapa botol minuman kemasan.

Tidak berapa lama kami selesai santap pagi. Kami mulai melakukan pembersihan dan melakukan pengecatan. Aku sebenarnya tergolong orang yang tidak suka dengan pekerjaan rumah semacam ini. Namun keakraban di antara aku dan Mas Tody serta Rasdi telah membuat pekerjaan kami hari ini jadi menyenangkan.

Tidak lebih dari empat jam pekerjaan kami akhirnya selesai. Cukup berkeringat juga, namun asyik.

“Gimana Gus, kamu jadi tinggal di sini ?” Mas Tody membuka kata di tengah istirahat kami.

“Enak sih memang di sini, di lingkungan perumahan”. Tapi kayaknya jauh dari tempat kerja ya.” Kilahku

“Ya ntar deh aku pikir – pikir dulu, soalnya aku juga belum lama pindah ke tempat kostku yang sekarang.” Lanjutku

“Ya’ udah. Gak gabung sekarang juga tidak kenapa. Yang penting kalau kamu berubah pikiran kasih tahu aja ke aku.” Balas Mas Tody.

“Ya, Mas. Terimakasih.” Sahutku

Sore itu aku diantar Mas Tody pulang ke kostku, sementara Rasdi udah langsung gabung tinggal bareng di rumah baru Mas Tody. Di perjalanan aku berpikir, untung Mas Tody bisa menerima alasanku menolak diajak tinggal bareng di rumah dia. Padahal kalau dipikir – pikir sih memang lebih irit karena biaya sewa kamar sudah pasti lebih murah. Dan lagi berangkat kerja bisa ikut Bareng Mas Tody sampe ke jalan besar. Mas Tody kerja di kantor pusat, sedangkan aku di workshop. Masalahnya kalau aku mau menerima tinggal sama dia, berarti aku jadi jauh dong sama Titis, Ainur, Sumiyati, terutama sama Ningrum. Jelas lebih enak mahal dikit tapi dekat dengan Ningrum.

Menjelang maghrib aku dan Mas Tody tiba di tempat kostku. Mas Tody langsung pulang ke rumahnya.

Belum separuh badaku masuk ke kamar, kudengar teriakan nyaring penuh semangat memanggilku. “Mas Baguuuus, dari mana aja sih. Kita pulang lagi koq gak disambut sih ?”

A ha, aku langsung berbalik dan berteriak, “Kapan nyampe, jam berapa tadi pagi sampenya ?” Kulihat pasukan Trio Kwek Kwek dan Ningrum sudah menuju ke arahku.

“Maaf ya, saya tadi barusan maen ke rumah temen. Dia baru pindahan hari ini.” Jawabku mengawali pertemuan kembali.

“Pergi koq gak ajak – ajak, sih !” Rajuk Titis.

“Eh, mana nih oleh – olehnya ?” Godaku kemudian kepada mereka.

“Kita bawain gak banyak Mas, soalnya susah bawanya. Lagian bisnya penuh banget dari Jawa. Enting – enting saja gak apa – apa ya Mas ?” Terang Titis, Ainur dan Sumiyati hampir bersamaan.

“Ningrum bawain agak beda, Mas. Dia bawa jenang kudus tuh.” Lanjut mereka.

“Gak apa deh, yang penting oleh – oleh.” Kataku sambil tersenyum lebar.

“Mas Bagus, nonton tivi.” Rengek Titis kemudian.

Kamipun tertawa dan tak lama sudah larut kembali dalam kegembiraan.

“Oh ya Mas, tadi siang ada ceweq yang nyariin Mas Bagus. Katanya kenal Mas Bagus waktu mudik satu bis bareng.” Kata Sumiyati.

“Oh ya ?” Jawabku cuek.

“Iya, Mas. Lama dia nungguin Mas bagus tadi. Katanya dia nyariin di tempat kost Mas Bagus yang lama, terus dikasih tahu kalau Mas Bagus udah pindah ke sini.” Terang Sumiyati.

“Katanya, dia besok Minggu mau ke sini lagi. Tadi Ningrum yang nemenin dia Mas.” Imbuh Sumiyati.

Kualihkan pandangan ke arah Ningrum, dan kulihat dia mengangguk tanda membenarkan ucapan Sumiyati.

Bersambung

Salam gemilang,

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Arsip Pribadi

Senandung Rindu -2-

Petikan cerita sebelumnya :

“Iya Mas, ceritanya kemarin kan ada kampanye partainya anak muda. Mereka bawa motornya kenceng banget pas lewat depan kompleks kita. Udah gitu ada sebagian yang masuk belok ke tempat kita. Kita semua kaget dan takut, trus pada lompat ke kebon bambu di belakang. Pas lompat, kaki Ningrum nginjak tunggak bambu. Gitu ceritanya yang benar Mas Bagus.” Cerita Titis dengan penuh semangat empat lima.

Kulihat Ningrum salah tingkah karena kebohongannya diuangkap sohib kentalnya sendiri. “Ya udah, gak apa – apa, yang penting ntar diolesi parem atau diurut, Mbak.” nasihatku kepada Ningrum.

Esoknya perusahaanku sudah mulai diliburkan. Ningrum main ke tempat kost-ku dan untuk pertama kalinya aku bicara berdua saja dengan Ningrum.

dark_honey_bee_hembergerMas Bagus pemilu mau nyoblos di mana ?” Tanya Ningrum

“Kayaknya sih nyoblos di sini Mbak, saya kebetulan didaftar di sini.” Jawabku

“Mbak Ningrum mau nyoblos di Jawa apa dimana ?” tanyaku kemudian.

“Kebetulan pabrik tempat kami bekerja diliburkan untuk menyambut pemilu. Katanya pemilu di Jakarta suka rame ya Mas, saya takut jadinya saya mau ke Jawa aja pas liburan, mau ngungsi.” Jawab Ningrum sembari bergidik.

Gaya bicara dan pembawaan Ningrum yang lugu dan polos membuatku sangat gemas.

“Wah, lama dong ya liburannya ?” Tanyaku kemudian

“Paling lama seminggu koq Mas, habis itu balik lagi ke sini.” Jawab Ningrum tetap dengan gaya polosnya.

“Titis, Ainur, dan Sumiyati juga mau pemilu di Jawa katanya Mas. Mereka KTP nya Jawa.” Lanjut Ningrum.

“Wah berarti sepi dong ntar pas pemilu di sini ya ? Selorohku sambil tersenyum.

“Ya nggak sepi to Mas, kan nggak semua orang mudik pas pemilu. Mereka yang udah punya KTP sini pasti nyoblosnya juga di sini.” Kali ini Ningrum berkata sambil memonyongkan bibirnya, lucu sekali.

Aku sungguh menikmati percakapan dengan Ningrum.

“Oh ya, memang kampungnya Mbak Ningrum di mana ya ?” Tanyaku lagi.

“Jauh Mas, di Pantai Utara Jawa tengah.” Jawab Ningrum.

“Saya juga pernah ke daerah Pantai Utara Jawa Tengah, Mbak. Tapi udah lama sekali. Waktu saya masih SD, saya diajak orang tua saya ke Pantai Kartini di Jepara.” Ceritaku.

Kulihat Ningrum tersenyum. “Koq senyum, Mbak ?” tanyaku.

“Mbak Ningrum pernah ke Pantai Kartini di Jepara ?” tanyaku kemudian.

“Orang tua saya memang asli Jepara, Mas. Jadi ya sering ke Pantai Kartini.” Ningrum kali ini tertawa renyah, menampilkan deretan geliginya yang yang rapih putih bersih.

“Ooh …” aku Cuma melenguh karena malu.

“Trus rencananya, Mbak Ningrum sama teman – temannya mau berangkat ke Jawa kapan ?” selidikku.

“Insya Allah besok kami berangkat Mas, dari Pulogadung.” Jawab Ningrum.

“Oh ya Mas, maaf ya saya pamit dulu. Saya harus siap – siap buat besok.” Lanjut Ningrum.

“Ya udah, terimakasih Mbak Ningrum sudah menemani saya ngobrol.”

Entah mengapa aku merasakan kesepian bakal ditinggal adik – adikku terutama Ningrum. Kekonyolan Titis, dan Ainur. Gaya Sumiyati yang bak seorang ibu bagi Titis dan Ainur. Serta kepolosan dan keluguan Ningrum yang ayu, senyum Ningrum yang terkesan mahal namun renyah, dan cara berjalannya dua hari terakhir yang terpincang – pincang membuatku semakin gemas dan sedih bakal kehilangan semua, paling tidak untuk satu minggu ke depan. Kegalauan menyertaiku sepanjang siang hingga sore itu. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat, ketika kudengar pintuku diketuk dari luar. Aku bergegas menyambut dan membukakan pintu. Kulihat Titis, Ainur dan Ningrum berada di hadapanku.

“Mas Bagus, kita mau pamit pulang kampung sebentar. Mas Bagus mau titip dibawain apa ya ?” Ucap Titis begitu kupersilakan masuk.

“Ya sudah, kalian hati – hati di jalan. Terserah kalian mau bawakan apa buat saya.” Jawabku singkat.

Sesaat mereka berada di tempatku dan kami mengobrol satu sama lain, hingga setengah jam kemudian Titis dan Ainur mohon pamit. Ningrum masih tinggal, “Mas Bagus bener tidak titip dibawain oleh – oleh ?” Ulang Ningrum.

“Ya sudah, kalau begitu saya dibawain oleh – oleh yang khas dari daerah Pantai Utara Jawa tengah saja.” Jawabku.

Kualihkan pandanganku ke kaki Ningrum, “Kakinya sudah baikan, Mbak ?” Tanyaku, yang dijawab langsung oleh Ningrum, “Sudah mendingan Mas, kemarin udah di balsam sama Sumiyati. Besok di kampung rencananya saya mau urutkan ke tukang urut, Mas.” Jawaban Ningrum sedikit membuatku lega.

“Ya sudah, sekarang istirahat. Hati – hati di jalan Mbak. Cepet sembuh ya kakinya.” Pesanku buat Ningrum.

“Baik Mas, kalau begitu saya pulang dulu.” Kuantar Ningrum sampai teras, dan aku menjadi semakin sedih dan merasa sepi.

Keesokan paginya kulihat mereka berangkat, aku sempat melambaikan tangan dari jendela kepada mereka. “Tuhan, lindungi perjalanan mereka berempat menuju kampung halaman mereka masing – masing. Jauhkan perjalanan mereka dan liburan mereka dari segala bahaya. Dan izinkan kami bertemu mereka semua kembali minggu depan dengan selamat dan sehat … Amin.” Doaku dalam hati.

–oOo–

Hari yang ditunggu pun tiba. Semarak dan antusiasme warga kampung tempatku tinggal begitu tampak memeriahkan acara lima tahunan ini. Gang – gang menjadi tampak begitu bersih, dan tanah – tanah lapang atau lahan kebun warga yang sebelumnya ditumbuhi ilalang sejak beberapa hari lalu telah berubah menjadi bersih dan rapih dengan dihiasi bilik suara dan bangku – bangku plastik untuk para warga yang akan menggunakan hak pilihnya. Pemilu 1997, ini kali kedua aku memperoleh dan menggunakan hak pilihku. Aku teringat kepada kawan – kawanku yang sedang berada di Jawa saat ini, sedang apa mereka ya ? Apa mereka juga sedang ada di TPS sepertiku sekarang ? Ningrum apa kakinya sudah sembuh dari keseleo ? Ya, bayangan wajah Ningrum kembali kubiarkan mengisi ruang benakku. Aku sungguh kangen dengannya. Entah mengapa, Ningrum begitu kuat menguasai perasaanku. Belum pernah aku merasakan hal ini kepada teman – teman perempuanku yang kukenal sebelumnya, entah teman kampus sewaktu aku kuliah di Jogja, sekalipun aku naksir padanya juga tidak pernah kurasakan hal seperti yang kurasakan kepada Ningrum. Ya, pokoknya aku menjadi begitu bahagia setiap kali bertemu, ngobrol ataupun sekedar membayangkan wajah ayu Ningrum.

Aku tiba kembali di tempat kostku. Kuraih kaset dan kumasukkan ke dalam mini compo, selang beberapa detik kemudian alunan suara Tommy Page ditemani Amy Mastura terdengar lembut menyenandungkan lagu The Best Part, menghadirkan suasana sejuk di kamarku “The best part of the morning is opening my eyes, Seeing you next to me make me realize, That all in my heart, You’re the best part …”

Sejenak kemudian aku terhenyak kaget oleh suara memanggilku. Ooh rupanya aku tertidur barusan. Di depan pintu kulihat Rasdi dan Mas Tody, mereka adalah junior dan seniorku di tempat kerja.

“Gus, hari Minggu kamu ada acara gak ? Ke tempatku ya.” Ajak Mas Tody

“Mau ada acara apa, Mas” tanyaku ke Mas Tody.

“Aku mau pindahan rumah, ada temanku yang meminjamkan rumahnya untuk kutinggali. Katanya sayang daripada kosong.” Mas Tody menambahkan

“Ooh, oke lah kalau gitu. Tapi aku dijemput ya.” Kataku

“Oke yoai. Aku jemput kamu besok Minggu jam setengah delapan pagi, Gus. Oh ya rumahnya gede lho, kamarnya tiga. Ntar kalau kamu mau boleh koq kamu ikutan tinggal disana, Gus.” Lanjut Mas Tody.

“Ya, bagaimana nanti sajalah. Yang penting Minggu besok kita bikin rapih dulu rumahnya.” Jawabku kemudian

“Gus, kita kita ke Circus yuk. Aku kangen sama Nasi uduknya.” Ajak Mas Tody

Iya Gus, kita ke Circus. Mas Tody mau traktir kita sekalian syukuran mau pindahan besok Minggu.” Giliran Rasdi berkomentar.

“Giliran makan aja, kamu semangat Di. Dasar.” Ejekku.

“Ya sudah, aku mandi dulu deh. Kalian tunggu sebentar sambil nonton tivi atau nyetel radio di dalam.” Kataku sambil menuju ke kamar mandi.

Sesaat kemudian kami bertiga sudah melaju ke arah Circus. Circus adalah pusat jajan cukup lengkap yang bisa dibilang pujasera di kawasan timur kota Jakarta. Lumayan terkenal karena di area itu juga terdapat kompleks pertokoan yang biasa buat jalan – jalan para ekspatriat Boss pabrik yang banyak beroperasi di sana.

“Mas tolong pesen ayam gorengnya tiga, trus udang goreng sausnya juga tiga, tahu tempe gorengnya boleh juga. Nasinya … ehhm lima deh. Sama air jeruk panas tiga.” Mas Tody mulai memesan makanan.

“Jeruk panasnya dua aja, aku pesan teh manis Mas” ucapku kepada Pelayan.

“Baik Pak, ditunggu sebentar.” Jawab Pelayan

Tak lama semua pesanan sudah tersaji. Aku bingung juga kenapa Mas Tody pesan makanan sebanyak ini, trus berapa Mas Tody mesti keluar uang buat bayar semua makanan ini.

“Banyak banget.” Gumamku

“Sudah makan aja, santai aja. Ntar kalau kurang boleh nambah lagi. Pokoknya jangan malu deh kalau jalan atau makan sama Mas Tody, dijamin kenyang dan puas.” Kata Mas Tody menyadari kebingunganku.

Kulihat Rasdi sudah asyik dengan kelahapannya dan hampir habis satu potong ayam.

“Ayo makan, mantap banget rasanya.” Ucap Rasdi kepadaku.

Akupun mulai menikmati suasana sore itu di kompleks jajan tersebut. Kami makan sambil ngobrol ngalor ngidul bertiga tentang banyak hal.

“Mas udah, tolong tagihannya ya.” Mas Tody melambaikan tangannya kepada Pelayan.

“Jadi semua totalnya Tujuh Puluh Delapan Ribu Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah, Pak.” Kata Pelayan setelah selesai menghitung. Angka yang cukup besar di tahun 1997 hanya untuk beli makanan batinku.

Mas Tody mengeluarkan selembar seratusan ribu dan menyerahkannya kepada Pelayan. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Mall yang ada di kawasan itu setelah menerima uang kembalian.

Di pusat perbelanjaan cukup rame suasananya. Kami berputar – putar beberapa saat hingga akhirnya kami berhenti di toko sepatu. Kulihat Mas Tody mulai memilih dan mencoba beberapa sepatu sebelum akhirnya membeli sepasang sepatu. Mas Tody anak orang kaya di kampungnya di Solo, dan dia sangat peduli dengan penampilannya. Bisa dibilang mungkin istilah kerennya dia itu pria metroseksual lah.

Jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing.

“Terimakasih Mas Tody” kataku mengakiri pertemuan hari itu.

“Sama – sama, besok Minggu kamu siap – siap aku jemput jam tujuh tiga puluh” Balas Mas Tody.

Mas Tody dan Rasdi menghilang bersama mobilnya di tikungan, dan aku langsung masuk kamar kostku.

Bersambung …

Salam gemilang

Benedict Agung Widyatmoko

Categories: Arsip Pribadi