Kampusku Riwayatmu Kini
Salam dari Rumah Sadhana,
Membaca pamflet lomba blog UII [Universitas Islam Indonesia], ingatan Denmas Detelu terbawa kembali ke masa remajanya tatkala ia masih berstatus sebagai mahasiswa. Kala itu betapa bahagianya ia menjadi mahasiswa. Bahagia bagaimana di hari pertama masa opspeknya Denmas Detelu sudah berhasil dipilih mengantarkan teman perempuannya kembali ke tempat kost-nya untuk mengambil kelengkapan opspek yang ketinggalan, yang karenanya telah memberikan kepada Desmas Detelu pengalaman pertama naik taxi dengan segala keluguannya. Betapa bahagianya Denmas Detelu merasakan jatuh cinta sesungguhnya kepada dua orang kawan mahasiswinya walau isi hatinya itu tidak pernah terungkapkan hingga selesai masa perkuliahan karena tidak mendapatkan dukungan nyalinya. Bagaimana Denmas Detelu menjadi sangat rajin hadir di salah satu mata kuliah demi menikmati keayuan ibu dosennya. Dan masih banyak lagi keindahan dan kebanggaan menjadi bagian kampus indah di selatan kota gudeg itu.
Kampus Denmas Detelu di masanya memang cukup terkenal dan diminati oleh para orang tua yang akan memahasiswakan anak-anak mereka. Berbagai julukan disandang kampus merah bata itu, mulai perguruan tinggi favorit karena biaya masuk dan kuliahnya yang sangat murah [sebagai bocoran, waktu itu Denmas Detelu cuma membayar Rp. 75.000,00 saja untuk uang sumbangan pembangunan], perguruan tinggi idaman [bagi para calon mahasiswa kampus lain] yang berbela-bela mengikuti perkuliahan di sana karena terkenal oleh adanya ibu dosennya yang ayu, perguruan tinggi terbaik pun layak disandangkan ke kampus di mana Denmas Detelu mengenyam pendidikan tinggi karena [barangkali] ketidaktegaan pihak yayasan untuk men-DO kan mahasiswa yang “enggan” lulus segera sehingga banyak yang mendapat gelar MA [mahasiswa abadi]
. Termasuk julukan “sangar” karena di setiap kelas perkuliahan selalu saja muncul nama salah satu genk yang cukup disegani di kota pendidikan itu dengan cat berukuran huruf besar-besar. Meskipun telah berulang kali dicat ulang temboknya, toh tidak menyurutkan nyali penulisnya untuk menghidupkan kejayaan genk ngeri itu di kampus itu dengan mengecatkan ulang nama genk sangar itu di temboknya. hiiiyyy.
Namun kini, empat belas tahun sesudah Denmas Detelu diwisuda, semua kenangan indah itu hanya menyisakan pagar seng usang yang mengelilingi enam hektare lahan menjadi saksi bisu bahwa di situ pernah berdiri megah kampus idaman favorit terbaik. Hanya gapura dengan nama dan logo kampus, yang masih menjadi prasasti.
Gempa bumi hebat empat tahun lalu telah meluluhlantakkan keperkasaan tembok kampus Denmas Detelu. Namun Denmas Detelu tidak rela jika peristiwa bencana alam itu disebut sebagai penyebab keruntuhan kampusnya. Kampus itu runtuh karena keangkaramurkaan.
Jauh sebelum peristiwa gempa bumi hebat itu, benih-benih kehancuran sudah menjalar merapuhkannya. Lihatlah institusi yang selayaknya menyediakan suasana nyaman dan mendidik, telah berubah menjadi padang kurusetra di mana dua kekuatan nafsu berkuasa saling bertikai memecah kebersamaan untuk satu tujuan ambisi kekuasaan. Pendidik terpecah saling menjatuhkan, pun mahasiswa/mahasiswi terperangkap sebagai amunisi penghancur untuk dua kubu berseteru.
Kepedihan selalu merongrong hati Denmas Detelu setiap kali ia melewati “tanah kosong” itu. Bukan karena sedih kesulitan melakukan legalisasi ijazah, toh masih ada kopertis. Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat ini, mengapa ? Mengapa mesti kemegahan itu hancur bukan oleh kekuatan eksternal ? Mengapa justeru digerogoti dan dihancurkan sendiri dari dalam oleh kekuatan yang seharusnya memperkokohnya ?
Kini empat tahun setelah peristiwa “keruntuhan fisik” kampusnya, banyak di tempat lain Denmas masih menyaksikan pembelokan fungsi dan misi awal sebuah institusi pendidikan dibangun. Misi penciptaan intelektualitas mumpuni sebagai pembangun bangsa, kini telah menjadi kendaraan bagi pribadi-pribadi yang haus dengan kekuasaan. Lihatlah bagaimana dengan brutalnya anak-anak muda lugu itu kini menjadi cyborg yang saling serang dan merusak fasilitas pencerdasnya. Lihatlah bagaimana “calon pemimpin” yang senantiasa mereka klaimkan sendiri, mereka bantah dan ingkari sendiri dengan turun di jalan-jalan merusak fasilitas umum demi membela keangkaramurkaan.
Tak bisa ditahan, bulir-bulir hangat bergulir dari kelopak matanya meleleh membasahi wajah Denmas Detelu. Bukan karena haru, tapi keperihan yang mendalam.
Kemanakah institusi baik itu ?
Kemanakah jiwa – jiwa baik pencetak generasi unggul itu ?
Kemanakah keluguan tulus untuk mereguk ilmu-ilmu kebaikan itu ?
Denmas Detelu berharap, semoga dengan ajang kompetisi ini. Universitas Islam Indonesia yang bertetanggaan dengan “kampus yang hilang”, yang menjelang melakukan pemilihan pemimpin barunya, mampu menjadi titik awal kebangkitan kembali misi pencerdasan dan pembangunan bangsa yang adil makmur merata. Semoga dimulai dengan pemilihan pemimpin UII yang damai dan berzirah kehormatan kemegahan kampus sebagai institusi intelek, akan menjadi penawar bagi virus-virus kehancuran yang sedang menjalari negeri tercinta ini, dengan perlombaaan menuju perguruan tinggi terbaik, idaman dan favorit.
Salam gemilang
Benedikt Agung Widyatmoko
123
Salam untuk Anda semua,
Horeeee saya punya lahan baru untuk dikelola, senangnya. Begitulah perasaan bungah saya saat ini. Sebelumnya yang hanya dua bidang saja, kini bertambah satu menjadi 3 bidang lahan saya.
Ya, saya mempunyai blog baru. Umurnya baru satu pekan, namanya Bentoelisan, tempat Mas Ben Berkata-kata. Sebagaimana judulnya, melalui blog ini saya akan banyak berkata-kata. Berkata-kata tentang berbagai topik, baik itu tentang saya dan permasalahannya, dan warta di sekitar kita.
Bentoelisan hadir dengan format gaya penulisan bercerita yang encer, santai dan dikemas secara kocak dan sedikit nakal.
Bentoelisan bisa saja dikatakan hadir tanpa direncanakan, karena memang saya tidak menyediakan waktu kusus untuk merancang ataupun menyambut kehadirannya. Bentoelisan menjadi milik saya karena saya terinspirasi oleh sebuah acara di televisi yang saat ini sudah punah dari kotak ajaib tivi. Acara Mbangun Desa dan Kontak Tani, sebuah tayangan sarat dengan pesan-pesan pendidikan dan budi pekerti.
Bila dalam Mbangun Desa tokoh sentralnya adalah Pak Bina, dan di Kontak Tani oleh Pak Kontak, maka dalam Bentoelisan Mas Ben mengedepankan diri sebagai ikonnya [pede dan narcis tulen deh].
Bila di sinetron, kehadiran tokoh baru berarti meniadakan tokoh lama, maka tidak demikian dengan tiga lahan saya. Sebagai cikal bakal, Rumah Sadhana dan saudara kembarnya akan menjadi percontohan bagi Bentoelisan. Dan saya pun berkewajiban merawat dan menjaga dengan baik ketiganya, secara adil tentunya.
Jadi mari kita ucapkan selamat datang kepada Bentoelisan.
Bentoelisan akan sangat bergembira menyambut dan menerima kehadiran Anda sekalian, menggemburkan tanahnya dengan atensi dan apresiasi Anda, dan menyuburkannya dengan komentar atau diskusi-diskusi menggugah dari Anda.
Selamat datang Bentoelisan !
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko
Aku
Salam untuk Anda semua,
Kawanku mewartakan, kata dia aku dicela mereka.
Aku tersenyum.
Kau disalahkan olehnya, kata kawanku lain.
Aku tersenyum.
Kawan dari kawanku mendesak, bertindaklah setidaknya sanggahlah.
Aku tersenyum.
Kawan-kawanku berujar,
Hai, mengapakah kau tersenyum ?
Mengapakan kau tidak menjawab ?
Mengapakan kau tiada melawan ?
Mengapakah kau tiada membela diri ?
Aku tersenyum.
Hai kawan-kawanku, bukanlah kuasaku menjawabi mereka,
bukanlah kuasaku membela diri, tiada kuasaku melawan, tiada kuasaku menghakimi mereka.
Kata dan laku mereka atasku itulah keyakinan mereka.
Layaknya angka 9, berkali-kali kita mengalikannya dengan berbagai angka, dengan berapa pun digitnya. Perhatikanlah angka hasil perkaliannya pasti akan kembali lagi kepada 9 bila dijumlahkan.
Tidak terbantahkan.
Itulah sifat keyakinan, tiada bisa dipertentangkan dengan beragam dalih dan dalil atau pun teori.
Bila kumenolaknya, sama halnya aku memaksa mereka mempercayai keyakinanku.
Tidak mungkin.
Kau sudah tahu, mengapakah masih saja resah dan membiarkan amarah menghiasi hatimu ?
Biarlah engkau bertumbuh dengan keyakinanmu, demikian pun mereka.
Semua ada masanya.
Bila keyakinanmu salah pastilah pencerahan dan masa akan menuntunmu kepada pembenaran.
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko
Tahun “Logo” Baru
Salam untuk Anda semua,
21 Pebruari 2008
Awalnya hanya buah dari rasa penasaran dan keingintahuan akan blog, hadirlah sebuah prasasti bergambar ikan bertajuk “Menciptakan Kegemilangan”.
9 September 2008
Seiring dengan bertumbuhnya atensi sahabat pembaca yang meninggalkan jejak, prasasti ini dikukuhkan namanya menjadi RUMAH SADHANA.
Januari 2010
Tetap setia kepada spirit awal pembangunan RUMAH SADHANA, yaitu keinginan untuk menjadikan “rumah” ini sebagai wahana perenungan dan rekoleksi diri, juga kepada para sahabat pembaca yang berkenan dengan buah-buah perenungan di dalamnya.
Dengan ini, mulai Januari 2010 RUMAH SADHANA hadir dengan logo baru.
Logo baru ini bermakna :
- Rumah dengan Atap dan Fondasi kokoh, bermakna sebuah tempat berlindung yang nyaman dan memberikan ketentraman serta perlindungan yang aman kepada siapa pun yang berteduh / tinggal di dalamnya. Dengan pintu yang lebar dimaksudkan RUMAH SADHANA terbuka lebar kepada siapa saja yang ingin berkunjung.
- Ikan, bermakna berkelimpahan.
Terimakasih untuk apresiasi dan diskusi-diskusi baik dari para sahabat pembaca yang telah menjadikan RUMAH SADHANA semakin semarak dan indah.
Selamat datang kepada sahabat [baru] pembaca lainnya yang bertandang atau singgah di RUMAH SADHANA.
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko
Baik Tidak Baik Baik
Salam untuk Anda,

Baik itu karunia
Baik itu bukan doktrin
Baik itu sukarela
Baik itu disukai
Baik itu dipuji
Baik itu ditiru
Baik itu dipilih
Baik itu tidak menghakimi
Baik itu personal
Baik itu tidak memaksa untuk diikuti
Baik itu tidak berstandar
Baik itu tidak merasa baik
Baik itu tidak ada yang terbaik
Karena baik itu plural
Baik itu tidak mengikat
Baik itu tidak berharap
Baik itu penyerahan
Baik itu beryukur
Baik itu bersayap, terbang dan menyebarkan kebaikan
Baik itu membebaskan
Baik itu bukan kita
Kita tidak baik tanpa mereka baik
Baiknya mereka bukan karena kita
Karena mereka memang baik
Baik itu kualitas, bukan kuantitas
Baik itu tidak pupus
Baik tetap baik walau ditinggalkan
Baik tetap baik walau berkurang
Baik itu abstrak
Baik tidak bisa ditakar
Baik itu semesta
Baik itu Tuhan Maha-Esa
Baik itu termeteraikan
Salam hangat
Benedikt Agung Widyatmoko
Kinanti
Salam untuk Anda,
Sebelumnya :
“Mas Bagus serius dengan kata – kata Mas ?” Tanya Ningrum dengan hati – hati.
“Ya, saya sangat serius. Dan bahkan bila Mbak Ningrum meminta saya untuk menikahi Mbak Ningrum besok, saya akan dengan senang hati mengabulkannya.” Kali ini aku menjawab pertanyaan Ningrum dengan lancar dan mantap, tanpa ada lagi tetesan keringat.
“Tolong Mas Bagus pertimbangkan lagi. …”
“Tolong Mas Bagus pertimbangkan lagi. … Saya ini hanya anak orang dusun biasa. Sebaliknya Mas Bagus diberikan karunia kelebihan yang jauh dibandingkan kebanyakan orang lainnya. Mas Bagus anak sulung dari keluarga ningrat dan menjadi tumpuan kebanggaan keluarga. Mas Bagus juga punya masa depan bagus di pekerjaan Mas, sementara saya hanya seorang operator pabrik biasa. Saya mohon Mas Bagus mempertimbangkan lagi keinginan Mas. Mohon maaf saya tidak ingin menyakiti perasaan Mas, tapi saya juga tidak bisa mengabulkan permintaan Mas.”
“Tolong Mbak Ningrum tidak mengungkit latar belakang saya, saya mohon jangan Mbak.” Sergahku cepat.
“Saya saat ini berada di kota ini, merantau berjuang mencari nafkah seperti Mbak Ningrum dan yang lainnya. Status kita sama sekarang ini. Jangan Mbak Ningrum bebani saya dengan masalah derajat ataupun struktur sosial. Saya hanya ingin hidup secara normal, memiliki hak menentukan masa depan saya sendiri, menentukan siapa pendamping hidup saya.” Aku terdiam sejenak.
“Saya sudah berkeputusan dan tidak ada pertimbangan lain lagi, selain saya memohon Mbak Ningrum untuk mau menjadi pacar saya saat ini, dan menjadi isteri saya mendampingi saya hingga kita sama – sama tua nantinya. Berdua … hanya kita berdua selamanya.” Lanjutku dengan nada memaksa.
Kulihat mata Ningrum berkaca – kaca dan ada bayangan air di dalamnya. Dia menunduk, dan menunduk semakin dalam.
“Mas, … saya tidak siap Mas. Tolong jangan paksa saya.” Suara Ningrum agak tertahan.
“Saya tidak ingin mengecewakan atau mempermalukan Mas Bagus ataupun keluarga Mas Bagus dengan masuknya saya ke dalam keluarga besar Mas Bagus.” Lanjut Ningrum lirih.
“Saya berjanji akan menyayangi Mbak Ningrum dengan sepenuh hati saya Mbak. Saya berjanji. Saya akan tetap memaksa Mbak Ningrum, saya akan tetap menunggu Mbak Ningrum siap menerima saya sampai kapan pun.”
“Maaf Mas, saya minta pamit dulu.” Ningrum langsung bangkit dan meninggalkanku. Kubiarkan Ningrum pulang. Aku hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan agar Ningrum mau menerima cintaku.
Sepeninggal Ningrum aku mengurung diri di dalam kamar kost-ku, hingga aku terjaga dari tidurku. Kulirik jam menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit. Aku bermalas – malasan sebentar sebelum bangkit dan memutuskan untuk mandi.
Aku sedang mereguk teh hangat ketika terdengar ketukan di pintu. Sesaat aku terhenyak. Jangan – jangan Titis, Ainur dan Sumiyati. Jangan – jangan mereka kesini mau melabrak aku gara – gara aku jatuh cinta sama Ningrum, jangan – jangan mereka memutuskan persahabatan denganku karena tahu siang tadi Ningrum kubuat sedih dengan pernyataan cintaku. Atau … masih banyak lagi pikiran – pikiran jelek yang melintas di benakku. Ah masa bodo lah, kalau mereka mau marah ya marahlah. Gimana lagi lha memang aku sayang Ningrum dan semua sudah terlanjur.
Aku gontai menuju pintu, kubuka perlahan. Perlahan pula kulihat geraian helai – helai rambut ditiup angin sore. Dan …. “Selamat sore Mas Bagus.” Ningrum sedang berdiri di hadapanku. Suaranya pelan dan wajahnya tertunduk.
“Hai, ya … selamat sore juga Mbak. Masuk ?” Jawabku sedikit kaget. Dalam hati aku merasa berdosa atas pikiran – pikiran jelekku sesaat lalu telah menuduh yang tidak – tidak terhadap Titis, Ainur dan juga Sumiyati.
Ningrum melangkah perlahan, aku menyertai di belakangnya. “Silakan duduk Mbak Ningrum,” kataku mempersilakan.
Ningrum mengambil posisi di dekat jendela dan aku duduk di hadapannya setelah mengambil air minum dan meletakkannya di hadapan kami.
Ningrum masih terdiam dan tertunduk, namun aku bisa tahu dari wajahnya jika suasana hatinya sudah sedikit lebih tenang sekarang.
“Bagaimana kabarnya Mbak ?” Sapaku membuka keheningan.
“Saya cuma mau minta maaf, tadi siang sudah berbuat tidak sopan. Saya pulang pada saat Mas Bagus belum sepenuhnya selesai bicara.” Meski pelan dan serak, suara Ningrum tetap saja terdengar indah di telingaku.
“Tidak apa – apa koq Mbak, saya juga minta maaf karena saya sudah membuat keakraban yang terjalin selama setengah tahun ini menjadi sedikit terganggu. Memang tadi itu salah saya juga.” Kataku berusaha menghibur Ningrum.
“Mas Bagus tidak salah, saya yang salah. Saya sudah membuat Mas Bagus merasa diberi harapan. Saya yang selama ini melakukan kealpaan, tidak seharusnya saya berlaku manja di depan Mas Bagus sekalipun saya memposisikan diri saya sebagai adik Mas Bagus. Maafkan saya Mas.”
Aku bingung, dan jadi iba melihat Ningrum seperti ini. Aku jadi merasa serba salah. Aku pun turut larut dalam kebisuan.
“Silakan diminum airnya.” Kataku kemudian
“Terimakasih.” Ningrum menghirup air yang kuberikan.
“Mas Bagus, saya yakin selama ini apa yang menjadi keinginan Mas selalu terpenuhi. Mas Bagus orang yang beruntung. Mas Bagus dari keluarga berada dan terpandang yang hampir mustahil apa yang diinginkan Mas Bagus tidak terlaksana. Mas Bagus diuntungkan karena takdir, Mas. Karena itu saya sangat yakin Mas Bagus akan sangat sedih dan kecewa jika apa yang Mas Bagus inginkan atau Mas Bagus miliki dan sukai direnggut atau lepas dari Mas Bagus.” Suara Ningrum kudengar bergetar.
“Mungkin benar Mas Bagus memang sungguh menyayangi saya sekarang ini, dan saya juga percaya jika Mas Bagus akan berusaha terus menyayangi saya. Saya tidak ingin mengecewakan ataupun membuat Mas Bagus sedih di kemudian hari. … Maaf Mas, saya terlalu banyak bicara.” Kata Ningrum
“Tidak apa – apa, ayo teruskan.” Kataku menyemangati
“Mas, saya dulu pernah punya cowoq. Waktu SMP saya pernah coba – coba pacaran. Tapi orang tua saya mengetahuinya dan menolak keras hubungan kami berdua. Waktu itu saya masih kecil dan sekedar coba – coba. Kami pun akhirnya putus. Waktu itu saya tidak merasakan sedih sama sekali Mas.” Ningrum terdiam sesaat kemudian.
Ningrum melanjutkan ceritanya. Entah mengapa kali ini aku merasa bahagia menjadi pendengar yang baik. Aku ikuti dan dengarkan cerita Ningrum dengan seksama.
“Sejak itu saya tidak pernah lagi pacaran. Memang ada beberapa pemuda desa kami berusaha mendekati saya, namun saya tidak pernah memendam rasa kepada mereka. Dan juga orang tua saya setahu saya tidak berkenan kepada para pemuda itu.” Ningrum tertunduk diam sebelum melanjutkan kata – katanya.
“Saya hanya tidak ingin Mas Bagus mengalami apa yang telah saya alami, ditentang orang tua Mas karena pilihannya dianggap tidak tepat. Saya tidak ingin melihat Mas Bagus menjadi sedih karena cinta tulus Mas Bagus kandas di tengah jalan.”
“Saya memang tidak pernah mengalami kecewa akibat hubungan cinta saya kandas karena ditentang orang tua. Tapi itu dulu Mas … jauh sebelum saya menyadari betapa berartinya memiliki dan dimiliki. Sekarang saya akan sangat sedih sekali bila membayangkan hubungan kita terputus di tengah jalan hanya karena tidak adanya restu dari orang tua kita Mas. Saya akan sangat sedih sekali dan sakit seandainya orang yang sangat saya sayangi tidak diijinkan untuk menyayangi saya.” Kali ini kelopak mata Ningrum tidak kuasa lagi membendung, air matanya tertumpah membasahi wajah ayunya.
Aku turut larut dalam keharuan, aku bisa merasakan kesedihan Ningrum. Dan aku pun bisa menangkap maksud Ningrum. Aku sungguh bahagia, ternyata Ningrum juga sangat mencintaiku. Trauma masa lalu akibat penolakan orang tuanya telah membuatnya takut dicintai.
Aku merapat ke depan mendekat dimana posisi Ningrum duduk. Kuarahkan jemari tanganku ke wajahnya, kuusap air matanya. Kuangkat wajah Ningrum hingga tepat menghadap wajahku.
Pelan kubisikkan kepadanya, “ Mbak Ningrum, saya belum pernah merasakan ditolak ataupun merasakan indahnya menyayangi dan disayangi. Namun saya bisa merasakan kesedihan bila kita harus kehilangan orang yang kita cintai. Mulai saat ini saya berjanji akan terus menyayangi Mbak Ningrum, dan saya percaya pasti akan ada kirikil – kirikil di perjalanan yang akan kita lalui. Satu yang harus kita yakini bahwa Tuhan tidak akan pernah sedetikpun melepaskan penjagaanNya atas cinta kita.”
Kulihat ada kedamaian dan kelegaan terpancar dari paras Ningrum. Dia mencium punggung tanganku yang kubalas dengan kecupan di dahinya. Dan hatiku bersorak – sorai “YESS, akhirnya t’lah kutemukan cintaku. Terimakasih Tuhan.”
Kami berpandangan lagi. Kali ini kulihat kemilau senyuman mengiasi raut wajah Ningrum. “Janji ya Mas Bagus terus sayang sama Ningrum, dan terus menjaga Ningrum.” Ningrum sudah mulai merajuk lagi, yang kusambut dengan bisikan di telinganya. “Ya, Dik. Aku berjanji”. Dik Ningrum tampak bahagia dengan sapaan barunya.
TAMAT
Epilog : Bagus dan Ningrum telah dipertemukan oleh cinta. Keteguhan dan kesetiaan mereka menuntun keduanya kepada istana cinta mereka. mereka menikah sembilan tahun kemudian, dan istana mereka semakin diindahkan dengan anugerah cinta Tuhan yang menitipkan buah cinta mungil dan lucu 2 tahun setelahnya.
Mereka itulah Keluarga Detelu.
Salam gemilang
Benedikt Agung Widyatmoko
Menggambar Cita – Cita
Salam untuk Anda sekalian,
Ketika seorang anak kecil ditanya apa cita-citanya kelak, pasti jawaban tangkas dan cepat akan langsung terlontar dari bibirnya; dokter, artis, tentara, presiden ? Cita-cita begitu mudah masuk ke dalam ruang benak seorang anak-anak karena mereka masih polos dan lugu. Semua karakter impian itu meresap dalam ke dalam pikiran polos mereka, karena mereka melihat betapa indahnya menjadi karakter impian mereka. Mereka sama sekali belum mengetahui betapa banyaknya tingkatan pola tindakan / perilaku yang harus mereka penuhi untuk mencapai posisi pada status atau pangkat kemasyarakaratan itu.
Coba bandingkan ketika pertanyaan yang sama Anda lontarkan kepada anak-anak usia SMP, atau bahkan SMA. Bisa ditebak jawaban mereka tidak sespontan dan seberani sebagaimana saat mereka masih kanak-kanak atau balita. Semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka akan semakin sulit untuk mengatakan apa cita-cita mereka. Karena dengan bertambahnya ilmu dan memori dalam otak, semakin banyak nalar dan pertimbangan dalam pola berpikir sebelum mengejawantah menjadi sebuah perkataan atau tindakan.
Cita-cita orang seiring pertumbuhan usia dan kedewasaan mereka cenderung akan melebar, tidak spesifik. Meski ada sedikit kadar cita-cita kanak-kanak mereka yang terus mengikuti sampai ujung usia. Rata-rata impian dewasa lebih bersifat materi dan penghargaan.
Namun sering lupa disadari bahwa semakin banyaknya komparasi, akan semakin menjadikan standar / target pencapaian menjadi blur dan bukan mustahil berakhir kepada pudarnya keinginan baik seseorang. Pencapaian menjadi sangat sulit karena semakin banyak pula kompetitor yang berkeinginan sama dengan kita. Ambil contoh, seorang staff yang berkeinginan menjadi seorang manajer, maka dia harus bersaing dan berlomba dengan banyak karyawan lainnya yang berkeinginan sama dengannya. Demikian pun seseorang yang berkeinginan menjadi artis maka dia harus berani menguasai seluas-luasnya pergaulan, karena saat ini perusahaan agency sedemikian banyaknya.
Kenyataan sementara ada yang berhasil dan ada yang “gagal” mewujudkan cita-cita mereka. Mengganti cita-cita dan kembali “gagal”.
Apakah Anda percaya sebuah pencapaian itu telah ditetapkan mutlak oleh Tuhan kepada orang-orang tertentu ? Apakah Anda mengamini bahwa Tuhan menginginkan si A menjadi begini, dan si B menjadi begitu … seterusnya ?
Apakah cita-cita tidak selalu cocok untuk semua orang ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki kemungkinan yang sama.
Apakah hanya orang-orang tertentu saja yang bisa meraih impian sesuai harapannya ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki kesempatan sama.
Apakah seseorang mesti memiliki kompetensi atau keunggulan yang sama untuk bisa meraih impian yang diinginkannya ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki keunggulan komparatifnya masing-masing.
Begini ya, Tuhan hanya memilih menetapkan orang-orang secara khusus hanya untuk menjadi Nabi dan Rasulnya. Selebihnya kita semua umat manusia ini adalah secitra denganNya. Jadi semua diberikan hak dan kesempatan sama untuk menjadi apapun yang diinginkannya.
Saya mengerti pertanyaan yang terpendam di hati Anda. Mengapa ada orang yang sedemikian mudahnya mencapai impiannya ? Mengapa mereka yang menurut kebanyakan orang seharusnya tidak layak meraih predikat tertentu karena bekal akademik yang kurang memadai ? Dan pertanyaan-pertanyaan bernuansa keraguan lainnya.
Rahasia sederhana dari mereka yang mencapai impiannya meski “tidak pantas dan selayaknya”, adalah karena mereka memiliki gambar cita-cita dan menyimpannya.
Saya mengerti kebingungan di raut wajah Anda; menggambar cita-cita ?
Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan bahwa impian akan tercapai entah kapan, hanya dengan rajin membayangkannya. Benar ?
Mari kita samakan persepsi mulai sekarang. Hapus paradigma hanya membayangkan cita-cita. Membayangkan tanpa tindakan hanya omong kosong.
Sekarang ijinkan saya menghapus setitik dari memori ingatan Anda semua, zap ! mulai sekarang Anda tidak akan membayangkan cita-cita Anda dan menunggu tiada berkesudahan. Mulai sekarang ambil pinsil atau alat tulis lainnya. Lalu gambarkanlah apa yang Anda cita-citakan. Berikan warna seindah mungkin agar membangkitkan hasrat Anda untuk penyegeraan terwujudnya cita-cita Anda.
Ambil contoh, Anda menginginkan sebuah mobil, maka gambarkanlah mobil sesuai impian Anda [pastikan mereknya / warnanya / tahun produksinya]. Atau Anda berkeinginan besar menjadi seorang artis hebat, Anda bisa menggambar diri Anda sedang berada di atas panggung megah dengan applaus banyak sekali orang [boleh juga anda gambarkan kostum panggung Anda]. Dan lain sebagainya impian Anda.
Sudah ? Sekarang mari kita sedikit bermain ilmu kebatinan.
Setelah Anda melihat hasil gambaran cita-cita Anda, apakah yang terbaca darinya ? Keagungan, kemegahan, keindahan, kepuasan. Lalu saya yakin Anda tidak akan membantah bahwa untuk mencapai itu semua pasti membutuhkan cara dan sarana, benar ?
Kembali lihatlah dalam-dalam dan renungilah gambar cita-cita Anda tadi. Tambahkanlah sebuah cara lainnya, dan semakin banyak Anda menambahkan cara akan semakin baik.
Selesai dan Anda simpanlah gambaran cita-cita itu.
Oh saya masih membaca raut wajah bingung tentang penglihatan cara dalam sebuah gambar cita-cita.
Begini.
Bila Anda menggambar mobil karena ingin memilikinya, maka cara termudah untuk mengejawantahkan mobil itu menjadi bentuk mobil seutuhnya adalah dengan menabung, untuk menabung caranya Anda harus berperilaku hemat, lalu Anda harus mengupayakan kenaikan penghasilan Anda secara nyata, caranya bekerjalah giat dan jujur. Insya Allah mobil impian Anda akan menghiasi rumah Anda.
Hal sama bisa Anda lakukan untuk rumah idaman, misalnya. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuat rancangan denahnya, sehingga Anda bisa mengetahui luas tanah yang harus Anda persiapkan. Dengannya Anda bisa mereka-reka jumlah anggaran yang diperlukan untuk pembangunannya. Alternatif bila belum memiliki dana cukup, Anda memerlukan pinjaman, maka Anda harus memenuhi syarat menciptakan kepercayaan dari bank, yaitu reputasi dan referensi baik dari perusahaan tempat Anda bekerja, dan memiliki tabungan yang grafiknya membukit, bukan menggambarkan grafik gigi ikan piranha [kredit,debit, kredit, debit dan seterusnya tanpa adanya peningkatan saldo].
Bila Anda menginginkan jadi public figure yang dihormati atau menjadi panutan, maka Anda harus menciptakan cara untuk menjadi pribadi yang santun, berwawasan luas, memiliki jaringan pergaulan luas dengan pribadi-pribadi lain yang bisa mendukung dan mengangkat derajat Anda. Bukan berarti Anda harus memilih bergaul dengan orang-orang tertentu saja, Tuhan akan langsung menegur dan membatalkan impian Anda. Bergaullah dengan sebanyak-banyaknya karakter, namun jangan habiskan waktu Anda berkumpul dengan karakter yang mematikan impian Anda.
Sudah mulai terang kan sekarang ?
Jadi jangan lagi bangga dengan membayangkan cita-cita Anda lagi, bertindaklah dengan menggambarkannya, dan Anda akan melihat cara-cara baik darinya untuk ngejawantahnya cita-cita Anda.
Tidak ada kemustahilan, jadilah pemimpin sejati bagi diri Anda sendiri untuk mengendalikan arah masa depan Anda.
Bertindaklah aktif, jangan membayangkan.
Salam gemilang
Benedikt Agung Widyatmoko
Mulutmu Harimaumu
Salam untuk Anda sekalian,
Beberapa waktu ini di layar kaca televisi kita cukup diramaikan dengan berita tentang kasus perseteruan antara Cicak VS Buaya. Pada awalnya saya cukup antusias menyaksikannya dan mengupdate informasi yang dimunculkan terkait perkembangan kasus tersebut. Namun semakin lama kok saya menjadi bingung karena kasus ini sendiri pun berkembang sebagaimana luberan banjir bandang, tak tentu arah.
Sedikit menengok ke belakang, kasus ini berawal dari ditahannya Ketua KPK Non-aktf Antasari Ashar terkait dakwaan pembunuhan Nasrudin. Kasus pembunuhan yang tak kunjung berakhir itu, justeru merembet kemana-mana tak tentu arah, hingga pada saatnya memunculkan statemen upaya penyuapan kepada tim KPK itu sendiri dari Antasari. Kisah yang njlimet sebenarnya dan tidak nyambung. Pertanyaannya bagaimana akhir kisah pengungkapan pembunuhan itu sendiri ? Kapan berakhir ? Akankah berakhir klimaks ?
Ada hal yang menarik dari rembesan kisah Antasari dan Nasrudin [Alm], yaitu munculnya Cicak VS Buaya, yang diawali terugkapnya rekaman penyadapan yang dilanjutkan oleh pernyataan – pernyataan membara dari salah seorang pembesar korps penegak hukum “tersadap” di negara kita [yang sepintas pandangan saya cukup bangga dengan jabatannya
]. Entah mungkin terinspirasi dari filem nasional Cicak Bin Kadal yang dimainkan oleh Edy Sud ? Bisa saja hehhee; yang jelas beliau ini sangat rajin melakukan konferensi pers dan tentu saja dengan kata dan kalimat membara yang terumbar beraromakan arogansi [?]. Walau pada akhirnya dia terbungkamkan oleh “kalimat kepongahan” itu sendiri.
Kini muncul lagi perang kata dan argumentasi dari “talent dan extra talent” baru, tak kalah berapi-api tentu saja. Mampu menyulap semua program tayangan televisi menjadi sama, senada seirama dengan berbagai versi “eksklusivitasnya masing-masing”.
Kita sebagai audiens hanya mampu perpasrah hingga episode “melodrama kriminal” itu selesai dan berakhir memuaskan semua pihak [mungkinkah ?].
Barangkali benar kata iklan sebuah produk kontra kesehatan, mulutmu harimaumu. Jadi semakin keras kita mengaum akan semakin membuat orang menyadari betapa harus menjaga kewasdaan berada di dekat kita.
Jadi saat ini yang paling penting adalah kepada siapa pun yang berkepentingan dan terkait kasus ini, baik media, kuasa hukum, penegak hukum, saksi … selalu ingatlah bahwa mulutmu adalah harimaumu
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko
Edelweis -2-
Salam untuk Anda sekalian,
Sebelumnya :
Kulihat Ningrum keluar sambil meniriskan rambutnya yang basah selepas keramas dan hendak menjemur handuk. Buru – buru aku keluar dan kupanggil dia, dengan hati – hati tentunya. Ningrum pun mengetahui isyarat panggilanku dan sudah ada di depan kamarku kost-ku beberapa menit kemudian. Aku jadi terpana memandang Ningrum, dia nampak semakin ayu dengan rambutnya yang basah itu.
“Ada apa Mas ?” Tanya Ningrum membuyarkan keterpanaanku kepadanya.
“Eh … Ya. Oh ya, ini hari Minggu kan ? Mbak Ningrum masih ingat jam berapa katanya temanku yang minggu kemarin kesini mau datang hari ini ?” Jawabku terbata – bata. “Ampun, cantik bener sih Ningrum,” batinku.
“Oh, itu. Kalau gak salah sih agak siangan sebelum adzan dhuhur Mas.” Jawab Ningrum.
“Masih lama berarti,” kataku. “Mbak Ningrum ntar jam setengah sebelasan aku tunggu di sini ya.” Lanjutku kemudian, yang dijawab Ningrum dengan anggukan.
Perasaanku jadi makin tidak karuan. Jantungku makin berdebar – debar saja membayangkan betapa berdosanya aku harus berbohong kepada orang yang sebenarnya tidak begitu bersalah kepadaku dengan resiko bakal membuatnya menjadi sedih, ditambah harus menyeret orang lain ke dalam lingkaran dosaku karena harus berbohong mengaku sebagai pacarku, atau lebih tepatnya memanfaatkan wanita untuk menyakiti perasaan seorang wanita lainnya. Lebih berdebar – debar lagi justeru karena perasaanku menuntut lebih dariku bejana yang melingkupi rasa dan batin di dalamnya, yaitu kenapa tidak sekalian saja Ningrum kuminta jadi pacarku sesungguhnya, kenapa hanya meminta dia untuk pura – pura jadi pacarku.
Kulihat jarum jam dinding menunjukkan posisi angka sepuluh, masih belum ada tanda – tanda kehadiran teman perempuanku. Tumben juga Titis & Co tidak menampakkan batang hidungnya ke tempatku, apa mereka sudah pada bosan dengan film India pikirku. Ah, mereka kan para adik yang baik, jadi tahu donk kalau kakaknya lagi gundah hatinya. Jadi sebagai adik yang baik tidak ingin mengganggu kakak yang sedang galau hatinya tentunya, kata batinku lagi menerka – nerka.
Hingga akhirnya jam sepuluh lewat tiga puluh menit, kudengar suara ketukan pintu dari luar sana. Dengan langkah gontai kuseret kakiku menuju pintu, sesaat aku ragu untuk membukanya. Hingga ketukan berikutnya membuat aku membukanya …. Seraut wajah manis telah berdiri di seberang pintu.
“Mas … Mas Bagus, jangan bengong gitu donk.” Celetuk Ningrum sambil menggoyang – goyangkan telapak tangannya di hadapan wajahku.
“Eh … Ehm, maaf Mbak. Saya kaget dan bingung … soalnya saya harus mengajak Mbak Ningrum untuk berbuat dosa hari ini dengan pura – pura mengaku jadi pacar saya.” Jawabku sedikit berbohong.
“Tidak apa – apa, tadi saya juga sudah berdoa koq Mas, memohon seandainya perbuatan saya nanti ini adalah dosa, saya memohon agar dosanya dibebankan kepada Mas Bagus semuanya hehehe,” Ningrum terkekeh. Dan kami pun tertawa bersama.
“Mari, silakan masuk Mbak.” Kataku mempersilakan Ningrum untuk masuk.
“Oh, ya … Titis, dan yang lainnya tidak kelihatan kemana ?” tanyaku berbasa – basi.
“Mereka bertiga sedang jalan – jalan Mas, mau cari buku resep bikin kue .” Jawab Ningrum.
“Oo …” gumamku singkat.
Selanjutnya suasana menjadi hening. Aku mencoba mengurangi ketawaran suasana dengan menawarkan remote tivi kepada Ningrum kalau – kalau dia ingin pindah channel atau saluran siaran yang lain, ataupun menawarkan minum dan makanan ringan. Ningrum yang biasanya renyah dan sering melontarkan banyolan – banyolan, kali ini terlihat pendiam dan seperti kurang nyaman.
Setengah jam berlalu dengan keheningan, tamu yang ditunggu masih belum juga menampakkan diri. Seperempat jam berikutnya masih tetap sama … berdua dalam kediaman. Hingga akhirnya jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, dan kupikir Ningrum harus menunaikan shalat Dhuhur. ‘Aku harus bertindak sekarang sebelum Ningrum pulang untuk shalat, ini saat yang tepat,’ begitu kata batinku mendorong semangatku.
Kutetapkan niat dan kurangkai segenap keberanian, aku beranjak dari dudukku dan aku tutup tirai kamar serta kurapatkan pintu.
Kulihat Ningrum sangat kaget dengan apa yang aku lakukan, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Ada apa Mas, Mas Bagus mau apa ?” Tanya Ningrum dengan penuh kecemasan ketika aku sudah kembali ke posisi dudukku kembali.
“Maaf, Mbak Ningrum. Saya hanya ingin menebus dosa saya hari ini.” Kataku
“Maksud Mas Bagus apa ?” Lanjut Ningrum
Aku terdiam, kurasakan tenggorokanku menjadi tercekat sulit mengeluarkan suara. Dan kurasakan butir – butir peluh mulai menyembul dari pori – poriku dan mengalir di sekujur tubuhku. Aku masih belum bisa bersuara dan peluh makin membasahi pakaian dan pantalon yang kukenakan.
“Mbak Ningrum ….. “ suaraku akhirnya keluar.
“Waktu itu saya meminta Mbak Ningrum untuk pura – pura jadi pacar saya. Dan entah mengapa saya sungguh merasa bahagia saat Mbak Ningrum bersedia menjadi pacar bohong – bohongan untuk saya.” Aku terus berbicara tetap dengan tetesan peluh mengaliri seluruh permukaan kulitku, membuatku makin menjadi tidak nyaman.
“Saya ikhlas koq Mas pura – pura jadi pacarnya Mas Bagus.” Balas Ningrum sesaat kemudian
“Maksud saya bukan itu … saya tahu Mbak Ningrum berniat baik dan tulus.” Aku kembali terdiam sesaat lamanya.
“Maksud saya, saya sangat senang bisa kenal dengan teman – teman yaitu Titis, Ainur, Sumiyati dan juga Mbak Ningrum. Sudah enam bulan kita bersahabat dan saya sangat menikmati hubungan ini.” Kataku melanjutkan.
“Saya juga senang koq Mas, diberi kesempatan bertemu dengan Mas Bagus. Mas Bagus orangnya baik, dan bahkan saya sudah anggap Mas Bagus itu seperti kakak saya sendiri.”
‘Apa ? sudah seperti kakak sendiri ? Mati aku !’ aku begitu kaget mendengar pengakuan jujur dari Ningrum. Untung aku masih bisa menguasai diriku sehingga umpatan kekagetanku itu tidak meluncur dari mulutku dan hanya tertahan dalam batin saja.
“Maksud saya Mbak … maaf saya koq jadi gugup begini ya ?” kataku sambil sedikit bercanda untuk mengembalikan kepercayaan diriku sembari menyeka keringat yang makin membuat bajuku jadi berat.
“Maksud saya, kita kan sudah kenal sejak bulan Januari lalu dan sekarang sudah bulan Juni akhir. Sudah setengah tahun kita bersahabat dan selama ini juga saya merasakan hubungan yang semakin erat di antara kita. Saya sangat senang akan hal ini.” Kataku.
Kulihat Ningrum mengernyitkan dahi, “Maaf, saya tidak ngerti maksud perkataan Mas Bagus.” Ningrum berkata sesaat kemudian. Aku bisa menangkap gerak senyum yang tersembunyi di balik kulit wajahnya yang bersih itu. Aku tahu dia sudah bisa menangkap maksudku, hanya saja dia masih ingin “membuatku mandi keringat” lebih lama lagi. Dan dia berhasil !
“Ehm … Eh, … maksud saya, saya sangat menikmati dan sungguh bahagia atas persahabatan di antara kita selama setengah tahun ini.” Makin deras kurasakan cucuran peluh di tubuhku.
“… dan saya ingin ….. kita lebih dari sekedar sahabat. Dan bukan hanya sekedar pura – pura pacaran. Saya ingin Mbak Ningrum dan saya memiliki hubungan yang lebih erat lagi dan istimewa.” Kataku mengakhiri pertempuran batin.
Selesai mengucapkan kata terakhir kurasakan aku mengalami kebasahan sangat hebat, benar – benar basah. Tapi plong rasanya. Aku sudah tidak berpikir lagi apa jawaban yang akan diberikan oleh Ningrum atas peromohonanku barusan. Yang kurasakan hanyalah kelegaan yang luar biasa.
“Mas Bagus serius dengan kata – kata Mas ?” Tanya Ningrum dengan hati – hati.
“Ya, saya sangat serius. Dan bahkan bila Mbak Ningrum meminta saya untuk menikahi Mbak Ningrum besok, saya akan dengan senang hati mengabulkannya.” Kali ini aku menjawab pertanyaan Ningrum dengan lancar dan mantap, tanpa ada lagi tetesan keringat.
“Tolong Mas Bagus pertimbangkan lagi. …
Bersambung,
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko
Tentang Kecukupan
Salam untuk Anda sekalian,
Kemarin lusa melalui tayangan pemberitaan di televisi, diwartakan tentang bahan bantuan makanan untuk para sahabat di Sumbar dan sekitarnya, yang diketahui telah lewat masa kadaluarsanya; dan tidak tanggung-tanggung tampak pada kemasannya, seharusnya sudah tidak layak konsumsi lagi bulan Desember 2008.
Terenyuh dan tertohok batin ini mengetahui kenyataan itu. Makanan yang telah disediakan Tuhan dengan melimpah ternyata ada masanya menjadi sulit didapatkan secara layak. Kenyataan bencana alam yang menimpa para sahabat dan bahan makanan “bantuan” yang telah kadaluarsa hampir setahun lamanya, dapat Anda bayangkan, penderitaan dan kegetiran yang saat ini dialami oleh para sahabat kita di bumi Andalas.
Semua keterbatasan itu, atas berkat rahmat dan kasih Tuhan tentu saja menjadi anugerah tak terkira di tengah penderitaan yang melanda. Dan makanan yang kadaluarsa itu pun seandainya saja terlambat diketahui, tetap saja berkat pertolongan Tuhan tidak akan berpengaruh kepada Sahabat yang sedang sangat sulit memperoleh bahan makanan untuk konsumsi keseharian mereka hingga semuanya kembali pulih kembali.
Tidak perlu kita mempermasalahkan lebih lanjut tentang makanan bantuan yang kadaluarsa itu, sekalipun media telah menyebutkan negara asal makanan itu. Lupakan itu.
Marilah kita masuk ke dalam batin kita, ambil saat tenang, tanyakan kepada batin kita masing – masing. Apakah kita telah memiliki kebijaksanaan dalam menanggapi karunia makanan yang disediakan oleh Tuhan ?
- Apakah kita telah cukup bijak mengambil porsi makanan untuk kita dan keluarga kita di saat kita hadir di sebuah pesta ?
- Apakah kita telah cukup bijak dalam memesan makanan ketika kita sedang berada di warung makan / restoran ?
- Apakah kita cukup bijak telah mengambil makanan sesuai kapasitas kekenyangan kita ?
- Apakah kita mengingat betapa masih banyak tamu undangan yang mengantri di belakang kita ?
- Apakah kita cukup bahagia dan tenang telah dapat mencicipi aneka makanan yang tersaji, dan membuang sisa kelebihan yang barangkali tidak sesuai dengan selera kita, atau kebanyakan mengambilnya ?
- Apakah kita pernah berpikir nasib remah-remah sisa makanan yang terbuang itu ?
Anda tidak perlu menjawabnya, cukup merenungkannya saja.
Tidak ada hukuman nyata untuk penyia-nyiaan itu, tapi yang jelas Tuhan pun telah secara jelas mengajarkan :
Beginilah perintah Tuhan: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya.
Ya, meskipun Tuhan telah menyediakan semua makanan dan sumbernya secara melimpah, namun kepada kita senantiasa diingatkan untuk memungut sesuai keperluan kita saja. Bila sudah, kita tetap diperbolehkan mengambilnya kembali di saat kita membutuhkannya. Semua telah disediakan bagi kelangsungan hidup kita.
Masih belum cukupkah bagi kita untuk mempertahankan sifat tamak dan mau menang sendiri dengan mengabaikan kepedulian. Hal kecil saja, banyak orang yang belum bisa mengalami hal seperti kita boleh hadir dalam sebuah perhelatan pesta, atau mereka yang belum disediakan kesempatan untuk dapat duduk nyaman di restoran. Namun kita begitu sering berlaku tidak bijaksana.
Satu kenyataan lagi bahwa “sampah” pun masih bisa memiliki nilai jual dan objek konsumsi bagi sebagian sahabat yang belum memiliki kesempatan cukup mengecap menu makanan enak dan berharga di atas rata-rata, bila hal itu dibandrol dengan harga murah. tentu kita masih ingat bagaimana perjalanan sampah sisa makanan restoran dan hotel yang terdistribusikan ke dapur dan didaur ulang, untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi aneka makanan kering berharga murah.
Kejadian Sumbar dan sekitarnya, ada baiknya bila menjadikannya cermin bagi kita sekalian untuk lebih arif dan bersikap bijaksana dan mensyukuri nikmat yang disediakan Tuhan dengan secukupnya.
Marilah kita satukan doa agar kejadian di Sumatera Barat dan sekitarnya, tidak berulang kembali. Dan kita mendoakan agar semua keadaan segera dipulihkan kembali.
Salam gemilang,
Benedikt Agung Widyatmoko
Manusia Pohon
Salam untuk Anda sekalian,
Dua hari ke depan, kemungkinan besar seluruh warga muslim di negeri kita akan menyambut dan merayakan hari raya Iedul Fitri 1 Syawal 1430 H. Hari yang telah dinantikan dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan lamanya, menahan segala hawa nafsu; bathin atau pun raga. Sebuah hari kemenangan bagi sahabat dan saudara kita yang berhasil melampaui segala ujian iman.
Dan pada masa bulan Ramadhan, disediakan pula sebuah mahabonus bagi sesiapa saja yang karena keikhlasan dan kekhusyukannya beribadah selama bulan Ramadhan [khususnya] dan 11 bulan sebelumnya, yaitu boleh menikmati anugerah rahmat malam seribu bulan atau Laillatul Qadar.
Lalu apakah kemenangan itu disediakan kepada semua sahabat atau saudara kita yang telah melaksanakan ibadah puasa ? Ya.
Lho bukankah adakalanya orang tidak melaksanakan puasa secara utuh ? Ya, itu benar.
Lalu mengapa semua orang disediakan kesempatan menjadi pemenang di hari raya Iedul Fitri ? Ya, karena Tuhan Mahabaik dan Mahaadil, menyediakan hak perolehan pahala secara sama bagi umatNya.
Mari kita perhatikan ibu, isteri, saudari atau kawan dan sahabat perempuan kita ? Kesemuanya diberikan rahmat oleh Tuhan untuk mengalami kondisi menstruasi dan nifas, yang karena hal itu Tuhan mentolerir untuk dibebaskan sementara dari kewajiban puasa dan ibadah Sholat. Masalah kesehatan pun termasuk hal yang menjadikan dasar pertimbangan dokter tidak menganjurkan pasiennya untuk melaksanakan puasa.
Kemenangan itu diberikan kepada siapa saja yang karena niat yang ditujukan kepada Tuhan, berkeinginan melaksanakan ibadah wajib sebagai persembahan iman kepada Tuhan. Bila di perjalanan waktu, terjadi hal yang menyebabkan batalnya ibadah; maka Tuhan tidak akan pernah membatalkan pahala atas ibadah yang tidak lengkap itu.
Demikian pula halnya pengalaman ‘mujizat’ malam laillatul qadar itu sendiri, tidak ada yang dapat melihat wujud anugerah itu, tidak ada seorang pun yang dapat merasakannya atau pun menerima pemberitahuan khusus dari Tuhan semesta alam. Semua umat kesayanganNya berkesempatan sama menerima anugerah itu, baik yang melaksanakan ibadah lengkap maupun yang karena “sesuatu hal” yang menjadikan ibadahnya tidak lengkap.
Tuhan pun telah berfirman bahwa segala sesuatu perbuatan itu dicatatkan pahalaNya, berdasarkan niat ikhlas yang ditujukan kepadaNya – Semua itu bergantung dari niat baiknya yang ikhlas. Orang yang berniat bersedekah namun mengalami pencopetan atau kehilangan uang, maka tetap akan memperoleh pahalanya meski batal bersedekah. Orang yang berniat berhaji, pada saat ia sudah mampu, namun ada hal, aturan atau ajal mejemput, maka pahala itu pun tetap menjadi haknya sekali pun yang menghajikannya adalah putera atau puterinya.
Tuhan memberikan pahala tanpa pernah diketahui, dan Tuhan pun tidak pernah memberikan bocoran nilai raport pahala semua umatnya termasuk para Nabi dan Rasul kekasih hatiNya. Semua pahala yang dikreditkan ke buku amal kehidupan masing-masing dari kita baru akan diketahui pada saat hari penghakiman.
Jadi, mengapakah kita masih berhitung-hitung apakah saya menang dalam bulan Ramadhan ? Apakah saya memperoleh anugerah laillatul qadar, karena telah melaksanakan ibadah secara khusus dan khusyuk pada hari – hari tertentu di bulan Ramadhan ?
Tuhan senantiasa menjaga dan memelihara segala ciptaanNya, manusia, satwa dan flora.
Mari kita perhatikan pohon, saya percaya kita semua pernah melihat pohon
Perhatikanlah betapa baiknya pohon. Nalurinya tiada lain hanyalah untuk bertumbuh, tidak peduli bagaimana orang melukai dan menandai batang tubuhnya dengan parang dan menulisinya dengan pahat, cat atau paku … tetap saja pohon dengan nalurinya bertumbuh. Dalam kondisi apapun pohon, kulit batangnya tercabik-cabik, dibuat takik-takik untuk memanjat, di sayat untuk jalur tiris getahnya yang bermanfaat … tetap saja memberikan keteduhan dan kesejukan bagia yang ada di sekitarnya. Pohon pun dengan kebaikannya menjaga cadangan air tanah dan kekuatan tanah. Pun menjadi tempat hidup dan arena bercengkrama para satwa. Hingga pada saat ia ditebang pun, tetap saja menyediakan manfaat melalui kayunya, atau cadangan investasi kehidupan baru melalui tunasnya.
Semua yang ada padanya memiliki nilai manfaat, baik masih berupa buji, kecambah, pohon hingga mati, kayunya pun memiliki manfaat.
Jadi, setelah kebahagiaan Iedul Fitri nanti, setelah suasana saling memaafkan, marilah kita semua merenungi kehendak Tuhan melalui kkta. Marilah kita menghayati kebaikan naluri alamiah pohon dengan satu naluri baiknya, yaitu bertumbuh menjadikan kenyamanan dan memberikan manfaat kepada lingkungannya dengan semua yang disertakan Tuhan seiring pertumbuhan dan siklus hidupnya.
Tetaplah menjadi penyejuk dan pemberi manfaat kepada lingkungan, seperti halnya pohon.
Salam gemilang
Benedikt Agung Widyatmoko


























































Komentar Terakhir