Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Juli 4, 2009
Petikan cerita sebelumnya :
“Iya Mas, ceritanya kemarin kan ada kampanye partainya anak muda. Mereka bawa motornya kenceng banget pas lewat depan kompleks kita. Udah gitu ada sebagian yang masuk belok ke tempat kita. Kita semua kaget dan takut, trus pada lompat ke kebon bambu di belakang. Pas lompat, kaki Ningrum nginjak tunggak bambu. Gitu ceritanya yang benar Mas Bagus.” Cerita Titis dengan penuh semangat empat lima.
Kulihat Ningrum salah tingkah karena kebohongannya diuangkap sohib kentalnya sendiri. “Ya udah, gak apa – apa, yang penting ntar diolesi parem atau diurut, Mbak.” nasihatku kepada Ningrum.
Esoknya perusahaanku sudah mulai diliburkan. Ningrum main ke tempat kost-ku dan untuk pertama kalinya aku bicara berdua saja dengan Ningrum.
“Mas Bagus pemilu mau nyoblos di mana ?” Tanya Ningrum
“Kayaknya sih nyoblos di sini Mbak, saya kebetulan didaftar di sini.” Jawabku
“Mbak Ningrum mau nyoblos di Jawa apa dimana ?” tanyaku kemudian.
“Kebetulan pabrik tempat kami bekerja diliburkan untuk menyambut pemilu. Katanya pemilu di Jakarta suka rame ya Mas, saya takut jadinya saya mau ke Jawa aja pas liburan, mau ngungsi.” Jawab Ningrum sembari bergidik.
Gaya bicara dan pembawaan Ningrum yang lugu dan polos membuatku sangat gemas.
“Wah, lama dong ya liburannya ?” Tanyaku kemudian
“Paling lama seminggu koq Mas, habis itu balik lagi ke sini.” Jawab Ningrum tetap dengan gaya polosnya.
“Titis, Ainur, dan Sumiyati juga mau pemilu di Jawa katanya Mas. Mereka KTP nya Jawa.” Lanjut Ningrum.
“Wah berarti sepi dong ntar pas pemilu di sini ya ? Selorohku sambil tersenyum.
“Ya nggak sepi to Mas, kan nggak semua orang mudik pas pemilu. Mereka yang udah punya KTP sini pasti nyoblosnya juga di sini.” Kali ini Ningrum berkata sambil memonyongkan bibirnya, lucu sekali.
Aku sungguh menikmati percakapan dengan Ningrum.
“Oh ya, memang kampungnya Mbak Ningrum di mana ya ?” Tanyaku lagi.
“Jauh Mas, di Pantai Utara Jawa tengah.” Jawab Ningrum.
“Saya juga pernah ke daerah Pantai Utara Jawa Tengah, Mbak. Tapi udah lama sekali. Waktu saya masih SD, saya diajak orang tua saya ke Pantai Kartini di Jepara.” Ceritaku.
Kulihat Ningrum tersenyum. “Koq senyum, Mbak ?” tanyaku.
“Mbak Ningrum pernah ke Pantai Kartini di Jepara ?” tanyaku kemudian.
“Orang tua saya memang asli Jepara, Mas. Jadi ya sering ke Pantai Kartini.” Ningrum kali ini tertawa renyah, menampilkan deretan geliginya yang yang rapih putih bersih.
“Ooh …” aku Cuma melenguh karena malu.
“Trus rencananya, Mbak Ningrum sama teman – temannya mau berangkat ke Jawa kapan ?” selidikku.
“Insya Allah besok kami berangkat Mas, dari Pulogadung.” Jawab Ningrum.
“Oh ya Mas, maaf ya saya pamit dulu. Saya harus siap – siap buat besok.” Lanjut Ningrum.
“Ya udah, terimakasih Mbak Ningrum sudah menemani saya ngobrol.”
Entah mengapa aku merasakan kesepian bakal ditinggal adik – adikku terutama Ningrum. Kekonyolan Titis, dan Ainur. Gaya Sumiyati yang bak seorang ibu bagi Titis dan Ainur. Serta kepolosan dan keluguan Ningrum yang ayu, senyum Ningrum yang terkesan mahal namun renyah, dan cara berjalannya dua hari terakhir yang terpincang – pincang membuatku semakin gemas dan sedih bakal kehilangan semua, paling tidak untuk satu minggu ke depan. Kegalauan menyertaiku sepanjang siang hingga sore itu. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat, ketika kudengar pintuku diketuk dari luar. Aku bergegas menyambut dan membukakan pintu. Kulihat Titis, Ainur dan Ningrum berada di hadapanku.
“Mas Bagus, kita mau pamit pulang kampung sebentar. Mas Bagus mau titip dibawain apa ya ?” Ucap Titis begitu kupersilakan masuk.
“Ya sudah, kalian hati – hati di jalan. Terserah kalian mau bawakan apa buat saya.” Jawabku singkat.
Sesaat mereka berada di tempatku dan kami mengobrol satu sama lain, hingga setengah jam kemudian Titis dan Ainur mohon pamit. Ningrum masih tinggal, “Mas Bagus bener tidak titip dibawain oleh – oleh ?” Ulang Ningrum.
“Ya sudah, kalau begitu saya dibawain oleh – oleh yang khas dari daerah Pantai Utara Jawa tengah saja.” Jawabku.
Kualihkan pandanganku ke kaki Ningrum, “Kakinya sudah baikan, Mbak ?” Tanyaku, yang dijawab langsung oleh Ningrum, “Sudah mendingan Mas, kemarin udah di balsam sama Sumiyati. Besok di kampung rencananya saya mau urutkan ke tukang urut, Mas.” Jawaban Ningrum sedikit membuatku lega.
“Ya sudah, sekarang istirahat. Hati – hati di jalan Mbak. Cepet sembuh ya kakinya.” Pesanku buat Ningrum.
“Baik Mas, kalau begitu saya pulang dulu.” Kuantar Ningrum sampai teras, dan aku menjadi semakin sedih dan merasa sepi.
Keesokan paginya kulihat mereka berangkat, aku sempat melambaikan tangan dari jendela kepada mereka. “Tuhan, lindungi perjalanan mereka berempat menuju kampung halaman mereka masing – masing. Jauhkan perjalanan mereka dan liburan mereka dari segala bahaya. Dan izinkan kami bertemu mereka semua kembali minggu depan dengan selamat dan sehat … Amin.” Doaku dalam hati.
–oOo–
Hari yang ditunggu pun tiba. Semarak dan antusiasme warga kampung tempatku tinggal begitu tampak memeriahkan acara lima tahunan ini. Gang – gang menjadi tampak begitu bersih, dan tanah – tanah lapang atau lahan kebun warga yang sebelumnya ditumbuhi ilalang sejak beberapa hari lalu telah berubah menjadi bersih dan rapih dengan dihiasi bilik suara dan bangku – bangku plastik untuk para warga yang akan menggunakan hak pilihnya. Pemilu 1997, ini kali kedua aku memperoleh dan menggunakan hak pilihku. Aku teringat kepada kawan – kawanku yang sedang berada di Jawa saat ini, sedang apa mereka ya ? Apa mereka juga sedang ada di TPS sepertiku sekarang ? Ningrum apa kakinya sudah sembuh dari keseleo ? Ya, bayangan wajah Ningrum kembali kubiarkan mengisi ruang benakku. Aku sungguh kangen dengannya. Entah mengapa, Ningrum begitu kuat menguasai perasaanku. Belum pernah aku merasakan hal ini kepada teman – teman perempuanku yang kukenal sebelumnya, entah teman kampus sewaktu aku kuliah di Jogja, sekalipun aku naksir padanya juga tidak pernah kurasakan hal seperti yang kurasakan kepada Ningrum. Ya, pokoknya aku menjadi begitu bahagia setiap kali bertemu, ngobrol ataupun sekedar membayangkan wajah ayu Ningrum.
Aku tiba kembali di tempat kostku. Kuraih kaset dan kumasukkan ke dalam mini compo, selang beberapa detik kemudian alunan suara Tommy Page ditemani Amy Mastura terdengar lembut menyenandungkan lagu The Best Part, menghadirkan suasana sejuk di kamarku “The best part of the morning is opening my eyes, Seeing you next to me make me realize, That all in my heart, You’re the best part …”
Sejenak kemudian aku terhenyak kaget oleh suara memanggilku. Ooh rupanya aku tertidur barusan. Di depan pintu kulihat Rasdi dan Mas Tody, mereka adalah junior dan seniorku di tempat kerja.
“Gus, hari Minggu kamu ada acara gak ? Ke tempatku ya.” Ajak Mas Tody
“Mau ada acara apa, Mas” tanyaku ke Mas Tody.
“Aku mau pindahan rumah, ada temanku yang meminjamkan rumahnya untuk kutinggali. Katanya sayang daripada kosong.” Mas Tody menambahkan
“Ooh, oke lah kalau gitu. Tapi aku dijemput ya.” Kataku
“Oke yoai. Aku jemput kamu besok Minggu jam setengah delapan pagi, Gus. Oh ya rumahnya gede lho, kamarnya tiga. Ntar kalau kamu mau boleh koq kamu ikutan tinggal disana, Gus.” Lanjut Mas Tody.
“Ya, bagaimana nanti sajalah. Yang penting Minggu besok kita bikin rapih dulu rumahnya.” Jawabku kemudian
“Gus, kita kita ke Circus yuk. Aku kangen sama Nasi uduknya.” Ajak Mas Tody
Iya Gus, kita ke Circus. Mas Tody mau traktir kita sekalian syukuran mau pindahan besok Minggu.” Giliran Rasdi berkomentar.
“Giliran makan aja, kamu semangat Di. Dasar.” Ejekku.
“Ya sudah, aku mandi dulu deh. Kalian tunggu sebentar sambil nonton tivi atau nyetel radio di dalam.” Kataku sambil menuju ke kamar mandi.
Sesaat kemudian kami bertiga sudah melaju ke arah Circus. Circus adalah pusat jajan cukup lengkap yang bisa dibilang pujasera di kawasan timur kota Jakarta. Lumayan terkenal karena di area itu juga terdapat kompleks pertokoan yang biasa buat jalan – jalan para ekspatriat Boss pabrik yang banyak beroperasi di sana.
“Mas tolong pesen ayam gorengnya tiga, trus udang goreng sausnya juga tiga, tahu tempe gorengnya boleh juga. Nasinya … ehhm lima deh. Sama air jeruk panas tiga.” Mas Tody mulai memesan makanan.
“Jeruk panasnya dua aja, aku pesan teh manis Mas” ucapku kepada Pelayan.
“Baik Pak, ditunggu sebentar.” Jawab Pelayan
Tak lama semua pesanan sudah tersaji. Aku bingung juga kenapa Mas Tody pesan makanan sebanyak ini, trus berapa Mas Tody mesti keluar uang buat bayar semua makanan ini.
“Banyak banget.” Gumamku
“Sudah makan aja, santai aja. Ntar kalau kurang boleh nambah lagi. Pokoknya jangan malu deh kalau jalan atau makan sama Mas Tody, dijamin kenyang dan puas.” Kata Mas Tody menyadari kebingunganku.
Kulihat Rasdi sudah asyik dengan kelahapannya dan hampir habis satu potong ayam.
“Ayo makan, mantap banget rasanya.” Ucap Rasdi kepadaku.
Akupun mulai menikmati suasana sore itu di kompleks jajan tersebut. Kami makan sambil ngobrol ngalor ngidul bertiga tentang banyak hal.
“Mas udah, tolong tagihannya ya.” Mas Tody melambaikan tangannya kepada Pelayan.
“Jadi semua totalnya Tujuh Puluh Delapan Ribu Tujuh Ratus Lima Puluh Rupiah, Pak.” Kata Pelayan setelah selesai menghitung. Angka yang cukup besar di tahun 1997 hanya untuk beli makanan batinku.
Mas Tody mengeluarkan selembar seratusan ribu dan menyerahkannya kepada Pelayan. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Mall yang ada di kawasan itu setelah menerima uang kembalian.
Di pusat perbelanjaan cukup rame suasananya. Kami berputar – putar beberapa saat hingga akhirnya kami berhenti di toko sepatu. Kulihat Mas Tody mulai memilih dan mencoba beberapa sepatu sebelum akhirnya membeli sepasang sepatu. Mas Tody anak orang kaya di kampungnya di Solo, dan dia sangat peduli dengan penampilannya. Bisa dibilang mungkin istilah kerennya dia itu pria metroseksual lah.
Jam tanganku menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing.
“Terimakasih Mas Tody” kataku mengakiri pertemuan hari itu.
“Sama – sama, besok Minggu kamu siap – siap aku jemput jam tujuh tiga puluh” Balas Mas Tody.
Mas Tody dan Rasdi menghilang bersama mobilnya di tikungan, dan aku langsung masuk kamar kostku.
Bersambung …
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Juni 30, 2009
Salam untuk Anda semua,
Masih ingat ketika kita saling bertukar telegram indah dengan sahabat atau kerabat untuk sekedar menyampaikan pesan ? Masih ingat ketika kita berebut cepat membeli kartu pos untuk menebak sebuah undian atau kuiz televisi ? Masih ingat ketika kita mengantri di kantor pos untuk mengirimkan surat lamaran kerja ? Atau juga masih ingatkah kita ketika mengantri di wartel menunggu giliran masuk ke kotak bicara ?
Semua hal di atas; kartu pos, telegram, surat kilat atau paket, wesel dan wartel memang masih ada hingga saat ini, namun percaya nggak percaya kesemuanya itu sudah bisa dilakukan hanya dengan satu jari saja saat ini. Cukup dengan menekan tombol enter pada tuts komputer; greeting, pesan atau surat, transfer dana, mengirimkan jawaban kuiz televisi, mengirimkan surat lamaran kerja – kesemuanya itu sudah terlaksana dalam sekejab.
Kehadiran internet menjadikan komunikasi seolah tiada batas dan tidak berbatas. Kita bisa saling berkomunikasi layaknya berhadapan langsung, melalui program chatting dengan fasilitas webcam pada komputer kita. Bahkan seiring perkembangannya, tidak lagi terbatas hanya kepada orang-orang dekat saja kita bisa menembus ruang dan waktu memelihara komunikasi. Dengan makin dikenalnya situs yang menyediakan layanan blog, dan pertemanan sangat memungkinkan kita meluaskan jaringan komunikasi dengan teman-teman baru dari berbagai tempat di bumi ini.
Memori ingatan saya membimbing saya kembali pada masa-masa di mana saya pertama kalinya mengenal internet, yaitu pada medio tahun 2001 di mana berkat jasa baik perusahaan tempat saya bekerja waktu itu menginstalasi internet untuk memudahkan komunikasi data antar bagian dan fungsi jabatan.
Tak terelakkan lagi demam internet melanda kami saat itu, mulai dari rame-rame membuat akun email, browsing, hingga chatting. Kesimpulannya, kawan di bagian warehouse yang waktu itu dipercaya mengendalikan IT lebih banyak sibuk untuk memandu dan menindaklanjuti keluhan kami membuat akun email dan instal MIRC untuk chatting termasuk trouble yang menyertai email dan chatting. Mau tidak mau saya pun mengikhlaskan secara sukarela diri saya turut larut dalam euphoria internet di perusahaan bintang bersinar itu, dan terinfeksi wabah email.
Dibantu oleh sahabat baik saya dari bagian akunting, alhasil saya bisa mendapatkan akun awal email saya yaitu goenka@astaga.com, berbeda dengan kebanyakan kawan yang memilih yahoo atau hotmail [boleh nyebut brand kan ya ? siapa tahu kebagian rejeki jadi brand ambasador mereka
]. Saya pun akhirnya ketagihan membuat akun email, dilanjutkan dengan keberhasilan saya sendiri membuat akun demetrius@satumail.com, masagung_w_atmaka@kompascyber.com, hingga akun-akun lainnya [harap dimaklumi, lagi demam gitu lho].
Perlahan-lahan keluguan saya terhapuskan setelah saya mengenal adanya fasilitas chatting di bolehmail.com dan lovemail.com. Saya bahkan untuk hal chatting ini boleh berbangga hati bisa membantu teman saya untuk tertular karenanya [yang lain kan cuma baru bisa pake MIRC waktu itu
]. Hingga sering harus terlibat “adu fisik” dengan kawan saya satu ruang untuk memperebutkan mouse [kasihan ya nasib di dalam keterbatasan fasilitas], demi keinginan chatting.
Satu hal yang boleh saya syukuri yaitu berkat kebaikan hati pimpinan perusahaan kami waktu itu adalah saya jadi mengetahui cara mudah dan irit dalam berkirim surat lamaran kerja [dasar pengkhianat ... hehehe]. Bukan koq, kebahagiaan saya terlebih adalah karena saya jadi punya beberapa sahabat karib yang hingga hari ini masih ada yang terbina hubungan baik di antara kami walau belum pernah saling bertemu langsung [terimakasih sahabatku di Surabaya
]; ada yang dari Jogja, Surabaya, Makassar. Ada cerita lucu yang masih teringat hingga saat ini yaitu saya berhasil membuat ex-pacar saya [sekarang jadi isteri saya] menjadi sedemikian cemburunya karena saya asyik berbalas sms dengan sahabat saya dari Makassar, di saat kami sedang berdua [dasar ... nakal deh] – Untungnya kisah kasih saya bersama ex-pacar saya berakhir indah
.
Ya ya ya, sebuah cerita indah … harus diakui terlalu manis untuk dilupakan, mengingat bagaimana pun saya bisa ada seperti sekarang ini juga berkat kebaikan hati boss-boss kami dengan program internetnya.
Namun satu hal perlu disadari bahwa kemudahan akses dan keragaman fasilitasnya, membuat internet menjadi pisau bermata dua, bilamana kearifan terabaikan. Banyak contoh kasus bagaimana keadaan damai menjadi sedikikit terganggu hanya karena berita tidak benar oleh beberapa orang tidak bertanggung jawab, surat berantai yang tidak jelas sumbernya hingga ada pula pribadi-pribadi yang mesti bersabar harus berurusan dengan pihak berwajib dikarenakan ungkapan rasa yang mereka tulis di internet.
Ya itulah iptek, sebuah realita yang harus ada dan terus akan berkembang mengiringi perjalanan alam semesta.
Internet dulu, sekarang dan masa yang akan datang … semoga selalu ada kearifan hingga dampaknya akan selalu indah sebagaimana keriangan kita, Anda dan saya saat pertama kali mengenalnya. Menjadikan indah dan damai untuk semua dulu, sekarang dan masa yang akan datang.
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Juni 24, 2009
Sekelumit kisah sebelumnya :
Aku hampir terbiasa lagi dengan sendiriku hingga tiba Sabtu sore seminggu berselang, aku kembali dikejutkan dengan sapaan nyaring ketiga kawanku. Ya, mereka bertiga datang lagi buat nebeng nonton tivi seperti minggu sebelumnya. Kami saling bercerita dan bercanda tentang segala hal mulai dari pekerjaan, cerita tentang tempat kerja dan pekerjaan, hingga ke kisah pacaran mereka dan pacar mereka di kampung.
Minggu ini seperti biasanya, mereka datang ke tempatku untuk menonton tivi. Aku sedang menyeterika pakaianku ketika mereka datang. Aku tidak begitu memperhatikan ketika mereka sudah mulai lagi dengan kesenangan mereka menonton film India di tivi. Kami sama – sama asyik dengan kegiatan masing – masing. Hingga aku selesai dengan aktivitasku, dan ketika bermaksud bangkit berdiri untuk memindahkan pakaian yang telah rapih terseterika ke dalam almari, aku baru sadar kalau mereka datang berempat hari ini.
Pergerakanku mengagetkan kawan keempat yang kebetulan berada tepat di sebelah kiriku. Kami berdua sama – sama kaget, dan wajah kami tepat beradu pandang. Cukup lama wajah kami bertatapan, hingga suara Titis memecah keheningan, “Wah saking rajinnya sampai gak nyadar kalau ditemani ceweq manis nih.” Rupanya yang dimaksud Titis dengan ceweq manis itu adalah Ningrum, si ceweq keempat yang baru hari ini aku temui.
“Maaf ya, saya tadi nggak ngeh kalau ada Mbak Ningrum. Jadinya saya cuek aja.” Kataku menyaput kekakuan. Kuakui Ningrum memang manis. Penampilannya lugu dan kulitnya bersih. Rambutnya juga panjang terpelihara hingga menyentuh ke pinggulnya.
“Nggak apa – apa koq, malah saya yang minta maaf datang gak permisi. Saya diajak nemenin Titis, Ainur dan Sumiyati nonton tivi di tempatnya Mas Bagus.” Jawab Ningrum santun sembari masih tersipu.
“Iya, udah tiga minggu ini Trio Kwek Kwek ngramein tempat saya.” Kataku kemudian.
Setelah itu, semua kembali berjalan seperti biasa. Penuh kekonyolan dan celetuk jenaka dari Titis dan Ainur. Meski terkadang aku dibikin bosan juga karena kuasa remote tivi sepenuhnya ada di tangan mereka, bahkan terkadang aku menyaksikan perebutan hak guna remote di antara mereka berempat. Ya, yang penting akhir pekanku jadi semarak, kurelakan tiviku jadi milik mereka sementara.
–oOo–
Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam ketika kudengar suara dengan nada cemas sambil mengetuk pintu kamarku. Aku segera bergegas menuju pintu dan membukakannya. Kulihat Titis dan kawan – kawan dengan wajah pucat dan ketakutan masih mengenakan seragam kerja mereka.
“Ada apa ? tanyaku.
“Cepat keluar Mas, Tempat kost Mas Bagus mau diserang dan dibakar sama warga kampung sebelah, Mas.” Kata Titis masih dengan nada tinggi dan wajah penuh kekhawatiran.
“Iya Mas, kemarin katanya warga kampung kita ada yang berantem sama warga kampung sebelah, dan sekarang mereka mau nyerang balik.” Ainur menambahkan.
Aku keluar, dan kulihat di luar, di pinggir jalan masuk kompleks kami tepatnya memang tengah berjaga – jaga cukup banyak tenaga pengamanan dari Hansip dan Kepolisian. Ada isyu tempat kami akan dijadikan sasaran balas dendam warga kampung sebelah dikarenakan pemilik kompleks kost dimana kami tinggal adalah tokoh masyarakat di kampung kami.
Aku kembali ke dalam dan berusaha menenangkan Titis dan kawan – kawannya, bahwa semoga tidak akan ada kejadian yang tidak diinginkan. Malam itu kami berjaga – jaga dan tidak ada yang berani tidur nyenyak. Kejadian yang kami khawatirkan akhirnya tidak pernah terjadi. Ada satu hikmah tersendiri atas kejadian tersebut, yaitu bahwa aku sungguh bersyukur memiliki kawan sekaligus adik yang begitu peduli terhadap satu dengan lainnya.
–oOo–
Waktu terus berjalan dan persahabatan di antara kami makin indah dari hari ke hari. Hingga saat lonceng pesta demokrasi menjelang ditabuh, dan ketika hampir semua lembaga maupun instansi merencanakan libur untuk mensukseskan moment penting tersebut, saat itulah aku mulai menyadari betapa eratnya kekerabatan di antara kami.
Di daerah pinggiran Jakarta, kota tempat kami tinggal, geliat pesta demokrasi sudah mulai terasa dengan dimulainya pawai atau kampanye simpatik menggunakan kendaraan bermotor berkeliling kota. Begitu semarak gaung pesta demokrasi di daerah kami mengingat mayoritas penduduknya adalah kaum muda buruh sehingga pelaksanaan pawai simpatik bermotor menjadi meriah sekali untuk partai yang mengusung aspirasi kaum muda.
Hari ini aku pulang cepat, kebetulan rombongan Ningrum dan Titis masuk shift sore. kulihat Ningrum sedang menjemur pakaian dengan berjalan terpincang – pincang. “Kakinya kenapa, Mbak Ningrum ?” tanyaku
“Oh … ini, tidak apa – apa, Mas. Cuma terkilir sedikit pas mau turun dari bus jemputan.” Jawab Ningrum dengan sedikit kaget mendengar suaraku. “Koq udah pulang kerja, Mas ?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ningrum, tiba – tiba : “Bohong ding, Mas Bagus. Ningrum tuh kakinya keseleo gara – gara lompat pagar tembok belakang.” Potong Titis yang tiba – tiba saja keluar dari kamar kost-nya.
“Lompat pagar tembok belakang ?” Gumamku agak bingung.
“Iya Mas, ceritanya kemarin kan ada kampanye partainya anak muda. Mereka bawa motornya kenceng banget pas lewat depan kompleks kita. Udah gitu ada sebagian yang masuk belok ke tempat kita. Kita semua kaget dan takut, trus pada lompat ke kebon bambu di belakang. Pas lompat, kaki Ningrum nginjak tunggak bambu. Gitu ceritanya yang benar Mas Bagus.” Cerita Titis dengan penuh semangat empat lima.
Kulihat Ningrum salah tingkah karena kebohongannya diuangkap sohib kentalnya sendiri. “Ya udah, gak apa – apa, yang penting ntar diolesi parem atau diurut, Mbak.” nasihatku kepada Ningrum.
Esoknya perusahaanku sudah mulai diliburkan. Ningrum main ke tempat kost-ku dan untuk pertama kalinya aku bicara berdua saja dengan Ningrum.
Bersambung …
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Juni 15, 2009
Sebelumnya :
Kupandangi wajah polos isteriku dalam tidurnya. Sungguh cantik. Tuhan sungguh baik telah memberikan setahun terakhir ini kepada kami. Kebersamaan yang senantiasa membuat kami takut untuk membayangkannya sebelumnya. Terimakasih Dik …
–oOo–
“Mas Bagus … Mas Bagus, buka pintunya dong.” Suara – suara nyaring dan melengking mengusikku dari kelelapan pagi itu.
“Hhhuh … , siapa sih pagi – pagi begini sudah teriak – teriak ?” Sungutku, sambil merapatkan guling berusaha meraih kembali kenyenyakanku yang terusik.
“Mas Bagus, udah siang, buka pintu dong !” Kembali teriakan – teriakan tak berirama itu terdengar riuh rendah. Kali ini benar – benar membuatku hilang kantuk.
Dengan malas kuraih pantalon, dan kukenakan sambil terhuyung mendekati pintu. “Lagian ini kan hari Minggu, kenapa sih ada saja yang usil ganggu pagi – pagi benar,” batinku.
“Eehhh Mas Bagus, akhirnya. Kirain gak mau bukakan kita pintu.” Kata cewek paling paris (= padat berisi) di antara dua yang lainnya.
“Iya nih, habisnya lama banget bukanya. Wah baru bangun yach ?” seloroh cewek satunya lagi dengan gaya centilnya.
“Ada apa ?” Sergahku dengan wajah bete.
“Gini Mas Bagus, kita tetangga Mas Bagus yang tinggal di rumah kost seberang.” Tukas si Paris.
“Kemarin kita lihat Mas Bagus baru pindahan ke sini. Nah sebagai tetangga yang baik kita pengin kenalan sama warga baru, sekalian bantuin benah – benah barang gitu.” Lanjut si Centil.
“Benah – benahnya udah kelar, Mas ?” Tanya cewek terakhir yang sedari dari cuma diam aja sambil mesam – mesem.
“Sudah. Sudah selesai semalem”. Jawabku sekenanya sembari menguapkan sisa kantukku.
“Wah, capek dong ya berarti.” Imbuh cewek pendiam dengan polosnya.
“Iyalah” jawabku gondok.
“Ya sudah. Terus kalian mau apa lagi ? Kalian pulang dulu deh, saya mau mandi.” Kataku mengusir bingungku. Terus terang, ini pertama kalinya aku menghadapi serombongan cewek pede.
“Ya udah, Mas Bagus mandi aja dulu.” Kata mereka hampir berbarengan.
“Ya sudah …” kataku seraya kuraih handle pintu untuk menutupnya.
“Eh Mas bagus, pintunya jangan ditutup dong. Kita boleh numpang nonton tivi kan ?” Rajuk Paris sembari tangannya menahan daun pintu.
“Ampun deh, nih cewek – cewek pada pede banget ya ?” batinku.
“Boleh ya Mas, boleh ya ?” giliran Centil berusaha meyakinkan dan merayuku.
“Yyaa”. Jawabku pasrah. Aku hanya berharap mereka tidak melakukan yang aneh – aneh saja di tempatku.
“Terimakasih Mas Bagus, Mas Bagus baik deh.” Kata mereka sambil berhamburan masuk.
Selesai mandi kulihat mereka bertiga sedang asyik menyaksikan tayangan film India di salah satu stasiun televisi. “Dasar calon ibu – ibu, kalau sudah nonton telesinema pasti anteng teng deh.” Batinku sambil menahan tawa.
“Eh, Mas Bagus dah selesai mandi ya ? Film-nya bagus lho, yang jadi jagoannya Amittab Bachan sama Kajol.” Kata Paris dan Centil.
“Ya udah, kalian nonton aja” jawabku singkat.
Aku mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya, lalu meminumnya. Lumayan segar juga ternyata pagi – pagi minum air putih.
“Sorry, masih berantakan rumahnya. Kalian mau minum apa ? Adanya sih air putih.” Kataku berusaha menetralisir ketegangan sesaat lalu.
“Gak apa – apa koq, ini juga udah rapih termasuknya untuk ukuran cowoq, hehehe.” Goda mereka.
“Gak usah Mas, terimakasih.” Imbuh cewek pendiam.
“Ya sudah kalau begitu. Ini gelas sama airnya, kalau kalian mau minum tuang saja sendiri ya.” Aku mulai melupakan bete-ku.
Kuperhatikan tingkah mereka saat menonton film di tivi sembari menyapukan cairan pekat obat semir pada permukaan kulit sepatuku. Mereka sungguh polos. Aku menduga usia mereka terpaut sekitar enam – tujuh tahunan di bawahku. Kini mereka seperti halnya aku merantau dari daerah asal mencoba belajar hidup mandiri. Aku sungguh salut pada mereka. Anak – anak yang kuat.
“Mas Bagus koq di depan aja, gak suka sama film India ya ? Suara cewek pendiam mengagetkanku.
“Saya sedang menyemir sepatu, tanggung nih.” Jawabku.
“Film India, saya suka ceritanya. Cuma kadang gak betah aja kalau harus nonton dari awal, soalnya durasinya lama.” Tambahku.
“Oohh, kirain …Ya, udah. Mas Bagus terusin aja nyemirnya, ntar kita ceritain aja deh tamatnya.” Giliran si paris bersuara.
“Oh ya ngomong – ngomong kalian sudah tahu nama saya, giliran kalian donk kenalin nama kalian ke saya.” Aku mulai menikmati pertemanan dengan mereka.
“Namaku Titis, Mas. Aku dari Jawa Tengah” Terang si paris.
“Kalau aku namanya Ainur, kelahiran pinggiran kota Jogja.” Lanjut si centil.
“Nha kalau yang ini namanya Mbak Sumiyati, Mas. Dia satu daerah sama Titis.” Centil memperkenalkan si ceweq pendiam.
“Oh jadi nama kalian Titis, Ainur dan Sumiyati toh ?” ulangku.
Aku melanjutkan beres – beres pasca pindahan kemarin, dan mereka bertiga kembali larut dalam keasyikan cerita film di tivi. Hingga akhirnya mereka bertiga pamit pulang menjelang sore hari.
Aku kembali ditemani kesendirian. Selain aku sering pulang malam dari tempat kerjaku, aku juga tinggal sendirian. Seminggu lamanya aku nyaris putus komunikasi dengan ketiga kawan baruku : Titis, Ainur dan Sumiyati. Meskipun sempat sekedar say hello saat ketemu akan ke warung atau kebetulan sama – sama nyantai di teras. Pagi – pagi sekali mereka sudah berangkat menuju tempat kerja, atau resiko teringgal bus jemputan karyawan yang mengantarkan mereka ke tempat kerja bila terlambat sedikit saja. Kangen juga sih dengan tingkah konyol mereka.
Aku hampir terbiasa lagi dengan sendiriku hingga tiba Sabtu sore seminggu berselang, aku kembali dikejutkan dengan sapaan nyaring ketiga kawanku. Ya, mereka bertiga datang lagi buat nebeng nonton tivi seperti minggu sebelumnya. Kami saling bercerita dan bercanda tentang segala hal mulai dari pekerjaan, cerita tentang tempat kerja dan pekerjaan, hingga ke kisah pacaran mereka dan pacar mereka di kampung. Menyenangkan sekali punya tetangga sekaligus kawan seperti mereka. Untung saja mereka tidak terpengaruh dengan keketusanku saat mula pertama menemui mereka.
Dengan adanya mereka, perasaan jauh dari keluarga dan saudara di kampung jadi terobati. Mereka sudah seperti adik – adikku sendiri. Aku tetap dapat mengerjakan pekerjaan rumahku dengan nyaman sekalipun mereka juga ada di tempatku menonton tivi. Aku juga tidak perlu lagi harus bingung menetapkan tujuan weekend dengan adanya Titis, Ainur dan juga Sumiyati. Sekarang dengan di rumah pun aku bisa fresh lagi melupakan semua beban kerja seminggu berlalu. Pernah kami pergi berempat sekedar berjalan – berjalan ke mall, malah pernah juga aku harus menemani mereka belanja ke pasar. Benar – benar hal yang membosankan menemani para calon ibu yang selalu telaten dan sabar menawar hingga lima puluh rupiah hingga harus rela berpindah dari satu kios ke kios lainnya walau pada akhirnya mesti kembali ke kios awal lagi hanya untuk kembali mempertahankan lima puluh rupiahnya. Namun bersama tiga sekawan Titis, Ainur dan Sumiyati, perburuan di dalam pasar menjadi suatu liburan yang teramat sangat menyenangkan.
[Bersambung]
Salam gemilang,
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Juni 12, 2009
Jarum jam di dinding kamar sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam, namun kantuk tampaknya masih enggan menyapaku. Meskipun sedikit bosan dengan tayangan – tayangan yang ada, aku mencoba membuang bosan dengan menonton televisi. “Lumayan ada program talk show… sedikit menghibur menyaksikan orang – orang yang katanya pintar saling berdebat mempertahankan opininya masing – masing” batinku.
“Sudah Jam berapa sekarang, Mas ?” lirih isteriku yang baru terbangun dari tidur ayamnya, terdengar lembut di telingaku. Kualihkan pandangan dari layar televisi, kulihat wajah isteriku begitu sejuk dalam kantuknya.
“Baru jam 11.15, Dik.” Jawabku singkat.
“Sudah malam, belum tidur ? besok kan Mas harus berangkat pagi – pagi.” Isteriku kembali mengingatkan.
“Dik Ningrum tidurlah dulu, sebentar aku menyusul” imbuhku.
“Ya udah, aku tidur dulu Mas. Jangan lupa obat kumurnya”. Kata Isteriku lagi. Isteriku kadang tampak berlebihan dalam memberikan perhatian kepadaku, namun sikapnya itulah yang justeru membuatku senantiasa gemas kepadanya dan oleh karena itu pulalah aku sungguh merasa bahagia boleh memilikinya.
Aku beringsut mendekati isteriku, kurengkuh dia sambil kekecup keningnya. “Selamat tidur, Dik. Selamat mimpi indah.” Tak ada kata yang keluar dari bibirnya yang indah, hanya desah lembut dan anggukannya menutup hari.
Kupandangi wajah polos isteriku dalam tidurnya. Sungguh cantik. Tuhan sungguh baik telah memberikan setahun terakhir ini kepada kami. Kebersamaan yang senantiasa membuat kami takut untuk membayangkannya sebelumnya. Terimakasih Dik …
–oOo–
“Mas Bagus … Mas Bagus, buka pintunya dong.” Suara – suara nyaring dan melengking mengusikku dari kelelapan pagi itu.
“Hhhuh … , siapa sih pagi – pagi begini sudah teriak – teriak ?” Sungutku, sambil merapatkan guling berusaha meraih kembali kenyenyakanku yang terusik.
“Mas Bagus, udah siang, buka pintu dong !” Kembali teriakan – teriakan tak berirama itu terdengar riuh rendah. Kali ini benar – benar membuatku hilang kantuk.
Dengan malas kuraih pantalon, dan kukenakan sambil terhuyung mendekati pintu. “Lagian ini kan hari Minggu, kenapa sih ada saja yang usil ganggu pagi – pagi benar,” batinku.
[Bersambung]
Salam gemilang,
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Mei 19, 2009
Salam untuk Anda semua,
Seorang lelaki muda tampak termenung di sebuah bangku taman. Sesekali lengannya terayun ke arah dahinya, mengusap peluh yang mengalir. Pakaiannya terlihat rapih, meskipun sedikit basah karena peluh; setelan hem lengan panjang dengan pantalon.
Seorang lelaki muda lain, sekilas seumuran dengannya berjalan ke arahnya. Tampak mereka berdua sudah saling mengenal, ketika pemuda yang baru hadir mengulurkan tangannya mengajak pemuda pertama berjabat tangan. Kemudian mereka tampak terlibat dalam sebuah percakapan.
Sepintas saya memperhatikan percakapan mereka, saya menyimpulkan bahwa mereka berdua adalah seorang wiraniaga. Dan meski saling mengenal, ternyata mereka dari perusahaan yang berbeda.
Pemuda 1 : “Sudah dapat berapa prospek hari ini kamu ?”
Pemuda 2 : “5 orang, kamu ?”
Pemuda 1 : “2”
Pemuda 2 : “Lha, santai banget. Ah ya pasti kamu udah tutup sales ya ?”
Pemuda 1 : “Iya, sudah terpenuhi targetku. Bagaimana kamu tahu itu ?” [menoleh dengan wajah kaget, ke arah pemuda 2]
Pemuda 2 : “Kita kan kenal sudah lumayan lama, jadi aku sudah cukup paham sama kebiasaan kamu.” [tersenyum ke arah pemuda 1, sambil mendorongkan tinjunya ke arah lengan pemuda 1]
“Sudah berapa lama kamu duduk di sini ?”
Pemuda 1 : “Ya lumayan, ada lah satu jam.”
Pemuda 2 : “Oh ya, aku cabut dulu ya, mau cari order lagi. Mau ikut ?” [beranjak berdiri]
Pemuda 1 : “Nggak, aku mau balik, capek.” [menghela nafas]
Pemuda 2 : “Wah wah wah … hebat bener nih Bapak, mentang-mentang sudah tutup sales.” [tertawa]
“Tidak kepingin apa dapat predikat top sales of the month ?
Pemuda 1 : “Ah nggak perlu itu. Yang penting aku sudah mencapai target.” [memandang pemuda 2]
Pemuda 2 : “Wah nggak heran deh, pantas saja kamu dari dulu ya segitu-gitu aja, nggak naik-naik grade-nya.” [tertawa mengejek]
Pemuda 1 : “Aku sih udah bersyukur bisa tutup sales, rejeki gak bakal lari ke mana. Ya hidup jangan terlalu ngoyo, mengalir saja seperti air.”
Pemuda 2 : “Oke deh sobat, aku mau jalan lagi. Sampe ketemu ya.” [beranjak meninggalkan pemuda 1]
Pemuda 1 : “Ya, selamat mendulang rupiah deh. Hey, bukankah kamu juga sudah melampai target bulan ini, katamu ?” [setengah berteriak, karena pemuda 2 sudah agak jauh]
Pemuda 2 : “Aku mau bikin tutup sales berlipat-lipat sobat.” [menoleh dan melambaikan tangannya tanpa menghentikan langkahnya]
Pemuda 1 : [membalas lambaian dan beranjak ... meninggalkan taman]
—
Pertanyaan :
Apakah pendapat Anda tentang “pandangan hidup” pemuda 1, dan apa pula pendapat Anda akan pemuda 2 dengan pertanyaan yang sama ? Siapakah di antara kedua pemuda itu yang memiliki tingkat kesyukuran lebih baik ?
Sekarang, bila Anda diharuskan memilih untuk menjadi salah satu dari keduanya, Anda akan memilih sebagai pemuda 1 atau pemuda 2 ?
Mengapa ?
Siapakah di antara keduanya yang akan selalu merasakan kebahagiaan ?
Apakah pemuda 1 telah benar dalam mengaplikasikan rasa syukurnya akan rejeki yang diberikan Tuhan ?
Apakah pemuda 2 melakukan perbuatan yang menjurus kepada kekurangbersyukuran, karena tetap dan terus mengupayakan penjualan, meski Tuhan telah memberinya cukup rejeki setiap bulan ?
Jika keduanya adalah seumpama aliran anak sungai, manakah yang akan lebih dulu menemukan laut ?
—
Tuhan menyediakan banyak hal [rejeki, impian dan kemakmuran] untuk kita syukuri, namun Tuhan juga tidak pernah membatasi kita untuk mengambil rejeki, impian dan kemakmuran yang disediakanNya bagi kita. Kita dibebaskan untuk mengambil sebanyak-banyaknya semua yang disediakanNya.
Karenanya Tuhan pun telah memberikan akal dan pengetahuan baik kepada kita untuk mengupayakan segala kelimpahan itu dengan baik dan benar.
Apakah Anda ngin hidup kehidupan Anda sebagaimana air mengalir ?
Pesannya :
Air itu ada yang mengalir lancar menemukan arahnya menemukan laut, namun banyak pula air yang tersendat alirannya dan pada akhirnya mampet, berhenti mengalir menyempit dan kering tertutup pasir menjadi delta atau ditumbuhi eceng gondok.
Tuhan Maha-Kuasa, namun hidup dan masa depan Anda, Andalah yang memilih dan menetapkan.
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: Mei 12, 2009
Salam untuk Anda semua,
Kutahu harus memiliki kasih tuk boleh berkekasih
Pun kutahu kumesti berbagi kasih
Karna Sang Kasih mengutuskan kebaikan diejawantahkan
Perasaan kasih bertangkaikan keinginan
berdaun keriangan
Namun ketika kubertemu kebaikan dan kasih itu
Membuatku bimbang
Apakah aku telah memiliki kasih
Kasihku mengasihiku melebihi kasihku kepadanya
Tak kusangkal jika aku pun mengasihi kasih
dan menganggap kupengasih yang baik
Namun ketika kasihku yang besar kepada mereka itu
berimbalkan ketulusan dari kasihku
keikhlasan kehilangan paruh waktuku untuknya
Kusadar kutlah menodai kasih yang diutuskan Sang Kasih kepadaku
Kutlah mengoyakkan jala kasihku sendiri
Kasihku adalah hakiki
Tanggung jawabku tuk mengasihinya
sepenuh hatiku, sepenuh pikiran dan sepenuh akal budiku
Yang pokok yang Sang Kasih berikan
kepadaku tuk aku mengkekasihkan diriku
seutuhnya
Dalam kasih kumesti mengasihi kasihku
Kasihkulah utama dan hakikat
yang mengasihiku dengan tiada harap
Kutahu meski kasihku tak mengucapkannya
Kasihnya telah mengutarakan kasih
Kasih yang Sang Kasih ingin kulebih berbagi banyak
tuk kasihku yang tulus
Kuingin kasihku adil menjadi kasih yang diharapkan Sang Kasih
Kutlah berdosa
Kusalah menafsirkan kasih
Kini kumesti mengkesasihkan diriku kepada kasihku
Kasih yang terutama harus ngejawantah
dalam kasih yang mengkesasihkan
Berat beban meski
Tuk keutamaan kasih
Namun harus
Aku harus menjadi kekasih yang mengkekasihkan
tuk kasihku dan Sang Kasih
Itulah kasih yang ngejawantah
Kasih teruntuk kasihku yang utama
yang Sang Kasih berikan kepadaku
Kekasih yang tlah mengkekasihkan dirinya untukku
dengan penuh kasih.
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: April 29, 2009
Salam untuk Anda semua,
Memang baik keinginan untuk menjadi orang penting, namun lebih penting adalah keinginan untuk menjadi orang yang baik dan tetap baik.
Asa akan menjadi pengindah kehidupan, karena dengan adanya asa akan menjadikan kehidupan ini sebuah pertandingan menuju kegemilangan yang diharapkan. Asa atau harapan adalah motor penggerak “hidup atau matinya” seseorang; tanpa memiliki asa seseorang sudah mati sebelum ajal. Entah disadari atau tidak, dalam setiap kebersyukuran dan ketidakberdayaan, selalu ada asa di dalamnya; yaitu asa untuk tetap dalam kebersyukuran, atau pun dipulihkan dari ketidakberdayaan.
Segala bentuk kegiatan dan tindakan dalam keseharian, adalah merupakan wujud dari keinginan menggapai asa itu sendiri. Mungkin kita pernah mendengar pernyataan bernada pasrah dengan keadaan, namun harus disetujui bahwa ketika ada kesempatan baik, pasti kepasrahan itu akan berganti dengan harapan. Ambil contoh : ketika akan berakhir masa pemerintahan sebuah kabinet, pasti akan mencul beragam harapan di dalam masyarakat – mulai dari perbaikan ekonomi, stabilitas keamanan dan ketertiban, kepastian hukum, dan kesejahteraan masyarakat – baik oleh pemimpin lama atau pun pemimpin baru.
Kemunculan banyak tokoh memberikan dinamikan tersendiri bagi tumbuhnya harapan baik bagi segenap warga negeri ini. Masing-masing tokoh dengan segala ide dan niat baik mereka memberikan asa kepada banyak orang untuk memilih mereka menjadi pemimpin negeri. Bukan hanya asa masyarakat saja yang menggelegak ke permukaan dalam setiap kesempatan menjelang pesta demokrasi, para pelaku politik pun menebar asa yang tidak kalah seru bagi para calon pemilihnya.
Namun sering asa itu menjadi sirna ketika pada akhirnya keinginan menjadi baik itu menjadi pupus ketika kepada masyarakat dipertontonkan pertandingan yang seharusnya seru penuh permainan cantik, berubah menjadi permainan keras penuh dengan sliding teckle di antara para pemainnya. Dan bisa dipastikan pertandingan keras akan sangat minim menghasilkan gol-gol indah. Pertandingan keras bukan hanya berdampak negatif kepada tim lawan, namun juga pada performa dan menurunkan mental fairplay di antara sesama tim. Ketika mitra satu tim melakukan hal yang dianggap blunder, bukan dukungan didapat dari timnya, melainkan sikap tidak bersahabat yang menjadikan keretakan dalam tim. Hal ini sudah pasti menjadikan sisa pertandingan menjadi tidak solid di dalam tim bersangkutan.
Dalam pertandingan sesungguhnya, banyak contoh atlet berprestasi yang terpaksa merelakan asanya kandas di tengah jalan, oleh karena perilaku tidak simpatik mereka; sikap urakan, ugal-ugalan, bertingkah kasar dan tidak senonoh, menabur permusuhan dengan lawan bermainnya. Mereka terhempas dengan menyakitkan, dan tempik sorak penggemar yang sangat memujanya, perlahan tapi pasti sirna.
Asa dan sukses adalah hak setiap orang, namun asa itu sangat mustahil terwujud tanpa dukungan baik yang kontinyu dari mereka yang memiliki asa dan niatan baik yang sama.
Jadi bila Anda sedang memiliki asa, jangan abaikan campur tangan orang lain. Rangkullah mereka yang se-asa dan sekeinginan baik dengan Anda itu untuk membentuk sebuah tim yang solid. Kesamaan visi dan misi akan membuahkan sebuah tim yang kuat dan saling dukung di antara para “pemainnya”, dan bahu-membahu bukan hanya untuk kepentingan tim semata, namun juga pujian dari tim lawan dan para supporter tim Anda.
Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Kesimpulannya : Anda nyaman, penonton puas, Supporter happy, Komentator cuma bisa memberikan komentar Good Player and Good Team, Well done.
Terimakasih dan salam gemilang,
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: April 16, 2009
Salam untuk Anda semua,

Memilih dan pilihan, sebuah kenyataan yang akan selalu hadir sepanjang perjalanan usia kita. Memilih pilihan untuk menuju dan menjadi bukan hanya perkara ya atau tidak, sekarang atau nanti. Memilih harus dilandasi pemikiran taktis dan efisien untuk menghasilkan kebaikan yang melegakan. Sekali lagi pilihan atau memilih menghadirkan banyak wajah alternatif, namun semakin cepat Anda berpikir taktis dan memutuskan, termasuk kemungkinan mengubah keinginan pilihan Anda sebelumnya itu yang terpenting.
Kenapa ? Karena waktu tidak bisa dihentikan, dia akan terus berjalan dan tidak mau menunggu.
Saya percaya Anda sedang menebak-nebak dan mulai tidak sabar menunggu saatnya saya mengungkap maksud pertanyaan-pertanyaan di atas
Begini,
Saya hanya ingin menyamakan persepsi di antara kita, tentang batas penantian yang harus kita putuskan untuk bebas dari kesia-siaan.
Dalam penantian itu biasanya bernuansakan ketekunan, setuju ya ? Dan dalam penantian itu selalu berasaskan harapan baik, setuju juga ya ? Dalam penantian ada harapan pemenuhan, benar ? Nah masalahnya : efek penantian itu hanya ada dua kepastian yaitu lega atau kecewa.
Saya ada sebuah simulasi sederhana tentang penantian, untuk kita :
Anda baru saja menyelesaikan sebuah perjalanan dan Anda bermaksud kembali ke rumah Anda. Anda tahu dan sadar banyak angkutan alternatif yang akan menghantarkan Anda tiba ke tujuan [rumah] Anda – dengan berganti sekali dua armada angkutan umum, namun Anda memutuskan untuk menunggu angkutan yang akan menghantarkan Anda dalam sekali tempuh.
Waktu terus bergulir, dan angkutan yang Anda maksudkan tiada kunjung hadir di hadapan Anda. Dan Anda terus saja menunggu dengan mengijinkan angkutan alternatif yang seharusnya bisa menghantarkan Anda untuk lewat dan meninggalkan Anda dalam keramaian sekitar yang mulai susut karena bergulirnya sang bulan.
Hingga akhirnya, angkutan alternatif itu pun mulai bosan menghampiri Anda menawarkan jasa baiknya.
Anda mulai merasa kesal, dan menyalahkan keadaan. Dan aroma keramahan mulai memudar dari wajah Anda. Di sekitar Anda tersisa beberapa orang yang memiliki tingkat keteguhan seperti Anda, dan Anda sebenarnya sudah berkesimpulan sejak awal bahwa mereka satu tujuan dengan Anda. Wajah – wajah muram mereka pun sudah senada dan hampir serupa dengan Anda.
Anda dan mereka saling pandang untuk kemudian beralih pandangan ke kejauhan masih berharap ada angkutan yang lewat.
Akhirnya :
Waktu menunjukkan menjelang tengah malam; hanya ada satu kemungkinan pilihan saja tersisa, yaitu Anda harus menggunakan jasa taxi untuk menghantar Anda pulang. Permasalahan baru adalah jarak tempuh menuju rumah Anda sangat jauh dan memerlukan dana cukup banyak bila menggunakan jasa taxi. Di dompet Anda tidak tersedia cukup dana tunai, sementara ATM bank Anda sudah tutup jam 22.00 dan sungguh konyol jika Anda memkasakan menggunakan debit dana untuk jasa taxi.
Dalam keadaan terdesak itu, pilihan apakah yang akan Anda tempuh ?
Anda memutuskan untuk mendekati teman-teman sepenantian Anda [yang dengan raut curiga karena Anda dekati], dan Anda bertanya arah tujuan mereka.
Kejutan pertama
adalah benar sebagaimana perkiraan Anda di awal, bahwa mereka bertujuan sama dengan Anda.
Anda kemudian menawarkan kesediaan mereka untuk mau berbagi biaya taxi dengan Anda. Itu berarti Anda menawarkan naik taxi bersama dengan biaya patungan.
Kejutan kedua
Ternyata mereka bersedia.
Kejutan ketiga
Mereka pun berperkiraan sama bahwa Anda pun bertujuan sama dengan mereka.
Kejutan keempat
Perjalanan Anda menjadi penuh cerita di dalam taxi, karena Anda memiliki teman baru, dan menjadi akrab. Terpenting Anda melupakan segala geram penantian Anda
Kejutan kelima
Anda menjadi menyesal kenapa Anda tidak memilih untuk menggunakan angkutan alternatif sejak awal saja, karena Anda pun pada awalnya hanya gambling antara yakin dan tidak yakin apakah angkutan yang Anda tunggu itu masih akan lewat.
Kejutan keenam
Anda tiba di rumah dan menyadari bahwa waktu sudah memasuki hari baru. Anda sadar seharusnya bisa tiba di rumah lebih awal dan sudah terbuai mimpi, seandainya saja Anda memilih percaya pada intuisi Anda bahwa mereka satu tujuan dengan Anda, menghampiri mereka sehingga tidak terlambat membuat deal.
Kejutan ketujuh
Lho ini kan kisah pengalaman saya sendiri, semalam ?
Hohohoho
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: April 15, 2009
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: April 11, 2009
Salam untuk Anda semua,
Wajah Denmas Detelu menyembul dari balik selimut yang mengiringi lelapnya semalam. Tangannya menggapai ke arah meja di samping peraduannya, meraih jam beker, melirik sebentar untuk kemudian meletakkannya kembali di meja.
“Jam berapa Kangmas ?” terdengar suara lirih Nyai Detelu, masih di dalam hangatnya pelukan selimut.
“Baru jam 04.00 pagi, Nyai.” Balas Denmas Detelu.
Di luar kebiasaan, hari Minggu ini Denmas Detelu terjaga lebih dahulu daripada isteri tercintanya. Hal ini bisa dimaklumi karena malam sebelumnya Nyai Detelu menemani suami gegantilaning ati, dalam rangka temu kangen yang baru berakhir hingga lewat tengah malam. Ya, Denmas Detelu sehari sebelumnya baru tiba dari luar kota, terkait penunaian tugas dari perusahaan tempatnya bekerja. Hampir empat pekan lamanya keduanya terpisah jarak.
Denmas dan Nyai Detelu kembali melanjutkan lelap, melepas segala kelelahan setelah pesta tertutup semalam.
***
“Mau sarapan sekarang atau nanti Kangmas ?” terdengar suara indah Nyai Detelu yang sudah berada di hadapannya, menggendong Danang Fahdyan, putera mereka.
“Nanti saja, Nyai. Ini rotinya juga masih ada, masih kenyang Kangmas.” Jawab Denmas Detelu di sela keasyikannya membaca koran minggu.
Nyai Detelu pun mengambil posisi duduk di samping suaminya, dan menghidupkan tivi. Sementara di pangkuannya, si kecil Fahdyan juga mulai asyik menarik-narik koran yang tengah dibaca oleh Denmas Detelu; dan sukses mengalihkan perhatian Denmas Detelu untuk mengambil alih buah cinta mereka itu ke dalam pangkuannya.
“Nyai, kesempatan seperti saat ini sungguh membuat Kangmas merasakan begitu melimpahnya kasih Gusti Alloh kepada keluarga kita.” Denmas Detelu memecah kesyahduan minggu pagi itu.
“Kangen ya sama Bapak ?” Nyai Detelu menggoda si kecil Fahdyan yang larut bahagia dalam pangkuan Denmas Detelu.
“Oh ya Kangmas, bagaimana dengan progress tugas dinas Kangmas kemarin ?”
“Berkat doa Nyai, semua berjalan lancar Nyai. Terimakasih Nyai, untuk cinta dan perhatian Nyai.” Jawab Denmas Detelu sambil mencium kening isterinya.
“O o o, Bapak juga sayang putera Bapak yang ganteng.” Denmas Detelu pun mencium sayang putera mereka, yang sempat berontak iri karena ibunya mendapatkan kecupan hangat dari bapaknya.
“Wah pasti di sana banyak ketemu temen-temen yang cantik-cantik dong ya, Kangmas ?” Goda Nyai Detelu.
“Wooo itu sudah pasti Nyai, makanya Kangmas kemarin juga sedih waktu pamitan dengan kawan-kawan di sana. Berat rasanya Nyai.” Balas Denmas Detelu tidak kalah menggoda.
“Iiih dasar Kangmas, deh.” Nyai Detelu mencubit pinggang suaminya gemas.
Denmas Detelu merengkuh pundak isterinya untuk lebih mendekatkan jarak mereka.
“Nyai, betapa indahnya mengetahui dan boleh merasakan indahnya kasih Gusti Alloh melalui orang-orang yang menyayangi kita.”
“Gusti Alloh menuntun Kangmas untuk bertemu dan memiliki Nyai beserta putera kita, teman-teman di tempat kerja, atasan dan pimpinan yang semuanya sangat baik kepada Kangmas.”
“Semua selalu mendukung dalam setiap hari-hari Kangmas … Mak nyesss, rasanya Nyai.”
“Wah padahal Nyai kan terpaksa waktu itu ya Kangmas, waktu Kangmas minta Nyai jadi pacar Kangmas. Kangmas saja kan yang selalu memaksa Nyai yang minder sama Kangmas, biar mau jadi pacarnya Kangmas.” Goda Nyai Detelu.
“Nyai … Nyai … Nyai … kok bicara yang tidak-tidak tho di depan putera kita.” protes Denmas Detelu.
“Weh, Kangmas koq njur sensitif sih.” balas Nyai Detelu yang langsung mampu membuat mak nyesss kembali hati Denmas Detelu.
“Ya, sudah sepantasnya to Kangmas kalau Nyai ini harus setia mengabdi dan mendukung Kangmas. Kangmas dalam keadaan baik, Nyai harus mendukung dan mengabdi, demikian pun bila kangmas dalam keadaan tidak baik pun, sudah menjadi restu Gusti Alloh untuk Nyai tetap memberikan penghiburan dan penguatan kepada Kangmas.”
“Jangan sentimentil gitu ah Kangmas, jadi geer Nyai.” Kembali Nyai Detelu mencubit pinggang Denmas Detelu yang keren [tidak tahan geli, maksudnya
].
“Wah puji syukur kepada Gusti Alloh … tambah mak nyesss rasanya, memiliki Nyai dan Danang Fahdyan.”
Denmas Detelu menciumi wajah isterinya itu … hingga terdengar rewelan putera mereka yang mulai merasa tidak nyaman terhimpit di antara tubuh orang tuanya yang makin merapat itu.
“Aduh aduh duh Kangmas sudah tho Kangmas, kasihan putera kita kejepit badan kita lho Kangmas.”
Denmas pun segera tersadar dan menghentikan aksinya itu.
“Cup cup cup anak ganteng jangan nangis … cup cup cup.”
Dan kesempatan hari Minggu yang indah itu menjadi saksi keintiman dan kebahagiaan keluarga Detelu.
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Posted by: Benedict Agung Widyatmoko on: April 8, 2009
Salam untuk Anda semua,
Kalender kebahagiaan ? Apa pula itu ?
Saya percaya ada di antara Sahabat pembaca berfikir atau tumbuh pertanyaan di atas di dalam diri
.
Kita sering mendengar dan mengalaminya secara pribadi betapa indahnya janji yang diikrarkan saat peneguhan pasangan mempelai menjadi suami isteri. Janji yang merupakan harapan baik dengan menunjuk Tuhan sebagai saksi kekal, atas sebuah keinginan mulia untuk tetap berada dalm kebahagiaan cinta abadi; dalam susah atau senang, dalam baik atau buruk, dalam sehat atau sakit. Dan kita semua pasti setuju dan berkeinginan untuk dapat mengunduh berkat sukacita atas ikrar suci di atas.
Dalam kehidupan, ada pepatah bahwa hidup ini bak putaran roda, kadang di atas yang nyaman, dan kadang di bawah menahan beban berat karena menjadi penopang bagi yang ada di atasnya. Kenyataannya keluh – kesah itu tetap saja hadir di sekitar kita, bahkan mungkin terkadang saya dan Anda pun dalam kondisi tertentu akan lupa bahwa kebahagiaan itu adalah hak mutlak yang telah disediakan penuh oleh Tuhan. Kita larut dalam keputusasaan dan kecewa.
Kita semua ingin berbahagia dan mengalami hidup berkelimpahan. Adakah sebuah solusi agar semua itu dapat ngejawantah abadi ?
Jawabannya ADA.
Dengan tidak bermaksud menjadi tinggi hati, namun saya mengajak Anda untuk tetap selalu mengijinkan kebahagiaan dan kegemilangan hadir dalam keseharian Anda. Caranya ?
Mulai sekarang buatlah janji kebaikan yang harus Anda tetapkan sendiri. Terserah Anda ingin menetapkan makna kebahagiaan seturut harapan Anda setiap harinya. Tetapkan kehendak kebaikan dalam hari-hari Anda; mulai hari Senin hingga Minggu.
Sekarang saya mengundang Anda untuk menyimpulkan, adakah kebahagiaan dan harapan baik setelah Anda melihat kalender kebahagiaan berikut :
Senin – GEMILANG
Selasa – BAHAGIA
Rabu – GEMPITA
Kamis – SORAK SORAI
Jumat – SEMARAK
Sabtu – CERIA
Minggu – PESTA HATI
Apa yang Anda rasakan sekarang ? Apakah Anda masih mengijinkan ketidakbahagiaan mengganggu hari – hari Anda ?
Salam gemilang
Benedict Agung Widyatmoko
Komentar Terakhir